Mantap Memilih Bidang Sastra*)
![]() |
| photo by langgeng prima anggradinata |
Menulis karya sastra membutuhkan energi yang besar, berpikir realitas, dan imajinatif .
Dunia sastra bagi seorang Ferina Meliasanti tampaknya telah menjadi the way of life yang tak bakalan ditinggalkan begitu saja. Betapa tidak, sastrawati bernama pena Fina Sato itu telah berhasil meraih berbagai prestasi di bidang sastra, baik nasional maupun internasional. Pencapaian-pencapaian itu diperoleh Fina, selain karena hasil ketekunannya, juga karena kecintaannya terhadap dunia sastra.
Ibarat pepatah tak kenal maka tak sayang, sebelum tertarik pada dunia kesusastraan, Fina pun mencoba mengenal dunia tersebut. Perkenalan Fina terhadap dunia sastra diawali ketika dia duduk di bangku SMP. Ketika usianya baru menginjak 13 tahun, Fina tertarik membaca kumpulan puisi bertajuk Pertemuan Kecil yang dipublikasikan di salah satu harian di Jawa Barat.
Biasanya, tidak lama setelah membaca keseluruhan puisi, Fina lantas memilih beberapa puisi yang sangat disukainya dan kemudian menuliskannya kembali di dalam buku harian. Sudah menjadi kebiasaannya pula, setelah menuliskan puisi-puisi itu, pada malam harinya, Fina membacakan karya sastra itu melalui radio.
Kebetulan ketika itu ada sebuah stasiun radio anak muda yang rutin membuat acara berlabel "Puisi Cinta". Acara tersebut mengharuskan para pendengar radio untuk membacakan puisi melalui telepon terlebih dulu jika ingin diputarkan lagu-lagu kesayangan mereka. Dari hal itulah, tanpa disadari, ketertarikan Fina terhadap dunia sastra mulai terbangun.
Berbekal rasa tertarik itu pula, selepas SMA, perempuan kelahiran Subang, Jawa Barat, 27 tahun silam itu, memilih melanjutkan studi ke Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, program studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Namun, justru ketika memasuki dunia kampus, terlebih ketika kuliahnya menginjak semester ke-3, Fina sempat merasa galau. "Saya merasa bimbang karena ternyata pembelajaran ilmu bahasa dan sastra di sekolah dengan di universitas sangat jauh berbeda," ujar dia.
Hal tersebut membuat Fina kerap bertanya-tanya pada diri sendiri mengenai apa sebenarnya yang diinginkan dan bisa diperolehnya nanti setelah lulus kuliah. Berpijak dari pertanyaan-pertanyaan itu, dia pun akhirnya bertekad untuk dapat memiliki sesuatu dari hasil studinya di bidang bahasa dan sastra. Sebagai upaya mencari "sesuatu" tersebut, Fina mencoba memperluas cakupan aktivitasnya ke luar kampus dengan mengikuti acara-acara yang terkait bidang kesusastraan. Dia rajin mendatangi acara bedah buku, melihat pertunjukan teater dan pameran lukisan, mengamati dunia sastra internet (sastra cyber), serta berdiskusi dengan sejumlah orang di sebuah forum sastra cyber.
Tidak hanya itu, Fina juga melibatkan diri dalam Arena Studi dan Apresiasi (ASAS), sebuah organisasi sastra di kampusnya. Selain organisasi kesusastraan di kampus, dia juga aktif berkegiatan di organisasi-organisasi sejenis di luar kampus. Beberapa di antaranya, adalah MnemoniC-gank menuliz-, Klub Nulis, Komunitas Babad Bumi, Sanggar Olah Seni, dan teater Culture Center Ledeng (CCL) di bawah bimbingan Iman Soleh.
Kegiatan lain yang dilakoninya ialah membentuk grup musikalisasi puisi Kalam Rata bersama kawan-kawannya. Di dalam grup itu Fina berperan sebagai vokalis utama. Berbagai upaya yang dilakukan tersebut akhirnya membuat Fina termotivasi untuk menulis karya sastra. Saking cintanya terhadap dunia sastra, jika diminta memilih antara menulis karya sastra dan karya ilmiah, dengan tegas Fina akan lebih memilih menulis karya sastra. "Bagi saya, menulis karya sastra membutuhkan energi yang besar, yaitu daya pikir, berpikir realitas, dan imajinatif," kata dia.
Kontemplasi Pikiran
Fina menambahkan secara langsung ataupun tidak langsung dirinya juga merasakan bahwa kehidupan ini puitis. Bahkan, kegalauan, keinginan, atau pikiran yang ada di dalam dirinya merupakan kepuitisan yang paling dekat dengan diri. Hal itu pulalah yang menjadi inspirasi bagi dirinya dalam menghasilkan karya-karya puisi. Jadi, bisa dikatakan puisi-puisi Fina merupakan kontemplasi dari pikirannya.
Meskipun kecintaannya terhadap bidang sastra sedemikian besar, tidak berarti Fina tidak berminat terhadap bidang ilmu pengetahuan lainnya, seperti seni rupa, psikologi, filsafat, sains, sosial-budaya, otomotif, dan sejarah. Menurut perempuan yang kini tengah menempuh studi pascasarjana bidang pendidikan bahasa Indonesia di UPI, mempelajari dan membaca buku-buku di luar bidang sastra dapat mengayakan dirinya ketika membuat suatu karya sastra.
"Sastra itu tidak harus hidup seorang diri, namun harus dapat pula terbuka dan fleksibel terhadap bidang-bidang lainnya. Dengan begitu, selain menjadi pilihan hidup, sastra dapat menjadi inspirasi dalam setiap aspek kehidupan," paparnya.
Apabila berbicara proses penciptaan karya sastra, tentu berkaitan dengan inspirasi. Bagi seorang sastrawan, inspirasi bisa datang dari mana saja, termasuk dari buku. Seperti halnya Fina, tidak jarang dia merasakan membaca buku bisa membuka jalan kemudahan dalam menghasilkan karya sastra. Hebatnya, karya sastra yang lahir dari buah pikirannya itu mampu mencerminkan sikap profesionalismenya sebagai seorang sastrawan. Pun karya sastranya bukan sekadar karya biasa, namun karya sastra yang berkualitas. Hal itu bisa dibuktikan melalui berbagai prestasi di bidang sastra yang berhasil ditorehkannya. frans ekodanto
Optimistis akan Perkembangan Sastra Indonesia
Karya sastra yang ditulis dengan kualitas yang baik akan bertahan melebihi masanya.
Sebagai seorang sastrawati, Ferina Meliasanti, atau akrab dipanggil Fina Sato itu, concern terhadap perkembangan sastra Tanah Air. Dia mengungkapkan pendapatnya mengenai sastra abad ke-21, khususnya sastra kontemporer Indonesia. Menurut Fina, sastra kontemporer mengalami perubahan yang deras dan variatif, dimulai dari banyaknya karya sastra yang ditulis oleh kaum perempuan, meningkatnya produktivitas para penulis muda, hingga adanya isu tenggelamnya kritik sastra.
Khusus mengenai isu tenggelamnya kritik sastra, Fina beranggapan hal itu disebabkan oleh persoalan publikasi. Di setiap perguruan tinggi atau lembaga penelitian lainnya, banyak ditulis karya ilmiah, skripsi, tesis, dan disertasi, namun kondisi itu tidak diseimbangkan dengan media publikasi kepada masyarakat. Hal itulah yang membuat kritik sastra menjadi tidak terlihat, sekaligus membuatnya menjadi eksklusif.
Fina juga menyoroti sistem pembelajaran sastra di sekolah. "Sistem pembelajaran sastra di sekolah yang tidak seimbang kuotanya dalam proses belajar mengajar menjadi persoalan pragmatisme. Dalam kurikulum, mata pelajaran untuk siswa di sekolah begitu banyak diisi dengan hafalan sehingga waktu yang dimiliki siswa untuk mengapresiasi khazanah sastra kontemporer Indonesia sangat minim," ujar dia.
Hal lain yang membuat Fina prihatin ialah siswa-siswi di sekolah kurang mendapat pengetahuan kekinian mengenai perkembangan sastra Indonesia. Kondisi itu akhirnya dapat semakin menjauhkan murid-murid sekolah dari dunia kesusastraan Tanah Air. Di sisi lain, Fina juga tidak memungkiri besarnya peran media baik media konvensional maupun media internet, termasuk jejaring sosial dalam memberi ruang terhadap perkembangan karya-karya sastra abad ke-21. Sayangnya, menurut dia, meningkatnya kuantitas karya-karya sastra tersebut kurang dibarengi perbaikan kualitas serta kritik sastra yang signifikan.
Meski demikian, Fina berpendapat justru di situlah bagian dari proses kreatif pertumbuhan sastra kontemporer Indonesia. Anak ke-2 dari tiga bersaudara itu berusaha memaklumi bahwa perubahan yang ada tersebut tidak dapat dipaksakan secara drastis. Hal terpenting ialah masih ada antusiasme untuk memproduksi dan membaca karya sastra yang dapat menstimulasi timbulnya kebaruan entitas pada karya sastra.
Sebagai contoh, istilah fiksi mini dari komunitas pengguna jejaring sosial Twitter hingga kemudian diantologikan menjadi sebuah buku. Bisa jadi, kata Fina, hal itu merupakan salah satu karakteristik sastra abad ke-21. "Walaupun begitu, dalam setiap kehidupan, bahkan kehidupan sastra kontemporer Indonesia, hukum alam masih berlaku. Karya sastra yang ditulis dengan kualitas yang baik akan bertahan melebihi masanya dan menginspirasi setiap orang," papar Fina.
Lebih lanjut, dia mengatakan sejauh apa pun perkembangan sastra Indonesia, ke depannya sastra Indonesia akan lebih dinamis dan progresif, baik dari segi produktivitas karya-karya sastra berkualitas, peran pasar yang sehat, maupun eksistensi kritik sastra yang kuat. Dengan demikian, karya sastra dapat dinikmati oleh semua kalangan sehingga sastra Indonesia dapat menjadi bagian inspirasi dan kekayaan khazanah sastra dunia.
Ketika ditanyakan mengenai peluang sastra untuk dijadikan sebagai pilihan hidup, Fina mengatakan hal itu bergantung pada masing-masing individu dan takaran subjektivitas. "Ada beberapa penulis yang sudah menjadikan sastra sebagai pilihan hidup dan hal itu cukup menghidupi dirinya. Namun, ada pula sebagian yang gagal menjadikan sastra sebagai pilihan hidupnya. Bagi saya, sastra dapat dijadikan pilihan hidup dalam tataran dimensi yang lebih luas dengan bidang-bidang lainnya," pungkas Fina.
*) frans ekodhanto
Biodata:
Tempat lahir : Subang, Jawa Barat
Tanggal lahir : 16 Februari 1984
Nama lengkap : Ferina Meliasanti
Nama pena : Fina Sato
Anak ke-2 dari tiga bersaudara
Karier (Penghargaan yang pernah diraih)
Nominasi 5 besar pemenang "Lomba Menulis Cerpen Dilarang Menangis" tingkat Mahasiswa se-Jawa dan Bali 2005
Pemenang III Lomba Menulis Cerpen Hari Bahasa Ibu Internasional 2006
Pemenang I Sayembara Antologi Cerpen pada Festival Film Pendek dan Antologi Cerpen UNISBA 2006
Nominasi 13 besar pilihan Sayembara Antologi Cerpen pada Festival Film Pendek dan Antologi Cerpen UNISBA
2006
Beasiswa PPA (Program Peningkatan Prestasi) UPI 2006
Nominasi pemenang lomba menulis cerpen pada Pekan Baca Tulis ITB 2006
Pemenang I Lomba Cipta Cerpen Satrasia UPI kategori umum 2006
Pemenang III Lomba Mendeskripsi Koleksi Museum Tingkat Mahasiswa se-Bandung Raya (Museum Sribaduga dan Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat) 2006
Pemenang III KRAKATAU AWARD untuk Puisi Terbaik Tingkat Nasional (Dewan Kesenian Lampung) 2006
Nominasi 15 pemenang harapan utama Lomba Menulis Cerpen Remaja Tingkat Nasional LIP ICE-SELSUN GOLDEN AWARD
2006
Pemenang Harapan III Sayembara Penulisan Puisi Remaja Tingkat Nasional (Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional) 2006
20 nominasi pemenang puisi "Lomba Cipta Puisi Ultah I Fordisastra" (www.fordisastra.com)
2007
Nominasi Anugerah Sastra Pena Kencana untuk 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008
Beasiswa Sekolah Menulis Online Angkatan ke-2 (www.belajarmenulis.com) 2008
Pemenang Puisi Terbaik II tingkat nasional Laman Cipta Sastra Dewan Kesenian Riau (Dewan Kesenian Riau) 2008
Pemenang Harapan III Lomba Menulis Puisi berbahasa Sunda, Cirebon, Melayu-Betawi, dan Indonesia (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat) 2008
Sumber:
Dimuat di Koran Jakarta , Minggu, 20 November 2011
