Minggu, 08 Mei 2011
“Suatu karya dianggap berhasil ketika karya tersebut diukur berdasarkan kedalaman kualitasnya.”
"Tubuh kami menjelma duri-duri, kabel listrik, dan kloset. Dari Timur kami datang membentangkan pagar-pagar besi setinggi tubuh orang dewasa. Menancapkan kepala-kepala yang hanya tersenyum pada malam hari. "
Demikianlah selarik puisi penyair perempuan, Fina Sato. Puisi berjudul Saksi Maya itu dimuat di halaman Jurnal Sajak. Tak hanya Fina, sejumlah penyair yang sudah malang melintang di beberapa media massa lokal, nasional, maupun internasional, juga turut menapaskan tiap halaman dan rubrik jurnal ini lewat sejumlah karya mereka.
Tak cuma (puisi/sajak), namun juga esai serta ulasan. Beberapa di antaranya adalah Dorothea Rosa Herliani, Joko Pinurbo, D Zawawi Imron, Oka Rusmini, Pranita Dewi dan lain-lain.
Selain penyair dan penulis lokal, juga terdapat penyair atau penulis luar negeri yang menyumbang karyanya, sebut saja Anna Akhmatova (Rusia), Elizabeth Bishop ( Amerika Seriakat), Gabriel Mistral (Spanyol), Herta Muller (Rumania/Jerman) dan Ian Campbell yang terlahir dengan nama Ian Frank Campbell.
Keberadaan Jurnal Sajak yang diluncurkan 3 Mei 2011 di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, bolehlah disebut sebagai langkah untuk meramaikan dunia sastra di Tanah Air, yang kini mulai menggeliat lagi.
Apalagi, ditambah satu lagi jurnal serupa yang bernama Jurnal Kritik. Sesuai namanya, jurnal ini berisi kritik sastra yang belakangan memang minim, bahkan nyaris tak ada. Para kritikus sastra (jika boleh disebut demikian), semisal, Djakob Sumardjo, Abdul Hadi WM, Zen Hae turut mengisi jurnal ini.
Ditambah sejumlah kritikus luar negeri seperti Stefan Danerek, Andy Fuller dan lainnya. Kedua jurnal ini rencananya akan terbit empat bulan sekali, artinya tiga kali dalam setahun. Peluncuran kedua jurnal ini ditandai dengan diskusi sastra yang antara lain dihadiri Eep Saefullah Fatah, seorang pengamat politik yang juga penulis cerpen.
Menurut Eep, kebebasan- kompetisi-partisipasi dalam demokrasi menjadi seperti laju kuda liar yang tak bisa ditahan karena ingin segera ke luar dari kandangnya, sehingga kedua jurnal tersebut penting peranannya untuk masa depan.
“Jurnal ini jadi semacam pengikat para pembuat karya dengan komunitas, serta menjadi jangkar yang menautkan kapal-kapal di pelabuhan,” kata Eep.
Redaksi Jurnal Sajak dipimpin oleh Jamal D. Rahman yang dibantu Acep Zam-zam Noor, Agus R Sarjono, Ahmad Syubbanuddin Alwy dan Berthold Damshauser. Sedangkan Jurnal Kritik digawangi Agur R Sarjono (sebagai Pemred) serta Al Azhar dan Jamal D. Rahman.
Menurut Jamal D Rahman keberadaan kedua jurnal ini diilhami oleh Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, yang banyak menyimpan Koran-koran maupun buku-buku sastra. Menurut Jamal, dunia puisi yang cukup meriah, ditandai dengan banyaknya koran, majalah dan buku-buku yang memuat puisi. Namun, di sisi lain, dunia kritik justru sangat sepi.
“Ini menggambarkan kondisi yang sangat kontras. Sehingga dengan keberadaan kedua jurnal tersebut diharapkan dapat dijadikan sebagai “warung pojok“ untuk membicarakan karya sastra di tengahtengah kondisi tersebut,” ujarnya.
Tanpa Nama Namun, disadari atau tidak, kedekatan antara penyair/penulis dan penjaga gawang (redaktur/editor) sebuah jurnal kerapkali memberikan dampak yang sangat mengejutkan, khususnya dalam persoalan pemuatan karya.
Tak jarang seorang redaktur, selain melihat kedalaman atau kualitas dari suatu karya, juga kerapkali terperangkap dalam kedekatan hubungan emosional yang ironisnya menjadi salah satu parameter dalam pemuatan karya.
Berdasarkan kondisi objektif tersebut, dapat diramalkan, bagaimana sastra dan kesusatraan negeri ini ke depannya. Yang pasti, hubungan pertemanan tersebut akan menjadi salah jika tidak ditempatkan pada tempatnya, dalam konteks pengkaryaan. Karena suatu karya dianggap berhasil ketika karya tersebut diukur berdasarkan kedalaman kualitasnya, bukan kedekatan antara pengkarya dan pemberi nilai terhadap karya tersebut (redaktur).
Menurut Jamal, untuk menghindari “jebakan” dari hubungan tersebut, dalam Jurnal Sajak dan Jurnal Kritik, proses penyaringan karya akan dilakukan selektif. Redaksi, katanya, hanya disuguhkan karya saja tanpa nama penulisnya.
“Artinya, redaktur hanya menilai berdasarkan kualitas karya untuk memutuskan diterbitkan atau tidak.” Menurut Jamal, awak redaksi kedua jurnal ini akan berupaya bekerja seprofesional mungkin dan meminimalisir faktor koneksi maupun perkoncoan dalam pemuatan karya. Tapi, dari itu semua, semua tentu terpulang lagi kepada pembaca.
Sebab, mereka lah yang kelak akan menilai karya yang dimuat bermutu atau tidak. Selain itu, usia kedua jurnal ini pun tergantung keseriusan dari para awak redaksinya, dana para pembuat serta penikmat sastra. Jangan-jangan bernasib sama dengan majalahmajalah budaya atau jurnal lainnya, yang tak ada seumur jagung atau kalau pun terbit seperti “hidup segan mati tak mau”. _
*) frans ekodhanto
Sumber: www.koran-jakarta.com
July 7, 2012
Telah Diluncurkan Jurnal Sajak dan Jurnal Kritik
Jakarta - Sastra Indonesia menghadirkan dua media baru, yaitu Jurnal Sajak dan Jurnal Kritik, diluncurkan pada Selasa (3/5) lalu, di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.
Kedua jurnal tersebut diterbitkan oleh The Intercultural Institute, lembaga nirlaba kebudayaan dan kesustraan, berkerja sama dengan Komodo Books.
Kedua pengelola kedua jurnal tersebut adalah sastrawan yang sudah cukup terkenal, yaitu Jamal D. Rahman, Acep Zamzam Noor, Al Azhar, Agus R. Sarjono, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Berthold Damshäuser, dan Tugas Suprianto.
Jurnal Sajak pada edisi perdananya mengangkat tema “Puisi Perempuan, Perempuan Puisi” yang memuat tulisan Dorothea Rosa Herliany, Djoko Pinurbo, dan Ian Campbell. Dan juga memuat puisi karya Evi Idawati, Fitri Yani, Fina Sato, Oka Rusmini, Pranita Dewi, Pradewi Tri Chatami, dan beberapa terjemahan karya para penyair perempuan Pemenang Nobel Sastra.
Jurnal Kritik pada edisi perdananya mengangkat tema “ Dari Khazanah Estetika Nusantara” memuat tulisan karya Abdul Hadi W.M., Andy Fuller (Universitas Tasmania, Selandia Baru), Ian Campbell (Universitas Sidney, Australia), Jacob Sumardjo, Jamal D. Rahman, Stefan Danerek (Universitas Lund, Swedia), Sunu Wasono, dan Zen Hae.
Jurnal Kritik adalah sebuah upaya untuk mengisi kekosongan media bagi kritik, kajian, dan ulasan sastra. Diharapkan dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan minat dan khazanah kesarjanaan dalam arti seluas-luasnya di bidang sastra. “Dengan Jurnal Kritik, semoga para sarjana setidaknya memiliki sebuah ruang yang cukup leluasa untuk mengekspresikan pemikiran dan tanggapan mereka atas teks-teks sastra, khususnya sastra Indonesia.
Sumber: www.indonesiatoday.in
Kedua jurnal tersebut diterbitkan oleh The Intercultural Institute, lembaga nirlaba kebudayaan dan kesustraan, berkerja sama dengan Komodo Books.
Kedua pengelola kedua jurnal tersebut adalah sastrawan yang sudah cukup terkenal, yaitu Jamal D. Rahman, Acep Zamzam Noor, Al Azhar, Agus R. Sarjono, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Berthold Damshäuser, dan Tugas Suprianto.
Jurnal Sajak pada edisi perdananya mengangkat tema “Puisi Perempuan, Perempuan Puisi” yang memuat tulisan Dorothea Rosa Herliany, Djoko Pinurbo, dan Ian Campbell. Dan juga memuat puisi karya Evi Idawati, Fitri Yani, Fina Sato, Oka Rusmini, Pranita Dewi, Pradewi Tri Chatami, dan beberapa terjemahan karya para penyair perempuan Pemenang Nobel Sastra.
Jurnal Kritik pada edisi perdananya mengangkat tema “ Dari Khazanah Estetika Nusantara” memuat tulisan karya Abdul Hadi W.M., Andy Fuller (Universitas Tasmania, Selandia Baru), Ian Campbell (Universitas Sidney, Australia), Jacob Sumardjo, Jamal D. Rahman, Stefan Danerek (Universitas Lund, Swedia), Sunu Wasono, dan Zen Hae.
Jurnal Kritik adalah sebuah upaya untuk mengisi kekosongan media bagi kritik, kajian, dan ulasan sastra. Diharapkan dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan minat dan khazanah kesarjanaan dalam arti seluas-luasnya di bidang sastra. “Dengan Jurnal Kritik, semoga para sarjana setidaknya memiliki sebuah ruang yang cukup leluasa untuk mengekspresikan pemikiran dan tanggapan mereka atas teks-teks sastra, khususnya sastra Indonesia.
Sumber: www.indonesiatoday.in
Forum Sastra Indonesia Hari Ini: Jawa Barat
Senja Terakhir di Tataan (1)
Hari itu mungkin hari sepi
paling sunyi
tapi ia musti melangkah pergi
Di benaknya bulir-bulir padi nampak seperti peluru
mengintai hati saat ia keluar dari hutan-hutan
saat para sehedi telah memberi sebayuk restu
dalam riwayat bapaknya
yang abadi dalam ingatan
tapi ia tidak pernah tahu wajah bapaknya
ia lahir disapih peri-peri
dan sulur-sulur pohonan
yang dikenang perlahan
ia mungkin sudah curi dengar di dalam rahim
hari-hari bagi ibunya selalu harus rahasia
karena benteng telah jatuh
dalam pertempuran
saat ia menghirup kelahiran
ia tumbuh berkapung belukar
bermain dengan lesau murai batu
mamaknya menujah sekutu
saat ia hendak ingin ngaji
sendirian bersama arus kali
Perlawanan belum berakhir, mamak
sanak pergi menuju merabung paling agung
laskar-laskar jiwa dan para marga telah bergabung
berbisik ajimat peta
menuju tanjung semangka
ia pelankan suara langkahnya dari bidikan belanda
suaranya menjadi angin
langkahnya dedaun yang batin
labuhlah doa dalam silsilah ibu
yang sembunyi menjadi kambium
menahun dari jerih benteng menuju benteng
dan kewaguan kapitien terjepit waktu
menjadi teleng
tapi keasingan telah berlayar dalam ekspedisi
diam merantai menuju kampung
diingkar janji
ia musti bertempur merebut kembali janji
bersama wakhia dan luru satu penuh luka
bermuara ke hutan-hutan
hingga penguasa dihunus sedepa
dihablur aroma maut
di tahun delapan ratus lima puluh tiga
--
Senja Terakhir di Tataan (2)
Hari itu mungkin hari sepi
paling sunyi
tapi ia musti melangkah pergi
tubuhnya mungkin masih baja
saat tentara-tentara itu mengirim bencana
melautkan meriam dan cunia di canti
menjabal kebebasan bagi harapan mimpi
raga mantra para pribumi
maka ia tanam kembali benteng-benteng di lereng
membuka ranjau-ranjau pukau
jagang parit badai bambu
rotan-rotan berhulu waktu di setiap kubu
melingkari bandar hingga ke ujung bandulu
ia gali panji-panji di gunung tinggi
melantis panglima melayam pedang
di setiap tepi
hingga nyalak cuaca menjadi kemenangan
bagi mimpi lada anak-anak negeri
tapi ia tidak tahu
di balik batang hutan tersembunyi belati
hulubalang berkedok kulit kenari
merapal khianat kepayahan rasa sakit
yang ingin selamat dari jeri merakit
dan jagal waktu beredar di ubun-ubunnya
dari cakap-cakap sembunyi di udara
lata tinta dan aksara di buku-buku bambu
dendam yang sukar hilang dalam mesiu
maka ia berlari menuju pusaran sunyi
meninggalkan anak dan istri
menuju sisa benteng-benteng malam
ia pertaruhkan harga diri
ke pulau sebesi
ia tidak menyerah dan tak ingin pulang
ia akan rebut kembali janji kemenangan
maka esok pagi ia musti bangun lebih dini
bersama moyang si ratu api
mimpi yang belum selesai diakhiri
tapi takdir tak dapat bersekutu
ketika orang-orang telah letih
dari jajah derita yang merepih
kini ia musti bermimpi sendiri
tentang sawah-sawah yang setia
mumbang yang semerbak saat senja
kayu randu penuh rindu masa lalu
Di benaknya bulir-bulir padi nampak seperti peluru
mengintai hati saat ia keluar dari hutan-hutan
saat para sehedi telah memberi sebayuk restu
dalam riwayat bapaknya yang abadi
dalam ingatan
maka ia benamkan diri dalam matahari
tanpa curiga api itu akan membakarnya bersama mimpi
saat udara senja bersiul tersekat buah kelapa
ketika dahaga terbuka menjelma purba
ia tidak tahu, sungguh tidak tahu
ia tertujah khianat janji seribu peluru
di ujung pulau yang jauh menuju ibu
Ia tahu tubuhnya bukan hanya sekadar arca
berpagan dari cuaca
di persimpangan jalan utara
jadi tontotan para pendatang atau tualang
menuju kampung halaman di kaki rajabasa
seperti jejak namanya
telah lama terdengus angin
dikelimut malam-malam
kesunyian paling dingin
tapi ia tahu...
batinnya tak hanya bernyawa satu
Aku yang Tak Pernah Menjumpaimu di Stasiun Kota Kuno
: eko budihardjo—9 juni
Gedung-gedung tua, tangga penuh debu,
tiang-tiang lampu yang ringkih—karena riwayat cahaya
telah dicuri usia, dan trotoar menuju kota kuno
telah lama melumut.
Aku menghentak bunyi pedati
di jalan-jalan punah, ketika kau mengirim mimpi
senja hari tentang bangunan penjajah; atap rapuh.
Seperti aku yang tak pernah mampu menerjemahkanmu
di rusuk-rusuk pendopo yang bisu kuasa
nun terhunus matahari di peta lingkar matamu
Aku yang tiba-tiba disadap wahyu malaikat
tanpa rupa tanpa suara dan tanpa pengertian
yang tidak pernah aku tahu bahwa itu datang
darimu di pagi buta.
Entah apa yang sanggup aku gumamkan
dalam cuaca gasal petang itu
saat sebuah cerita cinta selesai di selasar peron
begitu pula yang kau katakan tentang kehidupan,
yang tidak pernah menjumpaimu sebagai hitungan
melainkan dalam sesak ingatan
serupa laju gerombol asap kereta api yang memacumu
pada rel-rel memoar kota kuno
kau yang mencintai sejarah dan jendela-jendela kayu jati
di gerbong-gerbong tunggu tanpa sesenti menemukan apa-apa
sepandang cerobong kelelangan dihujani bayu pana
selain gedung-gedung tua, tangga penuh debu,
tiang-tiang lampu yang ringkih—karena riwayat cahaya
telah dicuri usia,
aku tak pernah menjumpaimu
di stasiun kota kuno.
2009
--Keberangkatan Pertama
gegaskanlah laju keberangkatanmu di senja itu
erangan pluit pertama menampar cerobong bagai
ringkik tangis ngilu luka perempuan binal
bersimpuh kuyu di selasar peron
orang-orang alpa pada tegur sapa
waktu terengah-engah memburu
gerbong-gerbong nasib pembawa alamat pulang
kabar apa yang akan kauwartakan? Ihwal sesak
edar eksodus penumpang di kelas ekonomi? Ah! Lihatlah
rel-rel tak ubahnya tulang-tulang rapuh yang
Endapkan jejakjejak kaki juga suarasuara parau yang
tertidur pulas di antara hitungan detik
angka-angka yang culas
aku kekalkan kalimat sakitmu
dengan kenangan di stasiun
pada ruang pertemuan terakhir kita yang tak henti
igaukan ranah moyang yang pelan-pelan tenggelam
2009
Sajak Sepotong Bibir
tuhan mungkin sibuk mempertemukan kita kembali
masih ada segelas anggur yang tersisa malam ini
tak perlu cemas
kita masih punya angan
dan selintas memoar yang tersangkut di ranjang
masih terlewat angin yang membasuh kening
kau senang mencumbu langit
padang sabana di persimpangan
masih seikat kenang dan ranum bibirmu
O... lelakiku dalam sepi
aku menghardik kelu dirimu pada
catatancatatan tua yang tersimpan rapi di almari
kisahmu adalah petualangan sunyi
penuh duka luka
menari bersama gelandang kelam
rumah sunyi
jiwa murni
sepotong sajak ini bukan dukamu
dan melulu sabit ruhmu
hanya selembar cahaya pembasuh airmata
bagai pertapa yang mabuk
dalam dekap perempuan maya
2009
Kepulangan
ini tentang kabil yang telah sentak
hasrat memendam kasturi si jabang bayi
perjalanan panjang cinta kekasih
membawa gegau kepulangan yang tertunda
menuju ranah ribang pondok ibu
kasturi tumbuh merindang ranum coklat tua
di halaman kepergian
di kampung lengang
di hutan lanang
waktu yang bertahun-tahun ditinggalkan
kini renta menghanyut menuju janji-janji rawan
dalam seru kealpaan.
dari sisa matahari dan jejak bulan
kelimut malam kini mendewasa; hati paya kian tawar
sumpah balas dirajamkan dengan ingkar
lalu kadar mana hendak dilaknat-alamatkan
jika hati ibu memeram murka?
langit mendahanam kilat penuh siasat
badai datang serupa gelimun perang
di kancah gelanggang
di kampung lengang
memiuh duka yang tamat
angin berang jadi ringkuk bangkai batu
matahari mati dan jejak bulan terhapus juga
sedangkan rintihan kita hanya mengalun tak tentu
sepanjang waktu yang lalu
tenggelam beku
semakin sendu
2009
July 6, 2012
Majalah HORISON Edisi Jawa Barat
Liwa
kupagut dingin bukitbukit
dara yang merona
sejuk wajahmu bagai periperi hutan
tangis hujan merincik
di kotamu
membalut tubuhku dalam pesta sekura
kita menari, perempuanku!
meremang sepanjang tanjungkemala
kau perempuan hijau di punuk pesagi
tidakkah pertemuan kita
adalah sunyi?
ke barat,
kulumat perjalanan menuju krui
pelabuhan yang menjejak pulang dan pergi
kabut kembali meremang waktu
sepanjang bandar merindu
dan ikanikan tak henti bertanya
ke mana arah bidok cinta bermuara
di sini
orangorang pun akan bertanya padamu
danau ranau tempatmu merantau?
menyelami tiyuh kenangan
berkaca pada batubatu legam
pada sawahsawah basah
dan dendang burung di reranting pinang
lalu membasuh hitam rambutmu
di percikan kubuperahu?
kita luluh di kota tua ini
arus angin menggerus waktu
akhir usia di pucuk gunung
diantara uapacaraupacara adat
kita menari, muli!
karena ikanikan terus bersenandung
sepanjang way
di jalanjalan
tepian hutan
2006
dari batubatu. di jejakjejak lautan dan pantai,
anakanak raja membangun
bagan. di arus sungai, sampan
mengayuh jalai ke tepian. disapa
murai.
lalu berkumpul rapat
di bukit batu darat dengan bau karet di
belakang rumah dan pinang raja yang tak sempat
dijinakkan. tak sepekan. di tanjungpinang, senja
menjelma riak buih yang tertatih perih. yang
sempat terjajah senapan, meriam
dari sisa kelimut sejarah memuram
ketika hutanhutan masih perawan
dan basah,
rawarawa dan paya membisu
dimana mengalir dara gemurai dari
lurah yang bersimbah. geronggang dan
jelutung masih bersenandung. jeram
melanggam udara, menari
gaung di guagua.
bukankah kau harus segera bergegas?
sebelum hutanhutan ditampis
kikis dan gajahgajah kehilangan arah
dan sungai siak labuh beriak
karena rumahrumah di atas huma
semakin alpa,
pun laut semakin sepi sepanjang musim.
dan hujan
turun di tanahtanah hutan. kini orangorang
menepi dari pesisir. membuka ladang. dan
reranting damar semakin samar
oleh jampijampi belati. nipah semakin lelah.
lalu orangorang mulai menuliskan cuaca
menjadi jarak
bagi laut dan darat dalam almanak.
tengoklah ke perigi!
perempuanperempuan membasuh diri
sebelum petang
bersijingkat di jenjang tangga
menuju selasar bangsal bertonggak dengan sirap
rumbia yang selalu memberi hangat
tak ada siasat.
long tih, bertandanglah pula ke telo
dapat kau tengok asap dapur masih
mengepul
tanpa tabir, tanpa bilik
kau bisa mencicip wangi gaharu jadi abu
larut dalam rindu ranah berhulu
tasiktasik mistik adalah legenda cinta
dari rajaraja
di bukitbukit berbunga
lalu dewadewa yang singgah
di hutanhutan basah
memayungi rimba, muara, dan ladang
dari jembalang
dengan tangkaltangkal di lengan
dan nelayan sibuk berburu di lautlaut sendu
ketika ikanikan tertidur dalam badai
di pulau midai
sedangkan di tepian tanjung
kau mungkin hendak menjala rindu
bersama waktu
2006
--
Largisimo
partitur patah
pelan-pelan
not-not lelah
suaramu payah
di ruang tak beratap
kau selalu asyik bersenandung
kala badai menjadi nisbi
dalam perhitungan masehimu
aku mengendap
melalui saraf-sarafmu
pulas pada kanvas
bunga matahari yang konyol
sulur-sulur akar
pelepah kambium rontok
seperti helaian rambut merahmu
menantang api matahari
waktu tua, tua waktu
tak habis-habis mulutmu
mengikis
parit-parit lidah
wajah pecah
di pinggir kali
mungkin dermaga
kian lekat kau meratapi
sepi
2006
Mengenang Taman
: buat Mnemonicers
rerumput menunggu
angin yang sama. waktu yang sama
orang-orang berjalan tanpa
tegur sapa
mungkin mereka alpa
jika pohon-pohon tak lagi bicara
tentang embun, sunyi, tawa kanak-kanak
dan polusi udara
kolam air beringsut hijau, mengingau kemarau
seperti suara azan senja yang parau
helai daun merindu detak hujan
seperti aku merindu suara-suara
laki dan perempuan saling berlari
layaknya percintaan dalam film india
kekupu dan serangga kian cemburu
pada hutan-hutan tengah kota
dipagar rapi para penjaga
aku hanya mengingat kita sama-sama tertawa
dari satu dua kepala menyeruput kahwa
hingga langit memerah lalu
cahaya-cahaya lampu memekat pedapa
sampai usailah waktu untuk menunggu
perjanjian sunyi kunang-kunang
di seberang jalan
kian lama semakin terasa
kita lupa pada usia
2006
Adalah Malam yang Menjaga Auratku
-fragmen kerinduan-
sulursulur akarku, wahai kekasih
lindap disadap subuh yang lusuh
langit gulita
tasbih semakin pekat
lalu
apa yang tersisa dari nafas dzikir yang terkilir?
ialah malam, wahai kekasih
saat ayatayat menjadi segumpal air mata
beku dan diam
angin bisik
malam bagi pecinta
gasal merana
bulan tumbang
di pangkuan sajadah
rebah dan
kalah
siang adalah nisan kefanaan
dari akar yang terbakar
menjelma abu di jarijariku
lihatlah
mata remang
di rembang petang
perjalananku
seperti kerikil pada setapak usia
adalah malam yang menjaga auratku
dalam kesunyian dan istirah
dari terik dosa
yang cemburu
dan maut yang tak henti memburu
aku alpa, wahai kekasih
jalan penuh cagak
lalu waktu semakin sesak
aku pernah mengira lautan
luap dalam rakaatku
gelombang pacu
lidahlidah ombak mengasma doadoa
tak henti
mengikis pasirpasir cibir
batu karang lumat menjadi waktu
tapi jisimku bagai arus pasang surut
di tanjung terakhir
kerinduan ini, wahai kekasih
adalah warta yang tak sampaisampai
pada helai sayapsayap malaikat
pada istirah panjang nabi terakhir
pun di puncak arasy
mulutku kian kalut melafal bendabenda
jiwa yang berpendar
kian samar
jalanjalan meliuk bagai ekor iblis yang sinis
dan sekali lagi kerinduan ini
beku
menjadi batu
tersimpan dalam setiap sujud dan rukuk
di sudut waktu
aku pun kembali di subuh hari
berubah menjadi manusia pitam
paling bahagia
sesak kerinduan
kian ruah tak terbantah
dalam DNA dalam udara dalam semesta
ketika matahari khusyu bersujud
dalam genggamanmu, wahai kekasih
adalah niskala wahyu yang kueja
dari kitabkitab terdahulu
mengaji kisah
penghalau resah
aku kungkum di akhir perjalanan
karena tak dapat kupahat usia
pada nyawa dan setiap lipatan tubuhku
ada maglub dalam nafsu
dan bermadah untukmu
tak henti
hingga ludah menjadi kemarau
dan darahku berubah payau
dan di batas malam pula
kudendang ayatayat
dari kerinduan yang tak sampaisampai
kepadamu, wahai kekasih…
2006
Subscribe to:
Posts (Atom)
Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi
Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...
-
picture taken from blog-writeathome-com Francine Prose dalam bukunya Reading Like a Writer (2006), mencatat bahwa siasat untuk dapat m...
-
Ferina Meliasanti Mantap Memilih Bidang Sastra*) photo by langgeng prima anggradinata Kecintaannya terhadap dunia sastra menjadikan ...
-
Senja Terakhir di Tataan (1) Hari itu mungkin hari sepi paling sunyi tapi ia musti melangkah pergi Di benaknya bulir-bulir ...