October 4, 2012

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi


Episode Fetus


Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu
Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna
Tanganmu menjelma tunas-tunas dan bintik-bintik alis

wajah emas
Ruang hitam adalah rumah nyaman penuh rindu dan kenangan
Namun aku belum sempat memberimu nama di kulit-kulit ari
di gumpal-gumpal darah di tali pusar akar menikam tanah

Bulan pertama kau bernama kosong

bernama tiada bukan suara
Terembus dari mulut bukan manusia. Kau tahu aku tak pernah
mendengar seseorang mengetuk pintu, memencet bel,
mengirimiku surat ketika aku duduk lunglai di ruang tamu

Adakah engkau tiba-tiba mengada?
Tak terduga dari sangkaku dari waktu rahimku
Kau mengalir, memendar, mencari, menembus
menembus.
Diakah yang datang kala aku dideru nafsu di malam lalu?
Ah! Kita tak pernah tahu bahwa kau lahir dari tiada dari nafas

dari ruh yang tak kupunya.
Dari darah dari tulang dari daging dari urat dari pembuluh darah
bahkan dari DNA yang tak pernah didongengkan sebelumnya

Bilik-bilik tak serupa di kota-kota di gedung bertingkat
di hotel di villa
Membayangkanmu meliuk legat di antara batu-batu, lorong-lorong,
mobil-mobil, dan tiang-tiang penahan jalan layang

Kata mereka, kau menyebut mengulang menghitung angka-angka
waktu pada jam-jam dinding stopwatch lalu meluncur
dari hari per hari minggu per minggu bulan per bulan

Kau terlelap di rahimku mengada dari doa dari tubuh bersekutu
dengan janji dari semesta dari rahasia selama bertahun-tahun
bermasa-masa sebelum manusia pernah ada

Aku selalu bertanya tentang riwayatmu padahal kau pun
tak pernah meminta tak pernah menduga
layaknya pepohonan tumbuh reranting jatuh dan bulir hujan
membasahi tanah batu-batu

sampai ke akarku
Dunia berkata kau memang tak pernah berdosa



bumi singgah, 2009
---


Saksi Maya


Tubuh kami menjelma duri-duri, kabel listrik, dan toilet duduk. Dari timur kami datang membentangkan pagar-pagar besi setinggi tubuh orang dewasa, menancapkan kepala-kepala yang hanya tersenyum pada malam hari. Jalan-jalan terpaksa jadi hening dan tidak tercium lagi aroma natal dan kekudusan. Kami terpasung saat makan malam di kursi kayu sekeluarga, dengan duri-duri, kabel listrik, dan toilet duduk.

Tubuh kami menjelma botol bir, pelatuk senapan, dan kursi pengadilan. Ayah, ibu, kakak laki-laki, dan adik perempuan menjadi lukisan perayaan sejarah orang-orang besar. Kami menjadi pemain sirkus darah-darah peradaban. Perawan-perawan tidak berani pulang ke rumah karena mereka telah menjadi peluru-peluru yang bisu. Kota-kota jadi hening dan malam terpelanting menjadi bau mesiu yang menandai darah yang belum selesai surut dari perang saudara.

Tubuh kami menjelma pamflet, sebatang pohon, dan tiang gantungan. Dari barat kami pulang membawa sekandang ayam-ayam hasil curian dari bukit selatan. Tubuh-tubuh lelaki kami membandul di gerbang kota. Kami tidak tahu. Kami dipaksa buta oleh ninja-ninja. Kami hanya mampu tersungkur dan menggeliat serupa telinga-telinga hadiah ulang tahun dari seorang gadis seberang bernama maria. Tangis kami mungkin hanya sebatas riwayat tari lelawa dengan dasi dan setelan jas. Sepanjang jalan kami mengeras dan terhempas.

Tubuh kami menjelma cerita yang saat ini dirawikan padamu
mendesiskan doa-doa dalam derap bayang-bayang serdadu



bumi singgah, 2010
---

Telah dimuat pada Jurnal Sajak Nomor 1 tahun 2011
Jurnal Sajak Nomor 1 tahun 2011

September 29, 2012

Forum Sastra Indonesia Hari Ini: Jawa Barat


Senja Terakhir di Tataan (1)


Hari itu mungkin hari sepi
paling sunyi
tapi ia musti melangkah pergi

Di benaknya bulir-bulir padi nampak seperti peluru
mengintai hati saat ia keluar dari hutan-hutan
saat para sehedi telah memberi sebayuk restu
dalam riwayat bapaknya
yang abadi dalam ingatan

tapi ia tidak pernah tahu wajah bapaknya
ia lahir disapih peri-peri
dan sulur-sulur pohonan
 yang dikenang perlahan

ia mungkin sudah curi dengar di dalam rahim
hari-hari bagi ibunya selalu harus rahasia
karena benteng telah jatuh
dalam pertempuran
saat ia menghirup kelahiran

ia tumbuh berkapung belukar
bermain dengan lesau murai batu
mamaknya menujah sekutu
saat ia hendak ingin ngaji
sendirian bersama arus kali

Perlawanan belum berakhir, mamak
sanak pergi menuju merabung paling agung
laskar-laskar jiwa dan para marga telah bergabung
berbisik ajimat peta
menuju tanjung semangka

ia pelankan suara langkahnya dari bidikan belanda
suaranya menjadi angin
langkahnya dedaun yang batin
labuhlah doa dalam silsilah ibu
yang sembunyi menjadi kambium
menahun dari jerih benteng menuju benteng
dan kewaguan kapitien terjepit waktu
menjadi teleng

tapi keasingan telah berlayar dalam ekspedisi
diam merantai menuju kampung
diingkar janji
ia musti bertempur merebut kembali janji
bersama wakhia dan luru satu penuh luka
bermuara ke hutan-hutan
hingga penguasa dihunus sedepa
dihablur aroma maut
di tahun delapan ratus lima puluh tiga


2009 
--

Senja Terakhir di Tataan (2)


Hari itu mungkin hari sepi
paling sunyi
tapi ia musti melangkah pergi

tubuhnya mungkin masih baja
saat tentara-tentara itu mengirim bencana
melautkan meriam dan cunia di canti
menjabal kebebasan bagi harapan mimpi
raga mantra para pribumi

maka ia tanam kembali benteng-benteng di lereng
membuka ranjau-ranjau pukau
jagang parit badai bambu
rotan-rotan berhulu waktu di setiap kubu
melingkari bandar hingga ke ujung bandulu

ia gali panji-panji di gunung tinggi
melantis panglima melayam pedang
di setiap tepi
hingga nyalak cuaca menjadi kemenangan
bagi mimpi lada anak-anak negeri

tapi ia tidak tahu
di balik batang hutan tersembunyi belati
hulubalang berkedok kulit kenari
merapal khianat kepayahan rasa sakit
yang ingin selamat dari jeri merakit

dan jagal waktu beredar di ubun-ubunnya
dari cakap-cakap sembunyi di udara
lata tinta dan aksara di buku-buku bambu
dendam yang sukar hilang dalam mesiu

maka ia berlari menuju pusaran sunyi
meninggalkan anak dan istri
menuju sisa benteng-benteng malam
ia pertaruhkan harga diri
ke pulau sebesi

ia tidak menyerah dan tak ingin pulang
ia akan rebut kembali janji kemenangan
maka esok pagi ia musti bangun lebih dini
bersama moyang si ratu api
mimpi yang belum selesai diakhiri

tapi takdir tak dapat bersekutu
ketika orang-orang telah letih
dari jajah derita yang merepih

kini ia musti bermimpi sendiri
tentang sawah-sawah yang setia
mumbang yang semerbak saat senja
kayu randu penuh rindu masa lalu

Di benaknya bulir-bulir padi nampak seperti peluru
mengintai hati saat ia keluar dari hutan-hutan
saat para sehedi telah memberi sebayuk restu
dalam riwayat bapaknya yang abadi
dalam ingatan

maka ia benamkan diri dalam matahari
tanpa curiga api itu akan membakarnya bersama mimpi
saat udara senja bersiul tersekat buah kelapa
ketika dahaga terbuka menjelma purba
ia tidak tahu, sungguh tidak tahu

ia tertujah khianat janji seribu peluru
di ujung pulau yang jauh menuju ibu

Ia tahu tubuhnya bukan hanya sekadar arca
berpagan dari cuaca
di persimpangan jalan utara
jadi tontotan para pendatang atau tualang
menuju kampung halaman di kaki rajabasa
seperti jejak namanya
telah lama terdengus angin
dikelimut malam-malam
kesunyian paling dingin

tapi ia tahu...
batinnya tak hanya bernyawa satu


2009
--


Aku yang Tak Pernah Menjumpaimu di Stasiun Kota Kuno
: eko budihardjo—9 juni


Gedung-gedung tua, tangga penuh debu,
tiang-tiang lampu yang ringkih—karena riwayat cahaya
telah dicuri usia, dan trotoar menuju kota kuno
telah lama melumut.

Aku menghentak bunyi pedati
di jalan-jalan punah, ketika kau mengirim mimpi
senja hari tentang bangunan penjajah; atap rapuh.
Seperti aku yang tak pernah mampu menerjemahkanmu
di rusuk-rusuk pendopo yang bisu kuasa
nun terhunus matahari di peta lingkar matamu
Aku yang tiba-tiba disadap wahyu malaikat
tanpa rupa tanpa suara dan tanpa pengertian
yang tidak pernah aku tahu bahwa itu datang
darimu di pagi buta.

Entah apa yang sanggup aku gumamkan
dalam cuaca gasal petang itu
saat sebuah cerita cinta selesai di selasar peron
begitu pula yang kau katakan tentang kehidupan,
yang tidak pernah menjumpaimu sebagai hitungan
melainkan dalam sesak ingatan
serupa laju gerombol asap kereta api yang memacumu
pada rel-rel memoar kota kuno

kau yang mencintai sejarah dan jendela-jendela kayu jati
di gerbong-gerbong tunggu tanpa sesenti menemukan apa-apa
sepandang cerobong kelelangan dihujani bayu pana
selain gedung-gedung tua, tangga penuh debu,
tiang-tiang lampu yang ringkih—karena riwayat cahaya
telah dicuri usia,
aku tak pernah menjumpaimu
di stasiun kota kuno.


2009
--


Keberangkatan Pertama


gegaskanlah laju keberangkatanmu di senja itu
erangan pluit pertama menampar cerobong bagai
ringkik tangis ngilu luka perempuan binal
bersimpuh kuyu di selasar peron
orang-orang alpa pada tegur sapa
waktu terengah-engah memburu
gerbong-gerbong nasib pembawa alamat pulang

kabar apa yang akan kauwartakan? Ihwal sesak
edar eksodus penumpang di kelas ekonomi? Ah! Lihatlah
rel-rel tak ubahnya tulang-tulang rapuh yang
Endapkan jejakjejak kaki juga suarasuara parau yang
tertidur pulas di antara hitungan detik
angka-angka yang culas

aku kekalkan kalimat sakitmu
dengan kenangan di stasiun
pada ruang pertemuan terakhir kita yang tak henti
igaukan ranah moyang yang pelan-pelan tenggelam


2009
--


Sajak Sepotong Bibir


tuhan mungkin sibuk mempertemukan kita kembali
masih ada segelas anggur yang tersisa malam ini
tak perlu cemas
kita masih punya angan
dan selintas memoar yang tersangkut di ranjang
masih terlewat angin yang membasuh kening

kau senang mencumbu langit
padang sabana di persimpangan
masih seikat kenang dan ranum bibirmu

O... lelakiku dalam sepi
aku menghardik kelu dirimu pada
catatancatatan tua yang tersimpan rapi di almari
kisahmu adalah petualangan sunyi
penuh duka luka
menari bersama gelandang kelam

rumah sunyi
jiwa murni
sepotong sajak ini bukan dukamu
dan melulu sabit ruhmu
hanya selembar cahaya pembasuh airmata
bagai pertapa yang mabuk
dalam dekap perempuan maya


2009
--


Kepulangan

ini tentang kabil yang telah sentak
hasrat memendam kasturi si jabang bayi
perjalanan panjang cinta kekasih
membawa gegau kepulangan yang tertunda
menuju ranah ribang pondok ibu

kasturi tumbuh merindang ranum coklat tua
di halaman kepergian
di kampung lengang
di hutan lanang
waktu yang bertahun-tahun ditinggalkan
kini renta menghanyut menuju janji-janji rawan
dalam seru kealpaan.

dari sisa matahari dan jejak bulan
kelimut malam kini mendewasa; hati paya kian tawar
sumpah balas dirajamkan dengan ingkar
lalu kadar mana hendak dilaknat-alamatkan
jika hati ibu memeram murka?
langit mendahanam kilat penuh siasat
badai datang serupa gelimun perang
di kancah gelanggang
di kampung lengang
memiuh duka yang tamat
angin berang jadi ringkuk bangkai batu
matahari mati dan jejak bulan terhapus juga
sedangkan rintihan kita hanya mengalun tak tentu
sepanjang waktu yang lalu
tenggelam beku
semakin sendu


2009
--


dimuat dalam Forum Sastra Indonesia Hari Ini: Jawa Barat (Komunitas Salihara, 2010)

Mula-mula Menulis


picture taken from blog-writeathome-com
Francine Prose dalam bukunya Reading Like a Writer (2006), mencatat bahwa siasat untuk dapat menulis (yang baik) itu adalah dengan membaca—sangat berhati-hati, bebas, namun perlahan-lahan. Prose meyakini, meskipun aktivitas membaca terlihat tidak membutuhkan kinerja otak yang maksimal seperti halnya saat menulis, namun kualitas membaca akan membentuk tulisan yang hebat. Proses membaca dalam kaitannya dengan proses menulis kreatif sama-sama memiliki fungsi sangat penting. Proses ketelitian dan kualitas membaca seorang penulis sangat memengaruhi skala kecerdasan berlogika dan berbahasa, terutama bahasa  tulisan. Bahkan Pramoedya Ananta Toer menegaskan untuk membaca, membaca, membaca, dan menulis.

Seorang penulis yang mampu memosisikan dirinya sebagai pembaca, ia dapat lebih waspada menghindari kerancuan tulisan yang sifatnya klise dan dangkal dalam pengeksplorasian tema. Dalam proses sebagai pembaca tersebut, penulis pun disunahkan dapat memosisikan diri sebagai penyunting (distansi) dan kritikus (mengorek kesalahan). Martin Amis dalam The War Against Cliché: Essays and Reviews (1971-2000) membahas: proses menulis adalah perang melawan klise, melawan basa-basi. Memang bukan perkara mudah untuk menghindari klise, karena diperlukan kreativitas tinggi, pengalaman, dan kesabaran. Begitu pun dengan tema, tidak ada tema yang baru di dunia ini, tapi teknik untuk mengeksplorasi tema menjadi tidak klise dan tidak dangkal masih bisa diciptakan oleh para penulis.

Kedangkalan tema, permasalahan berlogika dalam fiksi, dan klise, secara signifikan banyak menjangkiti para penulis pemula (belum termasuk penguasaan terhadap teknik dasar penulisan). Hal tersebut dapat dimaklumi dengan alasan: kemungkinan para cerpenis pemula lebih dahulu tergiur oleh ilusi kenikmatan menjadi seorang penulis  besar (masterpiece writer) lalu terburu-buru untuk menulis sehingga lebih banyak penulis yang menulis daripada membaca. Atau kemungkinan lain, mereka belum menemukan formula yang tepat untuk menciptakan karya-karya yang berkualitas. Namun, apa pun alasannya, masih diperlukan intensitas berproses bagi para penulis/ cerpenis pemula, karena untuk mencapai titik kreativitas penulisan berkualitas dibutuhkan usaha yang tidak bisa dianggap enteng, diperlukan kerja keras, kesabaran, dan latihan (proses). Hal itu pula yang saya lihat ketika membaca cerpen-cerpen karya Ratsu Anggita (R.A.), Soge Ahmad (S.A.), dan Yustira Dikri (Y.D.). Menurut saya, karya cerpen-cerpen dari ketiga penulis tersebut masih sebatas pada ekperimentasi artifisial.
***
Eksplorasi Bahasa
Eksplorasi bahasa pada cerpen-cerpen yang digunakan oleh R.A., S.A., dan Y.D. memiliki keseragaman gaya bahasa, yaitu dominasi penggunaan bahasa lisan ke dalam tulisan. Diksi yang banyak digunakan adalah campuran antara bahasa lisan dan tulisan sehingga terkadang menjadi saru saat dibaca. Inkonsistensi berbahasa seperti ini pada akhirnya menjadi semacam gangguan, jika tidak mampu dikemas dengan baik oleh penulis. Seperti tampak pada beberapa kalimat penggalan berikut:
... Jika di tanya lukisan siapa yang aku sukai, aku akan menjawab kalau aku sangat menyukai lukisan-lukisan ekspresionisnya Affandi ... (R.A., “Lukisan di Stasiun Tugu”)

... tak ada salahnya kita hidup berdampingan, dan aku juga sudah mulai tua untuk terus memimpin, lagian kalau benar ramalan itu. Biarkan tanah yang kita bangun ini bisa diurus orang lain ... (Y.D., “Pohon Kehidupan”)

Dominasi penggunaan bahasa lisan ke dalam teks tertulis hampir 80% terdapat dalam cerpen-cerpen yang ditulis oleh S.A. (Bahkan, saya menduga, jangan-jangan “teknik” yang digunakan oleh S.A. saat menulis cerpen seperti teknik menyalin hasil wawancara. menjadi teks tertulis, atau menulis catatan harian):
kamu tau betul seperti apa saya sebenarnya
memang benar gilanya, memang benar ke-pede-annya, memang benar corobohnya, memang benar, memang benar!
(S.A., “Surat Elektronik Buat R”)

Sangat benar sekali kata si Sisca, ini touring bukan pencarian. Sebab kalau pencarian itu ada runtutannya, bukan ujug-ujug ke kota ini dan itu sagala. Atau mungkin sayanya yang gak serius mencarinya lagi? Entahlah. Tapi sebenarnya saya dalam rangka melakukan pencarian, yang selalu dilabeli dengan ‘mencari Rindu’ sebab saya selalu di rudung ‘hujan rindu’. Akh. (S.A., “Last January 15)

Penggunaan diksi yang kurang tepat pun menjadi gangguan dalam teknik bercerita yang digunakan oleh para penulis. Ketika penulis telah berhasil membangun situasi dramatik dalam paragraf cerpennya, tiba-tiba dipatahkan seketika itu pula dengan penggunaan diksi yang kurang tepat :
Cepatlah datang. Lihat! Daun-daun mulai berguguran diterpa angin sore yang mulai dingin. Tanganku sudah bergetar. Mungkin kebanyakan merokok atau mungkin kaena perutku bernyanyi-nyanyi—menanti datangnya sesuatu masuk, melewati tenggorokan dan mampir di perut lalu dikeluarkan lagi. (R.A., “Cahaya Bulan”)

... mencoba memperagakan gerak-gerik seorang raja yag sedang memberikan pengumuman “Kepada seluruh rakyat, aku yakin kalian telah mendegar berita tentang penyeranagan, dan gossip-gosip tentang kematian massal ... (Y.D., “Pohon Kehidupan”)

Selain diksi, para penulis pun banyak menggunakan gaya bahasa dan majas, terutama pada cerpen-cerpen karya R.A.:
Udara dingin sejak tadi menggerogoti tubuhku. Sudah dingin di sini. Sebentar lagi Bukit Bintang akan terlihat ... (R.A., “Cahaya Bulan”)

Logika dalam Fiksi
Unsur-unsur yang menyangkut penceritaan, terutama yang berhubungan dengan kehadiran pencerita (sudut pandang/ point of view), dalam cerpen-cerpen R.A., S.A., dan Y.D. lebih banyak menggunakan sudut pandang orang pertama dan ketiga. Namun, penggunaan sudut pandang itu belum mampu memperkuat daya ungkap cerita mereka, karena di beberapa paragraf muncul keanjlokan akibat inkonsistensi penggunaan sudut pandang. Contohnya dapat kita lihat dalam cerpen “Surat Merah Muda” Ratsu Anggita dan “Rumah” Yustira Dikri.

Bahkan, pada karakter psikologi tokoh-tokoh yang dihadirkan oleh R.A. dalam ketiga cerpennya memiliki keseragaman, bahwa tokoh-tokoh itu memiliki sensitifitas yang tinggi seperti halnya karakter seorang perempuan (meskipun tokoh yang diceritakan dalam cerpen adalah berkelamin laki-laki). Contohnya terdapat pada alur penarasian tokoh Bimo dan tokoh Fadi sebagai narator. Sedangkan pada cerpen-cerpen Y.D., ketidaklogisan itu muncul pada sebagian kalimat dialog tokoh-tokohnya.

Di sinilah logika fiksi dipertaruhkan sebagai bukti kreativitas penulis yang lebih banyak menulis daripada membaca sehingga pada akhirnya akan kembali mementahkan cerpen-cerpen itu. Tingkat (kedewasaan) berbahasa seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan lingkungan (geografis). Faktor-faktor itu pun akan memengaruhi karakteristik estetika berbahasa orang tersebut. Menjadi tidak logis jika dialog seorang kakek “terbaca” seperti seorang anak muda yang emosional atau sebaliknya, dan dialog seorang kepala sekolah atau orang yang sudah bekerja “bertingkah” seperti seorang pelajar/ mahasiswa. Di sinilah kerumitan yang sering dihadapi dan lolos dari kejelian mata pena penulis/ cerpenis pemula dalam menyusun alur cerita yang utuh.
***
Beberapa tema dari cerpen-cerpen R.A.dan S.A. memiliki kesamaan, yaitu tentang cinta. Tema cinta memang tiada habisnya, namun diperlukan kreativitas untuk menumbuhkan tema cinta itu jauh dari klise dan dangkal. Sedangkan tema pada cerpen-cerpen Y.D. seputar masalah sosial, namun kedalaman tema tidak terjangkau oleh cerpen-cerpennya sehingga yang akhirnya muncul hanya “tema” permukaan saja. Bahkan untuk cerpen Y.D. “Biarkan Andrian Bersekolah” memiliki judul yang naif jika dibandingkan dengan isi cerpen tersebut secara keseluruhan.

Beberapa cerpen memiliki gagasan yang cukup bagus untuk dikembangkan menjadi cerpen yang menarik. Contohnya pada cerpen “Cahaya Bulan” Ratsu Anggita dan “Pohon Kehidupan” Yustira Dikri. Jika R.A. mampu meracik teknik permainan alur dan tokoh-tokohnya, cerpen itu dapat dibangun menjadi cerpen yang jauh dari klise. Atau cerpen Y.D. melalui kelihaian teknik bercerita dalam menyiasati ending cerita, maka cerpen “Pohon Kehidupan” dapat menjadi sebuah cerpen simbolik yang menarik.

Kedalaman tema dari gagasan cerpen-cerpen R.A., S.A., dan Y.D. sesungguhnya dapat direpresentasikan dengan baik melalui teknik bercerita, dialog tokoh, penjelajahan bahasa, atau permainan alur (jika dipaksa harus tidak acuh terhadap teknik dasar penulisan). Namun, perihal teknik dasar penulisan, seperti ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan (penggunaan tanda baca, huruf kapital, kata ganti -mu, -ku, -nya, penggunaan di-, kata sapaan, dan lain-lain), dan penulisan kata yang benar, tak dapat diabaikan begitu saja—terutama bagi para penulis/ cerpenis pemula, kecuali bagi para penulis yang mengandalkan “ghost writer”. Teknik dasar penulisan memiliki dampak cukup krusial dalam memengaruhi perkembangan proses penulisan para penulis/ cerpenis pemula pada masa selanjutnya untuk lebih disiplin dan konsisten.***


Diskusi telaah cerpen di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung.

HORISON - Jawa Barat...


Liwa


kupagut dingin bukitbukit
dara yang merona
sejuk wajahmu bagai periperi hutan
tangis hujan merincik
di kotamu
membalut tubuhku dalam pesta sekura
kita menari, perempuanku!
meremang sepanjang tanjungkemala
kau perempuan hijau di punuk pesagi
tidakkah pertemuan kita
adalah sunyi?

ke barat,
kulumat perjalanan menuju krui
pelabuhan yang menjejak pulang dan pergi
kabut kembali meremang waktu
sepanjang bandar merindu
dan ikanikan tak henti bertanya
ke mana arah bidok cinta bermuara

di sini
orangorang pun akan bertanya padamu
danau ranau tempatmu merantau?
menyelami tiyuh kenangan
berkaca pada batubatu legam
pada sawahsawah basah
dan dendang burung di reranting pinang
lalu membasuh hitam rambutmu
di percikan kubuperahu?

kita luluh di kota tua ini
arus angin menggerus waktu
akhir usia di pucuk gunung
diantara uapacaraupacara adat
kita menari, muli!
karena ikanikan terus bersenandung
sepanjang way
di jalanjalan
tepian hutan


2006
--

Hikayat Gugus Daratan

dari batubatu. di jejakjejak lautan dan pantai,
anakanak raja membangun
bagan. di arus sungai, sampan
mengayuh jalai ke tepian. disapa
murai.
lalu berkumpul rapat
di bukit batu darat dengan bau karet di
belakang rumah dan pinang raja yang tak sempat
dijinakkan. tak sepekan. di tanjungpinang, senja
menjelma riak buih yang tertatih perih. yang
sempat terjajah senapan, meriam
dari sisa kelimut sejarah memuram

ketika hutanhutan masih perawan
dan basah,
rawarawa dan paya membisu
dimana mengalir dara gemurai dari
lurah yang bersimbah. geronggang dan
jelutung masih bersenandung. jeram
melanggam udara, menari
gaung di guagua.
bukankah kau harus segera bergegas?
sebelum hutanhutan ditampis
kikis dan gajahgajah kehilangan arah
dan sungai siak labuh beriak
karena rumahrumah di atas huma
semakin alpa,
pun laut semakin sepi sepanjang musim.
dan hujan
turun di tanahtanah hutan. kini orangorang
menepi dari pesisir. membuka ladang. dan
reranting damar semakin samar
oleh jampijampi belati. nipah semakin lelah.
lalu orangorang mulai menuliskan cuaca
menjadi jarak
bagi laut dan darat dalam almanak.

tengoklah ke perigi!
perempuanperempuan membasuh diri
sebelum petang
bersijingkat di jenjang tangga
menuju selasar bangsal bertonggak dengan sirap
rumbia yang selalu memberi hangat
tak ada siasat.

long tih, bertandanglah pula ke telo
dapat kau tengok asap dapur masih
mengepul
tanpa tabir, tanpa bilik
kau bisa mencicip wangi gaharu jadi abu
larut dalam rindu ranah berhulu

tasiktasik mistik adalah legenda cinta
dari rajaraja
di bukitbukit berbunga
lalu dewadewa yang singgah
di hutanhutan basah
memayungi rimba, muara, dan ladang
dari jembalang
dengan tangkaltangkal di lengan
dan nelayan sibuk berburu di lautlaut sendu
ketika ikanikan tertidur dalam badai
di pulau midai
sedangkan di tepian tanjung
kau mungkin hendak menjala rindu
bersama waktu


2006
--

Largisimo


partitur patah
pelan-pelan
not-not lelah
suaramu payah
di ruang tak beratap
kau selalu asyik bersenandung
kala badai menjadi nisbi
dalam perhitungan masehimu

aku mengendap
melalui saraf-sarafmu
pulas pada kanvas
bunga matahari yang konyol
sulur-sulur akar
pelepah kambium rontok
seperti helaian rambut merahmu
menantang api matahari

waktu tua, tua waktu
tak habis-habis mulutmu
mengikis
parit-parit lidah
wajah pecah
di pinggir kali
mungkin dermaga
kian lekat kau meratapi
sepi


2006 
--


Mengenang Taman
: buat Mnemonicers


rerumput menunggu
angin yang sama. waktu yang sama
orang-orang berjalan tanpa
tegur sapa
mungkin mereka alpa
jika pohon-pohon tak lagi bicara
tentang embun, sunyi, tawa kanak-kanak
dan polusi udara
kolam air beringsut hijau, mengingau kemarau
seperti suara azan senja yang parau

helai daun merindu detak hujan
seperti aku merindu suara-suara
laki dan perempuan saling berlari
layaknya percintaan dalam film india

kekupu dan serangga kian cemburu
pada hutan-hutan tengah kota
dipagar rapi para penjaga
aku hanya mengingat kita sama-sama tertawa
dari satu dua kepala menyeruput kahwa
hingga langit memerah lalu
cahaya-cahaya lampu memekat pedapa
sampai usailah waktu untuk menunggu
perjanjian sunyi kunang-kunang
di seberang jalan
kian lama semakin terasa
kita lupa pada usia


2006
--


Adalah Malam yang Menjaga Auratku
-fragmen kerinduan-


sulursulur akarku, wahai kekasih
lindap disadap subuh yang lusuh
langit gulita
tasbih semakin pekat
lalu
apa yang tersisa dari nafas dzikir yang terkilir?
ialah malam, wahai kekasih
saat ayatayat menjadi segumpal air mata
beku dan diam
angin bisik
malam bagi pecinta
gasal merana
bulan tumbang
di pangkuan sajadah
rebah dan
kalah

siang adalah nisan kefanaan
dari akar yang terbakar
menjelma abu di jarijariku
lihatlah
mata remang
di rembang petang
perjalananku
seperti kerikil pada setapak usia

adalah malam yang menjaga auratku
dalam kesunyian dan istirah
dari terik dosa
yang cemburu
dan maut yang tak henti memburu
aku alpa, wahai kekasih
jalan penuh cagak
lalu waktu semakin sesak

aku pernah mengira lautan
luap dalam rakaatku
gelombang pacu
lidahlidah ombak mengasma doadoa
tak henti
mengikis pasirpasir cibir
batu karang lumat menjadi waktu
tapi jisimku bagai arus pasang surut
di tanjung terakhir

kerinduan ini, wahai kekasih
adalah warta yang tak sampaisampai
pada helai sayapsayap malaikat
pada istirah panjang nabi terakhir
pun di puncak arasy
mulutku kian kalut melafal bendabenda
jiwa yang berpendar
kian samar
jalanjalan meliuk bagai ekor iblis yang sinis
dan sekali lagi kerinduan ini
beku
menjadi batu
tersimpan dalam setiap sujud dan rukuk
di sudut waktu

aku pun kembali di subuh hari
berubah menjadi manusia pitam
paling bahagia
sesak kerinduan
kian ruah tak terbantah
dalam DNA dalam udara dalam semesta
ketika matahari khusyu bersujud
dalam genggamanmu, wahai kekasih
adalah niskala wahyu yang kueja
dari kitabkitab terdahulu
mengaji kisah
penghalau resah

aku kungkum di akhir perjalanan
karena tak dapat kupahat usia
pada nyawa dan setiap lipatan tubuhku
ada maglub dalam nafsu
dan bermadah untukmu
tak henti
hingga ludah menjadi kemarau
dan darahku berubah payau

dan di batas malam pula
kudendang ayatayat
dari kerinduan yang tak sampaisampai
kepadamu, wahai kekasih…


2006
 --

dimuat pada Majalah Sastra HORISON, Tahun XXXXI, No.5/ 2007, Mei 2007

Ada yang Terisak dalam Dekap


 Sekali perahu kembangkan layar lebih baik tenggelam daripada balik di tengah jalan1. Kata tuah terakhir dari seorang yang terkasih atau mungkin hanya sebagai alamat pulang ke kehidupan yang akan diarungi kemudian? Sungguh, ia tak pernah tahu. Ketika malam melangkah kisruh dan menjaring kembali seluruh kenangan, mungkin ingatan, ia hanya mampu mengingat badai, deru ombak, dan paluh yang menggerus cadik, katir, dan sabang. Ingatan yang kemudian merembihkan derai pematang sungai pada reluk wajahnya dan dengus alun nafas yang putus-putus.
Laut adalah kesunyian yang menggelanggang, penuh misteri. Gelombang yang membawa dendang riang kenangan, sendu, bahkan kematian. Batu karang memberi rintih abadi bagi deru pacu dan ringkik ombak di tepian tanjung. Ada yang selalu mengayuh diam, memiuh sepi, dan membakar dingin. Ada yang selalu menatap dendam, sedih, dan rindu. Namun, ada yang selalu tak pernah akan berubah, takdir! Mungkin juga seperti badai yang selalu memeram sengkarut kisah dari dendam, rindu, cinta, dan kesetiaan para petualang. Dan sesuatu yang bernama kepulangan, hanya bermaktub pada catatan kaki dalam kitab berjudul kenangan.
Perempuan kisut itu sudah terlalu letih dan renta. Kini hidupnya cukup menjadi kondo’na boyang, Ibu rumahtangga yang pulang-pergi dari hari pasar di pasar kecamatan sebagai penjual ikan dari hasil tangkapan saudara dan keponakannya. Bila tak habis terjual, maka ia segera mengawetkan ikan-ikan itu dengan es kemudian pada keesokkan harinya, bila bukan hari pasar, ia akan pergi ke Tinambung yang beberapa kilometer ke sebelah barat dari kampungnya. Walaupun jarak yang ditempuh sangat jauh sehingga remai-lah jisimnya, hal itu bukan masalah, karena anak semata wayang menanti segenggam harap bagi lapar dan dahaga, juga impian.
***
Tiga malam sebelum berangkat motangnga, sore harinya, Amma’ Mina telah mengatur menu untuk ritual kuliwa. Ritual khas ini merupakan “penyeimbang” antara harapan dengan rezeki dalam segala usaha yang akan dilakukan. Sebagai istri seorang punggawa posasi’—nahkoda, ia jangan sampai melupakan segala sesuatunya. Semua ini demi mendapatkan keselamatan dan rezeki bagi seluruh awak kapal saat berlabuh. Sokkol dan cucur telah diletakkannya di dekat posi’ boyang. Kedua menu makanan itu pun jangan sampai terlewatkan. Ritual berjalan lancar, dari awal ritual sampai suaminya, Mustafa, melumuri bagian depan lambung sande’—perahu bercadik khas sukunya dengan layar segitiga—dengan pasir pantai. Amma’ Mina berdoa khusyuk, mudah-mudahan cuaca tak kikir angin pada musim timur kali ini dan permukaan laut akan tenang karena akan sangat kurang menguntungkan bagi perahu yang mengandalkan angin, seperti sande’. Bila berlabuh cepat, suaminya dan para sawi atau anak buah kapal, akan mendapatkan hasil tangkapan yang berlimpah.
Suasana sungguh riuh semarak ketika seorang sawi memboyong menu ritual keluar rumah lalu diburu oleh anak-anak yang menginginkan menu ritual itu. Sesampainya di perahu, barulah habis semua menu ritual diborong anak-anak penuh girang. Ia pun tak lupa mengingatkan suaminya untuk menangkap Dingkis lebih banyak. Telur ikan itu kesukaan Amma’ Mina. Suaminya hanya mengangguk lalu tersenyum manis kepadanya. Melihat renjis wajah suaminya, Amma’ Mina merasa tersindir.
            Namun kemudian ada sesuatu yang menghantarkan Amma’ Mina pada sebuah kegelisahan. Sebuah duga yang tak disangkanya ketika itu. Malam sebelum diadakannya kuliwa, Mustafa mengutarakan keinginannya untuk berhenti mengejar ikan terbang. Ingin ditambatkannya perahu itu ke selat lain. Entah kenapa, Amma’ Mina seperti melihat sesuatu yang gasal pada wajah suaminya. Dirinya dan warga kampung telah sangat mengetahui dan menyadari, bahwa suaminya adalah seorang passande’ sejati, seorang pelaut ulung dengan perahu sande’. Telah bertahun-tahun berlayar, berburu beribu-ribu Raja. Lalu apa yang membuatnya tiba-tiba berubah pikir seperti itu. Secepat itu. Kekhawatiran apa yang tak sanggup dibagi suaminya bersama Amma’ Mina? Ia pun tahu, bahwa usia Mustafa belumlah menginjak setengah abad. Mustafa muda yang kaya pengalaman, semua itu ia dapatkan dari ayahnya dahulu, seorang punggawa posasi’ sejati. Namun malam kian beringsut ganjil dan semakin menggigil. Kegasalan itu hanya menjadi udara beku pada bibir Amma’ Mina yang tak sanggup berbicara.
***
            Ia basuh keringat yang bercucuran menuruni tebing pipinya. Seperti biasa, udara panas siang itu masih mampu dikalahkannya. Menunggu lama ia di jenjang pintu.  Matanya meraba seluruh hamparan pasir-pasir dan bangkai perahu yang enggan berlaju. Dilihatnya katir yang lepas lunglai dari lengan cadik. Perahu-perahu yang dulu hidup bersamanya, kini halai-balai tak berdaya. Sande’-sande’ itu telah dikalahkan. Dok tak punya musim beristirahat atau bekerja. Musim-musim berhenti merenyapkan angin. Namun, tidak baginya. Dari tempatnya sekarang, ia dapat berlari ke anjung-anjung, ia tegakkan andang-andang lalu dihempaskannya tros dari tanggul itu. Segera dilarikannya perahu-perahu menuju pesolot di ujung matanya. Ia bentangkan layar. Berlabuhlah! Berlabuhlah! Lalu dikejarnya su’ba, kerumunan ikan itu, dengan seruan pasti kepada Baruna, sang penguasa laut, tapi tetap ia urung tak berdaya. Selalu tidak berdaya jika tiba-tiba seseorang yang terlampau sangat dicintainya, belingsat dalam ingatan.
Ada yang selama ini ia rindukan, Lopi sande’na malolo; Perahu sande’ yang cantik. Di jenjang pintu itu, ia dapat mengkhayalkan segala mimpinya. Tak ada yang melarang atau menggubrisnya tiba-tiba. Ia dalam kesendirian. Namun, mimpi itu hanya menjemputnya sesaat saja. Lalu kepalanya akan menunduk dengan wajah kesah. Ya, kembali ia mengingat lagi percakapan itu semalam.
“Cukup jadi po’angga’ saja. Dengan seperti itu pun, hidup kita masih lebih dari cukup. Perutmu takkan keroncongan lagi” tukas Amma’ Mina.
“Kawan-kawanku semuanya jadi sawi. Melaut!”
“Rupanya telah kau dengar juga cerita itu…” wajah Amma’ Mina melemas.
Lopi sande’na malolo. Tidakkah kita menginginkannya kembali? Aku bisa menggantikan ayah melaut dan ibu menyiapkan ritual…,”
“Hentikan!!! Sudah cukup perjuangan ayahmu diwakili olehnya sendiri. Dan sekarang, hiduplah kita apa adanya saja…” berlalulah segera perempuan itu ke dapur, terisak.
Ubahudin mafhum. Ia terdiam. Ibu tercinta telah dilukainya. Perempuan yang mengasuh dan membesarkannya selama ini, seorang diri. Ya, hanya seorang diri saja perempuan itu menjaga anak semata wayang; Ubahudin, lari dari kenangan, mungkin pula ingatan, dan kesu-kesi warga kampung.
Amma’ Mina melakukan semua pekerjaan sendirian, tanpa kecuali pekerjaan lelaki sekalipun, demi anak semata. Setiap hari pulang-pergi dari pasar kecamatan, jarak berpuluh-puluh kilometer dilaluinya bersama keringat, muai udara, pekik debu, kaki rengkah, lecet, bahkan sempat dengan cucuran air mata. Entahlah. Ketika itu, Amma’ Mina sempat menyerah, setengah kalah melalui kehidupan ini sendirian tanpa sanak saudara yang membantunya. Amma’ Mina masih muda dan cantik, tapi ia tidak ingin menikah lagi. Kenangan itu, mungkin ingatan, tidak dapat lenyap dari pikiran dan hatinya. Terlalu menyakitkan, bahkan nanti dapat menyakiti orang yang berada di dekatnya. Namun kemudian, ia dibangunkan oleh suara tangis Ubahudin kecil di malam kelam kala itu. Ya, suara tangis yang setia menemani kehidupannya hingga sekarang agar tak henti berjuang. Seperti tangis gasal Mustafa malam itu ketika terakhir kali pergi melaut.
***
Laut selalu penuh misteri. Tak ada yang dapat diduga. Alam adalah keheningan yang bersiasat. Sunyi menggelanggang. Gelombang yang membawa dendang riang kenangan bahkan kematian. Batu karang memberi rintih abadi bagi deru pacu dan  ringkik ombak di tepian tanjung. Ada yang selalu diam, sepi, dan dingin. Ada yang selalu menatap dendam, sedih, dan rindu. Ada yang selalu tak berubah; takdir, seperti badai. Seperti malam kisruh ketika Mustafa dan para sawi melajukan sande’ menantang ricuh gelombang laut dan gemuruh rusuh angin yang membentangkan layar. Bulir-bulir air terbang, menampar wajah-wajah nanap para pelaut. Mengombang-ambing kapal wasiat nenek moyang. Layar semakin kencang, meringis, menahan arus kencang angin yang berang. 
“Putar haluan!!!” teriak Mustafa
“Sebentar lagi. Lihat ikan-ikan itu!”  teriak salah seorang sawi sambil menunjuk ke arah ikan-ikan terbang yang berlompatan lalu lindap.
“Tidak! Tidak akan bertahan lama! Kita kembali! Aku sudah tahu!”
“Kita kembaliii!”
“Putar haluan! Putar haluan!”
“Layaaaaar!!!”
Kemudian semua awak kapal berpegangan pada tali di tiang layar. Mereka berdoa dan berharap dalam degup, dapat selamat dari amuk badai yang tiba-tiba jelang tanpa duga. Dan tiba-tiba mereka (harus) mengingat semua kenangan, mungkin ingatan, istri tercinta dan anak-anak, sanak saudara, dan pottana—daratan. Namun, cuaca tak dapat diduga karena ia datang tiba-tiba. Begitu pula badai yang mengerumus sande’ dan para awak kapal. Semuanya lindap, terlambat, namun tetap ada yang bersisa seperti puing-puing patahan kayu, katir, tiang layar, kain layar yang terkulai, dan berkolek-kolek nyawa di lautan menjadi epitaf sunyi. Usai badai, laut kembali berdamai. Seperti tak ada jenjang antara laut dengan langit, hanya hamparan biru yang mengharu.
***
           Setahun lewat hingga akhirnya amuk badai kembali berlayar ke daratan. Tertambat di daratan hati Amma’ Mina dan Ubahudin kecil, yang kini hidup berdua tanpa sanak saudara. Sebenarnya tetangga di sekitar rumah Amma’ Mina adalah  sanak saudara dari Mustafa, namun mereka tak menghiraukannya lagi setelah Mustafa tiada. Amma’ Mina harus dapat hidup sendiri. Berjuang sendiri demi Ubahudin kecil, malaikat titipan dari Mustafa, suami tercinta.
Sebelum kesu-kesi menjamur di telinga warga kampungnya yang berkisah tentang pelayaran motangnga di malam berang, hidup mereka baik-baik saja. Semuanya rukun dan tenang, seperti hari-hari biasa kehidupannya dahulu ketika Mustafa masih bersamanya. Kini, kisah itu menjadi luka dan badai baru dalam kehidupan Amma’ Mina. Hati Amma’ Mina sungguh pilu karena tak pernah ia menduga akan membesarkan seorang anak laki-laki sendirian, tanpa seorang ayah! Amma’ Mina takut, apakah ia sanggup melewati semua rintangan hidup sendiri bersama Ubahudin kecil. Dan ketika Amma’ Mina tahu, bahwa keluarga Mustafa tidak terlalu menyukainya karena ia berasal dari kampung seberang, seorang perempuan Bugis sejati2, ia mulai sadar diri lalu menyendiri.
            “Mustafa sudah tahu. Ia pun tahu tentang pa’issangang aposasiang, bahkan tahu juga pa’issangang asumombalang” ujar Kandaenna Afah.
            “Mustahil bisa tenggelam,” timbal seorang warga kampung yang lain.
            “Ayahnya seorang punggawa posasi’ sejati. Begitu pula ia,”
            “Belangnya bagus. Kokoh!”
            “Dahulu pun mereka pasti kembali. Badai berang tak jadi masalah bagi sande’ sebuas itu”
            “Ritual kuliwa berjalan lancar. Disiapkan oleh istrinya dengan baik…,”
            “Istrinya?!” Kandaenna Afah mengernyitkan dahi.
            “Iya, malahan waktu itu Pamanku sendiri yang membawakan menu ritual itu ke perahu”
            “Hmm…”
***
            Ia basuh keringat yang bercucuran menuruni tebing pipinya. Seperti biasa, udara panas siang itu masih mampu dikalahkannya. Menunggu lama ia di jenjang pintu.  Matanya meraba seluruh hamparan pasir-pasir dan bangkai perahu yang enggan berlaju. Dilihatnya katir yang lepas lunglai dari lengan cadik. Perahu-perahu yang dulu hidup bersamanya, kini tergolek tak berdaya. Sande’-sande’ itu telah dikalahkan. Laut selalu penuh misteri. Sunyi menggelanggang. Gelombang yang membawa dendang riang kenangan bahkan kematian. Batu karang memberi rintih abadi bagi deru pacu dan  ringkik ombak di tepian tanjung. Ada yang selalu diam, sepi, dan dingin. Ada yang selalu menatap dendam, sedih, dan rindu.
                Ia masih setia menunggu perempuan setengah baya yang akan memberikan senyum damai di hatinya. Kemudian ia akan bangkit dari jenjang pintu dan berlari, membawakan kerau kosong, sisa dari hari pasar. Dan akan ia utarakan keinginannya lagi untuk melaut, menjadi sawi, bersama kawan-kawannya. Ayahnya, Mustafa, telah memanggil, memintanya berjabat dengan gelombang, riuh ombak, dan badai ganas. Sudah waktunya ia melaut, pikirnya. Perjuangan ibunya, Amma’ Mina, tidak akan pernah sia-sia. Bagaimanapun ia adalah seorang anak dari punggawa posasi’ sejati. Seorang pelaut ulung. Kehidupannya adalah laut.
            “Aku pasti kembali!” tegas Ubahudin.
            “Dan tanpa alamat pulang?!” mata Amma’ Mina menyalib tubuh Ubahudin.
            “Aku terlahir dari dua moyang pelaut. Aku pasti kembali!”
            “Lalu membiarkan Ibumu merindu, sendirian…”
            “Ayah memanggilku, ingin kujemput ia untuk Ibu…”
            “…”
            “Aku pasti kembali!”
            Ada yang terisak dalam dekap. Ada yang berlari memburu mimpi, memburu rindu, memburu hidup yang pasti. Laut memberi cemburu bagi hati Ibu yang sendu. Camar memberi kabar gelisah tak berkesudahan dan warta angin menjadi sehelai surat tanpa alamat, membasuh rema dan air mata di tepi dermaga. Ada yang tiba-tiba lindap di hati yang terluka. Ada yang tiba-tiba bersauh meninggalkan dendam yang kelam.
***
  
bumi singgah,
Maret 2006


Keterangan:

1 Takkalai disombalang dotai lele ruppu dadi nalele tuali dilolangan. Sepenggal ungkapan yang menyimbolkan keberanian dan tekad mengarungi lautan di kalangan pelaut dan nelayan di Sulawesi Selatan.
2  Orang Bugis dan Makassar sejak dahulu menguasai daerah-daerah subur dan mempunyai akses terhadap pelabuhan-pelabuhan strategis, mereka menjadi suku-suku yang dominan di Sulawesi Selatan. Sebaliknya, Mandar dan Toraja sering menjadi korban ambisi penguasa Bugis atau Makassar. Abad ke-17 dipenuhi perburuan hegemoni antara Bugis Bone dan kerajaan Makassar Goa.
motangnga: kegiatan menangkap ikan terbang beserta telurnya di palung Selat Makassar dan sekitarnya. Menghanyut di lautan selama 10-15 hari atau lebih untuk menunggu alat tangkapnya yang berada di sekitar perahu
posi’ boyang: istilah ini sangat penting dalam kepercayaan mistik di masyarakat Mandar yang menyimbolkan kehidupan. Posi’ di dalam rumah disebut posi’ boyang.
Raja; Mara’dia: pengganti nama ikan terbang (tui tuing) dalam musim penangkapan ikan terbang dan telurnya.
po’angga’: salah satu unsur kelompok nelayan yang bertugas mewakili punggawa pottana (nelayan darat) dalam tawar-menawar dengan pembeli, mengurus administrasi, dan mengurus pembagian hasil.
pa’issangang aposasiang: pengetahuan tentang pelbagai hal yang berhubungan dengan laut, pelayaran, cuaca, bahaya-bahaya, mantra-mantra, dan cara menangkap ikan.
pa’issangang asumombalang: pengetahuan mengenai berlayar dan keterampilan taknis lainnya.
belang: bagian bawah lambung perahu sande’ atau perahu bercadik berukuran kecil lain yang terbuat dari sebatang kayu utuh. Kayu tersebut dikeruk sampai membentuk kedalaman lambung yang diinginkan.



*) dimuat pada Majalah Sastra HORISON, Tahun XXXXI, No.5/ 2007, Mei 2007

Kardiman dan Tuhan


Pintu kamar terbuka pelan-pelan, hampir tak dapat membangunkan suara dengkur yang dari tadi terus menyalak. Bunyi pintu masih kalah dengan nyanyian jangkrik dalam kelam. Lelaki setengah baya itu berjalan keluar seperti maling, mengendap-endap. Kali ini harus lebih berhati-hati, jangan sampai kekasih abadinya terbangun, seperti malam Jumat minggu lalu. Dengan kaki berjinjit, lelaki itu akhirnya bisa meninggalkan istrinya tanpa keributan lagi. Masih terngiang peristiwa malam Jumat lalu, ketika sang istri bangun dan memergokinya kabur dari ranjang.
“Hmm... mau ke mana lagi, Pak?” tanya istrinya termangu-mangu, maklum masih ada mimpi yang belum sempat ditamatkannya. Kisah romantis telenovela, yang tadi siang bersambung.
“Jam berapa ini? Belum subuh, kan?” lelaki perawakan kecil dengan rambut klimis dan beruban itu tampak kebingungan. Jam dinding menunjukan pukul sebelas. Sudah hampir ketiga kalinya kepergok dan lelaki jangkis itu kalah bersiasat.
Akhir-akhir ini, Kardiman memang sering keluar malam, khususnya malam Jumat. Seperti sebuah rutinitas yang menyenangkan ketika lelaki sederhana itu mulai penat dengan seisi rumah.
Objekan pekerjaan Kardiman tidak datang setiap hari. Uang yang dikantongi tidak setimpal dengan pekerjaannya selama ini—mengangkut batu dan pasir di kali. Sungguh melelahkan dan uang yang didapatnya hanya cukup untuk makan sebulan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari lainnya. Itu pun masih harus ngutang sana-sini. Pekerja kasar memang harus berbagi upah dengan pekerja kasar lainnya. Dan tentu saja, sirkulasi terselipnya uang lebih, mandor yang atur. Jika protes, pasti kena pecat. Kardiman memilih diam dan pasrah.
Sebelum menjadi tukang batu dan pasir, Kardiman pernah bertani. Namun entah kenapa, tanah di kampung itu seperti terkena kutukan. Tak mau mengunyah benih. Hasil panen tak pernah memuaskan. Bukannya untung, malang buntung. Pinjam uang ke tengkulak, Kardiman mana mungkin berani. Dia tidak mungkin menjadikan tanahnya sebagai jaminan, karena tanah itu merupakan harta warisan terakhir satu-satunya yang diberikan orangtua Kardiman untuk modal menikah.
Sedangkan istrinya hanya bekerja di sumur, dapur, dan kasur. Tak sedikit pun membantu dalam keuangan. Bukan tidak mau membantu, tapi siapa lagi yang akan mengurus rumah dan segala perabotan, juga Kardiman selain dirinya. Mengayomi suami sepenuhnya, hanya kepada suami. Rumah tangga yang masih bertahan selama duapuluh tahun, tanpa anak, rumah seperti tempat asing yang senyap. Entah siapa yang harus disalahkan, Kardiman, istrinya, atau Tuhan?
“Sabar saja, Pak... ini sudah nasib kita,” ucap istrinya ketika Kardiman mulai kesal dan termenung di bale-bale. Sudah lama Kardiman bersabar. Sedangkan pekerjaan istrinya hanya bisa bersabar dan menyabarkan suami tercinta. Kehidupan yang panjang ini seperti kiamat Kubro bagi Kardiman. Kehidupan yang sangat kekurangan ini sudah membuat diri Kardiman muak. Kawan-kawannya telah jadi orang semua, sedangkan ia masih bergelut dengan batu-batu dan pasir. Kardiman telah lelah bersabar. Mungkinkah Tuhan menakdirkannya menjadi orang miskin dan tanpa dianugerahi seorang anak pun?! Sampai kapan?! Rupanya Kardiman telah kehilangan kesabaran dan keyakinannya.
Konon, rumah tangga mereka bisa dibilang bahagia dan berkecukupan. Dapat dimaklum karena masih dalam tahap perkawinan muda usia. Kala itu, mereka rajin beribadah, memohon untuk kehidupan yang lebih baik. Dan tentunya seorang anak, yang katanya dapat meramaikan rumah supaya lebih menyenangkan. Kardiman teringat sebuah pepatah, jikalau banyak anak, banyak pula rejekinya. Bagi Kardiman, pepatah itu bukan hanya sebagai warisan amanat dari keluarganya terdahulu.
Tahun berganti tahun. Musim berlewat musim. Kehidupan rumah tangga mereka masih baik-baik saja. Mereka masih taat beribadah, beramal, rutin menghadiri pengajian-pengajian di setiap mesjid di kampungnya. Bahkan sempat berkonsultasi dengan dukun beranak setempat agar cepat dapat momongan. Namun, keadaan tetap tak pernah berubah. Akhirnya lambat laun melunturkan sedikit demi sedikit keyakinan Kardiman terhadap jerit payah yang telah dilakukannya sampai berkeringat peluh. “Kita toh sudah berusaha, Pak. Sabar saja.... “
“Sabar...sabar... lama-lama kesal juga Bu! Mungkin Tuhan lebih menyayangi Ibu daripada aku, ya?” timpal Kardiman sambil berjalan ke luar rumah dan duduk santai di bale-bale. Merokok dan minum kopi pahit, seperti biasa. “Tuhan hanya menjadikan keluarga ini bahan kutukan saja”. Kardiman pikir percuma mendengarkan semua perkataan istrinya, dia bisanya cuma pasrah dan pasrah. Terlalu banyak berusaha, namun hasilnya tetap nihil. Kardiman cemburu dengan para tetangganya. Sudah setengah baya itu, mereka telah menggendong cucu dan setiap Idul Fitri, pasti ramai. Hmm... Kardiman hanya menunggu.
Sampai suatu hari, Kardiman diajak salah satu kawan buruh yang bekerja di sekitar kali itu, untuk ikut dalam sebuah perkumpulan. Katanya sih, acara khusus bagi laki-laki yang kurang bahagia. Katanya juga di sana akan sesak orang-orang, yang kebanyakan berasal dari kota semua. Kardiman ikut saja, tanpa berpikir panjang. Karena dia merasa memang tidak bahagia, mungkin orang-orang dari kota itu bisa memberikan perubahan pada kehidupannya yang selama ini membosankan.
Namun, acara perkumpulan ternyata jauh dari bayangannya selama ini. Banyak kata-kata istilah atau bagi mungkin Kardiman terkesan sangat ilmiah. Mana becus Kardiman mengerti maksud istilah-istilah yang selama ini sangat asing di telinganya. Kadang Kardiman tidak mengerti yang dibicarakan dalam perkumpulan itu. Kata-kata atau mungkin mantra-mantra itu berbau tidak jelas. Maklumlah bila Kardiman tidak mengerti kata-kata itu, karena sekolahnya hanya sampai kelas enam Sekolah Dasar, di kampung pula.
Kardiman tak pernah mempertanyakan atau memusingkan istilah-istilah itu, takut nanti malah tambah pusing. Lebih baik Kardiman menikmati hidangan dan obrolan-obrolan santai itu. Itu sangat lebih dari cukup. Kardiman rajin hadir dalam setiap pertemuan. Daripada tidak ada kerjaan, lebih baik mengobrol semalam suntuk agar tak membosankan, pikir Kardiman. Karena selama mengikuti acara perkumpulan itu, Kardiman merasa semakin berkurang daya stresnya. Pikirannya jadi agak lumayan tenang. Dan entah kenapa pula Kardiman tidak pernah sedikit pun mempertanyakan, kenapa pertemuan itu harus diadakan malam hari dan tersembunyi? Mungkin Kardiman terlalu hanyut dalam obrolan dan hidangan.
Akhir-akhir minggu ini, Kardiman semakin tambah rajin menghadiri pertemuan perkumpulan dan mulai jarang beribadah jemaah dengan istri atau pun pergi ke mesjid. Bila ditanya istrinya, kenapa Kardiman belum mengerjakan ibadahnya, seribu satu alasan Kardiman bersiasat kepada istrinya. Kardiman selalu berkata mau inilah-itulah, mau istirahat dulu, atau sudah mengerjakan shalat di mesjid, atau badan pegal-pegal minta dipijitin dan akhirnya meringkuk berlayar mimpi.
Sikap Kardiman mulai tak sabaran, selalu emosi, dan kini Tuhan baginya adalah angan saja1. Lama-kelamaan Kardiman pun meninggalkan ibadah-ibadahnya itu dan semakin rutin bercokol ke pertemuan sehingga akhirnya dipercaya untuk menjadi salah satu pengurus perkumpulan itu.
Istrinya sempat mencurigai Kardiman karena sikapnya mulai berubah, sedikit aneh, namun istrinya tidak berani bertanya karena takut dengan sikap Kardiman yang akhir-akhir ini kasar. Istrinya berpikir, mungkin Kardiman sedang kelelahan dan butuh ketenangan.
Hingga tiba suatu malam rasa curiga itu tidak terbendung lagi dan Kardiman bertengkar seru dengan istrinya.
“Kalau kita sabar...InsyaAllah Tuhan akan mendengar doa-doa kita dan memperlihatkan hasilnya,” sambung istrinya.
“Tuhan yang mana?”
“Opo2 sih, Pak?! Eling koe3!” istrinya kaget mendengar jawaban suaminya itu.
“Semua itu hanya omong kosong saja!”
“Tidak ada Tuhan, karena manusia hanya sendirian”. Istrinya semakin heran.
“Tuhan itu hanya hasil ciptaan manusia saja, Bu! Rahasia di belakang Tuhan itu adalah manusia sendiri. Tanggungjawab manusia sendiri atas kehidupannya,” jelas Kardiman.
Istrinya semakin bingung dan tidak mengerti. Telah disanggahnya semua pernyataan-pernyataan suaminya itu, namun setiap perkataannya semakin gasal. Istrinya tidak kuat lagi, tidak mengerti. Kemudian istrinya lari ke kamar sambil menangis terisak-isak, menutup pintu keras-keras. Kardiman hanya terdiam di ruang tengah rumahnya.
**
Setelah beberapa bulan setelah peristiwa itu, Kardiman dan istrinya akur kembali. Kardiman meminta maaf kepada istrinya, bahwa selama ini dirinya masih baik-baik saja. Kardiman coba menjelaskan, bahwa malam itu dirinya sedang labil, kesal ,dan akalnya jenat untuk sesaat. Istrinya coba memaklumi, karena dia mengenal suaminya sebagai ahli ibadah dan rasanya tidak mungkin pernyataan-pernyataan itu keluar dari mulut suaminya tercinta. Suaminya mungkin sedang khilaf.
Kehidupan mereka kembali seperti biasa lagi. Kardiman semakin berbaik hati kepada istrinya. Kardiman takut kebiasaannya yang setiap malam Jumat itu, suatu saat diketahui istrinya.
Kardiman pun kembali beribadah seperti biasa. Namun, itu hanya berlangsung beberapa minggu saja sampai istrinya sudah tidak lagi menyadari tingkah suaminya itu.
Setelah semuanya kembali normal, Kardiman semakin rajin datang ke scara pertemuan perkumpulan itu. Kardiman semakin banyak berfilosofis. Orang-orang kota itu tampak bangga dengan kemajuan Kardiman setiap harinya. Tampak pula Kardiman semakin mahir mengendalikan emosinya, juga bualan-bualannya kepada sang istri. Pasti istrinya berpikir karena Kardiman semakin sabar dan rajin beribadah. Tahun berganti tahun. Musim berlewat musim. Istrinya merasa sekarang ini, suaminya tidak pernah mempersoalkan tentang anak lagi. Di mata istrinya, Kardiman semakin bijak dan tenang.
**
Suatu ketika warga di kampung itu geger. Isu tersebar ke segala penjuru kampung dan sampai di telinga-telinga kampung seberang. Menjadi buah bibir dalam waktu singkat saja. Lebih seru daripada acara gosip atau kriminal berita di teve. Warga kampung semakin penasaran. Orang-orang dari kampung seberang pun datang berduyun-duyun ingin melihat kejadian yang sebenarnya. Aneh bin ajaib. Apalagi dengan istri Kardiman sendiri, kaget setengah mati! Tak bisa dipercaya semua perbuatan murtad suaminya. Semuanya serba menjadi tanda tanya. Tak ada fakta yang kasatmata
“Masa ada Tuhan kedua?! Apa ada, gitu?!” warga keheranan.
“Ya...mungkin saja, jeng4!”
“Ah!!! Tahayul besar-besaran. Tak bisa dipercaya!”
“Nah! Kalau benar?! Bagaimana?” warga semakin ditambah pusing seribu keliling.
“Toh! Si Tamin sendiri yang bilang begitu kok! Katanya dia lihat si Kardiman telah membunuh Tuhan....” warga melongo.
“Opo iyo5, toh?!” Semua hanya diam penuh tanda tanya, saling menatap dan bergeleng kepala. Dan pergunjingan warga di kampung pun menjadi arena ring gosip yang seru.
Tamin, salah satu warga di kampung itu dan dialah yang mengajak Kardiman bergabung dengan perkumpulan tersembunyi itu. Perkataan Tamin memang selalu dipercayai warga kampung sekitar. Seolah seluruh kisah-kisah yang diceritakannya kepada orang-orang adalah hal yang nyata terjadi. Entah, alasannya apa. Padahal di kampung asal muasalnya lahir, yang jauh di ujung pulau sana, Tamin dikenal sebagai pembual. Tamin memang pandai berkisah.
Istri Kardiman hanya bisa menangis dan pasrah saja, menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Mungkin saja Kardiman diculik penjahat, atau mungkin Kardiman melayat saudaranya di pulau seberang sana, tanpa pamitan dan memberitahukan istrinya. Kardiman lenyap tanpa jejak seperti buih ombak ditelan lautan. Seonggok tubuh Kardiman pun lenyap entah di mana. Dan entah dari mana pula isu itu muncul dan menjamur. Istri Kardiman hanya menerima sepucuk kertas yang diberikan Tamin, setelah merebaknya isu lenyapnya Kardiman. Tamin bilang, bahwa Kardiman takkan pernah kembali untuk selamanya. Namun, istri Kardiman tak percaya semua itu. Dia yakin suaminya pasti kembali dan mereka akan berkumpul lagi sebagai keluarga yang bahagia. Sepucuk surat itu menggigil di tangan istrinya. TUHAN TELAH MATI.
***

bumi singgah,
April 2005


_____________________________________________________________
Keterangan:1Terilhami oleh puisi “Simphoni” karya Subagio Sastrowardoyo.2Bahasa Jawa, artinya’ Apa’.3Bahasa Jawa, artinya ‘Sadar Kamu’.
4Dalam bahasa Jawa, artinya ‘adik perempuan’ (sapaan).
5Bahasa Jawa, artinya ‘Apa iya’.



Dimuat dalam antologi cerpen Dilarang Menangis! (Kakibuku, 2005)

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi

Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...