Seppuku
Awalnya saya akan bunuh diri hari ini. Tetapi tiba-tiba niat itu terhenti karena kedatangan suatu lintasan berupa ingatan. Ingatan itu menyeruak, memaksa saya untuk tetap hidup sementara waktu. Jelas sekali, saya tidak ingin mati dengan cara yang menyedihkan berdasarkan versi saya sendiri, yaitu mati tanpa memiliki kenangan. Saya pikir itu tidak akan menjadi terlalu menyedihkan bagi saya. Saya mengurungkan niat itu karena sebuah benda yang saya temukan di gudang, di lantai dua rumah saya.
Awalnya saya merasa terganggu oleh lengkingan suara, seperti suara kucing. Saat saya periksa, ternyata dugaan saya benar. Ada empat ekor bayi kucing dan induknya dalam sebuah kardus kosong. Saya tidak tahu bagaimana induk kucing itu bisa sampai ke lantai dua rumah saya, saya pun tidak terlalu memedulikannya. Saya pun segera memindahkan kardus kucing itu dan itu berarti saya pun harus memindahkan beberapa tumpukan kardus di bawahnya. Di sanalah saya menemukan geletak surat undangan yang telah usang. Surat undangan yang usang itu bagai tertanam di dasar tumpukan kardus-kardus buku-buku bekas, lembaran kertas-kertas tugas, data-data kepenulisan, barang pernak-pernik yang setiap satu buahnya adalah kunci bagi ingatan-ingatan saya. Surat undangan itu rupanya telah terjatuh sekian lama dari kardus penyimpanan barang pernak-pernik ketika saya meletakkannya pertama kali di gudang sehingga saya baru bisa melihatnya lagi hingga saat ini. Surat undangan yang usang itu bukanlah surat undangan biasa serupa undangan untuk pernikahan, perayaan ulang tahun, atau undangan menghadiri acara dan kegiatan sastra yang biasa saya terima. Surat undangan yang usang itu sepertinya ditulis sebagai sebuah tantangan terhadap diri saya daripada sebagai surat undangan.
Kolektor
Sekitar tujuh tahun yang lalu, saya bertemu dengan seseorang. Laki-laki. Dia telah membuat saya tertarik kepadanya karena namanya. Kekariban yang begitu licin menghampiri kami yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Saya bukanlah orang yang mudah begitu karib terhadap laki-laki meski telah bertemu beberapa kali. Saya pun tak dapat memungkiri diri bahwa saya orang yang membosankan dan dingin. Ketika saya berbicara dengan lawan bicara saya, mereka pasti akan langsung menjauhi saya dengan berbagai alasan. Dari jarak yang jauh, mereka seolah-olah telah melihat saya memang begitu membosankan. Tampaknya saya tidak terlalu membutuhkan dunia yang dipenuhi komunikasi.
Namun menjadi berbeda setelah saya bertemu dengan lelaki itu, yang saya ketahui kemudian namanya adalah Sangdenai. Mendengar ia memperkenalkan diri dan mengucapkan namanya telah membuat saya senang sekaligus penasaran, meskipun saya menyadari nama itu bisa saja bukan nama aslinya, namun hal itu tidak menyurutkan niat saya. Saya merasa telah menemukan sesuatu yang membuat diri saya tertarik kepadanya tanpa ia harus bersusah payah untuk membuat saya tertarik terhadapnya.
Saya bertemu dengannya di sebuah toko buku. Ketika itu, saya tidak tahu bahwa ia adalah salah satu pemilik toko buku itu, sampai kemudian ia mengajak saya ke sebuah ruangan di belakang toko buku itu yang berukuran sekitar 5 x 5 meter yang dipenuhi dengan buku-buku koleksinya setelah pertemuan kami yang kesekian. Saya akui, buku-buku di toko bukunya tidak ada satu pun yang menarik perhatian dan minat saya. Namun tentu saja saya tidak akan mengatakan hal itu kepadanya. Meskipun saya membosankan, saya tidak terlalu tolol untuk merencanakan strategi pertemuan saya dengannya.
Ia mengatakan semua buku-buku itu tidak dijual. Saya perhatikan buku-buku koleksinya lebih banyak daripada buku-buku yang ia jual di toko bukunya sendiri. Buku-buku di ruangan itu menarik perhatian saya. Seluruh buku di ruangan itu disusun rapi secara alfabet seperti di perpustakaan umum dan tersimpan dalam lemari kaca lima tingkat. Dari situ saya berkesimpulan, bahwa buku adalah benda yang paling berharga baginya dan ruangan itu pasti perpustakaan pribadinya. Akan tetapi ketika saya menanyakan itu, ia bilang buku-buku itu bukanlah benda yang paling berharga baginya dan bukan perpustakaan pribadi.
"Jika begitu untuk apa buku-buku itu?" tanya saya penasaran.
"Saya kolektor, bukan pustakawan!"
Sungguh mengagetkan ia menjawab seperti itu, namun sangat rasional bagi saya. Hal yang paling utama bagi seorang kolektor adalah memiliki benda yang ingin dikoleksinya. Tak ada alasan yang mengharuskan untuk benda-benda itu dipergunakan atau dibaca seperti buku-buku koleksi miliknya.
"Lalu mengapa buku-buku itu tidak berharga, tetapi tetap disimpan sebagai koleksi?"
"Karena itu pilihanku. Aku memiliki berbagai jenis benda yang kukoleksi. Dan dibandingkan jenis benda koleksiku yang lain, koleksi buku-buku ini bukanlah koleksi yang paling berharga buatku."
"Hmm, sayang sekali ya buku-buku ini tidak bisa dibaca atau dipinjamkan...," ucap saya menggerutu pelan sekali berharap ia tidak mendengarnya. Namun rasanya, Sangdenai telah mendengarnya, "Karena itu pun pilihanku! Aku tidak melakukan sesuatu karena alasan tertentu, tetapi karena aku ingin melakukannya. Termasuk untuk tidak membaca dan meminjamkan buku-buku ini!" jelasnya. Keinginan dan pilihan dalam diri manusia untuk memutuskan sesuatu memang luar biasa dan mengejutkan, seperti halnya saya yang berkeinginan untuk bertemu dengannya. Postur tubuh Sangdenai tinggi seolah-olah menjelma pohon Angsana yang rawan rubuh. Kulitnya yang putih serupa lapisan kambium pohon Ekaliptus. Rambut panjang melebihi bahu seolah-olah sulur-sulur akar pohon beringin yang kehujanan. Dan sepasang mata berkacamata serupa burung hantu. Saya menduga, sepasang matanya itu lebih berguna saat datang malam hari sehingga akan memantulkan cahaya dalam kegelapan bak mata burung hantu.
"Apakah kamu memiliki sesuatu yang dikoleksi, Fina?" Saya diam sejenak. Buku-buku yang saya miliki di perpustakaan pribadi di lantai dua rumah saya tidak bisa dibilang koleksi, tetapi karena saya seorang penulis. Namun menurut sepengetahuan saya, suatu benda yang disebut koleksi merupakan benda-benda yang sangat disukai, berjumlah banyak, dan sangat berharga. Maka saya pun menjawab sekenanya, "Buku!"
Maison Bogerijen
Saya tidak menyangka jika pertemuan saya dengan Sangdenai di ruangan seluas 5 x 5 meter itu akan menjadi pertemuan terakhir bagi saya dengannya. Ketika keesokan minggu berikutnya saya mengunjungi toko buku itu, ia tidak ada di sana. Saya putuskan saya akan datang lagi pada minggu berikutnya. Namun, hingga minggu berikutnya dan berikutnya, juga berikutnya lagi, saya tidak pernah bertemu dengannya lagi hingga beberapa bulan selanjutnya.
Sampai enam bulan berikutnya setelah pertemuan terakhir saya dengan Sangdenai, tanpa saya duga seorang kawan saya yang hampir tiga bulan tidak mengontak saya muncul mengirimkan pesan singkat kepada saya. Dia bernama Dian Hartati. Ia mengajak bertemu dengan saya petang hari di Maison Bogerijen. Saya pikir ia mengontak saya lagi karena merindukan saya untuk dapat berbagi cerita ditemani semangkuk glacier, es krim selembut bedak sutra dan sebongkah roti mungil empuk seperti bantal guling. Dahulu, saya dan Dian memang sering datang ke tempat itu. Maison Bogerijen adalah kafe yang megah dan anggun bagi kami. Kami langsung jatuh cinta pada tempat itu setelah sebelumnya kami masuk ke ruang dapur tempat di mana es krim bak salju dan roti serupa kapuk empuk itu dibuat dengan pengaduk adonan dan oven tua.
Petang itu saya segera meluncur menyusuri Jalan Braga dari arah Jalan Wastukencana yang kemudian memotong Jalan Perintis Kemerdekaan dan Jalan Lembong. Maison Bogerijen yang hampir berseberangan dengan Gang Affandi itu tampak berkilau hijau-oranye. Dian terlihat sudah memesan tempat duduk di luar kafe arah gerbang masuk sebelah kanan. Kami saling menyapa dan berbincang-bincang ala kadarnya. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan meletakan benda itu di hadapan saya. Sebuah surat undangan. Saya mengambil dan membacanya, dan tertulis undangan itu berasal dari Sangdenai.
"Hah! Mana mungkin dia bisa begitu ceroboh mengatakan bahwa koleksiku belum lengkap?! Di kota ini tidak ada yang bisa mengalahkanku jika menyangkut soal gelang tangan," ucap Dian dengan nada kesal dan merasa disepelekan. Dian memiliki harga diri yang tinggi jika menyangkut benda-benda koleksi yang dimilikinya. Jika itu boleh dikatakan sebagai kepercayaan diri yang tinggi ataukah kesombongan, saya menduga kedua hal itu ada di dalam dirinya. Dian kemudian menceritakan pertemuannya dengan Sangdenai. Saya menduga itulah mengapa saya selama enam bulan terakhir ini tidak bertemu dengan Sangdenai lagi dan bagaimana ia bisa menghubungkan saya dengan Dian melalui surat undangan itu.
Dalam surat undangan itu tertulis bahwa benda-benda koleksi kami belum lengkap dan jika kami bermaksud melengkapi koleksi milik kami maka datanglah ke tempatnya yang baru. "Dengan mengatakan bahwa koleksiku belum lengkap, tentu akan mengerutkan kehormatanku sebagai seorang kolektor. Aku tidak terlalu memahaminya, tetapi jika koleksiku nanti tidak menjadi lengkap, kukira tak ada salahnya kita datang ke tempat barunya itu," ucap Dian yang saya artikan sebagai ajakan kepada saya untuk bersama-sama pergi ke tempat baru milik Sangdenai itu.
"Baiklah." Saya mengangguk.
Lukisan
Akhirnya saya akan bunuh diri hari ini. Meski saya mati hari ini, esok atau lusa saya akan hidup lagi. Begitulah alur kehidupan saya selanjutnya. Esok atau lusa si kolektor yang mengoleksi saya akan kembali memasukkan saya ke dalam lukisan. Si kolektor akan melukis saya kembali, begitupun dengan yang lainnya. Sekarang saya mengerti mengapa saya dan Dian Hartati diundang ke tempat milik Sangdenai yang baru itu. Tidak hanya kami berdua, tetapi beberapa orang telah diundang oleh Sangdenai. Mereka itu adalah kolektor benda-benda tertentu. Kami telah menunggu hampir lima jam lebih, tetapi si pemilik rumah tidak sekali pun menampakkan batang hidungnya untuk menyambut kami.
Sangdenai si pemilik rumah memang telah menyediakan ruang tidur bagi kami. Melalui pembantunya, ia telah menyediakan seluruh kebutuhan kami sehari-hari mulai dari makanan, pakaian, bahkan pekerjaan sehingga orang-orang ini rela menunggu untuk waktu yang tidak pasti itu. Namun, seiring waktu berkisar dalam penantian kami, saya baru menyadari bahwa beberapa orang telah menghilang di dalam ruangan ini. Jumlah kami berkurang dan jumlah lukisan semakin bertambah. Hingga kemudian Dian pun tidak berada di sekitar saya lagi. Saya sendiri, seakan telah berada di tempat yang paling nyaman sehingga tidak ingin pulang. Seakan itulah rumah saya. Bahkan, tidak saya sadari pula, bahwa saya telah tinggal di rumah itu selama berhari-hari, berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun. Saya pikir, Sangdenai telah melengkapi benda koleksinya yang paling berharga dalam hidupnya, yaitu para kolektor-salah satunya termasuk saya, kolektor koleksinya yang ke-932010.
n.b.
Anda tahu apa yang telah saya lupakan? Hal yang paling penting bagi seorang kolektor adalah mengoleksi sesuatu yang tidak dapat dikoleksi oleh siapa pun.***
bumi singgah, 2010
Pikiran Rakyat, 18 April 2010
