September 27, 2012

Dongeng Poyang Sepanjang Sungai


dari warta batubatu di tanah lempung
senja bungkam
udara tak lagi muai
petapa dalam kesunyian
menggalau
kisah di ujung mata
menuai ramal dalam mimpi gulita
dari mata kanakkanak rajabasa

pada waktu yang bersehaja
pada sila tanah selatan
dari rimbun pepohonan nangka
pahit kopi
dan kenangan sendiri
tidakkah umpu mengerti masa
yang menjajah ranah tak bertuan
penuh keasingan
angin laut memberi dayung
bagi parajuritprajurit tak berrumah
mencacah beribu manah
cadik yang terdampar di akar damar
memahat kayu ara jadi pedang
jung yang tak pernah sekarat
singgah di tepian tanah yang bertuah
menanam tendatenda dan bendera

usah risau dengan sunyi
karena ia menemani
halang resah usia senja
karena hutanhutan kalianda masih terjaga
meramu daun pakis, embuk, dan rebung
ketika tangan mulai lunglai
dan tubuh berubah
manai

oh serunting, larilah ke jenjang
tanah utara
di tepian way yang tumbuh gairah
juga kesah
jadilah ksatria bagi ikrar diri pi-il pesanggiri
tanahtanah tak lagi bisu
dari balik bukit
deras air menabuh cetik
buatlah ketibung, belida, dan baung
semakin tergelitik

dan dari kisah rantau sekampung
menuju kembara pernong ke jalanjalan timur
yang tak selalu mujur
usah tapak menjadi jejak
ketika hutanhutan menutup pintu
reranting bakau menjadi payau
dan rerumput menghapus patokpatok kayu
ingatlah, lumpurlumpur masih menyisakan
perjalanan panjang di setapak tanah
dan kerikilkerikil jahil
usai matahari menutup jendela
gumukgumuk lada memberi aba
dari lantis setapak mungkin terlupa
anakanak way akan bertanya
bukankah alir sungai selalu memberi
kabar gembira?

kemudian umpu menemu jalan pulang
kembali ke ranah saudara bernama bawang
disilang ruangruang
ke muara kitab kuntara
dan pergi menapaki tanah selatan
membangun ranah menjadi rumah tulang
lalu perjalanan pun menjadi bekal
sepanjang hulu-hilir tulangbawang

adalah sejarah
akhir negeri yang tertujah oleh mata panah
dari keasingan dan sengkarut kuasa pasang surut
tonggaktonggak rubuh
tubuhtubuh tak bersepakat
langgam merajah musuh ke belikat
tanahtanah berdebu
dan hati mengabu
usah galau, umpu!
ranah lawah belum paripurna
beribu laung terus meraung hingga
pulau di ujung
diri kembali purba
tertulis dalam warahan hutanhutan
hingga bukit barisan
akhirnya kesunyian membawa berita
: umpu menjadi petapa

Umpu, ranah ini bumi lada
jadi upeti yang berharga dari mimpimimpi tropis
dan anakanak kami yang menenun tapis
adalah waktu
kembali memburu gajah putih
malaikatmalaikat yang menari di jalan
di tepian sungai
di tepian hutan
lalu tumbuh sepanjang utara hingga selatan
menjelma kotakota
cahayacahaya
dan kami
tak lagi sunyi




bumi singgah,
2006

No comments:

Post a Comment

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi

Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...