Episode Fetus
Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu
Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna
Tanganmu menjelma tunas-tunas dan
bintik-bintik alis
wajah
emas
Ruang hitam adalah rumah nyaman penuh rindu
dan kenangan
Namun aku belum sempat memberimu nama di
kulit-kulit ari
di gumpal-gumpal darah di tali pusar akar
menikam tanah
Bulan pertama kau bernama kosong
bernama
tiada bukan suara
Terembus dari mulut bukan manusia. Kau tahu
aku tak pernah
mendengar seseorang mengetuk pintu, memencet
bel,
mengirimiku surat ketika aku duduk lunglai di
ruang tamu
Adakah
engkau tiba-tiba mengada?
Tak terduga dari sangkaku dari waktu rahimku
Kau mengalir, memendar, mencari, menembus
menembus.
Diakah yang datang kala aku dideru nafsu di
malam lalu?
Ah! Kita tak pernah tahu bahwa kau lahir dari
tiada dari nafas
dari
ruh yang tak kupunya.
Dari darah dari tulang dari daging dari urat
dari pembuluh darah
bahkan dari DNA yang tak pernah didongengkan
sebelumnya
Bilik-bilik tak serupa di kota-kota di gedung
bertingkat
di hotel di villa
Membayangkanmu meliuk legat di antara
batu-batu, lorong-lorong,
mobil-mobil, dan tiang-tiang penahan jalan
layang
Kata mereka, kau menyebut mengulang menghitung
angka-angka
waktu pada jam-jam dinding stopwatch
lalu meluncur
dari hari per hari minggu per minggu bulan per
bulan
Kau terlelap di rahimku mengada dari doa dari
tubuh bersekutu
dengan janji dari semesta dari rahasia selama
bertahun-tahun
bermasa-masa sebelum manusia pernah ada
Aku selalu bertanya tentang riwayatmu padahal
kau pun
tak pernah meminta tak pernah menduga
layaknya pepohonan tumbuh reranting jatuh dan
bulir hujan
membasahi tanah batu-batu
sampai
ke akarku
Dunia berkata kau memang tak pernah berdosa
---
Saksi Maya
Tubuh kami
menjelma duri-duri, kabel listrik, dan toilet duduk. Dari timur kami datang
membentangkan pagar-pagar besi setinggi tubuh orang dewasa, menancapkan
kepala-kepala yang hanya tersenyum pada malam hari. Jalan-jalan terpaksa jadi
hening dan tidak tercium lagi aroma natal dan kekudusan. Kami terpasung saat
makan malam di kursi kayu sekeluarga, dengan duri-duri, kabel listrik, dan
toilet duduk.
Tubuh kami
menjelma botol bir, pelatuk senapan, dan kursi pengadilan. Ayah, ibu, kakak
laki-laki, dan adik perempuan menjadi lukisan perayaan sejarah orang-orang
besar. Kami menjadi pemain sirkus darah-darah peradaban. Perawan-perawan tidak
berani pulang ke rumah karena mereka telah menjadi peluru-peluru yang bisu.
Kota-kota jadi hening dan malam terpelanting menjadi bau mesiu yang menandai
darah yang belum selesai surut dari perang saudara.
Tubuh kami
menjelma pamflet, sebatang pohon, dan tiang gantungan. Dari barat kami pulang
membawa sekandang ayam-ayam hasil curian dari bukit selatan. Tubuh-tubuh lelaki
kami membandul di gerbang kota. Kami tidak tahu. Kami dipaksa buta oleh
ninja-ninja. Kami hanya mampu tersungkur dan menggeliat serupa telinga-telinga
hadiah ulang tahun dari seorang gadis seberang bernama maria. Tangis kami
mungkin hanya sebatas riwayat tari lelawa dengan dasi dan setelan jas.
Sepanjang jalan kami mengeras dan terhempas.
Tubuh kami
menjelma cerita yang saat ini dirawikan padamu
mendesiskan doa-doa dalam derap bayang-bayang
serdadu
bumi singgah, 2010
---
Telah dimuat pada Jurnal Sajak Nomor 1 tahun 2011
![]() |
| Jurnal Sajak Nomor 1 tahun 2011 |

No comments:
Post a Comment