July 7, 2012

Forum Sastra Indonesia Hari Ini: Jawa Barat

Senja Terakhir di Tataan (1)


Hari itu mungkin hari sepi
paling sunyi
tapi ia musti melangkah pergi

Di benaknya bulir-bulir padi nampak seperti peluru
mengintai hati saat ia keluar dari hutan-hutan
saat para sehedi telah memberi sebayuk restu
dalam riwayat bapaknya
yang abadi dalam ingatan

tapi ia tidak pernah tahu wajah bapaknya
ia lahir disapih peri-peri
dan sulur-sulur pohonan
 yang dikenang perlahan

ia mungkin sudah curi dengar di dalam rahim
hari-hari bagi ibunya selalu harus rahasia
karena benteng telah jatuh
dalam pertempuran
saat ia menghirup kelahiran

ia tumbuh berkapung belukar
bermain dengan lesau murai batu
mamaknya menujah sekutu
saat ia hendak ingin ngaji
sendirian bersama arus kali

Perlawanan belum berakhir, mamak
sanak pergi menuju merabung paling agung
laskar-laskar jiwa dan para marga telah bergabung
berbisik ajimat peta
menuju tanjung semangka

ia pelankan suara langkahnya dari bidikan belanda
suaranya menjadi angin
langkahnya dedaun yang batin
labuhlah doa dalam silsilah ibu
yang sembunyi menjadi kambium
menahun dari jerih benteng menuju benteng
dan kewaguan kapitien terjepit waktu
menjadi teleng

tapi keasingan telah berlayar dalam ekspedisi
diam merantai menuju kampung
diingkar janji
ia musti bertempur merebut kembali janji
bersama wakhia dan luru satu penuh luka
bermuara ke hutan-hutan
hingga penguasa dihunus sedepa
dihablur aroma maut
di tahun delapan ratus lima puluh tiga


2009 
--
Senja Terakhir di Tataan (2)


Hari itu mungkin hari sepi
paling sunyi
tapi ia musti melangkah pergi

tubuhnya mungkin masih baja
saat tentara-tentara itu mengirim bencana
melautkan meriam dan cunia di canti
menjabal kebebasan bagi harapan mimpi
raga mantra para pribumi

maka ia tanam kembali benteng-benteng di lereng
membuka ranjau-ranjau pukau
jagang parit badai bambu
rotan-rotan berhulu waktu di setiap kubu
melingkari bandar hingga ke ujung bandulu

ia gali panji-panji di gunung tinggi
melantis panglima melayam pedang
di setiap tepi
hingga nyalak cuaca menjadi kemenangan
bagi mimpi lada anak-anak negeri

tapi ia tidak tahu
di balik batang hutan tersembunyi belati
hulubalang berkedok kulit kenari
merapal khianat kepayahan rasa sakit
yang ingin selamat dari jeri merakit

dan jagal waktu beredar di ubun-ubunnya
dari cakap-cakap sembunyi di udara
lata tinta dan aksara di buku-buku bambu
dendam yang sukar hilang dalam mesiu

maka ia berlari menuju pusaran sunyi
meninggalkan anak dan istri
menuju sisa benteng-benteng malam
ia pertaruhkan harga diri
ke pulau sebesi

ia tidak menyerah dan tak ingin pulang
ia akan rebut kembali janji kemenangan
maka esok pagi ia musti bangun lebih dini
bersama moyang si ratu api
mimpi yang belum selesai diakhiri

tapi takdir tak dapat bersekutu
ketika orang-orang telah letih
dari jajah derita yang merepih

kini ia musti bermimpi sendiri
tentang sawah-sawah yang setia
mumbang yang semerbak saat senja
kayu randu penuh rindu masa lalu

Di benaknya bulir-bulir padi nampak seperti peluru
mengintai hati saat ia keluar dari hutan-hutan
saat para sehedi telah memberi sebayuk restu
dalam riwayat bapaknya yang abadi
dalam ingatan

maka ia benamkan diri dalam matahari
tanpa curiga api itu akan membakarnya bersama mimpi
saat udara senja bersiul tersekat buah kelapa
ketika dahaga terbuka menjelma purba
ia tidak tahu, sungguh tidak tahu

ia tertujah khianat janji seribu peluru
di ujung pulau yang jauh menuju ibu

Ia tahu tubuhnya bukan hanya sekadar arca
berpagan dari cuaca
di persimpangan jalan utara
jadi tontotan para pendatang atau tualang
menuju kampung halaman di kaki rajabasa
seperti jejak namanya
telah lama terdengus angin
dikelimut malam-malam
kesunyian paling dingin

tapi ia tahu...
batinnya tak hanya bernyawa satu


2009
--

Aku yang Tak Pernah Menjumpaimu di Stasiun Kota Kuno
: eko budihardjo—9 juni


Gedung-gedung tua, tangga penuh debu,
tiang-tiang lampu yang ringkih—karena riwayat cahaya
telah dicuri usia, dan trotoar menuju kota kuno
telah lama melumut.

Aku menghentak bunyi pedati
di jalan-jalan punah, ketika kau mengirim mimpi
senja hari tentang bangunan penjajah; atap rapuh.
Seperti aku yang tak pernah mampu menerjemahkanmu
di rusuk-rusuk pendopo yang bisu kuasa
nun terhunus matahari di peta lingkar matamu
Aku yang tiba-tiba disadap wahyu malaikat
tanpa rupa tanpa suara dan tanpa pengertian
yang tidak pernah aku tahu bahwa itu datang
darimu di pagi buta.

Entah apa yang sanggup aku gumamkan
dalam cuaca gasal petang itu
saat sebuah cerita cinta selesai di selasar peron
begitu pula yang kau katakan tentang kehidupan,
yang tidak pernah menjumpaimu sebagai hitungan
melainkan dalam sesak ingatan
serupa laju gerombol asap kereta api yang memacumu
pada rel-rel memoar kota kuno

kau yang mencintai sejarah dan jendela-jendela kayu jati
di gerbong-gerbong tunggu tanpa sesenti menemukan apa-apa
sepandang cerobong kelelangan dihujani bayu pana
selain gedung-gedung tua, tangga penuh debu,
tiang-tiang lampu yang ringkih—karena riwayat cahaya
telah dicuri usia,
aku tak pernah menjumpaimu
di stasiun kota kuno.


2009
--

Keberangkatan Pertama


gegaskanlah laju keberangkatanmu di senja itu
erangan pluit pertama menampar cerobong bagai
ringkik tangis ngilu luka perempuan binal
bersimpuh kuyu di selasar peron
orang-orang alpa pada tegur sapa
waktu terengah-engah memburu
gerbong-gerbong nasib pembawa alamat pulang

kabar apa yang akan kauwartakan? Ihwal sesak
edar eksodus penumpang di kelas ekonomi? Ah! Lihatlah
rel-rel tak ubahnya tulang-tulang rapuh yang
Endapkan jejakjejak kaki juga suarasuara parau yang
tertidur pulas di antara hitungan detik
angka-angka yang culas

aku kekalkan kalimat sakitmu
dengan kenangan di stasiun
pada ruang pertemuan terakhir kita yang tak henti
igaukan ranah moyang yang pelan-pelan tenggelam


2009
--

Sajak Sepotong Bibir


tuhan mungkin sibuk mempertemukan kita kembali
masih ada segelas anggur yang tersisa malam ini
tak perlu cemas
kita masih punya angan
dan selintas memoar yang tersangkut di ranjang
masih terlewat angin yang membasuh kening

kau senang mencumbu langit
padang sabana di persimpangan
masih seikat kenang dan ranum bibirmu

O... lelakiku dalam sepi
aku menghardik kelu dirimu pada
catatancatatan tua yang tersimpan rapi di almari
kisahmu adalah petualangan sunyi
penuh duka luka
menari bersama gelandang kelam

rumah sunyi
jiwa murni
sepotong sajak ini bukan dukamu
dan melulu sabit ruhmu
hanya selembar cahaya pembasuh airmata
bagai pertapa yang mabuk
dalam dekap perempuan maya


2009
--

Kepulangan

ini tentang kabil yang telah sentak
hasrat memendam kasturi si jabang bayi
perjalanan panjang cinta kekasih
membawa gegau kepulangan yang tertunda
menuju ranah ribang pondok ibu

kasturi tumbuh merindang ranum coklat tua
di halaman kepergian
di kampung lengang
di hutan lanang
waktu yang bertahun-tahun ditinggalkan
kini renta menghanyut menuju janji-janji rawan
dalam seru kealpaan.

dari sisa matahari dan jejak bulan
kelimut malam kini mendewasa; hati paya kian tawar
sumpah balas dirajamkan dengan ingkar
lalu kadar mana hendak dilaknat-alamatkan
jika hati ibu memeram murka?
langit mendahanam kilat penuh siasat
badai datang serupa gelimun perang
di kancah gelanggang
di kampung lengang
memiuh duka yang tamat
angin berang jadi ringkuk bangkai batu
matahari mati dan jejak bulan terhapus juga
sedangkan rintihan kita hanya mengalun tak tentu
sepanjang waktu yang lalu
tenggelam beku
semakin sendu


2009
--


dimuat dalam Forum Sastra Indonesia Hari Ini: Jawa Barat (Komunitas Salihara, 2010)

No comments:

Post a Comment

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi

Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...