![]() |
| picture taken from blog-writeathome-com |
Seorang penulis yang
mampu memosisikan dirinya sebagai pembaca, ia dapat lebih waspada menghindari kerancuan
tulisan yang sifatnya klise dan dangkal dalam pengeksplorasian tema. Dalam
proses sebagai pembaca tersebut, penulis pun disunahkan dapat memosisikan
diri sebagai penyunting (distansi) dan kritikus (mengorek kesalahan). Martin
Amis dalam The War Against Cliché: Essays and Reviews (1971-2000)
membahas: proses menulis adalah perang melawan klise, melawan basa-basi. Memang bukan
perkara mudah untuk menghindari klise, karena diperlukan kreativitas tinggi,
pengalaman, dan kesabaran. Begitu pun dengan tema, tidak ada tema yang baru di
dunia ini, tapi teknik untuk mengeksplorasi tema menjadi tidak klise dan
tidak dangkal masih bisa diciptakan oleh para penulis.
Kedangkalan tema,
permasalahan berlogika dalam fiksi, dan klise, secara signifikan banyak menjangkiti
para penulis pemula (belum termasuk penguasaan terhadap teknik dasar penulisan).
Hal tersebut dapat dimaklumi dengan alasan: kemungkinan para cerpenis pemula lebih
dahulu tergiur oleh ilusi kenikmatan menjadi seorang penulis besar (masterpiece writer) lalu
terburu-buru untuk menulis sehingga lebih banyak penulis yang menulis
daripada membaca. Atau kemungkinan lain, mereka belum menemukan formula yang
tepat untuk menciptakan karya-karya yang berkualitas. Namun, apa pun alasannya,
masih diperlukan intensitas berproses bagi para penulis/ cerpenis pemula,
karena untuk mencapai titik kreativitas penulisan berkualitas dibutuhkan usaha
yang tidak bisa dianggap enteng, diperlukan kerja keras, kesabaran, dan latihan
(proses). Hal itu pula yang saya lihat ketika membaca cerpen-cerpen karya Ratsu
Anggita (R.A.), Soge Ahmad (S.A.), dan Yustira Dikri (Y.D.). Menurut saya,
karya cerpen-cerpen dari ketiga penulis tersebut masih sebatas pada
ekperimentasi artifisial.
***
Eksplorasi Bahasa
Eksplorasi bahasa
pada cerpen-cerpen yang digunakan oleh R.A., S.A., dan Y.D. memiliki keseragaman
gaya bahasa, yaitu dominasi penggunaan bahasa lisan ke dalam tulisan. Diksi
yang banyak digunakan adalah campuran antara bahasa lisan dan tulisan sehingga terkadang
menjadi saru saat dibaca. Inkonsistensi berbahasa seperti ini pada akhirnya
menjadi semacam gangguan, jika tidak mampu dikemas dengan baik oleh penulis. Seperti
tampak pada beberapa kalimat penggalan berikut:
... Jika di tanya lukisan siapa yang aku sukai, aku akan menjawab kalau
aku sangat menyukai lukisan-lukisan ekspresionisnya Affandi ... (R.A., “Lukisan di Stasiun Tugu”)
...
tak ada salahnya kita hidup berdampingan, dan aku juga sudah mulai tua untuk
terus memimpin, lagian kalau benar ramalan itu. Biarkan tanah yang kita bangun
ini bisa diurus orang lain ... (Y.D., “Pohon Kehidupan”)
Dominasi penggunaan
bahasa lisan ke dalam teks tertulis hampir 80% terdapat dalam cerpen-cerpen
yang ditulis oleh S.A. (Bahkan, saya menduga, jangan-jangan “teknik” yang
digunakan oleh S.A. saat menulis cerpen seperti teknik menyalin hasil wawancara.
menjadi teks tertulis, atau menulis catatan harian):
kamu tau betul
seperti apa saya sebenarnya
memang benar gilanya, memang benar ke-pede-annya, memang benar corobohnya, memang benar, memang benar! (S.A., “Surat Elektronik Buat R”)
memang benar gilanya, memang benar ke-pede-annya, memang benar corobohnya, memang benar, memang benar! (S.A., “Surat Elektronik Buat R”)
Sangat benar sekali kata si Sisca, ini touring bukan pencarian. Sebab
kalau pencarian itu ada runtutannya, bukan ujug-ujug ke kota ini dan itu sagala.
Atau mungkin sayanya yang gak serius mencarinya lagi? Entahlah. Tapi sebenarnya
saya dalam rangka melakukan pencarian, yang selalu dilabeli dengan ‘mencari
Rindu’ sebab saya selalu di rudung ‘hujan rindu’. Akh.
(S.A., “Last January 15”)
Penggunaan diksi
yang kurang tepat pun menjadi gangguan dalam teknik bercerita yang digunakan
oleh para penulis. Ketika penulis telah berhasil membangun situasi dramatik
dalam paragraf cerpennya, tiba-tiba dipatahkan seketika itu pula dengan
penggunaan diksi yang kurang tepat :
Cepatlah datang. Lihat! Daun-daun mulai berguguran diterpa angin sore
yang mulai dingin. Tanganku sudah bergetar. Mungkin kebanyakan merokok atau
mungkin kaena perutku bernyanyi-nyanyi—menanti datangnya sesuatu masuk,
melewati tenggorokan dan mampir di perut lalu dikeluarkan lagi. (R.A., “Cahaya Bulan”)
... mencoba memperagakan gerak-gerik seorang raja yag sedang memberikan
pengumuman “Kepada seluruh rakyat, aku yakin kalian telah mendegar berita
tentang penyeranagan, dan gossip-gosip tentang kematian massal ... (Y.D., “Pohon Kehidupan”)
Selain diksi, para
penulis pun banyak menggunakan gaya bahasa dan majas, terutama pada
cerpen-cerpen karya R.A.:
Udara dingin sejak tadi menggerogoti tubuhku. Sudah dingin di sini.
Sebentar lagi Bukit Bintang akan terlihat ... (R.A.,
“Cahaya Bulan”)
Logika dalam
Fiksi
Unsur-unsur yang
menyangkut penceritaan, terutama yang berhubungan dengan kehadiran pencerita
(sudut pandang/ point of view), dalam cerpen-cerpen R.A., S.A., dan Y.D.
lebih banyak menggunakan sudut pandang orang pertama dan ketiga. Namun, penggunaan
sudut pandang itu belum mampu memperkuat daya ungkap cerita mereka, karena di
beberapa paragraf muncul keanjlokan akibat inkonsistensi penggunaan sudut
pandang. Contohnya dapat kita lihat dalam cerpen “Surat Merah Muda” Ratsu
Anggita dan “Rumah” Yustira Dikri.
Bahkan, pada karakter
psikologi tokoh-tokoh yang dihadirkan oleh R.A. dalam ketiga cerpennya memiliki
keseragaman, bahwa tokoh-tokoh itu memiliki sensitifitas yang tinggi seperti
halnya karakter seorang perempuan (meskipun tokoh yang diceritakan dalam cerpen
adalah berkelamin laki-laki). Contohnya terdapat pada alur penarasian tokoh
Bimo dan tokoh Fadi sebagai narator. Sedangkan pada cerpen-cerpen Y.D., ketidaklogisan
itu muncul pada sebagian kalimat dialog tokoh-tokohnya.
Di sinilah logika
fiksi dipertaruhkan sebagai bukti kreativitas penulis yang lebih banyak
menulis daripada membaca sehingga pada akhirnya akan kembali mementahkan cerpen-cerpen
itu. Tingkat (kedewasaan) berbahasa seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor usia,
jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan lingkungan (geografis). Faktor-faktor
itu pun akan memengaruhi karakteristik estetika berbahasa orang tersebut. Menjadi
tidak logis jika dialog seorang kakek “terbaca” seperti seorang anak muda yang
emosional atau sebaliknya, dan dialog seorang kepala sekolah atau orang yang
sudah bekerja “bertingkah” seperti seorang pelajar/ mahasiswa. Di sinilah
kerumitan yang sering dihadapi dan lolos dari kejelian mata pena penulis/
cerpenis pemula dalam menyusun alur cerita yang utuh.
***
Beberapa tema dari
cerpen-cerpen R.A.dan S.A. memiliki kesamaan, yaitu tentang cinta. Tema cinta
memang tiada habisnya, namun diperlukan kreativitas untuk menumbuhkan tema
cinta itu jauh dari klise dan dangkal. Sedangkan tema pada cerpen-cerpen Y.D. seputar
masalah sosial, namun kedalaman tema tidak terjangkau oleh cerpen-cerpennya
sehingga yang akhirnya muncul hanya “tema” permukaan saja. Bahkan untuk cerpen Y.D. “Biarkan Andrian
Bersekolah” memiliki judul yang naif jika dibandingkan dengan isi cerpen
tersebut secara keseluruhan.
Beberapa cerpen memiliki
gagasan yang cukup bagus untuk dikembangkan menjadi cerpen yang menarik.
Contohnya pada cerpen “Cahaya Bulan” Ratsu Anggita dan “Pohon Kehidupan” Yustira
Dikri. Jika R.A. mampu meracik teknik permainan alur dan tokoh-tokohnya, cerpen
itu dapat dibangun menjadi cerpen yang jauh dari klise. Atau cerpen Y.D.
melalui kelihaian teknik bercerita dalam menyiasati ending cerita, maka cerpen
“Pohon Kehidupan” dapat menjadi sebuah cerpen simbolik yang menarik.
Diskusi telaah cerpen di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung.

This comment has been removed by the author.
ReplyDeleteAssalamualaikum... Tulisannya sangat membantu untuk penulis pemula, bu.. terimakasih..
ReplyDeleteWaalaikumsalam, Dini. Terima kasih telah singgah ke blog saya. Sama-sama. Terus menulis ya...
Delete