May 7, 2012

Koleksi 932010


Seppuku

Awalnya saya akan bunuh diri hari ini. Tetapi tiba-tiba niat itu terhenti karena kedatangan suatu lintasan berupa ingatan. Ingatan itu menyeruak, memaksa saya untuk tetap hidup sementara waktu. Jelas sekali, saya tidak ingin mati dengan cara yang menyedihkan berdasarkan versi saya sendiri, yaitu mati tanpa memiliki kenangan. Saya pikir itu tidak akan menjadi terlalu menyedihkan bagi saya. Saya mengurungkan niat itu karena sebuah benda yang saya temukan di gudang, di lantai dua rumah saya.

Awalnya saya merasa terganggu oleh lengkingan suara, seperti suara kucing. Saat saya periksa, ternyata dugaan saya benar. Ada empat ekor bayi kucing dan induknya dalam sebuah kardus kosong. Saya tidak tahu bagaimana induk kucing itu bisa sampai ke lantai dua rumah saya, saya pun tidak terlalu memedulikannya. Saya pun segera memindahkan kardus kucing itu dan itu berarti saya pun harus memindahkan beberapa tumpukan kardus di bawahnya. Di sanalah saya menemukan geletak surat undangan yang telah usang. Surat undangan yang usang itu bagai tertanam di dasar tumpukan kardus-kardus buku-buku bekas, lembaran kertas-kertas tugas, data-data kepenulisan, barang pernak-pernik yang setiap satu buahnya adalah kunci bagi ingatan-ingatan saya. Surat undangan itu rupanya telah terjatuh sekian lama dari kardus penyimpanan barang pernak-pernik ketika saya meletakkannya pertama kali di gudang sehingga saya baru bisa melihatnya lagi hingga saat ini. Surat undangan yang usang itu bukanlah surat undangan biasa serupa undangan untuk pernikahan, perayaan ulang tahun, atau undangan menghadiri acara dan kegiatan sastra yang biasa saya terima. Surat undangan yang usang itu sepertinya ditulis sebagai sebuah tantangan terhadap diri saya daripada sebagai surat undangan.

Kolektor

Sekitar tujuh tahun yang lalu, saya bertemu dengan seseorang. Laki-laki. Dia telah membuat saya tertarik kepadanya karena namanya. Kekariban yang begitu licin menghampiri kami yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Saya bukanlah orang yang mudah begitu karib terhadap laki-laki meski telah bertemu beberapa kali. Saya pun tak dapat memungkiri diri bahwa saya orang yang membosankan dan dingin. Ketika saya berbicara dengan lawan bicara saya, mereka pasti akan langsung menjauhi saya dengan berbagai alasan. Dari jarak yang jauh, mereka seolah-olah telah melihat saya memang begitu membosankan. Tampaknya saya tidak terlalu membutuhkan dunia yang dipenuhi komunikasi.

Namun menjadi berbeda setelah saya bertemu dengan lelaki itu, yang saya ketahui kemudian namanya adalah Sangdenai. Mendengar ia memperkenalkan diri dan mengucapkan namanya telah membuat saya senang sekaligus penasaran, meskipun saya menyadari nama itu bisa saja bukan nama aslinya, namun hal itu tidak menyurutkan niat saya. Saya merasa telah menemukan sesuatu yang membuat diri saya tertarik kepadanya tanpa ia harus bersusah payah untuk membuat saya tertarik terhadapnya.

Saya bertemu dengannya di sebuah toko buku. Ketika itu, saya tidak tahu bahwa ia adalah salah satu pemilik toko buku itu, sampai kemudian ia mengajak saya ke sebuah ruangan di belakang toko buku itu yang berukuran sekitar 5 x 5 meter yang dipenuhi dengan buku-buku koleksinya setelah pertemuan kami yang kesekian. Saya akui, buku-buku di toko bukunya tidak ada satu pun yang menarik perhatian dan minat saya. Namun tentu saja saya tidak akan mengatakan hal itu kepadanya. Meskipun saya membosankan, saya tidak terlalu tolol untuk merencanakan strategi pertemuan saya dengannya.

Ia mengatakan semua buku-buku itu tidak dijual. Saya perhatikan buku-buku koleksinya lebih banyak daripada buku-buku yang ia jual di toko bukunya sendiri. Buku-buku di ruangan itu menarik perhatian saya. Seluruh buku di ruangan itu disusun rapi secara alfabet seperti di perpustakaan umum dan tersimpan dalam lemari kaca lima tingkat. Dari situ saya berkesimpulan, bahwa buku adalah benda yang paling berharga baginya dan ruangan itu pasti perpustakaan pribadinya. Akan tetapi ketika saya menanyakan itu, ia bilang buku-buku itu bukanlah benda yang paling berharga baginya dan bukan perpustakaan pribadi.

"Jika begitu untuk apa buku-buku itu?" tanya saya penasaran.

"Saya kolektor, bukan pustakawan!"

Sungguh mengagetkan ia menjawab seperti itu, namun sangat rasional bagi saya. Hal yang paling utama bagi seorang kolektor adalah memiliki benda yang ingin dikoleksinya. Tak ada alasan yang mengharuskan untuk benda-benda itu dipergunakan atau dibaca seperti buku-buku koleksi miliknya.

"Lalu mengapa buku-buku itu tidak berharga, tetapi tetap disimpan sebagai koleksi?"

"Karena itu pilihanku. Aku memiliki berbagai jenis benda yang kukoleksi. Dan dibandingkan jenis benda koleksiku yang lain, koleksi buku-buku ini bukanlah koleksi yang paling berharga buatku."

"Hmm, sayang sekali ya buku-buku ini tidak bisa dibaca atau dipinjamkan...," ucap saya menggerutu pelan sekali berharap ia tidak mendengarnya. Namun rasanya, Sangdenai telah mendengarnya, "Karena itu pun pilihanku! Aku tidak melakukan sesuatu karena alasan tertentu, tetapi karena aku ingin melakukannya. Termasuk untuk tidak membaca dan meminjamkan buku-buku ini!" jelasnya. Keinginan dan pilihan dalam diri manusia untuk memutuskan sesuatu memang luar biasa dan mengejutkan, seperti halnya saya yang berkeinginan untuk bertemu dengannya. Postur tubuh Sangdenai tinggi seolah-olah menjelma pohon Angsana yang rawan rubuh. Kulitnya yang putih serupa lapisan kambium pohon Ekaliptus. Rambut panjang melebihi bahu seolah-olah sulur-sulur akar pohon beringin yang kehujanan. Dan sepasang mata berkacamata serupa burung hantu. Saya menduga, sepasang matanya itu lebih berguna saat datang malam hari sehingga akan memantulkan cahaya dalam kegelapan bak mata burung hantu.

"Apakah kamu memiliki sesuatu yang dikoleksi, Fina?" Saya diam sejenak. Buku-buku yang saya miliki di perpustakaan pribadi di lantai dua rumah saya tidak bisa dibilang koleksi, tetapi karena saya seorang penulis. Namun menurut sepengetahuan saya, suatu benda yang disebut koleksi merupakan benda-benda yang sangat disukai, berjumlah banyak, dan sangat berharga. Maka saya pun menjawab sekenanya, "Buku!"

Maison Bogerijen

Saya tidak menyangka jika pertemuan saya dengan Sangdenai di ruangan seluas 5 x 5 meter itu akan menjadi pertemuan terakhir bagi saya dengannya. Ketika keesokan minggu berikutnya saya mengunjungi toko buku itu, ia tidak ada di sana. Saya putuskan saya akan datang lagi pada minggu berikutnya. Namun, hingga minggu berikutnya dan berikutnya, juga berikutnya lagi, saya tidak pernah bertemu dengannya lagi hingga beberapa bulan selanjutnya.

Sampai enam bulan berikutnya setelah pertemuan terakhir saya dengan Sangdenai, tanpa saya duga seorang kawan saya yang hampir tiga bulan tidak mengontak saya muncul mengirimkan pesan singkat kepada saya. Dia bernama Dian Hartati. Ia mengajak bertemu dengan saya petang hari di Maison Bogerijen. Saya pikir ia mengontak saya lagi karena merindukan saya untuk dapat berbagi cerita ditemani semangkuk glacier, es krim selembut bedak sutra dan sebongkah roti mungil empuk seperti bantal guling. Dahulu, saya dan Dian memang sering datang ke tempat itu. Maison Bogerijen adalah kafe yang megah dan anggun bagi kami. Kami langsung jatuh cinta pada tempat itu setelah sebelumnya kami masuk ke ruang dapur tempat di mana es krim bak salju dan roti serupa kapuk empuk itu dibuat dengan pengaduk adonan dan oven tua.

Petang itu saya segera meluncur menyusuri Jalan Braga dari arah Jalan Wastukencana yang kemudian memotong Jalan Perintis Kemerdekaan dan Jalan Lembong. Maison Bogerijen yang hampir berseberangan dengan Gang Affandi itu tampak berkilau hijau-oranye. Dian terlihat sudah memesan tempat duduk di luar kafe arah gerbang masuk sebelah kanan. Kami saling menyapa dan berbincang-bincang ala kadarnya. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan meletakan benda itu di hadapan saya. Sebuah surat undangan. Saya mengambil dan membacanya, dan tertulis undangan itu berasal dari Sangdenai.

"Hah! Mana mungkin dia bisa begitu ceroboh mengatakan bahwa koleksiku belum lengkap?! Di kota ini tidak ada yang bisa mengalahkanku jika menyangkut soal gelang tangan," ucap Dian dengan nada kesal dan merasa disepelekan. Dian memiliki harga diri yang tinggi jika menyangkut benda-benda koleksi yang dimilikinya. Jika itu boleh dikatakan sebagai kepercayaan diri yang tinggi ataukah kesombongan, saya menduga kedua hal itu ada di dalam dirinya. Dian kemudian menceritakan pertemuannya dengan Sangdenai. Saya menduga itulah mengapa saya selama enam bulan terakhir ini tidak bertemu dengan Sangdenai lagi dan bagaimana ia bisa menghubungkan saya dengan Dian melalui surat undangan itu.

Dalam surat undangan itu tertulis bahwa benda-benda koleksi kami belum lengkap dan jika kami bermaksud melengkapi koleksi milik kami maka datanglah ke tempatnya yang baru. "Dengan mengatakan bahwa koleksiku belum lengkap, tentu akan mengerutkan kehormatanku sebagai seorang kolektor. Aku tidak terlalu memahaminya, tetapi jika koleksiku nanti tidak menjadi lengkap, kukira tak ada salahnya kita datang ke tempat barunya itu," ucap Dian yang saya artikan sebagai ajakan kepada saya untuk bersama-sama pergi ke tempat baru milik Sangdenai itu.

"Baiklah." Saya mengangguk.

Lukisan

Akhirnya saya akan bunuh diri hari ini. Meski saya mati hari ini, esok atau lusa saya akan hidup lagi. Begitulah alur kehidupan saya selanjutnya. Esok atau lusa si kolektor yang mengoleksi saya akan kembali memasukkan saya ke dalam lukisan. Si kolektor akan melukis saya kembali, begitupun dengan yang lainnya. Sekarang saya mengerti mengapa saya dan Dian Hartati diundang ke tempat milik Sangdenai yang baru itu. Tidak hanya kami berdua, tetapi beberapa orang telah diundang oleh Sangdenai. Mereka itu adalah kolektor benda-benda tertentu. Kami telah menunggu hampir lima jam lebih, tetapi si pemilik rumah tidak sekali pun menampakkan batang hidungnya untuk menyambut kami.

Sangdenai si pemilik rumah memang telah menyediakan ruang tidur bagi kami. Melalui pembantunya, ia telah menyediakan seluruh kebutuhan kami sehari-hari mulai dari makanan, pakaian, bahkan pekerjaan sehingga orang-orang ini rela menunggu untuk waktu yang tidak pasti itu. Namun, seiring waktu berkisar dalam penantian kami, saya baru menyadari bahwa beberapa orang telah menghilang di dalam ruangan ini. Jumlah kami berkurang dan jumlah lukisan semakin bertambah. Hingga kemudian Dian pun tidak berada di sekitar saya lagi. Saya sendiri, seakan telah berada di tempat yang paling nyaman sehingga tidak ingin pulang. Seakan itulah rumah saya. Bahkan, tidak saya sadari pula, bahwa saya telah tinggal di rumah itu selama berhari-hari, berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun. Saya pikir, Sangdenai telah melengkapi benda koleksinya yang paling berharga dalam hidupnya, yaitu para kolektor-salah satunya termasuk saya, kolektor koleksinya yang ke-932010.

n.b.

Anda tahu apa yang telah saya lupakan? Hal yang paling penting bagi seorang kolektor adalah mengoleksi sesuatu yang tidak dapat dikoleksi oleh siapa pun.***


bumi singgah, 2010

Pikiran Rakyat, 18 April 2010

Bagume

Sebulan lewat. Siang ini, saya berencana untuk mengunjungi lelaki muda itu lagi. Saya rasa, waktu sebulan akan cukup untuk membuat lelaki berumur delapan belas tahun itu merasa tidak kerasan tinggal di rumah pesakitan. Seperti pada pertemuan kami sebelumnya, saya harus bersikap tenang ketika menghadapinya agar ia bisa merelakan diri untuk menceritakan perasaannya tanpa ada manipulasi.

Setiba di tempat itu, saya memohon kepada sipir agar saya bisa menemui lelaki muda itu kembali. Ia pun mempersilakan saya masuk dan menyuruh saya mencari sendiri lelaki muda itu. Kemudian saya melangkah masuk menuju gerbang pintu masuk lapis kedua dan pergi menuju bangunan aula para tahanan. Saya merasa aman dan leluasa mendatangi setiap aula para tahanan di rumah tahanan ini, karena di setiap wilayah bangunan aula telah dijaga oleh beberapa sipir. Para sipir di rumah tahanan ini dan sebagian para penghuni tahanan telah mengenal saya dengan baik.

Lalu saya mendatangi bangunan aula di area unit bagian utara, tempat di mana lelaki muda itu ditahan. Di halaman luar aula sudah terlihat beberapa penghuni tahanan tengah duduk santai di bangku kayu sambil merokok. Tepat di tengah, di atas pintu bangunan aula itu tertulis huruf A dengan ukuran sangat besar. Saya menghampiri mereka dan bertanya tentang lelaki muda itu. Mereka bilang, lelaki muda itu telah dipindahkan ke area unit bagian barat, di bangunan aula D, sambil menunjuk ke arah sebelah kanan mereka.
***

Walaupun tempat ini dikatakan rumah tahanan, namun sistem keamanan, fasilitas, dan pengelolaan ruang-ruang tahanan di sini tidak dirancang laiknya rumah tahanan atau penjara. Ruang-ruang tahanan di sini tidak dibangun secara sel per sel, kamar per kamar —yang biasanya satu sel akan dihuni oleh dua atau empat orang penghuni tahanan. Di rumah tahanan ini, semua penghuni tahanan dicampur-aduk tanpa didasarkan tingkat tuduhan kejahatan ringan, sedang, atau berat.

Ruang-ruang tahanan bagi para penganut kriminal di sini adalah ruangan aula tanpa sekat dengan bangku tidur bertingkat dua seadanya. Satu ruangan aula bisa menampung sekitar limapuluh orang tahanan, seperti barak militer atau saya rasa bisa dikatakan seperti asrama mahasiswa, karena sistem keamanannya yang rendah. Sedangkan yang saya ketahui, ruang tahanan yang memiliki sistem keamanan rendah atau sering disebut pemondokan transisi adalah hanya untuk para tahanan yang telah mendapatkan pembebasan bersyarat atau jaminan. Namun, rumah tahanan di wilayah terpencil seperti ini —dan bisa dikatakan sebagai wilayah miskin dengan tingkat pendidikan rendah dan terisolasi dari peradaban modern— keadaan itu adalah pengecualian.

Rumah tahanan yang memenuhi standar hanya bisa ditemui di ibu kota negara. Oleh karena itu, motif dan standar kejahatan para kriminal di sini, walaupun ada yang dikategorikan kejahatan berat, seperti membunuh, semua itu terjadi karena tingkat pendidikan mereka yang masih rendah. Pemakluman yang lumrah. Banyak di antara mereka yang tidak bersekolah, karena sekolah hanya ada di ibu kota negara, dan jarak tempuh menuju ibu kota negara paling cepat ditempuh dua hari satu malam dengan kendaraan bermesin, seperti sepeda motor atau mobil.

Di wilayah ini, rumah tahanan cukup dibangun dengan dikelilingi benteng dari tembok setinggi dua puluh lima meter yang dibubuhi puluhan meter kawat berduri di puncaknya, dengan dua gerbang utama masuk di depan dan di belakang bangunan. Semenjak direnovasi tiga setengah tahun yang lalu, tidak ada yang berubah dari tempat ini, kecuali para penghuni tahanan yang semakin sesak.
***

Saya melihat lelaki muda itu keluar dari bangunan aula dengan pakaian kaos hitam dan celana hitam pendek selutut—o iya, saya lupa menyampaikan, di sini tidak disediakan seragam khusus untuk para tahanan, tapi cukup dengan pakaian yang diberikan oleh anggota keluarga atau relasi terdekat mereka.

Sejenak, lelaki muda itu tertegun melihat saya. Ia diam menatap saya seakan tengah mengais-ngais ingatan, siapa orang yang berdiri di hadapannya ini. Namun, saya tidak memberi banyak waktu agar ia leluasa menelusuri celah-celah ingatannya itu, karena saya gegas memberinya isyarat untuk mengikuti saya. Ia berjalan di belakang saya ketika kami pergi menuju sebuah ruangan yang terkadang digunakan sebagai ruang interogasi, padahal ruangan itu bukanlah ruang interogasi resmi, melainkan ruang istirahat dan berkumpul sementara para sipir.

Di ruangan itu ada tiga orang sipir yang tengah beristirahat. Posisi mereka berjarak sekitar tiga meja dari meja yang kami duduki. Lelaki muda itu duduk membelakangi para sipir dan menghadap ke arah muka saya. Saya menanyakan kabarnya. Ia menjawab dengan anggukan, bertanda baik-baik saja. Selanjutnya kami diam beberapa menit, karena saya melihat gelagat, bahwa ia belum siap diberikan pertanyaan. Saya rasa, ia belum selesai menelusuri celah-celah ingatan, siapakah diri saya. Kali ini, saya sengaja membiarkannya. Dengan tenang, saya menunggu angka-angka waktu berkisar di sekitar kami. Tidak berapa lama, saya melihat kedua alis matanya sedikit terangkat dibarengi dengan tatapan mata yang sedikit menghentak. Ia menatap saya dengan gerak tubuh menegak agak condong, tetapi ia tidak berkata apa-apa.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya saya memulai komunikasi dengannya. Ia diam. Lalu saya pun diam menunggu jawaban darinya. Tetapi, tidak ada jawaban. Ia malah menunduk sambil sesekali bertatapan dengan saya.

“Bagaimana perasaanmu terhadapnya?”

Ia diam.

....

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” saya mengulangi pertanyaan saya yang pertama

Ia masih diam.

“Apakah kamu tahu, kamu telah membuat luka memar di lehernya?”

Ia tetap diam.

Kami diam.

Lelaki muda di hadapan saya ini bergeming sama sekali. Sekarang, ia malah memainkan jari-jari kukunya, menundukkan kepala, dan tetap sesekali bertatapan dengan saya. Sedikit pun, saya tidak melepaskan pandangan darinya. Saya menelisik tingkah-laku dan ekspresi wajahnya itu —yang selalu mengherankan saya, karena selalu nampak baik-baik saja. Selanjutnya, kami pun hanya saling diam dan kebisuan itu terjadi selama sekitar tigapuluh menit.

Saya tidak ingin memaksa dia membuka mulut, karena paksaan malah akan membuat dia terpaksa mencari-cari jawaban yang dimanipulasi.

“Menurutmu, bagaimana tindakanmu itu terhadapnya?” tanya saya kepada Bagume, lelaki muda yang kini masih tetap asyik bermain dengan jari-jemarinya.
Namun, Bagume tetap diam....
***

Lelaki tua itu diam. Ia seakan tidak sanggup lagi bercerita kepada saya tentang peristiwa yang menimpa anak perempuannya. Sesekali ia berusaha menahan diri untuk tidak menangis. Namun, kedua matanya perlahan berkaca-kaca dan warna merah menyembur samar di wajahnya. Sungguh, ia terlihat sangat susah dan semakin nampak tua dibandingkan usia yang sebenarnya. Meskipun sepertinya akan sangat sulit untuk membuat ia bercerita, tetapi saya harus mengetahui segalanya, dan saya akan menunggu.

“Ia menangis sepanjang hari. Terkadang saya tidak percaya kejadian itu terjadi padanya. Mungkin, karena ia tahu, sebentar lagi anakku akan menjadi perempuan dewasa, hal inilah yang telah menarik perhatian lelaki itu,” lanjut lelaki tua itu bercerita. Saya memandang dengan lekat wajah lelaki tua itu. Keringat diam-diam telah mengusap kebisuannya.

“Ia dari Malifuru. Begitu pula para polisi itu, mereka juga Malifuru. Seperti yang telah saya dengar tempo hari, ayah si lelaki itu datang ke kantor polisi, minta anaknya dibebaskan. Ia bawa uang. Ia minta kasus ini ditutup,”

“Anak saya..., “ ia terdiam kebingungan. Ragu-ragu.

“Kami..., kami bukan Malifuru.” Tegasnya.

Mendengarkan cerita lelaki tua itu telah membuat saya menelusuri ingatan penuh dengan lamunan, seakan tengah menjejakan diri kembali pada puing-puing kekejian masa lalu.
“Saya ingin membunuh lelaki itu, tetapi istri saya, keluarga saya, dan para tetangga melarang saya. Sekarang, saya tidak tahu apakah lelaki itu masih ada di penjara atau tidak.” Ucap lelaki tua itu mengakhiri sebongkah kisah tragis saat setetes air mata jatuh ke punggung tangannya.

Saya menghela nafas. Berat dan perih. Sepatah kata pun tidak keluar dari mulut saya, tetapi hati saya semakin berat menahan tumpuan emosi dan serpihan ingatan masa lalu, tentang kami, tentang peristiwa berdarah itu. Tentang perang, di masa lalu.
***

Setelah perang selesai, banyak kasus pemerkosaan terjadi pada para perempuan di wilayah ini; tidak mengenal apakah perempuan itu masih perawan atau tidak. Selama ini para pemerkosa pun tidak pernah mendapatkan ganjaran setimpal. Mereka hanya mendapat hukuman tahanan sementara atau saling sikut meredam kasus itu agar tidak timbul ke permukaan; tidak diketahui masyarakat, dengan suap, menikahi si perempuan diam-diam, atau main dukun sihir. Maka, tak pelak setiap tahun tingkat kasus pemerkosaan pun meninggi. Akhirnya, pemerkosaan seperti telah dianggap tindakan lumrah oleh sebagian pihak dan tidak berlaku sebagai sebuah tindak kejahatan. Sedangkan pemerintah kami masih miskin dalam masa paska perang sehingga mereka lebih banyak diam.

Lalu, saya dengan beberapa kawan jurnalis di radio siaran lokal mendirikan Perkumpulan Pembaharu, dengan mengumpulkan beberapa perempuan korban pemerkosaan, perempuan yang masih perawan dan sudah menikah, juga para lelaki yang salah seorang anggota keluarganya merupakan korban pemerkosaan. Perkumpulan Pembaharu adalah sebuah organisasi penyuluhan dan saling berbagi. Bahkan, kami pun mewawancarai salah seorang anggota keluarga korban pemerkosaan untuk kami siarkan langsung melalui radio siaran lokal.

Kami tahu, tindakan ini akan mengancam keselamatan hidup kami. Seperti yang telah terjadi sebulan lalu, dua orang perempuan jurnalis radio kami disekap setelah siaran langsung dengan salah satu korban pemerkosaan. Namun, syukurlah, kami berhasil membebaskannya dengan negosiasi yang lama dan penuh siasat itu.

Seperti sore ini, seorang lelaki bernama Samburu bercerita di hadapan kami. Pada awalnya, ia enggan untuk datang ke Perkumpulan Pembaharu ini bersama istrinya, karena ia malu dan takut —istri Samburu telah menjadi korban pemerkosaan oleh enam orang lelaki tak dikenal.
“Saya marah kepadanya, tetapi istri saya tidak salah apa-apa. Saya dendam kepada mereka, tetapi saya bisa apa. Saya menangis setiap malam. Saya ingin mengembalikan istri saya kepada keluarganya!” tegas Samburu. Namun, sesaat kemudian ia berhenti bercerita, matanya berkaca-kaca, tangannya gemetar, dan wajahnya tersapu merah. Tak berapa lama Samburu menundukkan kepalanya, mengatur nafas, dan mulutnya merapat kuat seakan ia tengah menggigit lidahnya, menahan rasa perih dan sakit tak terkirakan. Kami semua diam.
“PERUBAHAN! YA!”

Tiba-tiba seorang perempuan berdiri dan lantang meneriakkan kata-kata “keberanian” kami. Setelah mendengar itu, gegas, kami seperti tersihir untuk bangkit lalu dengan serentak mengoarkan kata-kata itu, berkali-kali. Semakin kuat, semakin lantang. Kemudian Samburu pun menengadahkan kepalanya. Ia tajam menatap kami dan berteriak, “Perubahan! Ya!”
“Saya pun akhirnya mengembalikan istri saya kepada keluarganya. Namun, setelah itu, selama dua minggu saya tidak bisa tidur nyenyak. Pikir saya, ‘istri saya tidak bersalah, kenapa saya harus membuangnya?’ Setelah saya berpikir rapat-rapat, keesokan hari, saya menjemput istri saya ke rumah keluarganya. Saya bawa ia kembali bersama saya, karena saya memang mencintainya,” katanya.

“Dan selama enam bulan, kami berjuang mengembalikan segalanya menjadi utuh, tetapi ternyata tidak semudah itu. Namun, saya selalu percaya pada waktu yang akan memberi kami harapan. Dan kita, tidak akan berhenti untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Perubahan! Ya!” ujar Samburu mengakhiri kisah perihnya kepada kami.

Tidak semua perempuan di wilayah ini seberuntung memiliki suami seperti Samburu dan tidak semua lelaki memiliki keberanian seperti Samburu untuk bercerita dan membagi sebongkah perih dan keberanian itu kepada kami. Cerita itu, cerita yang telah disampaikan Samburu mengingatkan saya ketika suatu sore, beberapa tahun yang lalu, suami saya meninggalkan saya. Setelah saya bercerita tentang malam jahanam itu kepada suami saya, ia menangis dan saya pun menangis, tetapi ia tidak bisa mengekang keinginannya untuk kemudian mengembalikan saya kepada keluarga saya. Dan hingga saat ini, saya pun tidak pernah mendengar lagi sesayup kabar darinya.
***

Bagume masih diam....

Ia masih asyik memainkan jari-jarinya. Usianya memang masih remaja. Saya pun tahu, Bagume tidak pernah mencecap kehidupan sekolah. Kini, ia sekilas tampak seperti jiwa seorang anak kecil yang terjebak di dalam raga orang dewasa. Ia menatap saya dengan wajah yang polos, wajah yang selalu nampak baik-baik saja, wajah yang..., ah, saya rasa, penjara tidak membuat dirinya merasa sebagai seorang terhukum. Ya, Bagume selalu nampak baik-baik saja.
“Apa kamu tahu tindakanmu itu telah melukainya?” tanya saya.

Bagume diam. Saya pun diam. Ia malah terbuai menarik-narik sehelai benang sisa berwarna putih yang menjuntai di lengan kaosnya, lalu ia memutuskannya dari rekat jahitan kaos itu. Selanjutnya, ia memintalkan sehelai benang putih itu di telunjuk tangan kirinya, lalu ia tarik, dan ia pintalkan lagi di sana.

“Apa kamu menyadari bahwa tindakanmu adalah kejahatan?” tanya saya lagi.

Bagume tetap diam. Saya memperhatikannya dengan tenang, berusaha menahan keperihan gadis itu; keperihan kami. Bagume menundukkan kepala, sesekali ia masih bertatapan dengan saya, dan sesekali menatap pintalan benang putih di telunjuk tangan kirinya. Wajahnya itu, selalu nampak baik-baik saja...***

bumi singgah, 2009

Riau Pos, Minggu, 4 Oktober 2009

Monolog Hujan

Percakapan Awal: Surat Tanpa Alamat

Pintu-pintu tahun bersibak seperti pintu-pintu bahasa, menuju entah. Semalam kau bertutur kepadaku: esok, kita musti menemukan isyarat-isyarat, mengurai lanskap, merancang rencana di halaman ganda. Esok, kita mesti menemukan, sekali lagi (1).

Lelaki itu kembali mengirim pesan yang sama. Ditulis olehnya di atas kertas lusuh dengan tinta hitam, tanpa tanggal, tanpa salam. Amplop yang hampir menguning karena disimpan terlalu lama di dalam almari pakaiannya. Namun, lelaki itu tampak tidak peduli dengan keadaan surat yang kisruh itu. Sebuah pesan—juga beberapa pesan lainnya telah ia tulis jauh hari sebelumnya, yang tidak mungkin sampai di tangan Paz. Perangko kilat itu pun telah dijilatnya jauh hari lalu ditempelkannya dengan sangat hati-hati. Hingga akhirnya pada hari ini, lelaki itu melangkahkan kakinya dengan gegas ke sebuah kantor pos.

Gedung kantor pos tua yang rimpuh. Kantor pos yang lengang. Lelaki itu hanya bisa terpana melihat sekeliling ruangan kantor pos yang lengang dan menggaung. Sekarang orang-orang lebih senang berkirim kabar dengan telepon, pesan-pesan singkat pada telepon genggam, atau surat elektronik. Konon, kala senja tenggelam dalam keheningan, hampir setiap hari lelaki itu sering berkirim kabar dengan kawan-kawannya yang berada di luar kota melalui pesan-pesan singkat melalui telepon genggamnya. Tetapi kali ini tidak. Saat ini kabar itu dikirimnya melalui pos, dengan surat tanpa alamat. Surat tanpa alamat. Akankah sampai? Sungguh, ia tak tahu lagi alamat Paz. Paz sudah lama hilang. Dia gelisah. Lelaki itu tak dapat melanjutkan hidupnya tanpa merindu Paz. Tanpa melayarkan kata-kata—walaupun hanya beberapa larik saja—kepada Paz. Ya! Hanya kepada Paz semata. Namun lelaki itu percaya, surat-surat itu akan sampai di tangan Paz walaupun tidak ada alamat tujuan.

Di ruangan kantor pos, langkah kaki lelaki itu menggema. Menapaki jejak-jejak kenangan yang lekang, tanpa usia. Ada sebongkah ingatan; lama sekali lelaki itu melayani rasa bersalahnya yang besar pada kehidupan. Tanpa asal-usul, tanpa duga, tanpa prasangka, yang lambat laun merambat pada jisimnya yang semakin ringkuh. Pada memoar perjalanan yang dahulu telah diselaminya, bersama Paz.

Kemudian diserahkannya surat itu, seperti menyerahkan duka dari luka yang tidak dapat disembuhkan. Dulu, petugas kantor pos menolak semua surat yang akan dikirimkan lelaki itu. Alasannya sangat jelas: surat tanpa alamat. Namun, lelaki itu tetap bersikeras menolak mengambil surat-surat itu kembali. Lelaki itu selalu memaksa untuk mengirimkannya, karena dia percaya Paz akan menerimanya. Lelaki itu kembali memaksa. Akhirnya, petugas kantor pos menyimpannya, mungkin suatu hari lelaki itu akan kembali ke kantor pos itu dan memberitahukan sebuah alamat atau kelak petugas kantor pos itu mengetahui alamat tujuannya: Paz. Ya, secarik alamat bagi ribuan kata yang kesepian dan sendiri pada kertas-kertas lusuh dan mungkin kelak pesan-pesan itu akan bersauh.
**

Percakapan Malam: Sebuah Pertemuan

Mungkin puisi hanya menyisakan mendung dan luka, keluh saya pada lelaki itu.
“Seperti wangi yang menyisakan debar dalam pahitnya perjalanan,” ucapnya. Walaupun langit sehabis hujan, masih ada bintang yang sedikit terang di langit. Seandainya saya dapat menatap apa yang tengah kau tatap saat ini, mungkin saya tidak akan mengeluh.

“Aku melihat pintu lantai atas masih terbuka. Tutuplah. Nanti ada angin jahat….”

Ah, apakah setiap peristiwa terjadi dengan kebetulan belaka? Atau hanya keterdugaan semata? Pintu di lantai atas memang masih terbuka, tapi tidak menjemput angin, melainkan sedang menjemput hujan yang kini datang. Di kotamu mungkin kau telah merasakannya. Hening bukan?

“Kalau begitu biarkan saja pintu itu berbisik, yang tulus murni di hati manusia tak lapuk dibasuh hujan. Mungkin kita seperti ikan yang bercakap-cakap di kedalaman,” akhirnya kau sadar. Maaf, selama ini saya harus terus bersembunyi darimu. Bersembunyi di belakang kata-kata yang membuatmu terus bertanya tentang saya, tanpa henti. Tentang asal-usul saya yang membuatmu gundah. Mungkin tak labutlah saya lakukan itu. Ingin saya tanyakan tentang Paz kepadamu, tapi saya enggan. Kabar kalian yang tidak takut untuk saling bertemu, bahkan sesekali saling merindu, dan berbagi puisi, itu kata Paz.

Angin memberimu kisah rantau dan biarkanlah riak air menjadi udara yang mengantarkan kata-kata yang tak terdengar. Kita hanya manusia yang tak pernah menjelma ikan, lalu menyelam lebih dalam.

“Ya mungkin begitu. Sekarang berpejamlah di kedalaman cemas risauku, hari sedang berkisar… Selamat tidur,” saya tahu kelelahanmu. Larungkan cemas risaumu pada sisa-sisa mimpi yang tak jadi. Genaplah pagi menjadi layaran kudus… Ya selamat tidur. Esok masih menagih janji. Jaga dirimu. Tabik.

Segera saya matikan telepon genggam saya, lalu terlelap menatap gelap. Entah kapan lagi lelaki itu akan berkirim pesan kepada saya, karena kedatangannya tidak bisa saya duga. Mungkin hanya kegelisahan yang akan menghantarkan rahasia sunyi di hati. Pesan-pesan tak terucap, namun kita saling tahu, saling bertemu di udara yang tak dapat kita genggam.
**

Percakapan Pagi: Sebuah Kekalahan

Hujan 00:29

Aku rindu kau. Kirimkan aku puisi. Malam ini aku mau mabuk sampai pagi.
Pagi ini saya harus menemui pesan-pesan itu kembali. Pesan-pesan yang tidak pernah berhenti di telepon genggam saya. Setiap hari hujan tak pernah mereda. Saya tidak tega menghentikannya. Kini, hidupnya dipenuhi kemarahan, ketakutan, dan kesepian. Dia lelah menjadi pihak yang kalah: keinginannya mengalahkan takdir. Tapi dia tidak mau lagi berkorban. Sudah cukupkah apa yang telah dikorbankannya? Entahlah. Saya semakin tidak mengerti, kadang terpaksa coba mengerti. Namun pada akhirnya, saya hanya bisa mengiriminya beberapa penggal puisi dari kawan yang tak dikenal atau sahabat yang tertambat di seberang. Saya pikir, puisi dapat menjadi penawar galaunya selama ini, di antara hari-harinya yang menyedihkan. Iya, hanya itu yang dapat saya lakukan untuknya. Mengiriminya puisi. Hanya beberapa penggalan saja.

Di persimpangan sejarah, kita bersulang senyum sambil mempercakapkan kelahiran demi kelahiran, benda di etalase mimpimu, jurang-jurang atau gang-gang gemerlap yang dingangakan kecemasan metropolitan (2).
**

Hujan 00:00
Beri aku puisi, agar bisa hidup lagi.

Tidak biasanya kau berkirim pesan seawal ini. Malam ini saya sedang lelah. Tidak ada kata-kata di ujung mulut saya. Sejak tadi sore, hujan tidak pernah berhenti. Saya kedinginan. Maafkan saya, malam ini tidak ada penggalan puisi dalam pesan singkat pada telepon genggammu. Jangan memaksa saya dan mengertilah. Hujan malam ini tak membawa bingkisan mimpi untuk saya. Di sini hujan tidak pernah mati, melainkan mengetuk setiap pintu dan jendela dengan atap-atap sirap. Membunuh kehangatan dan kelam mimpi para penghuni rumah, juga puisi malam ini yang harus saya simpan baik-baik di almari serapi mungkin.
**

Percakapan Bias: Saya dan Paz

“Paz, bagaimana kabarmu?” seperti biasa, Paz hanya bermain dengan kata-kata pada puisi-puisinya yang belum jadi. Tak ada jawaban. Saya kira Paz tahu, menanyakan kabarnya hanya basa-basi saya saja, yang tiba-tiba (terpaksa) menyapa. Saya pun diam, seperti hendak mempersilakan waktu untuk berhenti sesaat, kemudian lewat di antara kami dan menyihir kami dengan denyut-denyut angin yang sedari tadi menerbangkan helai rambut yang menutupi wajah Paz. Kedua mata Paz enggan menyapa saya. Mata yang diam dan kaku. Mata yang semu.
“Bagaimana kabar Jose? Saya dengar kau pernah berkirim kabar dengannya? Masihkah?” lantang saya menanyakan hal itu kepada Paz. Sungguh, awalnya saya tak punya niat bertanya hal itu kepadamu, Paz. Saya tahu. Kenapa saya harus memberi pisau lagi kepadamu, setelah dia melukaimu. Entahlah Paz. Ada yang menampar mulut ini tanpa saya perintah. Ada yang tak bisa saya cegah dalam diri saya ini. Maaf dan mengertilah.

Tiba-tiba Paz berhenti bermain. Tertegun sesaat. Adakah yang melintas di sana? Adakah serpihan yang disisakannya untukku? Di dalam relung kenangan yang sempat usang itu? Ah, Paz rupanya masih mengingat. Mengingat jejak-jejak lekang itu dalam dirimu, Paz. Syukurlah jika Paz merasa aku ada di sana bersamanya. Namun, diam Paz hanya sesaat dan dia kembali bermain.

Paz, apa yang harus aku lakukan terhadapmu? Aku pun lelah.

“Lama sekali saya tidak memberinya kabar,” ucap saya, dengan harapan Paz segera memberitahu saya ke mana bisa menghubungi kembali lelaki itu. Ingin saya bercerita kepada Paz tentang hujan yang tak pernah mereda, mencucuri malam saya dengan pesan-pesan asing. Teka-teki asing. Pesan-pesan yang membuat saya tidak bisa tidur terlelap setiap malam. Malam yang berubah menjadi sekam dan membuat hidup saya menjadi semakin mencekam. Tapi Paz, seperti biasa, saya enggan.

Saya ingin sekali tahu, Paz.

Paz semakin asik bermain dan bertingkah seolah saya tidak ada di sana. Kami diam. Sebenarnya saya yang diam, karena Paz masih bermain. Namun, Paz diam dengan beribu-ribu ragu dalam perjalanan masa lalu. Saya menduga, Paz sepertinya tidak ingin jika saya memberi kabar kepada lelaki itu. Kepada lelaki yang membuat daun-daun gugur di musim semi saya. Lelaki yang mengalirkan arus kenangan dan kerinduan dalam kelok alir hidup saya.

Paz menyembunyikan sesuatu dari saya tentang lelaki itu dan sungguh, saya tak peduli apa yang disembunyikannya. Itu bukan urusan saya. Itu urusan Paz dengan lelaki itu, dan saya yakin tak ada hubungannya dengan hidup saya selama ini. Saya hanya ingin memberi kabar saja. Tentang sebuah kisah, Paz.

“Paz, bicaralah,” ucap saya sedikit memaksa. Paz tahu saya kesal, tapi dia tetap diam saja. Sedikit pun tak berkutik.

“Aku di Mixcoac. Surat-surat membusuk dalam kotak-kotak pos (3). Secangkir kopi pahit dan sepotong dosa, itu sudah cukup. Hujan hanya singgah sebentar,” Paz yang tersedu. Saya kaget mendengarnya. Apa yang telah dilakukan hujan pada lelaki itu?

“Katakan Paz?!” saya memaksa. Namun Paz hanya berceloteh hal-hal yang tidak saya mengerti. Paz menceracau tentang entah, tentang hal-hal yang sama sekali tidak saya ketahui. Paz seperti kehilangan kendali dirinya, lalu tiba-tiba menangis memeluk saya. Air matanya membasahi bahu saya. Saya hanya diam. Kesedihan tiba-tiba menyergap hati dan ingatan saya. Paz terus tersedu. Sungguh, saya tidak bisa memaksanya lagi untuk bercerita lebih banyak tentang lelaki itu. Lelaki yang menemani mimpi-mimpi saya. Akhirnya, saya hanya bisa memeluk erat Paz dan meredakan sedu-sedannya lalu berharap, kapankah hujan akan reda di pelupuk matamu, Paz?
**

Percakapan Akhir: Monolog Hujan

Ya, hujan itu pindah ke luar jendela kamarku. Sekarang aku kedinginan. Aku tak ingat siapa diriku. Aku hilang pada sebuah insiden di malam hujan. Kenapa aku ditinggal? Di sini hujan. Aku tak yakin kau tengah merindukannya, apalagi mencintainya. Malam nanti hujan akan turun di sana. Tunggulah di balik jendela, sambil rangkaikan mimpimu untuknya.

Hujan deras di luar rumah. Rinainya menggenang seperti danau. Aku sedang mencari angsa di sana. Masih hujan, tapi apakah kau percaya atau tidak, aku mendapat angsa di tengah danau rinai hujan. Aku menari bersamanya. Mungkin besok aku sudah sampai di jalan-jalan yang dulu pernah dilewatinya dan juga tempat-tempat yang memungkinkan bagi dia dikuburkan.

Aku hanyut dalam sengkarut ingatan. Rasa-rasanya dia ada di sini, tapi di mana? Hujan adalah kenangan hidup dan awal kehidupan. Di mana lumpur menggenang adalah tumpukan sejarah yang mengingatkan kita pada masa silam. Pada sebuah pertemuan yang membahagiakan dan perpisahan yang menyedihkan. Kenangan pada kisah kota tua. Kata-kata yang merampas peradaban yang ada di sana. Petani yang mencangkul genangan lumpur dan berharap dia mendapatkan secercah harapan dari sejarah yang buram.

Mari, tulis sejarah baru dari rinai-rinai hujan sore ini. Jadikan manuskrip tua dengan bau yang khas dari perpustakaan lama. Adalah doa yang memayungi kata-kata dari hujan makna. Hujan adalah kenangan pada masa-masa lapar dan miskin yang mengutuki kehidupan kita. Lembar-lembar yang termaktub di dalam lumpur.
**

Sebuah Epilog

Lelaki itu terlampau mencintai laut. Mencintai gelombang pasang, deru ombak, ringkik karang, tangis tanjung, dan bulir pasir yang menemani kelam mimpi dan gelisah hidupnya. Melindungi dirinya dengan kisah-kisah yang ditulis dalam kertas lusuh dan amplop tanpa alamat. Lelaki itu sendiri menyelami setiap luka dan duka yang disayatnya untuk saya: perempuan yang mencintai laut dan hujan. Namun, luka itu menjadi bersahaja dan menjelma menjadi kerinduan dalam kenangan perjalanan.

Saya hanya perempuan yang tersesat dalam danau. Di sini terlalu dingin. Saya hanya dapat mencintai hujan, sedangkan laut yang kaucintai, menjadi serpih rindu dari permainan puzzle yang setiap petang saya mainkan. Mencintai adalah melepaskan kehendak diri. Bagi saya, kau hanya menjadi teka-teki asing yang tak dapat menepati janji.***

(1) Penggalan puisi “1 Januari” karya Octavia Paz.
(2) Penggalan puisi “Duka yang Dikirim Waktu” karya Nanoq Da Kansas.
(3) Penggalan puisi “Kembali” karya Octavia Paz.


Pikiran Rakyat, Sabtu, 26 Juli 2008

Kutipan dari Pram

www-thequotefactory-com
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
― Pramoedya Ananta Toer

“Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan.”
― Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

 “Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?”
― Pramoedya Ananta Toer

 “Kalian boleh maju dalam pelajaran, mungkin mencapai deretan gelar kesarjanaan apa saja, tapi tanpa mencintai sastra, kalian tinggal hanya hewan yang pandai.”
― Pramoedya Ananta Toer

“Kesalahan orang-orang pandai ialah menganggap yang lain bodoh, dan kesalahan orang-orang bodoh ialah menganggap orang-orang lain pandai”
― Pramoedya Ananta Toer

 “seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”
― Pramoedya Ananta Toer, This Earth of Mankind

 “Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. ”
― Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

 “Menulis adalah sebuah keberanian...”
― Pramoedya Ananta Toer

 “Kalau mati, dengan berani; kalau hidup, dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.”
― Pramoedya Ananta Toer

 “Kau akan berhasil dalam setiap pelajaran, dan kau harus percaya akan berhasil, dan berhasillah kau; anggap semua pelajaran mudah, dan semua akan jadi mudah; jangan takut pada pelajaran apa pun, karena ketakutan itu sendiri kebodohan awal yang akan membodohkan semua”
― Pramoedya Ananta Toer
 
“Dan alangkah indah kehidupan tanpa merangkak-rangkak di hadapan orang lain”
― Pramoedya Ananta Toer

 “Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.
(Anak Semua Bangsa, h. 199)”
― Pramoedya Ananta Toer

 “Masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri”
― Pramoedya Ananta Toer

 “Menulislah sedari SD, apa pun yang ditulis sedari SD pasti jadi.”
― Pramoedya Ananta Toer

 “Kau terpelajar, cobalah bersetia pada kata hati.”
― Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

“Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki. Tapi bukan berarti aku tidak butuh lelaki untuk aku cintai. (Nyai Ontosoroh)”
― Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah
(Rumah Kaca, h. 352)”
― Pramoedya Ananta Toer

 “Orang bilang ada kekuatan-kekuatan dahsyat yang tak terduga yang bisa timbul pada samudera, pada gunung berapi dan pada pribadi yang tahu benar akan tujuan hidupnya
(Rumah Kaca, h. 409)”
― Pramoedya Ananta Toer

“Dahulu dia selalu katakan apa yang dia pikirkan, tangiskan, apa yang ditanggungkan, teriakan ria kesukaan di dalam hati remaja. Kini dia harus diam- tak ada kuping sudi suaranya.”
― Pramoedya Ananta Toer

“Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain.”
― Pramoedya Ananta Toer, Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

“Kalau kemanusiaan tersinggung, semua orang yang berperasaan dan berfikiran waras ikut tersinggung, kecuali orang gila dan orang yang berjiwa kriminal, biarpun dia sarjana”
― Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

“Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.
(Rumah Kaca, h. 46)”
― Pramoedya Ananta Toer

“Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri”
― Pramoedya Ananta Toer

“setiap pejuang bisa kalah dan terus-menerus kalah tanpa kemenangan, dan kekalahan itulah gurunya yang terlalu mahal dibayarnya. Tetapi biarpun kalah, selama seseorang itu bisa dinamai pejuang dia tidak akan menyerah. Bahasa Indonesia cukup kaya untuk membedakan kalah daripada menyerah
(Prahara Budaya, h. 187)”
― Pramoedya Ananta Toer

“Kita telah melawan Nak, Nyo. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”
― Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

“Kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia
(Rumah Kaca, h. 436)”
― Pramoedya Ananta Toer

“Kehidupan lebih nyata daripada pendapat siapa pun tentang kenyataan
(Anak Semua Bangsa, h. 199)”
― Pramoedya Ananta Toer

“Barangsiapa muncul di atas masyarakatnya, dia akan selalu menerima tuntutan dari masyarakatnya-masyarakat yang menaikkannya, atau yang membiarkannya naik.... Pohon tinggi dapat banyak angin? Kalau Tuan segan menerima banyak angin, jangan jadi pohon tinggi”
― Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

“Tanpa mempelajari bahasa sendiri pun orang takkan mengenal bangsanya sendiri”
― Pramoedya Ananta Toer

 “Pernah kudengar orang kampung bilang : sebesar-besar ampun adalah yang diminta seorang anak dari ibunya, sebesar-besar dosa adalah dosa anak kepada ibunya
(Anak Semua Bangsa, h. 98)”
― Pramoedya Ananta Toer

 “Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas
(Bumi Manusia, h. 138)”
― Pramoedya Ananta Toer

 “Saya selalu percaya--dan ini lebih merupakan sesuatu yang mistis--bahwa hari esok akan lebih baik dari hari sekarang.”
― Pramoedya Ananta Toer

 “Jangan kau mudah terpesona oleh nama-nama. Kan kau sendiri pernah bercerita padaku: nenek moyang kita menggunakan nama yang hebat-hebat, dan dengannya ingin mengesani dunia dengan kehebatannya—kehebatan dalam kekosongan. Eropa tidak berhebat-hebat dengan nama, dia berhebat-hebat dengan ilmu pengetahuannya. Tapi si penipu tetap penipu, si pembohong tetap pembohong dengan ilmu dan pengetahuannya.
(Anak Semua Bangsa, h. 77)”
― Pramoedya Ananta Toer

 “Kau Pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, Pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus, harus bicara pada mereka , dengan bahasa yang mereka tahu”
― Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

“Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana;biar penglihatanmu setajam elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari para dewa, pendengaran dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput
(Bumi Manusia, h. 119)”
― Pramoedya Ananta Toer

 “Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia.
(Anak Semua Bangsa, h. 204)”
― Pramoedya Ananta Toer

 “Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya. Kan begitu Tuan Jenderal?
(Jejak Langkah, h. 32)”
― Pramoedya Ananta Toer

 “Setiap tulisan merupakan dunia tersendiri, yang terapung-apung antara dunia kenyataan dan dunia impian
(Rumah Kaca, h. 138)”
― Pramoedya Ananta Toer

 “Pada akhirnya persoalan hidup adalah persoalan menunda mati, biarpun orang-orang yang bijaksana lebih suka mati sekali daripada berkali-kali
(Rumah Kaca, h. 443)”
― Pramoedya Ananta Toer

 “Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan.”
― Pramoedya Ananta Toer

 “Jarang orang mau mengakui, kesederhanaan adalah kekayaan yang terbesar di dunia ini: suatu karunia alam. Dan yang terpenting diatas segala-galanya ialah keberaniannya. Kesederhaan adalah kejujuran, dan keberanian adalah ketulusan.”
― Pramoedya Ananta Toer, Mereka Yang Dilumpuhkan

 “Cerita tentang kesenangan selalu tidak menarik. Itu bukan cerita tentang manusia dan kehidupannya , tapi tentang surga, dan jelas tidak terjadi di atas bumi kita ini".”
― Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

 “Tak ada satu hal pun tanpa bayang-bayang, kecuali terang itu sendiri.”
― Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

 “Setiap pengalaman yang tidak dinilai baik oleh dirinya sendiri ataupun orang lain akan tinggal menjadi sesobek kertas dari buku hidup yang tidak punya makna. Padahal setiap pengalaman tak lain daripada fondasi kehidupan”
― Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2

 “Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusian dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan barang secuwil pun. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya.”
― Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2

“Binatang itu bicara, makan -- tapi tak mengerti dirinya sendiri. Dan aku begitu juga.”
― Pramoedya Ananta Toer, Mereka Yang Dilumpuhkan


“Hidup tanpa harapan adalah hidup yang kosong”
― Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 1

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi

Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...