September 29, 2012

Mula-mula Menulis


picture taken from blog-writeathome-com
Francine Prose dalam bukunya Reading Like a Writer (2006), mencatat bahwa siasat untuk dapat menulis (yang baik) itu adalah dengan membaca—sangat berhati-hati, bebas, namun perlahan-lahan. Prose meyakini, meskipun aktivitas membaca terlihat tidak membutuhkan kinerja otak yang maksimal seperti halnya saat menulis, namun kualitas membaca akan membentuk tulisan yang hebat. Proses membaca dalam kaitannya dengan proses menulis kreatif sama-sama memiliki fungsi sangat penting. Proses ketelitian dan kualitas membaca seorang penulis sangat memengaruhi skala kecerdasan berlogika dan berbahasa, terutama bahasa  tulisan. Bahkan Pramoedya Ananta Toer menegaskan untuk membaca, membaca, membaca, dan menulis.

Seorang penulis yang mampu memosisikan dirinya sebagai pembaca, ia dapat lebih waspada menghindari kerancuan tulisan yang sifatnya klise dan dangkal dalam pengeksplorasian tema. Dalam proses sebagai pembaca tersebut, penulis pun disunahkan dapat memosisikan diri sebagai penyunting (distansi) dan kritikus (mengorek kesalahan). Martin Amis dalam The War Against Cliché: Essays and Reviews (1971-2000) membahas: proses menulis adalah perang melawan klise, melawan basa-basi. Memang bukan perkara mudah untuk menghindari klise, karena diperlukan kreativitas tinggi, pengalaman, dan kesabaran. Begitu pun dengan tema, tidak ada tema yang baru di dunia ini, tapi teknik untuk mengeksplorasi tema menjadi tidak klise dan tidak dangkal masih bisa diciptakan oleh para penulis.

Kedangkalan tema, permasalahan berlogika dalam fiksi, dan klise, secara signifikan banyak menjangkiti para penulis pemula (belum termasuk penguasaan terhadap teknik dasar penulisan). Hal tersebut dapat dimaklumi dengan alasan: kemungkinan para cerpenis pemula lebih dahulu tergiur oleh ilusi kenikmatan menjadi seorang penulis  besar (masterpiece writer) lalu terburu-buru untuk menulis sehingga lebih banyak penulis yang menulis daripada membaca. Atau kemungkinan lain, mereka belum menemukan formula yang tepat untuk menciptakan karya-karya yang berkualitas. Namun, apa pun alasannya, masih diperlukan intensitas berproses bagi para penulis/ cerpenis pemula, karena untuk mencapai titik kreativitas penulisan berkualitas dibutuhkan usaha yang tidak bisa dianggap enteng, diperlukan kerja keras, kesabaran, dan latihan (proses). Hal itu pula yang saya lihat ketika membaca cerpen-cerpen karya Ratsu Anggita (R.A.), Soge Ahmad (S.A.), dan Yustira Dikri (Y.D.). Menurut saya, karya cerpen-cerpen dari ketiga penulis tersebut masih sebatas pada ekperimentasi artifisial.
***
Eksplorasi Bahasa
Eksplorasi bahasa pada cerpen-cerpen yang digunakan oleh R.A., S.A., dan Y.D. memiliki keseragaman gaya bahasa, yaitu dominasi penggunaan bahasa lisan ke dalam tulisan. Diksi yang banyak digunakan adalah campuran antara bahasa lisan dan tulisan sehingga terkadang menjadi saru saat dibaca. Inkonsistensi berbahasa seperti ini pada akhirnya menjadi semacam gangguan, jika tidak mampu dikemas dengan baik oleh penulis. Seperti tampak pada beberapa kalimat penggalan berikut:
... Jika di tanya lukisan siapa yang aku sukai, aku akan menjawab kalau aku sangat menyukai lukisan-lukisan ekspresionisnya Affandi ... (R.A., “Lukisan di Stasiun Tugu”)

... tak ada salahnya kita hidup berdampingan, dan aku juga sudah mulai tua untuk terus memimpin, lagian kalau benar ramalan itu. Biarkan tanah yang kita bangun ini bisa diurus orang lain ... (Y.D., “Pohon Kehidupan”)

Dominasi penggunaan bahasa lisan ke dalam teks tertulis hampir 80% terdapat dalam cerpen-cerpen yang ditulis oleh S.A. (Bahkan, saya menduga, jangan-jangan “teknik” yang digunakan oleh S.A. saat menulis cerpen seperti teknik menyalin hasil wawancara. menjadi teks tertulis, atau menulis catatan harian):
kamu tau betul seperti apa saya sebenarnya
memang benar gilanya, memang benar ke-pede-annya, memang benar corobohnya, memang benar, memang benar!
(S.A., “Surat Elektronik Buat R”)

Sangat benar sekali kata si Sisca, ini touring bukan pencarian. Sebab kalau pencarian itu ada runtutannya, bukan ujug-ujug ke kota ini dan itu sagala. Atau mungkin sayanya yang gak serius mencarinya lagi? Entahlah. Tapi sebenarnya saya dalam rangka melakukan pencarian, yang selalu dilabeli dengan ‘mencari Rindu’ sebab saya selalu di rudung ‘hujan rindu’. Akh. (S.A., “Last January 15)

Penggunaan diksi yang kurang tepat pun menjadi gangguan dalam teknik bercerita yang digunakan oleh para penulis. Ketika penulis telah berhasil membangun situasi dramatik dalam paragraf cerpennya, tiba-tiba dipatahkan seketika itu pula dengan penggunaan diksi yang kurang tepat :
Cepatlah datang. Lihat! Daun-daun mulai berguguran diterpa angin sore yang mulai dingin. Tanganku sudah bergetar. Mungkin kebanyakan merokok atau mungkin kaena perutku bernyanyi-nyanyi—menanti datangnya sesuatu masuk, melewati tenggorokan dan mampir di perut lalu dikeluarkan lagi. (R.A., “Cahaya Bulan”)

... mencoba memperagakan gerak-gerik seorang raja yag sedang memberikan pengumuman “Kepada seluruh rakyat, aku yakin kalian telah mendegar berita tentang penyeranagan, dan gossip-gosip tentang kematian massal ... (Y.D., “Pohon Kehidupan”)

Selain diksi, para penulis pun banyak menggunakan gaya bahasa dan majas, terutama pada cerpen-cerpen karya R.A.:
Udara dingin sejak tadi menggerogoti tubuhku. Sudah dingin di sini. Sebentar lagi Bukit Bintang akan terlihat ... (R.A., “Cahaya Bulan”)

Logika dalam Fiksi
Unsur-unsur yang menyangkut penceritaan, terutama yang berhubungan dengan kehadiran pencerita (sudut pandang/ point of view), dalam cerpen-cerpen R.A., S.A., dan Y.D. lebih banyak menggunakan sudut pandang orang pertama dan ketiga. Namun, penggunaan sudut pandang itu belum mampu memperkuat daya ungkap cerita mereka, karena di beberapa paragraf muncul keanjlokan akibat inkonsistensi penggunaan sudut pandang. Contohnya dapat kita lihat dalam cerpen “Surat Merah Muda” Ratsu Anggita dan “Rumah” Yustira Dikri.

Bahkan, pada karakter psikologi tokoh-tokoh yang dihadirkan oleh R.A. dalam ketiga cerpennya memiliki keseragaman, bahwa tokoh-tokoh itu memiliki sensitifitas yang tinggi seperti halnya karakter seorang perempuan (meskipun tokoh yang diceritakan dalam cerpen adalah berkelamin laki-laki). Contohnya terdapat pada alur penarasian tokoh Bimo dan tokoh Fadi sebagai narator. Sedangkan pada cerpen-cerpen Y.D., ketidaklogisan itu muncul pada sebagian kalimat dialog tokoh-tokohnya.

Di sinilah logika fiksi dipertaruhkan sebagai bukti kreativitas penulis yang lebih banyak menulis daripada membaca sehingga pada akhirnya akan kembali mementahkan cerpen-cerpen itu. Tingkat (kedewasaan) berbahasa seseorang dapat dipengaruhi oleh faktor usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, dan lingkungan (geografis). Faktor-faktor itu pun akan memengaruhi karakteristik estetika berbahasa orang tersebut. Menjadi tidak logis jika dialog seorang kakek “terbaca” seperti seorang anak muda yang emosional atau sebaliknya, dan dialog seorang kepala sekolah atau orang yang sudah bekerja “bertingkah” seperti seorang pelajar/ mahasiswa. Di sinilah kerumitan yang sering dihadapi dan lolos dari kejelian mata pena penulis/ cerpenis pemula dalam menyusun alur cerita yang utuh.
***
Beberapa tema dari cerpen-cerpen R.A.dan S.A. memiliki kesamaan, yaitu tentang cinta. Tema cinta memang tiada habisnya, namun diperlukan kreativitas untuk menumbuhkan tema cinta itu jauh dari klise dan dangkal. Sedangkan tema pada cerpen-cerpen Y.D. seputar masalah sosial, namun kedalaman tema tidak terjangkau oleh cerpen-cerpennya sehingga yang akhirnya muncul hanya “tema” permukaan saja. Bahkan untuk cerpen Y.D. “Biarkan Andrian Bersekolah” memiliki judul yang naif jika dibandingkan dengan isi cerpen tersebut secara keseluruhan.

Beberapa cerpen memiliki gagasan yang cukup bagus untuk dikembangkan menjadi cerpen yang menarik. Contohnya pada cerpen “Cahaya Bulan” Ratsu Anggita dan “Pohon Kehidupan” Yustira Dikri. Jika R.A. mampu meracik teknik permainan alur dan tokoh-tokohnya, cerpen itu dapat dibangun menjadi cerpen yang jauh dari klise. Atau cerpen Y.D. melalui kelihaian teknik bercerita dalam menyiasati ending cerita, maka cerpen “Pohon Kehidupan” dapat menjadi sebuah cerpen simbolik yang menarik.

Kedalaman tema dari gagasan cerpen-cerpen R.A., S.A., dan Y.D. sesungguhnya dapat direpresentasikan dengan baik melalui teknik bercerita, dialog tokoh, penjelajahan bahasa, atau permainan alur (jika dipaksa harus tidak acuh terhadap teknik dasar penulisan). Namun, perihal teknik dasar penulisan, seperti ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan (penggunaan tanda baca, huruf kapital, kata ganti -mu, -ku, -nya, penggunaan di-, kata sapaan, dan lain-lain), dan penulisan kata yang benar, tak dapat diabaikan begitu saja—terutama bagi para penulis/ cerpenis pemula, kecuali bagi para penulis yang mengandalkan “ghost writer”. Teknik dasar penulisan memiliki dampak cukup krusial dalam memengaruhi perkembangan proses penulisan para penulis/ cerpenis pemula pada masa selanjutnya untuk lebih disiplin dan konsisten.***


Diskusi telaah cerpen di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung.

3 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Assalamualaikum... Tulisannya sangat membantu untuk penulis pemula, bu.. terimakasih..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waalaikumsalam, Dini. Terima kasih telah singgah ke blog saya. Sama-sama. Terus menulis ya...

      Delete

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi

Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...