Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

October 4, 2012

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi


Episode Fetus


Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu
Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna
Tanganmu menjelma tunas-tunas dan bintik-bintik alis

wajah emas
Ruang hitam adalah rumah nyaman penuh rindu dan kenangan
Namun aku belum sempat memberimu nama di kulit-kulit ari
di gumpal-gumpal darah di tali pusar akar menikam tanah

Bulan pertama kau bernama kosong

bernama tiada bukan suara
Terembus dari mulut bukan manusia. Kau tahu aku tak pernah
mendengar seseorang mengetuk pintu, memencet bel,
mengirimiku surat ketika aku duduk lunglai di ruang tamu

Adakah engkau tiba-tiba mengada?
Tak terduga dari sangkaku dari waktu rahimku
Kau mengalir, memendar, mencari, menembus
menembus.
Diakah yang datang kala aku dideru nafsu di malam lalu?
Ah! Kita tak pernah tahu bahwa kau lahir dari tiada dari nafas

dari ruh yang tak kupunya.
Dari darah dari tulang dari daging dari urat dari pembuluh darah
bahkan dari DNA yang tak pernah didongengkan sebelumnya

Bilik-bilik tak serupa di kota-kota di gedung bertingkat
di hotel di villa
Membayangkanmu meliuk legat di antara batu-batu, lorong-lorong,
mobil-mobil, dan tiang-tiang penahan jalan layang

Kata mereka, kau menyebut mengulang menghitung angka-angka
waktu pada jam-jam dinding stopwatch lalu meluncur
dari hari per hari minggu per minggu bulan per bulan

Kau terlelap di rahimku mengada dari doa dari tubuh bersekutu
dengan janji dari semesta dari rahasia selama bertahun-tahun
bermasa-masa sebelum manusia pernah ada

Aku selalu bertanya tentang riwayatmu padahal kau pun
tak pernah meminta tak pernah menduga
layaknya pepohonan tumbuh reranting jatuh dan bulir hujan
membasahi tanah batu-batu

sampai ke akarku
Dunia berkata kau memang tak pernah berdosa



bumi singgah, 2009
---


Saksi Maya


Tubuh kami menjelma duri-duri, kabel listrik, dan toilet duduk. Dari timur kami datang membentangkan pagar-pagar besi setinggi tubuh orang dewasa, menancapkan kepala-kepala yang hanya tersenyum pada malam hari. Jalan-jalan terpaksa jadi hening dan tidak tercium lagi aroma natal dan kekudusan. Kami terpasung saat makan malam di kursi kayu sekeluarga, dengan duri-duri, kabel listrik, dan toilet duduk.

Tubuh kami menjelma botol bir, pelatuk senapan, dan kursi pengadilan. Ayah, ibu, kakak laki-laki, dan adik perempuan menjadi lukisan perayaan sejarah orang-orang besar. Kami menjadi pemain sirkus darah-darah peradaban. Perawan-perawan tidak berani pulang ke rumah karena mereka telah menjadi peluru-peluru yang bisu. Kota-kota jadi hening dan malam terpelanting menjadi bau mesiu yang menandai darah yang belum selesai surut dari perang saudara.

Tubuh kami menjelma pamflet, sebatang pohon, dan tiang gantungan. Dari barat kami pulang membawa sekandang ayam-ayam hasil curian dari bukit selatan. Tubuh-tubuh lelaki kami membandul di gerbang kota. Kami tidak tahu. Kami dipaksa buta oleh ninja-ninja. Kami hanya mampu tersungkur dan menggeliat serupa telinga-telinga hadiah ulang tahun dari seorang gadis seberang bernama maria. Tangis kami mungkin hanya sebatas riwayat tari lelawa dengan dasi dan setelan jas. Sepanjang jalan kami mengeras dan terhempas.

Tubuh kami menjelma cerita yang saat ini dirawikan padamu
mendesiskan doa-doa dalam derap bayang-bayang serdadu



bumi singgah, 2010
---

Telah dimuat pada Jurnal Sajak Nomor 1 tahun 2011
Jurnal Sajak Nomor 1 tahun 2011

September 29, 2012

Forum Sastra Indonesia Hari Ini: Jawa Barat


Senja Terakhir di Tataan (1)


Hari itu mungkin hari sepi
paling sunyi
tapi ia musti melangkah pergi

Di benaknya bulir-bulir padi nampak seperti peluru
mengintai hati saat ia keluar dari hutan-hutan
saat para sehedi telah memberi sebayuk restu
dalam riwayat bapaknya
yang abadi dalam ingatan

tapi ia tidak pernah tahu wajah bapaknya
ia lahir disapih peri-peri
dan sulur-sulur pohonan
 yang dikenang perlahan

ia mungkin sudah curi dengar di dalam rahim
hari-hari bagi ibunya selalu harus rahasia
karena benteng telah jatuh
dalam pertempuran
saat ia menghirup kelahiran

ia tumbuh berkapung belukar
bermain dengan lesau murai batu
mamaknya menujah sekutu
saat ia hendak ingin ngaji
sendirian bersama arus kali

Perlawanan belum berakhir, mamak
sanak pergi menuju merabung paling agung
laskar-laskar jiwa dan para marga telah bergabung
berbisik ajimat peta
menuju tanjung semangka

ia pelankan suara langkahnya dari bidikan belanda
suaranya menjadi angin
langkahnya dedaun yang batin
labuhlah doa dalam silsilah ibu
yang sembunyi menjadi kambium
menahun dari jerih benteng menuju benteng
dan kewaguan kapitien terjepit waktu
menjadi teleng

tapi keasingan telah berlayar dalam ekspedisi
diam merantai menuju kampung
diingkar janji
ia musti bertempur merebut kembali janji
bersama wakhia dan luru satu penuh luka
bermuara ke hutan-hutan
hingga penguasa dihunus sedepa
dihablur aroma maut
di tahun delapan ratus lima puluh tiga


2009 
--

Senja Terakhir di Tataan (2)


Hari itu mungkin hari sepi
paling sunyi
tapi ia musti melangkah pergi

tubuhnya mungkin masih baja
saat tentara-tentara itu mengirim bencana
melautkan meriam dan cunia di canti
menjabal kebebasan bagi harapan mimpi
raga mantra para pribumi

maka ia tanam kembali benteng-benteng di lereng
membuka ranjau-ranjau pukau
jagang parit badai bambu
rotan-rotan berhulu waktu di setiap kubu
melingkari bandar hingga ke ujung bandulu

ia gali panji-panji di gunung tinggi
melantis panglima melayam pedang
di setiap tepi
hingga nyalak cuaca menjadi kemenangan
bagi mimpi lada anak-anak negeri

tapi ia tidak tahu
di balik batang hutan tersembunyi belati
hulubalang berkedok kulit kenari
merapal khianat kepayahan rasa sakit
yang ingin selamat dari jeri merakit

dan jagal waktu beredar di ubun-ubunnya
dari cakap-cakap sembunyi di udara
lata tinta dan aksara di buku-buku bambu
dendam yang sukar hilang dalam mesiu

maka ia berlari menuju pusaran sunyi
meninggalkan anak dan istri
menuju sisa benteng-benteng malam
ia pertaruhkan harga diri
ke pulau sebesi

ia tidak menyerah dan tak ingin pulang
ia akan rebut kembali janji kemenangan
maka esok pagi ia musti bangun lebih dini
bersama moyang si ratu api
mimpi yang belum selesai diakhiri

tapi takdir tak dapat bersekutu
ketika orang-orang telah letih
dari jajah derita yang merepih

kini ia musti bermimpi sendiri
tentang sawah-sawah yang setia
mumbang yang semerbak saat senja
kayu randu penuh rindu masa lalu

Di benaknya bulir-bulir padi nampak seperti peluru
mengintai hati saat ia keluar dari hutan-hutan
saat para sehedi telah memberi sebayuk restu
dalam riwayat bapaknya yang abadi
dalam ingatan

maka ia benamkan diri dalam matahari
tanpa curiga api itu akan membakarnya bersama mimpi
saat udara senja bersiul tersekat buah kelapa
ketika dahaga terbuka menjelma purba
ia tidak tahu, sungguh tidak tahu

ia tertujah khianat janji seribu peluru
di ujung pulau yang jauh menuju ibu

Ia tahu tubuhnya bukan hanya sekadar arca
berpagan dari cuaca
di persimpangan jalan utara
jadi tontotan para pendatang atau tualang
menuju kampung halaman di kaki rajabasa
seperti jejak namanya
telah lama terdengus angin
dikelimut malam-malam
kesunyian paling dingin

tapi ia tahu...
batinnya tak hanya bernyawa satu


2009
--


Aku yang Tak Pernah Menjumpaimu di Stasiun Kota Kuno
: eko budihardjo—9 juni


Gedung-gedung tua, tangga penuh debu,
tiang-tiang lampu yang ringkih—karena riwayat cahaya
telah dicuri usia, dan trotoar menuju kota kuno
telah lama melumut.

Aku menghentak bunyi pedati
di jalan-jalan punah, ketika kau mengirim mimpi
senja hari tentang bangunan penjajah; atap rapuh.
Seperti aku yang tak pernah mampu menerjemahkanmu
di rusuk-rusuk pendopo yang bisu kuasa
nun terhunus matahari di peta lingkar matamu
Aku yang tiba-tiba disadap wahyu malaikat
tanpa rupa tanpa suara dan tanpa pengertian
yang tidak pernah aku tahu bahwa itu datang
darimu di pagi buta.

Entah apa yang sanggup aku gumamkan
dalam cuaca gasal petang itu
saat sebuah cerita cinta selesai di selasar peron
begitu pula yang kau katakan tentang kehidupan,
yang tidak pernah menjumpaimu sebagai hitungan
melainkan dalam sesak ingatan
serupa laju gerombol asap kereta api yang memacumu
pada rel-rel memoar kota kuno

kau yang mencintai sejarah dan jendela-jendela kayu jati
di gerbong-gerbong tunggu tanpa sesenti menemukan apa-apa
sepandang cerobong kelelangan dihujani bayu pana
selain gedung-gedung tua, tangga penuh debu,
tiang-tiang lampu yang ringkih—karena riwayat cahaya
telah dicuri usia,
aku tak pernah menjumpaimu
di stasiun kota kuno.


2009
--


Keberangkatan Pertama


gegaskanlah laju keberangkatanmu di senja itu
erangan pluit pertama menampar cerobong bagai
ringkik tangis ngilu luka perempuan binal
bersimpuh kuyu di selasar peron
orang-orang alpa pada tegur sapa
waktu terengah-engah memburu
gerbong-gerbong nasib pembawa alamat pulang

kabar apa yang akan kauwartakan? Ihwal sesak
edar eksodus penumpang di kelas ekonomi? Ah! Lihatlah
rel-rel tak ubahnya tulang-tulang rapuh yang
Endapkan jejakjejak kaki juga suarasuara parau yang
tertidur pulas di antara hitungan detik
angka-angka yang culas

aku kekalkan kalimat sakitmu
dengan kenangan di stasiun
pada ruang pertemuan terakhir kita yang tak henti
igaukan ranah moyang yang pelan-pelan tenggelam


2009
--


Sajak Sepotong Bibir


tuhan mungkin sibuk mempertemukan kita kembali
masih ada segelas anggur yang tersisa malam ini
tak perlu cemas
kita masih punya angan
dan selintas memoar yang tersangkut di ranjang
masih terlewat angin yang membasuh kening

kau senang mencumbu langit
padang sabana di persimpangan
masih seikat kenang dan ranum bibirmu

O... lelakiku dalam sepi
aku menghardik kelu dirimu pada
catatancatatan tua yang tersimpan rapi di almari
kisahmu adalah petualangan sunyi
penuh duka luka
menari bersama gelandang kelam

rumah sunyi
jiwa murni
sepotong sajak ini bukan dukamu
dan melulu sabit ruhmu
hanya selembar cahaya pembasuh airmata
bagai pertapa yang mabuk
dalam dekap perempuan maya


2009
--


Kepulangan

ini tentang kabil yang telah sentak
hasrat memendam kasturi si jabang bayi
perjalanan panjang cinta kekasih
membawa gegau kepulangan yang tertunda
menuju ranah ribang pondok ibu

kasturi tumbuh merindang ranum coklat tua
di halaman kepergian
di kampung lengang
di hutan lanang
waktu yang bertahun-tahun ditinggalkan
kini renta menghanyut menuju janji-janji rawan
dalam seru kealpaan.

dari sisa matahari dan jejak bulan
kelimut malam kini mendewasa; hati paya kian tawar
sumpah balas dirajamkan dengan ingkar
lalu kadar mana hendak dilaknat-alamatkan
jika hati ibu memeram murka?
langit mendahanam kilat penuh siasat
badai datang serupa gelimun perang
di kancah gelanggang
di kampung lengang
memiuh duka yang tamat
angin berang jadi ringkuk bangkai batu
matahari mati dan jejak bulan terhapus juga
sedangkan rintihan kita hanya mengalun tak tentu
sepanjang waktu yang lalu
tenggelam beku
semakin sendu


2009
--


dimuat dalam Forum Sastra Indonesia Hari Ini: Jawa Barat (Komunitas Salihara, 2010)

HORISON - Jawa Barat...


Liwa


kupagut dingin bukitbukit
dara yang merona
sejuk wajahmu bagai periperi hutan
tangis hujan merincik
di kotamu
membalut tubuhku dalam pesta sekura
kita menari, perempuanku!
meremang sepanjang tanjungkemala
kau perempuan hijau di punuk pesagi
tidakkah pertemuan kita
adalah sunyi?

ke barat,
kulumat perjalanan menuju krui
pelabuhan yang menjejak pulang dan pergi
kabut kembali meremang waktu
sepanjang bandar merindu
dan ikanikan tak henti bertanya
ke mana arah bidok cinta bermuara

di sini
orangorang pun akan bertanya padamu
danau ranau tempatmu merantau?
menyelami tiyuh kenangan
berkaca pada batubatu legam
pada sawahsawah basah
dan dendang burung di reranting pinang
lalu membasuh hitam rambutmu
di percikan kubuperahu?

kita luluh di kota tua ini
arus angin menggerus waktu
akhir usia di pucuk gunung
diantara uapacaraupacara adat
kita menari, muli!
karena ikanikan terus bersenandung
sepanjang way
di jalanjalan
tepian hutan


2006
--

Hikayat Gugus Daratan

dari batubatu. di jejakjejak lautan dan pantai,
anakanak raja membangun
bagan. di arus sungai, sampan
mengayuh jalai ke tepian. disapa
murai.
lalu berkumpul rapat
di bukit batu darat dengan bau karet di
belakang rumah dan pinang raja yang tak sempat
dijinakkan. tak sepekan. di tanjungpinang, senja
menjelma riak buih yang tertatih perih. yang
sempat terjajah senapan, meriam
dari sisa kelimut sejarah memuram

ketika hutanhutan masih perawan
dan basah,
rawarawa dan paya membisu
dimana mengalir dara gemurai dari
lurah yang bersimbah. geronggang dan
jelutung masih bersenandung. jeram
melanggam udara, menari
gaung di guagua.
bukankah kau harus segera bergegas?
sebelum hutanhutan ditampis
kikis dan gajahgajah kehilangan arah
dan sungai siak labuh beriak
karena rumahrumah di atas huma
semakin alpa,
pun laut semakin sepi sepanjang musim.
dan hujan
turun di tanahtanah hutan. kini orangorang
menepi dari pesisir. membuka ladang. dan
reranting damar semakin samar
oleh jampijampi belati. nipah semakin lelah.
lalu orangorang mulai menuliskan cuaca
menjadi jarak
bagi laut dan darat dalam almanak.

tengoklah ke perigi!
perempuanperempuan membasuh diri
sebelum petang
bersijingkat di jenjang tangga
menuju selasar bangsal bertonggak dengan sirap
rumbia yang selalu memberi hangat
tak ada siasat.

long tih, bertandanglah pula ke telo
dapat kau tengok asap dapur masih
mengepul
tanpa tabir, tanpa bilik
kau bisa mencicip wangi gaharu jadi abu
larut dalam rindu ranah berhulu

tasiktasik mistik adalah legenda cinta
dari rajaraja
di bukitbukit berbunga
lalu dewadewa yang singgah
di hutanhutan basah
memayungi rimba, muara, dan ladang
dari jembalang
dengan tangkaltangkal di lengan
dan nelayan sibuk berburu di lautlaut sendu
ketika ikanikan tertidur dalam badai
di pulau midai
sedangkan di tepian tanjung
kau mungkin hendak menjala rindu
bersama waktu


2006
--

Largisimo


partitur patah
pelan-pelan
not-not lelah
suaramu payah
di ruang tak beratap
kau selalu asyik bersenandung
kala badai menjadi nisbi
dalam perhitungan masehimu

aku mengendap
melalui saraf-sarafmu
pulas pada kanvas
bunga matahari yang konyol
sulur-sulur akar
pelepah kambium rontok
seperti helaian rambut merahmu
menantang api matahari

waktu tua, tua waktu
tak habis-habis mulutmu
mengikis
parit-parit lidah
wajah pecah
di pinggir kali
mungkin dermaga
kian lekat kau meratapi
sepi


2006 
--


Mengenang Taman
: buat Mnemonicers


rerumput menunggu
angin yang sama. waktu yang sama
orang-orang berjalan tanpa
tegur sapa
mungkin mereka alpa
jika pohon-pohon tak lagi bicara
tentang embun, sunyi, tawa kanak-kanak
dan polusi udara
kolam air beringsut hijau, mengingau kemarau
seperti suara azan senja yang parau

helai daun merindu detak hujan
seperti aku merindu suara-suara
laki dan perempuan saling berlari
layaknya percintaan dalam film india

kekupu dan serangga kian cemburu
pada hutan-hutan tengah kota
dipagar rapi para penjaga
aku hanya mengingat kita sama-sama tertawa
dari satu dua kepala menyeruput kahwa
hingga langit memerah lalu
cahaya-cahaya lampu memekat pedapa
sampai usailah waktu untuk menunggu
perjanjian sunyi kunang-kunang
di seberang jalan
kian lama semakin terasa
kita lupa pada usia


2006
--


Adalah Malam yang Menjaga Auratku
-fragmen kerinduan-


sulursulur akarku, wahai kekasih
lindap disadap subuh yang lusuh
langit gulita
tasbih semakin pekat
lalu
apa yang tersisa dari nafas dzikir yang terkilir?
ialah malam, wahai kekasih
saat ayatayat menjadi segumpal air mata
beku dan diam
angin bisik
malam bagi pecinta
gasal merana
bulan tumbang
di pangkuan sajadah
rebah dan
kalah

siang adalah nisan kefanaan
dari akar yang terbakar
menjelma abu di jarijariku
lihatlah
mata remang
di rembang petang
perjalananku
seperti kerikil pada setapak usia

adalah malam yang menjaga auratku
dalam kesunyian dan istirah
dari terik dosa
yang cemburu
dan maut yang tak henti memburu
aku alpa, wahai kekasih
jalan penuh cagak
lalu waktu semakin sesak

aku pernah mengira lautan
luap dalam rakaatku
gelombang pacu
lidahlidah ombak mengasma doadoa
tak henti
mengikis pasirpasir cibir
batu karang lumat menjadi waktu
tapi jisimku bagai arus pasang surut
di tanjung terakhir

kerinduan ini, wahai kekasih
adalah warta yang tak sampaisampai
pada helai sayapsayap malaikat
pada istirah panjang nabi terakhir
pun di puncak arasy
mulutku kian kalut melafal bendabenda
jiwa yang berpendar
kian samar
jalanjalan meliuk bagai ekor iblis yang sinis
dan sekali lagi kerinduan ini
beku
menjadi batu
tersimpan dalam setiap sujud dan rukuk
di sudut waktu

aku pun kembali di subuh hari
berubah menjadi manusia pitam
paling bahagia
sesak kerinduan
kian ruah tak terbantah
dalam DNA dalam udara dalam semesta
ketika matahari khusyu bersujud
dalam genggamanmu, wahai kekasih
adalah niskala wahyu yang kueja
dari kitabkitab terdahulu
mengaji kisah
penghalau resah

aku kungkum di akhir perjalanan
karena tak dapat kupahat usia
pada nyawa dan setiap lipatan tubuhku
ada maglub dalam nafsu
dan bermadah untukmu
tak henti
hingga ludah menjadi kemarau
dan darahku berubah payau

dan di batas malam pula
kudendang ayatayat
dari kerinduan yang tak sampaisampai
kepadamu, wahai kekasih…


2006
 --

dimuat pada Majalah Sastra HORISON, Tahun XXXXI, No.5/ 2007, Mei 2007

September 28, 2012

Puisi-puisi Terjemahan yang Pendek*)


Untuk Seekor Kucing

Bayang-bayang tak kian bisu
begitupun fajar yang merayap kian sembunyi ;
dalam cahaya bulan, kaulah si harimau kumbang
kami menangkap bidik dari kejauhan.
Dengan pikiran tak terpahami diantara hukum ilahi,
kami memburumu dalam sesia;
Kian jauh, tenang, melebihi Gangga ataupun latar matahari,
milikmu adalah kesunyian, milikmu kesembunyian.
Pangkal pahamu memenuhi kehidupan
yang mencumbu tanganku. Kau pun menerima,
semenjak masa lalu yang terlupakan selama itu,
asmara yang penuh prasangka.
Kau bermula dari masa yang tak biasa. Kaulah penguasa ruang yang membatasi seperti sebuah mimpi.


Jorge Luis Borges
Diterjemahkan dari judul puisi "for a cat" karya Jorge Luis Borges




Sebelum Fajar

Namun seperti cinta
para pemanah itu buta

Ketika malam mendingin
panah-panah itu menyerbu
mewarisi jejak-jejak haru bunga bakung.

Bulan impas
memecah awan-awan merah lembayung
dan tas-tas panah mereka
dipenuhi tetesan embun.

aih, namun seperti cinta
para pemanah itu buta!


Federico Garcia Lorca
Judul puisi aslinya saya lupa...




Dan Hari-hari

Dan hari-hari tak sanggup terpenuhi
Dan malam-malam tak mampu tercukupi
Dan hidup tergelincir seperti ladang tikus
Yang tak berdaya menggetarkan rerumputan


Ezra Pound


*) Ketiga puisi di atas diterjemahkan oleh F. Meliasanti pada Juni 2009.

September 27, 2012

Selepas Melihatmu Menjadi Lelaki Tua


:buat Semi Ikra Anggara


wajah tirus
my chemical romance
: sebuah parade kegelapan
di panggung-panggung
perempuan melenggang, matanya nakal
bermain tangan dan kelamin lelaki tua

eksistensi gengsi
malam kian ricuh dengan suara knalpot
sepeda motor sedangkan tamu-tamu
sibuk mengantri pembagian beras murah
melewati tangga gapura opera
aku melihatmu mematung
seperti lenin kesiangan
sudah tentu itu bukan dirimu tapi
orang yang sibuk dengan konsensi estetik
di kamar bersama penari-penari seksi

aduhai, matamu jalang
lidahmu asyik bergoyang
ayo! ayo!
belum usaikah kematian?
di pilar-pilar waktu sudah
mampus masih minta mati



bumi singgah,
2006

Sebelah Janji


aku berjanji
tak punya apa-apa
walau segenggam dongeng
masa silam
di reruntuhan kerajaan
singgasana dewa-dewa perawan

aku berjanji
mendedah duka
walau seriak jarum-jarum
koyak musim-musim
yang kupahat di siang-malam

sungguh, aku berjanji
tak kan meluka
seutas perjalanan



bumi singgah,
2006

Largisimo


partitur patah
pelan-pelan
not-not lelah
suaramu payah
di ruang tak beratap
kau selalu asyik bersenandung
kala badai menjadi nisbi
dalam perhitungan masehimu

aku mengendap
melalui saraf-sarafmu
pulas pada kanvas
bunga matahari yang konyol
sulur-sulur akar
pelepah kambium rontok
seperti helaian rambut merahmu
menantang api matahari

waktu tua, tua waktu
tak habis-habis mulutmu
mengikis
parit-parit lidah
wajah pecah
di pinggir kali
mungkin dermaga
kian lekat kau meratapi
sepi



bumi singgah,
2006

Langgam hingga Pagi


seperti malam-malam sebelumnya
terlalu banyak kau berkaca
mata bening. lampu hijau. lalu
suaramu kian parau
berhati-hatilah
wajah seperti topeng
yang diapit mulut penari. pupur.
takut matahari. sandiwara yang kau sutradarai
jadi langgam perjalanan hantu-hantu
di gang-gang, di lorong-lorong
tanpa tiang

sehabis malam menenggelamkan
aurat mimpi-mimpi
ada skenario yang kau catat via sms. sampai
pula terkirim. terlalu banyak duka, katamu
tangis yang biasa. sajadah digelar
bagai tikar
di jalan-jalan trotoar. hangat.
mengembun
kata-kata yang tak usai.
sampai ke mana?
subuh terlalu rusuh untuk ocehanmu
yang luruh



bumi singgah,
2006

Hujan di Kotamu


seperti sudah lama dibiarkan berdebu
kota ini,
malam itu aku hanya
menyusuri kenangan
di jalanan usang
istirah abad tak bernafas
pagarpagar runcing
perjalanan buncing

lalu seru kabar hujan di kotamu
basahi ranah dan genting kering
kaumengira aku mencuri katakata
saat kita tersihir senja raya
ya, memang kucuri katakata
dalam baitbait sajakmu
yang usai terlalu cepat berkelebat

aku dikekalkan angin yang berseru lantang:
“purnama tak berdosa!”
“purnama tak berdosa!”
dan mengapa kepulangan kita
harus berakhir di malam hari?

senja bermantra kudus
diamdiam berbisik licik
pada mulut dan hati sunyi

seperti sudah lama dibiarkan berdebu,
kenangan kita tetap mengabu
juga seperti hujan yang tibatiba turun
di kotamu



bumi singgah,
2005-2006

Liwa


kupagut dingin bukitbukit
dara yang merona
sejuk wajahmu bagai periperi hutan
tangis hujan merincik
di kotamu
membalut tubuhku dalam pesta sekura
kita menari, perempuanku!
meremang sepanjang tanjungkemala
kau perempuan hijau di punuk pesagi
tidakkah pertemuan kita
adalah sunyi?

ke barat,
kulumat perjalanan menuju krui
pelabuhan yang menjejak pulang dan pergi
kabut kembali meremang waktu
sepanjang bandar merindu
dan ikanikan tak henti bertanya
ke mana arah bidok cinta bermuara

di sini
orangorang pun akan bertanya padamu
danau ranau tempatmu merantau?
menyelami tiyuh kenangan
berkaca pada batubatu legam
pada sawahsawah basah
dan dendang burung di reranting pinang
lalu membasuh hitam rambutmu
di percikan kubuperahu?

kita luluh di kota tua ini
arus angin menggerus waktu
akhir usia di pucuk gunung
diantara uapacaraupacara adat
kita menari, perempuanku!
karena ikanikan terus bersenandung
sepanjang way
di jalanjalan
tepian hutan




bumi singgah,
2006
________________________________________
Keterangan:
Bidok: bendungan-bendungan tempat ikan (Lampung)
Tiyuh: kampung (Lampung)
Way: sungai (Lampung)

Kabarkan Padaku Tentang Laut


kabarkan padaku tentang laut,
tentang ikanikan yang tak lelah membangun rumahrumah ganggang
tentang debur ombak yang memekakan gendang telingamu
alangalang yang menangkap pasir menjadi prajurit sunyi
requiem riakriak pada lanskap waktu berganti rupa jadi pemburu
juga senja yang lepaskan kakinya di ujung langit biru
atau jingga yang sapu tebingtebing kisah tak sempat tamat

kabarkan padaku tentang laut,
tentang gelombang yang menyisir rindurindu sesak jisimku
tentang dirimu yang menyulam pasir menjadi kenangan lekang
hingga kesunyian mengaduk dadaku hingga terlempar ke dinding curam

angin nelayan mengirim camar ke buta mataku
batubatu putih ke sungsang tulang punggungpunggung gunung
menghimpit pipih tubuhku serupa biduk dilanda badai
duriduri di tilas kakiku berarah padamu menuju pantai landai
aku seberangi Laut Wadden ketika rinduku pasang surut padamu
dan lengkingan pauspaus betina itu lantang berseru:
angkat jangkar! bentangkan layar!
aku mabuk dalam kegilaanmu mengemudi perahu sesak sajaksajak
kaunahkoda yang membawaku ke pulaupulau sunyi tak bernama
memelihara diriku menjadi pandan hijau di harum taman bunga
di kotakota, dengan dendang matahari yang lelap terjaga

para penyihir sunyi masih bermain seruling saat petang
menabuh gendang pada abrasi pesta debudebu cemburu
membisikkan kitabkitab perjalananmu bersama perempuan sendu
setia menunggu larung pesan dalam botol kaca,
sisa si pelaut mabuk

kabarkan padaku tentang laut,
di mana aku mematung mengukir waktu pertemuan kita
: entah kapan dan di mana
bertahuntahun hanya sampai pada catatancatatan tua
pun coba bertahan dan menjaga sajaksajakmu ketika malam kelam
ketika gelap mencuri mimpi dan senyum bocahbocah bengal

di balik jendela kukabarkan demam cinta ke relung khayalmu
mengintipmu diamdiam lalu membalut wajah pulasmu
yang terbaring di ranjang
serupa mercusuar menikam para pelaut di malam badai

pantai demi pantai kususuri jejakjejak lengkung kakimu
berubah menjadi silau butirbutir mutiara tak terbaca
oleh mataku yang buta,
namun telingaku masih mendengar embus angin laut
juga jerit camarcamar yang mengaji petapeta sepanjang duka
lalu aku hanya mampu meraba penuh tanggul luka
dan gumuk pasir itu mengantarkanku ke pesisir utara rumahmu

kelak pada sebuah perjumpaan di ujung tanjung,
di lapuk kayu pelabuhan biru dengan perahuperahu ungu
: kabarkanlah kepadaku tentang rupa laut di kota singgahmu




bumi singgah,
2005-2006

*) dimuat dalam buku antologi puisi 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 (Gramedia Pustaka Utama, 2008)

Tentang Shaum, 2


Tuan, aku kembali menjejak di sini. Rindukah ini?
Dalam hitungan waktu, jam-jam yang berdzikir segera
kulumat udara dan ruh yang hampir luruh. Dosa memang
pernah berakar dari jisim ringkuh yang lusuh. Di langgar
setiap tarawihku adalah doa dari ada dari jejak dari sesak
air mata yang tak pernah sampai padamu.


Tuan, aku kembali menjejak di sini. Rindukah ini?
Dalam hitungan hayat, zakat dari dunia yang semakin
fana. Ada yang tak bisa terucap berdecap-decap di katup
bibir ketika ayat-ayat membaca siang malam dalam dahaga.
Di langgar setiap lirihku menjadi gelap yang paling pekat
dari dosa dari lupa dari doa yang akan sampai padamu....




bumi singgah,
2006

Tentang Shaum, 1


Bukan tentang satu purnama terlewat lalu
melupa kidung laitul qadar dalam getar hati
bukankah setiap persoalan mempunyai hakikat
tersendiri? Dalam diri dalam semesta dalam tiada
bukan pula soal materi—tentang nasi, lauk-pauk,
sebiji kurma, kolak pisang, kolang-kaling—membuat
orang-orang semakin berpusing. Memilah, memilih,
bermacam-macam, berjenis-jenis, merauplah!

Dirauplah!

Merupakan perjalanan bagi keselamatan, kesehajaan,
keimanan yang hakiki. Itulah hadir dalam doa, hajat bersama
bagi kaum papa dalam setiap rukuk setiap sujud setiap wujud
namun dalam setiap wujud ada rupa ada lupa
semakin dekatkah angka-angka dalam almanak? Tak ada!
Karena Kau yang memiliki waktu berputar bertahun-tahun
beradad-abad dalam genggam Maha Tamam.

Dirauplah!



bumi singgah,
2006

Tasik Putri Pepuyu


hutanhutan perawan
kini rawan
dari sesuci legendamu, raja
kasih di dasar danau
yang hijau
menjadi lambang rindu
kisah tak bersatu

pepohon bisu
angin deru
dihening bulirbulir air
aku tak sanggup berkaca, raja
tangan ini luput
lalu kenapa awan memeram asam?
udara teduh
dan hatiku bertambah lusuh

di khayangan
dewadewa memberi restu
dari kisah masa silam
cinta yang tak sampai
hingga ajal melerai



bumi singgah,
2006

Selepas Melihat Lukisan AZ


Bukankah kau? Tumbuh dari sulur-sulur asap rokok.
Gumpal kata yang meloncat-loncat di kepalamu. Atau
akar tumbuh menyembulkan batang ranting dan daun.
Bukan binatang liar yang terbuang dari kumpulan di
masa perang negeri yang belum jadi cat kusam muram

Kematianmu tak pernah selesai. Menjadi warta angin
pada masa-masa yang tak henti dikukuhkan. Antara hidup
dengan dunia dengan kata dengan sajak bagian konon zaman
“Aku terlalu mencintaimu!” Kau membuncah di dada
dalam ideologi menempel di dinding ruang kerja
membingkai selayak sunyi dalam waktu paripurna



bumi singgah,
2006

Hikayat Gugus Daratan


dari batubatu. di jejakjejak lautan dan pantai,
anakanak raja membangun
bagan. di arus sungai, sampan
mengayuh jalai ke tepian. disapa
murai.
lalu berkumpul rapat
di bukit batu darat dengan bau karet di
belakang rumah dan pinang raja yang tak sempat
dijinakkan. tak sepekan. di tanjungpinang, senja
menjelma riak buih yang tertatih perih. yang
sempat terjajah senapan, meriam
dari sisa kelimut sejarah memuram

ketika hutanhutan masih perawan
dan basah,
rawarawa dan paya membisu
dimana mengalir dara gemurai dari
lurah yang bersimbah. geronggang dan
jelutung masih bersenandung. jeram
melanggam udara, menari
gaung di guagua.
bukankah kau harus segera bergegas?
sebelum hutanhutan ditampis
kikis dan gajahgajah kehilangan arah
dan sungai siak labuh beriak
karena rumahrumah di atas huma
semakin alpa,
pun laut semakin sepi sepanjang musim.
dan hujan
turun di tanahtanah hutan. kini orangorang
menepi dari pesisir. membuka ladang. dan
reranting damar semakin samar
oleh jampijampi belati. nipah semakin lelah.
lalu orangorang mulai menuliskan cuaca
menjadi jarak
bagi laut dan darat dalam almanak.

tengoklah ke perigi!
perempuanperempuan membasuh diri
sebelum petang
bersijingkat di jenjang tangga
menuju selasar bangsal bertonggak dengan sirap
rumbia yang selalu memberi hangat
tak ada siasat.

long tih, bertandanglah pula ke telo
dapat kau tengok asap dapur masih
mengepul
tanpa tabir, tanpa bilik
kau bisa mencicip wangi gaharu jadi abu
larut dalam rindu ranah berhulu

tasiktasik mistik adalah legenda cinta
dari rajaraja
di bukitbukit berbunga
lalu dewadewa yang singgah
di hutanhutan basah
memayungi rimba, muara, dan ladang
dari jembalang
dengan tangkaltangkal di lengan
dan nelayan sibuk berburu di lautlaut sendu
ketika ikanikan tertidur dalam badai
di pulau midai
sedangkan di tepian tanjung
kau mungkin hendak menjala rindu
bersama waktu



bumi singgah,
2006

Dongeng Poyang Sepanjang Sungai


dari warta batubatu di tanah lempung
senja bungkam
udara tak lagi muai
petapa dalam kesunyian
menggalau
kisah di ujung mata
menuai ramal dalam mimpi gulita
dari mata kanakkanak rajabasa

pada waktu yang bersehaja
pada sila tanah selatan
dari rimbun pepohonan nangka
pahit kopi
dan kenangan sendiri
tidakkah umpu mengerti masa
yang menjajah ranah tak bertuan
penuh keasingan
angin laut memberi dayung
bagi parajuritprajurit tak berrumah
mencacah beribu manah
cadik yang terdampar di akar damar
memahat kayu ara jadi pedang
jung yang tak pernah sekarat
singgah di tepian tanah yang bertuah
menanam tendatenda dan bendera

usah risau dengan sunyi
karena ia menemani
halang resah usia senja
karena hutanhutan kalianda masih terjaga
meramu daun pakis, embuk, dan rebung
ketika tangan mulai lunglai
dan tubuh berubah
manai

oh serunting, larilah ke jenjang
tanah utara
di tepian way yang tumbuh gairah
juga kesah
jadilah ksatria bagi ikrar diri pi-il pesanggiri
tanahtanah tak lagi bisu
dari balik bukit
deras air menabuh cetik
buatlah ketibung, belida, dan baung
semakin tergelitik

dan dari kisah rantau sekampung
menuju kembara pernong ke jalanjalan timur
yang tak selalu mujur
usah tapak menjadi jejak
ketika hutanhutan menutup pintu
reranting bakau menjadi payau
dan rerumput menghapus patokpatok kayu
ingatlah, lumpurlumpur masih menyisakan
perjalanan panjang di setapak tanah
dan kerikilkerikil jahil
usai matahari menutup jendela
gumukgumuk lada memberi aba
dari lantis setapak mungkin terlupa
anakanak way akan bertanya
bukankah alir sungai selalu memberi
kabar gembira?

kemudian umpu menemu jalan pulang
kembali ke ranah saudara bernama bawang
disilang ruangruang
ke muara kitab kuntara
dan pergi menapaki tanah selatan
membangun ranah menjadi rumah tulang
lalu perjalanan pun menjadi bekal
sepanjang hulu-hilir tulangbawang

adalah sejarah
akhir negeri yang tertujah oleh mata panah
dari keasingan dan sengkarut kuasa pasang surut
tonggaktonggak rubuh
tubuhtubuh tak bersepakat
langgam merajah musuh ke belikat
tanahtanah berdebu
dan hati mengabu
usah galau, umpu!
ranah lawah belum paripurna
beribu laung terus meraung hingga
pulau di ujung
diri kembali purba
tertulis dalam warahan hutanhutan
hingga bukit barisan
akhirnya kesunyian membawa berita
: umpu menjadi petapa

Umpu, ranah ini bumi lada
jadi upeti yang berharga dari mimpimimpi tropis
dan anakanak kami yang menenun tapis
adalah waktu
kembali memburu gajah putih
malaikatmalaikat yang menari di jalan
di tepian sungai
di tepian hutan
lalu tumbuh sepanjang utara hingga selatan
menjelma kotakota
cahayacahaya
dan kami
tak lagi sunyi




bumi singgah,
2006

Episode Fetus


Kata mereka, angkaangka bising dari mulutmu.
Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna.

Tanganmu menjelma tunas bintikbintik alis dan
wajah emas. Ruang hitam adalah rumah yang nyaman penuh
kerinduan dan kenangan. Namun aku belum sempat memberimu nama di kulit-kulit ari
di gumpalgumpal darah
di tali pusar akar menikam tanah.

Bulan pertama engkau bernama kosong bernama tiada bukan suara

Adakah engkau tibatiba ada? Tak terduga dari dugaku dari waktuku
Kau mengalir, memendar, mencari, menembus menembus.
Diakah yang datang dikala aku dideru nafsu di malam lalu? Ah! Kita
tak pernah tahu bahwa kau lahir dari tiada dari nafas dari ruh
yang tak kupunya. Dari darah dari tulang dari daging dari urat dari
pembuluh darah bahkan DNA yang tak pernah dipesan sebelumnya

Bilikbilik tak serupa di kotakota di gedung bertingkat di hotel di villa
Membayangkanmu meliukliuk diantara batubatu, loronglorong,
tiangtiang penahan jalan layang bahkan kerumunan orangorang

Kata mereka, kau menyebut mengulang menghitung angkaangka
waktu pada jam-jam dinding stopwatch weker lalu meluncur
dari hari per hari minggu per minggu bulan per bulan

Kau terlelap di rahimku mengada dari doa dari tubuh yang bersekutu
dengan janji dari semesta dari rahasia selama bertahuntahun
bermasamasa sebelum manusia pernah berkata ada

Aku selalu bertanya tentang riwayatmu padahal kau pun
tak pernah meminta tak pernah menduga
layaknya pepohonan tumbuh reranting jatuh dan bulir hujan
membasahi tanah batubatu
sampai ke akarku



bumi singgah,
2006

Duka Luka dari Pesisir


: Yogyakarta


terlalu dini
duka memberi siar
diamdiam dalam sunyi
menyelusup diantara mimpi
dan matahari pagi

dan hujan mengabarkan sendu
ditangkup tangan kami
dari aroma amis darah
dan retak tulang patah
di ubunubun puncak lahar
yang tak henti rangkus jiwa
hingga menjadi abu dan debu

limbung tanahtanah berang
melipat rumahrumah
penuh keluh kesah
mengguncang nyawanyawa
kidung mayat tak terbaca

malam penuh doa
luap anyir lirih dzikir
dari sayat tangis anakanak
dan luka orangorang tua
tanpa tenda

gaung dindingdinding ngilu
luruh menjadi batubatu
dan kerikilkerikil di telapak kaki
menjadi jejakjejak menuju
trotoartrotoar sepi

adalah sejarah negeri
berabadabad lalu digiling batubatu
dilumat air bah
dijilat lidah api
diterpa wabah kurang gizi
lalu apa yang lebih kejam
dari ringkuk mayat anakanak kami
dari luka yang timpa
jiwajiwa tak berdosa

di sudut rumah roboh
tangantangan mungil bermain lidi
siapa yang telah pergi
siapa yang ditinggal mati
dan apa yang masih tersisa kini

lengking tangis di malam panjang
kini merangka jadi kenangan
dan rumahrumah kembali tanah
kami menjadi papa
lalu apa yang lebih berani
dari cuaca memuram diri
dari waktu yang tibatiba terhenti
adalah tangan yang memberi

ada yang berdoa
berebut nafas dan detak jantung
dari sebait puisi
lirih katakata terbata
dari erang tangis gempa yang mengaliri
rasa sakit
kian menjadi duka
luka dari pesisir




bumi singgah,
2006

Sajak Hujan + Malam


hujan malam sajak kita
seperti senja yang enggan berlari
pada tanah kota yang merah

hujan malam sajak kita
gerimis yang menangis di ujung gang
dan embun pada puting nanas rekah
di sela rintihan kandang kuda
kita tak pernah kehilangan apaapa
hanya kata yang tersangkut di mulut kalut

meramu mantra kata pada malam mistis
bagai tebing makam yang terkikis
karena sajak kita tak buta
pancaraka di medan telaga bara
sampuk kesunyian jejak gagak

hujan malam sajak kita
tak ucap kabar berita
ketika purnama paripurna
jarijari tuah hanya berkisah


2005

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi

Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...