Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts
Showing posts with label Cerita Pendek. Show all posts

September 29, 2012

Ada yang Terisak dalam Dekap


 Sekali perahu kembangkan layar lebih baik tenggelam daripada balik di tengah jalan1. Kata tuah terakhir dari seorang yang terkasih atau mungkin hanya sebagai alamat pulang ke kehidupan yang akan diarungi kemudian? Sungguh, ia tak pernah tahu. Ketika malam melangkah kisruh dan menjaring kembali seluruh kenangan, mungkin ingatan, ia hanya mampu mengingat badai, deru ombak, dan paluh yang menggerus cadik, katir, dan sabang. Ingatan yang kemudian merembihkan derai pematang sungai pada reluk wajahnya dan dengus alun nafas yang putus-putus.
Laut adalah kesunyian yang menggelanggang, penuh misteri. Gelombang yang membawa dendang riang kenangan, sendu, bahkan kematian. Batu karang memberi rintih abadi bagi deru pacu dan ringkik ombak di tepian tanjung. Ada yang selalu mengayuh diam, memiuh sepi, dan membakar dingin. Ada yang selalu menatap dendam, sedih, dan rindu. Namun, ada yang selalu tak pernah akan berubah, takdir! Mungkin juga seperti badai yang selalu memeram sengkarut kisah dari dendam, rindu, cinta, dan kesetiaan para petualang. Dan sesuatu yang bernama kepulangan, hanya bermaktub pada catatan kaki dalam kitab berjudul kenangan.
Perempuan kisut itu sudah terlalu letih dan renta. Kini hidupnya cukup menjadi kondo’na boyang, Ibu rumahtangga yang pulang-pergi dari hari pasar di pasar kecamatan sebagai penjual ikan dari hasil tangkapan saudara dan keponakannya. Bila tak habis terjual, maka ia segera mengawetkan ikan-ikan itu dengan es kemudian pada keesokkan harinya, bila bukan hari pasar, ia akan pergi ke Tinambung yang beberapa kilometer ke sebelah barat dari kampungnya. Walaupun jarak yang ditempuh sangat jauh sehingga remai-lah jisimnya, hal itu bukan masalah, karena anak semata wayang menanti segenggam harap bagi lapar dan dahaga, juga impian.
***
Tiga malam sebelum berangkat motangnga, sore harinya, Amma’ Mina telah mengatur menu untuk ritual kuliwa. Ritual khas ini merupakan “penyeimbang” antara harapan dengan rezeki dalam segala usaha yang akan dilakukan. Sebagai istri seorang punggawa posasi’—nahkoda, ia jangan sampai melupakan segala sesuatunya. Semua ini demi mendapatkan keselamatan dan rezeki bagi seluruh awak kapal saat berlabuh. Sokkol dan cucur telah diletakkannya di dekat posi’ boyang. Kedua menu makanan itu pun jangan sampai terlewatkan. Ritual berjalan lancar, dari awal ritual sampai suaminya, Mustafa, melumuri bagian depan lambung sande’—perahu bercadik khas sukunya dengan layar segitiga—dengan pasir pantai. Amma’ Mina berdoa khusyuk, mudah-mudahan cuaca tak kikir angin pada musim timur kali ini dan permukaan laut akan tenang karena akan sangat kurang menguntungkan bagi perahu yang mengandalkan angin, seperti sande’. Bila berlabuh cepat, suaminya dan para sawi atau anak buah kapal, akan mendapatkan hasil tangkapan yang berlimpah.
Suasana sungguh riuh semarak ketika seorang sawi memboyong menu ritual keluar rumah lalu diburu oleh anak-anak yang menginginkan menu ritual itu. Sesampainya di perahu, barulah habis semua menu ritual diborong anak-anak penuh girang. Ia pun tak lupa mengingatkan suaminya untuk menangkap Dingkis lebih banyak. Telur ikan itu kesukaan Amma’ Mina. Suaminya hanya mengangguk lalu tersenyum manis kepadanya. Melihat renjis wajah suaminya, Amma’ Mina merasa tersindir.
            Namun kemudian ada sesuatu yang menghantarkan Amma’ Mina pada sebuah kegelisahan. Sebuah duga yang tak disangkanya ketika itu. Malam sebelum diadakannya kuliwa, Mustafa mengutarakan keinginannya untuk berhenti mengejar ikan terbang. Ingin ditambatkannya perahu itu ke selat lain. Entah kenapa, Amma’ Mina seperti melihat sesuatu yang gasal pada wajah suaminya. Dirinya dan warga kampung telah sangat mengetahui dan menyadari, bahwa suaminya adalah seorang passande’ sejati, seorang pelaut ulung dengan perahu sande’. Telah bertahun-tahun berlayar, berburu beribu-ribu Raja. Lalu apa yang membuatnya tiba-tiba berubah pikir seperti itu. Secepat itu. Kekhawatiran apa yang tak sanggup dibagi suaminya bersama Amma’ Mina? Ia pun tahu, bahwa usia Mustafa belumlah menginjak setengah abad. Mustafa muda yang kaya pengalaman, semua itu ia dapatkan dari ayahnya dahulu, seorang punggawa posasi’ sejati. Namun malam kian beringsut ganjil dan semakin menggigil. Kegasalan itu hanya menjadi udara beku pada bibir Amma’ Mina yang tak sanggup berbicara.
***
            Ia basuh keringat yang bercucuran menuruni tebing pipinya. Seperti biasa, udara panas siang itu masih mampu dikalahkannya. Menunggu lama ia di jenjang pintu.  Matanya meraba seluruh hamparan pasir-pasir dan bangkai perahu yang enggan berlaju. Dilihatnya katir yang lepas lunglai dari lengan cadik. Perahu-perahu yang dulu hidup bersamanya, kini halai-balai tak berdaya. Sande’-sande’ itu telah dikalahkan. Dok tak punya musim beristirahat atau bekerja. Musim-musim berhenti merenyapkan angin. Namun, tidak baginya. Dari tempatnya sekarang, ia dapat berlari ke anjung-anjung, ia tegakkan andang-andang lalu dihempaskannya tros dari tanggul itu. Segera dilarikannya perahu-perahu menuju pesolot di ujung matanya. Ia bentangkan layar. Berlabuhlah! Berlabuhlah! Lalu dikejarnya su’ba, kerumunan ikan itu, dengan seruan pasti kepada Baruna, sang penguasa laut, tapi tetap ia urung tak berdaya. Selalu tidak berdaya jika tiba-tiba seseorang yang terlampau sangat dicintainya, belingsat dalam ingatan.
Ada yang selama ini ia rindukan, Lopi sande’na malolo; Perahu sande’ yang cantik. Di jenjang pintu itu, ia dapat mengkhayalkan segala mimpinya. Tak ada yang melarang atau menggubrisnya tiba-tiba. Ia dalam kesendirian. Namun, mimpi itu hanya menjemputnya sesaat saja. Lalu kepalanya akan menunduk dengan wajah kesah. Ya, kembali ia mengingat lagi percakapan itu semalam.
“Cukup jadi po’angga’ saja. Dengan seperti itu pun, hidup kita masih lebih dari cukup. Perutmu takkan keroncongan lagi” tukas Amma’ Mina.
“Kawan-kawanku semuanya jadi sawi. Melaut!”
“Rupanya telah kau dengar juga cerita itu…” wajah Amma’ Mina melemas.
Lopi sande’na malolo. Tidakkah kita menginginkannya kembali? Aku bisa menggantikan ayah melaut dan ibu menyiapkan ritual…,”
“Hentikan!!! Sudah cukup perjuangan ayahmu diwakili olehnya sendiri. Dan sekarang, hiduplah kita apa adanya saja…” berlalulah segera perempuan itu ke dapur, terisak.
Ubahudin mafhum. Ia terdiam. Ibu tercinta telah dilukainya. Perempuan yang mengasuh dan membesarkannya selama ini, seorang diri. Ya, hanya seorang diri saja perempuan itu menjaga anak semata wayang; Ubahudin, lari dari kenangan, mungkin pula ingatan, dan kesu-kesi warga kampung.
Amma’ Mina melakukan semua pekerjaan sendirian, tanpa kecuali pekerjaan lelaki sekalipun, demi anak semata. Setiap hari pulang-pergi dari pasar kecamatan, jarak berpuluh-puluh kilometer dilaluinya bersama keringat, muai udara, pekik debu, kaki rengkah, lecet, bahkan sempat dengan cucuran air mata. Entahlah. Ketika itu, Amma’ Mina sempat menyerah, setengah kalah melalui kehidupan ini sendirian tanpa sanak saudara yang membantunya. Amma’ Mina masih muda dan cantik, tapi ia tidak ingin menikah lagi. Kenangan itu, mungkin ingatan, tidak dapat lenyap dari pikiran dan hatinya. Terlalu menyakitkan, bahkan nanti dapat menyakiti orang yang berada di dekatnya. Namun kemudian, ia dibangunkan oleh suara tangis Ubahudin kecil di malam kelam kala itu. Ya, suara tangis yang setia menemani kehidupannya hingga sekarang agar tak henti berjuang. Seperti tangis gasal Mustafa malam itu ketika terakhir kali pergi melaut.
***
Laut selalu penuh misteri. Tak ada yang dapat diduga. Alam adalah keheningan yang bersiasat. Sunyi menggelanggang. Gelombang yang membawa dendang riang kenangan bahkan kematian. Batu karang memberi rintih abadi bagi deru pacu dan  ringkik ombak di tepian tanjung. Ada yang selalu diam, sepi, dan dingin. Ada yang selalu menatap dendam, sedih, dan rindu. Ada yang selalu tak berubah; takdir, seperti badai. Seperti malam kisruh ketika Mustafa dan para sawi melajukan sande’ menantang ricuh gelombang laut dan gemuruh rusuh angin yang membentangkan layar. Bulir-bulir air terbang, menampar wajah-wajah nanap para pelaut. Mengombang-ambing kapal wasiat nenek moyang. Layar semakin kencang, meringis, menahan arus kencang angin yang berang. 
“Putar haluan!!!” teriak Mustafa
“Sebentar lagi. Lihat ikan-ikan itu!”  teriak salah seorang sawi sambil menunjuk ke arah ikan-ikan terbang yang berlompatan lalu lindap.
“Tidak! Tidak akan bertahan lama! Kita kembali! Aku sudah tahu!”
“Kita kembaliii!”
“Putar haluan! Putar haluan!”
“Layaaaaar!!!”
Kemudian semua awak kapal berpegangan pada tali di tiang layar. Mereka berdoa dan berharap dalam degup, dapat selamat dari amuk badai yang tiba-tiba jelang tanpa duga. Dan tiba-tiba mereka (harus) mengingat semua kenangan, mungkin ingatan, istri tercinta dan anak-anak, sanak saudara, dan pottana—daratan. Namun, cuaca tak dapat diduga karena ia datang tiba-tiba. Begitu pula badai yang mengerumus sande’ dan para awak kapal. Semuanya lindap, terlambat, namun tetap ada yang bersisa seperti puing-puing patahan kayu, katir, tiang layar, kain layar yang terkulai, dan berkolek-kolek nyawa di lautan menjadi epitaf sunyi. Usai badai, laut kembali berdamai. Seperti tak ada jenjang antara laut dengan langit, hanya hamparan biru yang mengharu.
***
           Setahun lewat hingga akhirnya amuk badai kembali berlayar ke daratan. Tertambat di daratan hati Amma’ Mina dan Ubahudin kecil, yang kini hidup berdua tanpa sanak saudara. Sebenarnya tetangga di sekitar rumah Amma’ Mina adalah  sanak saudara dari Mustafa, namun mereka tak menghiraukannya lagi setelah Mustafa tiada. Amma’ Mina harus dapat hidup sendiri. Berjuang sendiri demi Ubahudin kecil, malaikat titipan dari Mustafa, suami tercinta.
Sebelum kesu-kesi menjamur di telinga warga kampungnya yang berkisah tentang pelayaran motangnga di malam berang, hidup mereka baik-baik saja. Semuanya rukun dan tenang, seperti hari-hari biasa kehidupannya dahulu ketika Mustafa masih bersamanya. Kini, kisah itu menjadi luka dan badai baru dalam kehidupan Amma’ Mina. Hati Amma’ Mina sungguh pilu karena tak pernah ia menduga akan membesarkan seorang anak laki-laki sendirian, tanpa seorang ayah! Amma’ Mina takut, apakah ia sanggup melewati semua rintangan hidup sendiri bersama Ubahudin kecil. Dan ketika Amma’ Mina tahu, bahwa keluarga Mustafa tidak terlalu menyukainya karena ia berasal dari kampung seberang, seorang perempuan Bugis sejati2, ia mulai sadar diri lalu menyendiri.
            “Mustafa sudah tahu. Ia pun tahu tentang pa’issangang aposasiang, bahkan tahu juga pa’issangang asumombalang” ujar Kandaenna Afah.
            “Mustahil bisa tenggelam,” timbal seorang warga kampung yang lain.
            “Ayahnya seorang punggawa posasi’ sejati. Begitu pula ia,”
            “Belangnya bagus. Kokoh!”
            “Dahulu pun mereka pasti kembali. Badai berang tak jadi masalah bagi sande’ sebuas itu”
            “Ritual kuliwa berjalan lancar. Disiapkan oleh istrinya dengan baik…,”
            “Istrinya?!” Kandaenna Afah mengernyitkan dahi.
            “Iya, malahan waktu itu Pamanku sendiri yang membawakan menu ritual itu ke perahu”
            “Hmm…”
***
            Ia basuh keringat yang bercucuran menuruni tebing pipinya. Seperti biasa, udara panas siang itu masih mampu dikalahkannya. Menunggu lama ia di jenjang pintu.  Matanya meraba seluruh hamparan pasir-pasir dan bangkai perahu yang enggan berlaju. Dilihatnya katir yang lepas lunglai dari lengan cadik. Perahu-perahu yang dulu hidup bersamanya, kini tergolek tak berdaya. Sande’-sande’ itu telah dikalahkan. Laut selalu penuh misteri. Sunyi menggelanggang. Gelombang yang membawa dendang riang kenangan bahkan kematian. Batu karang memberi rintih abadi bagi deru pacu dan  ringkik ombak di tepian tanjung. Ada yang selalu diam, sepi, dan dingin. Ada yang selalu menatap dendam, sedih, dan rindu.
                Ia masih setia menunggu perempuan setengah baya yang akan memberikan senyum damai di hatinya. Kemudian ia akan bangkit dari jenjang pintu dan berlari, membawakan kerau kosong, sisa dari hari pasar. Dan akan ia utarakan keinginannya lagi untuk melaut, menjadi sawi, bersama kawan-kawannya. Ayahnya, Mustafa, telah memanggil, memintanya berjabat dengan gelombang, riuh ombak, dan badai ganas. Sudah waktunya ia melaut, pikirnya. Perjuangan ibunya, Amma’ Mina, tidak akan pernah sia-sia. Bagaimanapun ia adalah seorang anak dari punggawa posasi’ sejati. Seorang pelaut ulung. Kehidupannya adalah laut.
            “Aku pasti kembali!” tegas Ubahudin.
            “Dan tanpa alamat pulang?!” mata Amma’ Mina menyalib tubuh Ubahudin.
            “Aku terlahir dari dua moyang pelaut. Aku pasti kembali!”
            “Lalu membiarkan Ibumu merindu, sendirian…”
            “Ayah memanggilku, ingin kujemput ia untuk Ibu…”
            “…”
            “Aku pasti kembali!”
            Ada yang terisak dalam dekap. Ada yang berlari memburu mimpi, memburu rindu, memburu hidup yang pasti. Laut memberi cemburu bagi hati Ibu yang sendu. Camar memberi kabar gelisah tak berkesudahan dan warta angin menjadi sehelai surat tanpa alamat, membasuh rema dan air mata di tepi dermaga. Ada yang tiba-tiba lindap di hati yang terluka. Ada yang tiba-tiba bersauh meninggalkan dendam yang kelam.
***
  
bumi singgah,
Maret 2006


Keterangan:

1 Takkalai disombalang dotai lele ruppu dadi nalele tuali dilolangan. Sepenggal ungkapan yang menyimbolkan keberanian dan tekad mengarungi lautan di kalangan pelaut dan nelayan di Sulawesi Selatan.
2  Orang Bugis dan Makassar sejak dahulu menguasai daerah-daerah subur dan mempunyai akses terhadap pelabuhan-pelabuhan strategis, mereka menjadi suku-suku yang dominan di Sulawesi Selatan. Sebaliknya, Mandar dan Toraja sering menjadi korban ambisi penguasa Bugis atau Makassar. Abad ke-17 dipenuhi perburuan hegemoni antara Bugis Bone dan kerajaan Makassar Goa.
motangnga: kegiatan menangkap ikan terbang beserta telurnya di palung Selat Makassar dan sekitarnya. Menghanyut di lautan selama 10-15 hari atau lebih untuk menunggu alat tangkapnya yang berada di sekitar perahu
posi’ boyang: istilah ini sangat penting dalam kepercayaan mistik di masyarakat Mandar yang menyimbolkan kehidupan. Posi’ di dalam rumah disebut posi’ boyang.
Raja; Mara’dia: pengganti nama ikan terbang (tui tuing) dalam musim penangkapan ikan terbang dan telurnya.
po’angga’: salah satu unsur kelompok nelayan yang bertugas mewakili punggawa pottana (nelayan darat) dalam tawar-menawar dengan pembeli, mengurus administrasi, dan mengurus pembagian hasil.
pa’issangang aposasiang: pengetahuan tentang pelbagai hal yang berhubungan dengan laut, pelayaran, cuaca, bahaya-bahaya, mantra-mantra, dan cara menangkap ikan.
pa’issangang asumombalang: pengetahuan mengenai berlayar dan keterampilan taknis lainnya.
belang: bagian bawah lambung perahu sande’ atau perahu bercadik berukuran kecil lain yang terbuat dari sebatang kayu utuh. Kayu tersebut dikeruk sampai membentuk kedalaman lambung yang diinginkan.



*) dimuat pada Majalah Sastra HORISON, Tahun XXXXI, No.5/ 2007, Mei 2007

Kardiman dan Tuhan


Pintu kamar terbuka pelan-pelan, hampir tak dapat membangunkan suara dengkur yang dari tadi terus menyalak. Bunyi pintu masih kalah dengan nyanyian jangkrik dalam kelam. Lelaki setengah baya itu berjalan keluar seperti maling, mengendap-endap. Kali ini harus lebih berhati-hati, jangan sampai kekasih abadinya terbangun, seperti malam Jumat minggu lalu. Dengan kaki berjinjit, lelaki itu akhirnya bisa meninggalkan istrinya tanpa keributan lagi. Masih terngiang peristiwa malam Jumat lalu, ketika sang istri bangun dan memergokinya kabur dari ranjang.
“Hmm... mau ke mana lagi, Pak?” tanya istrinya termangu-mangu, maklum masih ada mimpi yang belum sempat ditamatkannya. Kisah romantis telenovela, yang tadi siang bersambung.
“Jam berapa ini? Belum subuh, kan?” lelaki perawakan kecil dengan rambut klimis dan beruban itu tampak kebingungan. Jam dinding menunjukan pukul sebelas. Sudah hampir ketiga kalinya kepergok dan lelaki jangkis itu kalah bersiasat.
Akhir-akhir ini, Kardiman memang sering keluar malam, khususnya malam Jumat. Seperti sebuah rutinitas yang menyenangkan ketika lelaki sederhana itu mulai penat dengan seisi rumah.
Objekan pekerjaan Kardiman tidak datang setiap hari. Uang yang dikantongi tidak setimpal dengan pekerjaannya selama ini—mengangkut batu dan pasir di kali. Sungguh melelahkan dan uang yang didapatnya hanya cukup untuk makan sebulan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari lainnya. Itu pun masih harus ngutang sana-sini. Pekerja kasar memang harus berbagi upah dengan pekerja kasar lainnya. Dan tentu saja, sirkulasi terselipnya uang lebih, mandor yang atur. Jika protes, pasti kena pecat. Kardiman memilih diam dan pasrah.
Sebelum menjadi tukang batu dan pasir, Kardiman pernah bertani. Namun entah kenapa, tanah di kampung itu seperti terkena kutukan. Tak mau mengunyah benih. Hasil panen tak pernah memuaskan. Bukannya untung, malang buntung. Pinjam uang ke tengkulak, Kardiman mana mungkin berani. Dia tidak mungkin menjadikan tanahnya sebagai jaminan, karena tanah itu merupakan harta warisan terakhir satu-satunya yang diberikan orangtua Kardiman untuk modal menikah.
Sedangkan istrinya hanya bekerja di sumur, dapur, dan kasur. Tak sedikit pun membantu dalam keuangan. Bukan tidak mau membantu, tapi siapa lagi yang akan mengurus rumah dan segala perabotan, juga Kardiman selain dirinya. Mengayomi suami sepenuhnya, hanya kepada suami. Rumah tangga yang masih bertahan selama duapuluh tahun, tanpa anak, rumah seperti tempat asing yang senyap. Entah siapa yang harus disalahkan, Kardiman, istrinya, atau Tuhan?
“Sabar saja, Pak... ini sudah nasib kita,” ucap istrinya ketika Kardiman mulai kesal dan termenung di bale-bale. Sudah lama Kardiman bersabar. Sedangkan pekerjaan istrinya hanya bisa bersabar dan menyabarkan suami tercinta. Kehidupan yang panjang ini seperti kiamat Kubro bagi Kardiman. Kehidupan yang sangat kekurangan ini sudah membuat diri Kardiman muak. Kawan-kawannya telah jadi orang semua, sedangkan ia masih bergelut dengan batu-batu dan pasir. Kardiman telah lelah bersabar. Mungkinkah Tuhan menakdirkannya menjadi orang miskin dan tanpa dianugerahi seorang anak pun?! Sampai kapan?! Rupanya Kardiman telah kehilangan kesabaran dan keyakinannya.
Konon, rumah tangga mereka bisa dibilang bahagia dan berkecukupan. Dapat dimaklum karena masih dalam tahap perkawinan muda usia. Kala itu, mereka rajin beribadah, memohon untuk kehidupan yang lebih baik. Dan tentunya seorang anak, yang katanya dapat meramaikan rumah supaya lebih menyenangkan. Kardiman teringat sebuah pepatah, jikalau banyak anak, banyak pula rejekinya. Bagi Kardiman, pepatah itu bukan hanya sebagai warisan amanat dari keluarganya terdahulu.
Tahun berganti tahun. Musim berlewat musim. Kehidupan rumah tangga mereka masih baik-baik saja. Mereka masih taat beribadah, beramal, rutin menghadiri pengajian-pengajian di setiap mesjid di kampungnya. Bahkan sempat berkonsultasi dengan dukun beranak setempat agar cepat dapat momongan. Namun, keadaan tetap tak pernah berubah. Akhirnya lambat laun melunturkan sedikit demi sedikit keyakinan Kardiman terhadap jerit payah yang telah dilakukannya sampai berkeringat peluh. “Kita toh sudah berusaha, Pak. Sabar saja.... “
“Sabar...sabar... lama-lama kesal juga Bu! Mungkin Tuhan lebih menyayangi Ibu daripada aku, ya?” timpal Kardiman sambil berjalan ke luar rumah dan duduk santai di bale-bale. Merokok dan minum kopi pahit, seperti biasa. “Tuhan hanya menjadikan keluarga ini bahan kutukan saja”. Kardiman pikir percuma mendengarkan semua perkataan istrinya, dia bisanya cuma pasrah dan pasrah. Terlalu banyak berusaha, namun hasilnya tetap nihil. Kardiman cemburu dengan para tetangganya. Sudah setengah baya itu, mereka telah menggendong cucu dan setiap Idul Fitri, pasti ramai. Hmm... Kardiman hanya menunggu.
Sampai suatu hari, Kardiman diajak salah satu kawan buruh yang bekerja di sekitar kali itu, untuk ikut dalam sebuah perkumpulan. Katanya sih, acara khusus bagi laki-laki yang kurang bahagia. Katanya juga di sana akan sesak orang-orang, yang kebanyakan berasal dari kota semua. Kardiman ikut saja, tanpa berpikir panjang. Karena dia merasa memang tidak bahagia, mungkin orang-orang dari kota itu bisa memberikan perubahan pada kehidupannya yang selama ini membosankan.
Namun, acara perkumpulan ternyata jauh dari bayangannya selama ini. Banyak kata-kata istilah atau bagi mungkin Kardiman terkesan sangat ilmiah. Mana becus Kardiman mengerti maksud istilah-istilah yang selama ini sangat asing di telinganya. Kadang Kardiman tidak mengerti yang dibicarakan dalam perkumpulan itu. Kata-kata atau mungkin mantra-mantra itu berbau tidak jelas. Maklumlah bila Kardiman tidak mengerti kata-kata itu, karena sekolahnya hanya sampai kelas enam Sekolah Dasar, di kampung pula.
Kardiman tak pernah mempertanyakan atau memusingkan istilah-istilah itu, takut nanti malah tambah pusing. Lebih baik Kardiman menikmati hidangan dan obrolan-obrolan santai itu. Itu sangat lebih dari cukup. Kardiman rajin hadir dalam setiap pertemuan. Daripada tidak ada kerjaan, lebih baik mengobrol semalam suntuk agar tak membosankan, pikir Kardiman. Karena selama mengikuti acara perkumpulan itu, Kardiman merasa semakin berkurang daya stresnya. Pikirannya jadi agak lumayan tenang. Dan entah kenapa pula Kardiman tidak pernah sedikit pun mempertanyakan, kenapa pertemuan itu harus diadakan malam hari dan tersembunyi? Mungkin Kardiman terlalu hanyut dalam obrolan dan hidangan.
Akhir-akhir minggu ini, Kardiman semakin tambah rajin menghadiri pertemuan perkumpulan dan mulai jarang beribadah jemaah dengan istri atau pun pergi ke mesjid. Bila ditanya istrinya, kenapa Kardiman belum mengerjakan ibadahnya, seribu satu alasan Kardiman bersiasat kepada istrinya. Kardiman selalu berkata mau inilah-itulah, mau istirahat dulu, atau sudah mengerjakan shalat di mesjid, atau badan pegal-pegal minta dipijitin dan akhirnya meringkuk berlayar mimpi.
Sikap Kardiman mulai tak sabaran, selalu emosi, dan kini Tuhan baginya adalah angan saja1. Lama-kelamaan Kardiman pun meninggalkan ibadah-ibadahnya itu dan semakin rutin bercokol ke pertemuan sehingga akhirnya dipercaya untuk menjadi salah satu pengurus perkumpulan itu.
Istrinya sempat mencurigai Kardiman karena sikapnya mulai berubah, sedikit aneh, namun istrinya tidak berani bertanya karena takut dengan sikap Kardiman yang akhir-akhir ini kasar. Istrinya berpikir, mungkin Kardiman sedang kelelahan dan butuh ketenangan.
Hingga tiba suatu malam rasa curiga itu tidak terbendung lagi dan Kardiman bertengkar seru dengan istrinya.
“Kalau kita sabar...InsyaAllah Tuhan akan mendengar doa-doa kita dan memperlihatkan hasilnya,” sambung istrinya.
“Tuhan yang mana?”
“Opo2 sih, Pak?! Eling koe3!” istrinya kaget mendengar jawaban suaminya itu.
“Semua itu hanya omong kosong saja!”
“Tidak ada Tuhan, karena manusia hanya sendirian”. Istrinya semakin heran.
“Tuhan itu hanya hasil ciptaan manusia saja, Bu! Rahasia di belakang Tuhan itu adalah manusia sendiri. Tanggungjawab manusia sendiri atas kehidupannya,” jelas Kardiman.
Istrinya semakin bingung dan tidak mengerti. Telah disanggahnya semua pernyataan-pernyataan suaminya itu, namun setiap perkataannya semakin gasal. Istrinya tidak kuat lagi, tidak mengerti. Kemudian istrinya lari ke kamar sambil menangis terisak-isak, menutup pintu keras-keras. Kardiman hanya terdiam di ruang tengah rumahnya.
**
Setelah beberapa bulan setelah peristiwa itu, Kardiman dan istrinya akur kembali. Kardiman meminta maaf kepada istrinya, bahwa selama ini dirinya masih baik-baik saja. Kardiman coba menjelaskan, bahwa malam itu dirinya sedang labil, kesal ,dan akalnya jenat untuk sesaat. Istrinya coba memaklumi, karena dia mengenal suaminya sebagai ahli ibadah dan rasanya tidak mungkin pernyataan-pernyataan itu keluar dari mulut suaminya tercinta. Suaminya mungkin sedang khilaf.
Kehidupan mereka kembali seperti biasa lagi. Kardiman semakin berbaik hati kepada istrinya. Kardiman takut kebiasaannya yang setiap malam Jumat itu, suatu saat diketahui istrinya.
Kardiman pun kembali beribadah seperti biasa. Namun, itu hanya berlangsung beberapa minggu saja sampai istrinya sudah tidak lagi menyadari tingkah suaminya itu.
Setelah semuanya kembali normal, Kardiman semakin rajin datang ke scara pertemuan perkumpulan itu. Kardiman semakin banyak berfilosofis. Orang-orang kota itu tampak bangga dengan kemajuan Kardiman setiap harinya. Tampak pula Kardiman semakin mahir mengendalikan emosinya, juga bualan-bualannya kepada sang istri. Pasti istrinya berpikir karena Kardiman semakin sabar dan rajin beribadah. Tahun berganti tahun. Musim berlewat musim. Istrinya merasa sekarang ini, suaminya tidak pernah mempersoalkan tentang anak lagi. Di mata istrinya, Kardiman semakin bijak dan tenang.
**
Suatu ketika warga di kampung itu geger. Isu tersebar ke segala penjuru kampung dan sampai di telinga-telinga kampung seberang. Menjadi buah bibir dalam waktu singkat saja. Lebih seru daripada acara gosip atau kriminal berita di teve. Warga kampung semakin penasaran. Orang-orang dari kampung seberang pun datang berduyun-duyun ingin melihat kejadian yang sebenarnya. Aneh bin ajaib. Apalagi dengan istri Kardiman sendiri, kaget setengah mati! Tak bisa dipercaya semua perbuatan murtad suaminya. Semuanya serba menjadi tanda tanya. Tak ada fakta yang kasatmata
“Masa ada Tuhan kedua?! Apa ada, gitu?!” warga keheranan.
“Ya...mungkin saja, jeng4!”
“Ah!!! Tahayul besar-besaran. Tak bisa dipercaya!”
“Nah! Kalau benar?! Bagaimana?” warga semakin ditambah pusing seribu keliling.
“Toh! Si Tamin sendiri yang bilang begitu kok! Katanya dia lihat si Kardiman telah membunuh Tuhan....” warga melongo.
“Opo iyo5, toh?!” Semua hanya diam penuh tanda tanya, saling menatap dan bergeleng kepala. Dan pergunjingan warga di kampung pun menjadi arena ring gosip yang seru.
Tamin, salah satu warga di kampung itu dan dialah yang mengajak Kardiman bergabung dengan perkumpulan tersembunyi itu. Perkataan Tamin memang selalu dipercayai warga kampung sekitar. Seolah seluruh kisah-kisah yang diceritakannya kepada orang-orang adalah hal yang nyata terjadi. Entah, alasannya apa. Padahal di kampung asal muasalnya lahir, yang jauh di ujung pulau sana, Tamin dikenal sebagai pembual. Tamin memang pandai berkisah.
Istri Kardiman hanya bisa menangis dan pasrah saja, menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Mungkin saja Kardiman diculik penjahat, atau mungkin Kardiman melayat saudaranya di pulau seberang sana, tanpa pamitan dan memberitahukan istrinya. Kardiman lenyap tanpa jejak seperti buih ombak ditelan lautan. Seonggok tubuh Kardiman pun lenyap entah di mana. Dan entah dari mana pula isu itu muncul dan menjamur. Istri Kardiman hanya menerima sepucuk kertas yang diberikan Tamin, setelah merebaknya isu lenyapnya Kardiman. Tamin bilang, bahwa Kardiman takkan pernah kembali untuk selamanya. Namun, istri Kardiman tak percaya semua itu. Dia yakin suaminya pasti kembali dan mereka akan berkumpul lagi sebagai keluarga yang bahagia. Sepucuk surat itu menggigil di tangan istrinya. TUHAN TELAH MATI.
***

bumi singgah,
April 2005


_____________________________________________________________
Keterangan:1Terilhami oleh puisi “Simphoni” karya Subagio Sastrowardoyo.2Bahasa Jawa, artinya’ Apa’.3Bahasa Jawa, artinya ‘Sadar Kamu’.
4Dalam bahasa Jawa, artinya ‘adik perempuan’ (sapaan).
5Bahasa Jawa, artinya ‘Apa iya’.



Dimuat dalam antologi cerpen Dilarang Menangis! (Kakibuku, 2005)

September 28, 2012

Lawalata


Ia terus berjalan, menembus udara, menyelusup ke kedalaman kepalanya menuju kenangan yang meliuk lekang diam-diam. Ia seakan berabun-rabun dengan sesuatu yang tak kasat mata. Di Mahasa—begitulah konon sejarah kuno menamai daerah ini, kakinya telah tertambat. Di antara hijau mayur, silau biru punggung-punggung gunung, dan jalad rapat di pori-pori kulit. Ia tengok kakinya yang telanjang, melesak lekat mencengkeram tanah hitam, seakan kian dalam menjalar membaur dengan tanah kelahiran.
Suara-suara sumbang, bunyi-bunyi tetabuhan, wajah-wajah tak dikenal, dan segala peristiwa yang terasa aneh baginya kian melintas kilat, menusuk ligat ke ulu hati bagai teka-teki. Entah kenapa ia merasa perlu bertanya kali ini, bagaimana bisa ia terpasah di sini? Tetapi ia sadar, tidak ada sesal tertambat menuju tempat ini. Tempat ini seakan membekukan pertanyaan-pertanyaan yang melintas liar lebih jauh, lebih dalam lagi. Ia pun tahu, bahwa bukan dirinya-lah kini yang singgah di tempat ini, tetapi seseorang yang lain; seseorang yang berusaha menyeruak keluar dari dalam tubuhnya, dalam pikirannya, untuk sejenak melupakan masa lalu (atau ingatan?) seperti tunas yang bangun menggeliat menjemput matahari.
Ia dapat merasakan dan melihat malis putih arak awan mengiris puncak Klabat tidak terbelah. Kabut yang mencuci mata menjadi kesap-kesip dalam lindap garis alam. Kekandi yang luap oleh pucuk-pucuk embun di pagi buta telah membuat jisimnya enggan beranjak. Di jambar inilah ia mengistirahkan segalanya, tentang kenangan ganjil menuju sebuah perjalanan asing, karena ia tidak tahu harus memulai dari mana. Kini, Lawalata malan terus berjalan meramu ingatan menujum waktu.
***
            Kaki yang telanjang meraba-raba tanah merah, tanah hitam, atau kadang kecoklatan. Kaki yang tangguh merenjis di bulak tanah berbatu, sungai-sungai ikhbar dari hulu jejak gunung, lesir belukar penuh duri di bukit-bukit tinggi, hutan-hutan penuh jerit keasingan, dan padang sabana yang menyesatkan mata. Ia tidak akan pernah berhenti. Ada yang menunggu, sesuatu yang dicari pada rincik kelir sungai dan udara yang berlayar.
Ranah penuh berkah, rumah yang riah. Di Putussibau, mungkin sebuah ingatan akan menyambutnya. Di arus lurus sungai Mendalam, ia dapat melihat pusat kegiatan sehari-hari para anggota suku. Tangan-tangan itu melambai di tepian sungai dan di ladang dan hutan, yang meraup hari dan meramu tanah. Tanah basah penuh peluh. Alir sungai telah menambatkan ujung selup menuju Tipung Jawe’, seorang wanita tua penguasa adat Dayak Kayan, yang berpakaian khas dengan lengan dibalut Kelinge, sebuah tato yang membalut sempurna. Daun telinga yang berjuntai panjang menggantung Isaang, menyilaukan warna perak. Lawalata hanya mampu menatap, ketika tubuh itu melayah cepat mengusir roh-roh jahat yang telah kisruhkan kehidupan di Kampung Long Miting. Lawalata hanya mampu tertungkap, seperti hendak menjemput sesuatu yang muncul meluap.
Tetabuhan bunyi semakin bersipongang gegap gempita seakan telah merangsuk ke dadanya hingga terasa sangat menyesakkan. Terasa sangat berat. Silau warna perak itu seakan terus menerkam tajam menusuk-nusuk kepalanya. Ia pun jatuh sambil menahan rasa sakit di kepalanya. Pisau-pisau ingatan itu tidak pernah bisa melepaskannya begitu mudah. Ia hanya mampu mengaduh seraya menahan luka yang perih.
“Setiap tanda selalu membawa isyarat. Setiap isyarat membawa kebenaran yang akan tenggelam.”
Suara itu lagi! Lawalata gegas bangkit sambil menahan sakit yang sangat dan melilau gusar ke sekeliling. Tidak ada siapa pun. Suara lelaki tua itu yang selalu saja berbunyi bisik di telinganya, di sekitarnya. Tanda, isyarat, kebenaran, apa arti semua ini?
***
            Udara kering kemendang. Batang-batang pohon kisut dan tanah-tanah rengkah berjejak seperti alir sungai gersang. Matahari menyisip selupat tubuh-tubuh legam dan kerontang. Kebun-kebun yang disergap ilalang, dimulailah pembakaran. Asap menghantarkan harapan, dibawa angin menuju langit tertinggi. Di langit tertinggi itulah, air suci yang dipinta belum kunjung datang. Namun, keyakinan tidak datang terlambat. Sebuah keyakinan yang menghantarkan pada sebuah upacara. Ritual bagi hujan.
Pada bulan November, ia berjalan menuju Fuaton, sebuah upacara untuk meminta hujan dan memohon berkah agar mendapatkan hasil yang lebih baik pada musim panen di desa Oeolo dan Bisafe. Perjalanan puncak menuju bukit tertinggi, menuju Yutneno, si penyangga langit. Penyangga langit sebagai titik paling tinggi di bukit itu telah membuat orang-orang semakin dekat dengan sang Dewa Langit pemilik alam. Homonef, sebuah kayu bercabang tiga menunggu tegap, pagan, dan sunyi. Homonef di Titutneno dipercaya sebagai tempat berkumpulnya leluhur seluruh warga Desa Oeolo. Mereka berkisar memberi persembahan terbaik, yaitu hati dan jantung babi. Lawalata masih menginjakkan kakinya di tanah pasir bukit itu. Dia hanya berdiri, sendirian, jauh dari kerumunan orang-orang yang melaksanakan ritual.
“Di ladang itu, hujan akan turun,” ia bergumam penuh lamun. “Hujan?” Ia tertungkap lagi. Ia mulai menyelusup melenting geliat ke kedalaman pikirannya. Mengaduk-aduk segala peristiwa, perjalanan konon yang mungkin masih tersimpan lengkap pada catatan-catatan ingatan. Sungguh. Adakah di sana menyisakan sedikit saja ingatan? Seberkas yang disebut tanda atau kalimat jawaban. Namun, di sana ia semakin menemukan pintu-pintu masih tertutup; masih tetap rapat dan menjulang semenjak dahulu. Pintu-pintu terkunci dan ia masih begitu lenguh untuk menemukan kunci-kunci itu. Ia diam terkelu. Kosong.
Lalu kenapa harus menuju pada hujan?
***
Ia terus menapaki jejak ranah-ranah di setiap pulau yang mengapung pagan di negeri itu. Setiap pulau, setiap ritual, setiap peristiwa (ataukah tanda?) yang selalu menarik perhatiannya. Ia melintasi ruang dan waktu yang memamah usia. Ia ingin menegaskan pada sekeliling, tanah kelahiran yang kini dijejaknya lagi, setelah sekian lama ia tinggalkan, bahwa ia telah pulang. Ia telah pulang dari perjalanan asing di luar ranah-ranah negerinya. Ia pulang untuk merengkuh menggelitik kembali kerinduan, sesuatu yang dahulu lekat lengang berdenyar dalam dirinya, yang kini bernama kenangan. Ada yang menunggu dan harus dicari tanpa henti, dicatat tanpa cacat. Ia menjejaki ranah-ranah yang mungkin menyimpan kalimat-kalimat jawaban yang tersimpan terlalu dalam. Atau mungkin tanda, isyarat, kebenaran, yang sebenarnya tidak pernah bisa ia pahami dan menuju ke mana semua itu. Namun, kelak akan mungkin ia temukan di sebuah malka. Tetabuhan itu... suara itu... kilau perak itu....
Ia terus berjalan, menembus udara, menyelusup ke kedalaman kepalanya menuju kenangan yang meliuk lekang diam-diam. Suara-suara sumbang, bunyi-bunyi tetabuhan, wajah-wajah tidak dikenal, dan segala peristiwa yang terasa aneh baginya kian melintas kilat, menusuk ligat ke ulu hati bagai teka-teki. Entah kenapa ia merasa perlu bertanya kali ini, bagaimana bisa ia terpasah seperti ini? Di jambar inilah, ia mengistirahkan segalanya, tentang kenangan ganjil menuju sebuah perjalanan asing, karena ia tidak tahu harus memulai dari mana. Jamung di samping jambarnya terus berkobar, memberi kabar dan kisah perjalanan yang tak pernah selesai.
“Setiap tanda selalu membawa isyarat. Setiap isyarat membawa kebenaran yang akan tenggelam.”
***
Aku benar-benar tidak tahu, kenapa Ibu jika mendongak ke angkasa selalu kelihatan begitu bahagia. “Seperti bintang kutub utara, jatuh cinta,” katanya.
Aku ini katanya mirip dengan Ayah sehingga aku merasa selalu takut kalau tumbuh jadi besar, jadi dewasa. “Jika tertimpa sinar matahari, bulu matamu berwarna coklat keemasan.”
Kata Ibu, Ayah adalah mahluk luar angkasa. Ada selaputnya. Pesawat Ayah pergi ke Bulan. Di angkasa, pesawat itu menyusup meliuk ke langit seperti warna buah pir keemasan, keperakan, berkibar-kibar gemerlapan. Gemerisik pasir percik-api pesawat Ayah jadi terlihat karena cahaya Bumi. Ketika langit berganti rupa biru gelap, pesawat itu tampak begitu jauh, menyilaukan biji mata.
Saat bulan penuh, jika cuaca cerah, pangkalan di bulan akan terlihat jelas. Atap kubahnya bersinar. Bersinar seperti perak. Lalu Ibu akan berteriak bahagia ke angkasa, “Itu adalah mahluk luar angkasaku!”
Ketika masih kecil, setiap menjelang tidur, Ibu akan bercerita kepadaku tentang banyak hal dan banyak cerita. Ibu tahu, aku suka sekali dengan cerita-cerita dan aku tidak bisa tidur tanpanya, walaupun pada akhirnya aku tidak pernah tahu bagaimana akhir cerita-cerita itu karena aku telah terlelap kemudian. Dari semua cerita yang pernah Ibu ceritakan, yang paling kusukai adalah cerita tentang Ayah.
Ibu bercerita tentang masa kelahiranku. Saat itu Ayah sedang berada di atas perahu perak di seberang Bulan, mendengarkan radio. Saat itu mengalunlah lagu “Kanon Silver Harbour”. Lalu Ibu pun akan menatap bola mataku sangat dalam, seperti tengah mencari sekeping koin perak yang terjatuh di sebuah danau jernih yang dalam di sana. Ibu terkagum-kagum dengan mata binar dan berkaca-kaca sambil memegang kedua pipiku dengan kedua tangannya yang hangat. “Baik mata, maupun mulutnya benar-benar mirip. Kau benar-benar duplikat Ayah,” kata Ibu tersenyum. Terharu. Aku pun hanya diam menatap tatapan itu.
Tetapi Bu, aku lebih suka seperti Ibu....
***
Kepulangan malang dari petualangan panjang. Ia telah melihat, merasakan, dan mendengar semuanya. Sesuatu yang dicarinya selama ini tidak pernah bersembunyi. Namun, kini semuanya terlambat. Di halai-balai jambar ini, matanya telah buta.
“Ia ada di sana!”
Terdengar teriakan seorang lelaki yang tidak asing di telinga Lawalata. Sejenak ia mendengar alunan tabuh tifa, masih sedikit samar, namun ia yakin dapat mendengarnya dengan sangat jelas. Telinganya lebih peka dan tajam dibandingkan dahulu sebelum ia tidak dapat melihat seperti sekarang ini. Ia masih mengingat ketika beberapa orang dari Mahasa membawanya dan orang-orang lainnya yang bernasib sama ke sebuah pulau kecil, yang masih menjadi bagian Pulau Ganjil—begitulah ia menyebutnya. Ia tahu, ada yang tidak beres, sesuatu yang telah merasuki dan menyusup geliat ke dalam tubuhnya sehingga orang-orang itu merasa jijik dengannya.
“Mungkin Anda akan membutuhkan sehelai saputangan ini. Ambillah, hanya ini yang tersisa.”
“Baiklah. Terima kasih.” Ucap Lawalata begitu tenang, namun berbalut gelisah.
Suara itu, seperti tidak asing dalam ingatannya. Suara seorang lelaki tua yang selalu muncul tiba-tiba dalam setiap mimpinya. Ia mulai bertanya-tanya, apakah semua tanda, isyarat yang dilihat pikiran dan yang dirasakan oleh tubuhnya adalah bukanlah kesia-siaan? Ingatannya semakin tertarik kembali berpuluh-puluh tahun ke masa depan (ataukah sebenarnya masa lalu?). Ingatan itu terus memanjang meregang, berpintal-pintal dalam nujum waktu yang kelu. Suara-suara yang tak dikenalnya, wajah-wajah yang memanggil, menghempas-lipat dalam lorong-lorong melengkung. Ingatan itu semakin membuat kepalanya bertambah sakit.
Ia ingat, seorang lelaki tua bernama Saina yang pernah ia jumpai di sebuah Kota Bukit, di sebuah negeri yang amat jauh. Sebuah kota yang tenang dengan hamparan padang anggur dan lavender. Ia baru menyadari ketika pertemuannya dengan lelaki tua itu terasa aneh. Namun, terkadang ia lebih suka menyebutnya gila. Iya, ia suka dengan hal-hal gila, tidak masuk akal, mengejutkan, sehingga pertemuannya dengan lelaki tua itu terasa harus ditakdirkan. Ketika pertemuan pertama kali itu, si lelaki tua pernah mengucapkan kalimat-kalimat aneh yang tidak masuk akal, “Kita adalah mahluk luar angkasa yang melintasi ruang. Berputar berkisar melengkung di dalam lubang di antara waktu hampa dan kosong.”
            Lawalata terdiam. Mahluk luar angkasa? Apakah lelaki tua ini memang sebenarnya adalah orang gila? Orang gila yang telah melarikan diri dari Rumah Sakit Jiwa dan tanpa sengaja bersinggungan dengannya di Kota Bukit ini. Sungguh. Ia tidak dapat menerjemahkannya dengan masuk akal.
            “Aku tahu kau suka hal-hal gila dan irasional, seperti ayahmu dahulu. Ingatlah, bahwa setiap tanda selalu membawa isyarat. Setiap isyarat membawa kebenaran yang akan tenggelam,” lelaki tua itu melanjutkan tanpa merasa canggung berbicara hal semacam itu kepadanya.
“Ayahku?” Rupanya lelaki tua itu telah mengenal ayahnya dengan baik. Memang Lawalata mengetahui betul bagaimana ayahnya. Ayahnya memang sangat menyukai hal-hal yang irasional, tetapi apakah tampak jelas pula di wajahnya bahwa ia pun orang yang seperti lelaki tua itu telah katakan: menyukai hal-hal yang irasional? Sungguh.
Ia tidak merasa aneh tentang hal-hal seperti itu, karena pekerjaannya selama ini adalah meneliti hal-hal yang dapat menjadi sebuah kemungkinan ada, terjadi, dan dilakukan. Bahkan, ia pun memiliki laboratorium pribadi di rumah barunya di kota ini. Pertemuannya dengan lelaki tua itu pun kemudian berlanjut berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun....
 Pada akhirnya, setelah pertemuannya tumbuh dengan lelaki tua itu, maka ia pun melakukan perjalanan waktu melintasi ruang-ruang seorang diri melalui warphole(1), lubang menyesatkan. Ia ingin melihat perjalanan ayahnya—sebagaimana yang ia baca di buku catatan harian sang ayah, ketika tengah melayang terapung di atas kapal Ida Elizabeth yang tengah berlayar di samudera Atlantik pada tahun 1864 menuju sebuah Pulau Ganjil(2).
Namun, tanpa diduga, perjalanan itu telah menjebaknya di dunia lampau sebelum ruh tubuhnya belum terencana dan tercipta. Kini, ia terjebak dalam sebuah leproseri bersama pesakit-pesakit lain di pulau terpencil. Ia tidak dapat menemukan daun Hura crepitians brasiliensis(3) di tempat terpencil ini untuk mengobati luka-luka yang menjijikkan ini, saat para perompak itu tiba-tiba menyerangnya dan menyergap  penduduk di wilayah terpencil itu, ketika ia hendak menyeberang ke Mahasa untuk ketiga kalinya. Para perompak itu berlabuh di bibir pantai dengan perahu-perahu yang dikayuh dua baris dayung: satu baris di atas dan satu baris di dasar perut perahu, sambil diiringi alunan tetabuhan kolintang atau tifa.
Dan saat ini ia telah mendengar suara lelaki tua itu dengan sangat jelas, walaupun di luar, hujan turun tidak begitu kentara. Suara lelaki itu telah memberi ketenangan baginya, kebahagiaan seperti alun melodi gerimis lagu lenor, nyanyian anak-anak Mahasa memanggil hujan. Suara lelaki itu mengiang kian merdu dan lembut di telinganya. Sungguh berbeda ketika ia mendengar suara itu dalam mimpinya. Apakah ini bernama isyarat? Sejenak ia termenung menghitung-hitung peristiwa (ataukah tanda?).
Kini, dari jauh sana, suara tetabuhan yang tadi terdengar samar itu pun kian jelas, kian kuat merambat gegas ke dalam tubuhnya bagai sipongang. “Setiap tanda selalu membawa isyarat. Setiap isyarat membawa kebenaran yang akan tenggelam.” Begitulah, di luar sana perlahan-lahan rincik hujan semakin deras dan mengeras....
***

bumi singgah, 2008-2009


Keterangan:

(1)   Istilah populer fiksi ilmiah, yaitu semacam teknologi yang bisa membuat manusia berjelajah dengan menembus jarak yang sangat jauh dalam masa yang singkat, bahkan bisa menembus ruang waktu menuju zaman lampau dan masa depan. Diistilahkan juga sebagai wormhole (fiksi ilmiah juga istilah sains) berdasarkan aktifitas black hole (lubang hitam) di luar angkasa, yang secara fisik merupakan sebuah hipotesis dari segi topologikal ruang-waktu yang pada dasarnya sebuah “jalan pintas” untuk menembus angkasa dan masa.
(2)   Pada sekitar pertengahan abad ke-19 atau sekitar tahun 1980-an, seorang pendeta bernama N. Graafland melakukan perjalanan misionaris ke daerah Minahasa, kawasan paling utara Pulau Sulawesi dan semua catatan perjalanannya kemudian dibukukan dengan judul De Minahasa: Haar verdelen en haar tegenwoordige toesstand (Rotterdam: M. Wyt & Zonen, 1986).
(3)   Daun dari tumbuhan yang termasuk genus/ golongan pepohonan tropikal dari Brasil, yang bisa menyembuhkan secara keseluruhan atau sebagian luka pada penderita penyakit kusta.



*) Dimuat di Ujung Laut Pulau Marwah – Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia III (Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, 2010.

Perjalanan dan Palung Laut


Ayah, aku ingin menjadi elang laut, bukan palung laut.... Aku akan terbang ke langit yang maha luas, menjelajah! Dan akhirnya kembali kepada laut. Muskilkah, Ayah?
***
            Kali ini keputusan Ayahku tak dapat kompromi. Akhirnya keputusan final itu dijatuhkan juga kepadaku. Rupanya ia tetap memaksaku untuk menjadi orang lain. Ya, orang lain yang asing. Tak ada naik banding atau pun kelonggaran-kelonggaran yang dahulu sering ia perhitungkan terhadap keinginan-keinginanku. Mungkin dahulu aku masih anak kecil ingusan dan tak pernah meminta sesuatu yang macam-macam. Sekarang pada usiaku yang telah remaja, aku pun masih memikirkan toleransi atas semua permintaanku kepada Ayah. Permintaan dari keinginanku, dari impian, dari harapan. Bagiku tak ada yang salah. Permintaanku itu adalah hal yang wajar. Bahkan, terlalu wajar bagi anak-anak remaja seusiaku. Apakah aku memang hidup hanya untuk memenuhi keinginan Ayah saja? Oalah... lalu kapan Ayah akan percaya, bahwa keinginanku ini bukan sesuatu yang muskil?
            Aku mafhum dengan kondisi keadaan keluarga kita yang sederhana. Mungkin sejujurnya bisa dibilang sangat sederhana. Sebuah kehidupan yang biasa diantara peristiwa-peristiwa yang luar biasa. Luar biasa bagiku, karena dari sejak usia dini, Ayah telah mengenalkanku pada laut. Laut! Laut yang selalu berdendang riang ketika pagi datang dan mengalun sendu ketika senja jelang. Kelimut kehidupan yang keras di daerah pesisir pantai membuat Ayah (dan kadang-kadang bersamaku) harus lasah demi menghidupi keluarga yang dicintai. Ayah tentu lebih banyak menghabiskan waktu di laut dibandingkan menjejakkan tapak di gumuk pasir bersamaku, bersama kami. Berhari-hari, bahkan beberapa minggu Ayah hanya menjadi bayangan dalam keluarga. Ayah pergi merogoh kedalaman laut dan tugasku-lah kemudian menjadi kepala keluarga. Seperti percakapan malam itu, ketika Ayah telah kembali kepada kami.
            “Lihatlah, badai telah mengembalikanku kembali pada kalian. Lagu purba para nelayan telah merantai laut dan kami menunggangi badai dalam genggaman. Ombak berpiuh menjadi ringkik yang paling pilu. Dan suatu saat, kau pun akan merasakan pelayaran itu,” tukas Ayah dengan pandangan mata tajam berbinar. Aku selalu yakin, laut takkan pernah membawa Ayah pergi. Laut adalah rumah kedua bagi Ayah. Ayah selalu mengingatkan itu kepadaku ketika berdongeng sebelum aku akhirnya tertidur pulas dan tak pernah tahu pula bagaimana akhir dongeng itu. Aku tahu, Ayah menginginkanku menjemput laut. Namun hingga saat ini Ayah belum mengizinkanku, karena aku masih terlalu muda untuk  bercengkerama dengan amuk badai,  gelombang pasang, dan terjang ombak laut yang memuncak.
            “Belum saatnya, Nak. Belum saatnya. Sekarang, kau belajarlah dengan baik dan bersabarlah hingga waktunya tiba.”
Iya Ayah, aku tahu. Namun, ketika tiba-tiba aku menginginkan sesuatu yang lain—yang bukan keinginan Ayah—apakah Ayah bisa menerima? Dan seketika pula mata Ayah menyalibku. Mata Ayah berubah menjadi merah. Aku tahu, hati Ayah pun menjadi geram memeram.
            “Apa?! Apa kau tak sadar dengan keinginanmu itu?! Mustahil!!!” teriak Ayah.
            “Tidak Ayah. Aku telah memikirkannya lama sekali. Aku telah melihatnya di buku-buku pelajaranku (dan di televisi tetangga). Ada sesuatu di luar sana, sesuatu yang luar biasa dan kelak aku bisa membawanya kembali ke tanah kita.” Ucapku dengan keberanian yang telah aku kumpulkan sebelumnya. Ini untuk keinginanku, harapanku.
“Apa?! Kau tidak akan pernah bisa membawa apa-apa. Jangan bertindak bodoh! Laut bisa memberimu segalanya. Apa pun!” ujar Ayah meyakinkanku. Iya Ayah, aku tahu. Dari kisah-kisah yang Ayah ceritakan dahulu, aku masih mengingatnya dengan baik. Tentang laut yang menyelamatkan hidup kita. Tentang laut yang memberi kesehajaan. Tentang laut yang merupakan rumah kedua bagi kita. Tapi laut sekarang tak dapat mengabulkan keinginanku saat ini. Keinginan yang kusemai di ranah-ranah singgah, bebukit, dan tapak langkah di bebatuan.
“Ayah, aku menginginkan perjalanan.”
***
Ayah, sedalam apakah lautan itu? Seluas apakah semesta ini? Sampai manakah batas dapat dikukuhkan? Sungguh, aku tak ingin menentang maksud baik Ayah. Ada karsa yang mencacah kerinduanku akan perjalanan. Aku telah memikirkannya dengan sangat matang. Dahulu, Ayah menyuruhku untuk terus belajar dan belajar, karena ilmu seperti lautan. Tidak akan pernah habis terkikis, seberapa pun jumlah kita meraupnya. Dan dari sanalah aku dapat melihat dunia bagian lain—bukan hanya ranah yang kita pijak sekarang. Dunia yang ingin kusentuh, kularungkan diriku dalam perjalanan. Melihatnya Ayah, mencari sesuatu yang akan berguna bagi kita. Kelak, jika tuntaslah perjalanan itu, aku pun akan kembali ke ranah rahim yang telah melahirkanku. Kembali kepada Ayah dan kepada laut. Sungguh Ayah, percayalah... tak ada yang muskil dengan keinginanku ini.
Ketika senja kasip dan kita masih menyemai lokan, latuh, dan barai, Ayah tak henti berkisah. Kisah yang selalu kurindui hingga saat ini. Aku masih ingat setiap perkataan Ayah. Bukankah Ayah pernah berkata, bahwa dunia ini adalah misteri yang harus kita jelajahi? Juga seperti laut yang Ayah arungi, maka keasingan itu menjadi luluh dan karib. Laut itu kemudian menjadi kawan dalam pelayaran dan rumah kedua yang paling nyaman. Aku ingin seperti ayah pula, tapi dengan diriku sendiri. Dengan keingintahuanku, dengan jalan berbeda dari hala yang kita lalui dan suatu hari kelak, kita dapat saling berbagi.
***
            Merantau. Sudah sejak lama ritus ini menjadi kebiasaan masyarakat di kampung kita, Nak. Konon, ranah singgah yang menunggu para perantau di belahan dunia bagian sana sungguh sangat kaya dan penuh misteri. Kita tak pernah bisa menduga-duga. Siapa pun akan tergiur membayangkannya. Gedung-gedung tanpa kaki menyayat langit dengan sengit, jalan-jalan yang meliuk bagai ular menerkam mangsa dengan tiang penyangga, dan manusia seperti mesin yang tak pernah berhenti menderu siang dan malam.
Namun, kamar-kamar sungguh sempit. Gang-gang sempit dan kelam. Hidup saling terhimpit. Orang-orang yang bersepatu, sungguh berbeda dengan orang-orang yang bersandal jepit. Kota, anakku. Mereka menamakannya: kota. Kehidupan yang tak pernah mati sepanjang waktu dan tidak mempunyai jam rehat sedetik pun. Kehidupan kota seperti siklus tanpa pembatas. Waktu tidak pernah diizinkan memburu, melainkan sebaliknya. Riuh! Dan lama-kelamaan kesehajaan itu lindap. Lenyap!
            Maka pada akhirnya Ayahmu ini memutuskan untuk kembali ke ranah rahim, Nak. Setelah beberapa hari merantau di kota antah berantah itu, Ayah tidak kuat. Ayah menjadi lemah dengan keasingan, kerumitan, kelimpungan, dan cuaca yang tak dapat diterka. Di kota tak ada tegur sapa, kerabat seperti orang lain yang asing. Mereka hidup bukan dalam koloni, tapi menipu diri sendiri. Lalu, salahkah Ayahmu ini memutuskan keinginanmu itu untuk kaukubur dalam-dalam dan kembali ke lautan? Ayah mafhum dengan keinginanmu itu. Tentang perjalanan yang kaurindui. Tentang banyak hal yang ingin kaulihat seperti yang ada dalam buku-buku pelajaranmu. Tapi Nak, Ayah tak ingin menyayat luka untuk kedua kalinya. Ketika pada akhirnya, perjalanan kakakmu pun tak menemui yang bernama: kepulangan.
***
             “Ayah tak mengizinkanmu!” tukas Ayah suatu hari ketika aku baru pulang dari sekolah. Tidak seperti biasanya, mata Ayah dingin membekukan tubuhku. Sudah kubayangkan itu yang akan keluar dari mulut Ayah. Keputusan final!
            “Lebih baik kau melinyar dengan Ayah nanti, daripada menemui perjalananmu yang taksa itu. Tak ada gunanya. Kau satu-satunya yang tersisa di keluarga ini yang akan melanjutkan sebagian kerja Ayah. Manfaatkanlah yang ada.” Jelas Ayah selanjutnya.
Kemudian Ayah pun pamit padaku tidak seperti biasanya. Tanpa salam. Hari itu memang waktu bagi Ayah kembali berjabat erat dengan laut. Dengan gumam dan ringkik ombak yang memanggil lantang. Setelah kepergian Ayah, tiba-tiba ruangan menjadi sunyi dan dingin. Ayah, aku tak bisa apa-apa.
***
            Kali ini keputusan Ayahku tak dapat kompromi. Akhirnya keputusan final itu dijatuhkan juga kepadaku. Rupanya ia tetap memaksaku untuk menjadi orang lain. Ya, orang lain yang asing. Tak ada naik banding atau pun kelonggaran-kelonggaran yang dahulu sering ia perhitungkan terhadap keinginan-keinginanku. Mungkin dahulu aku masih anak kecil ingusan dan tak pernah meminta sesuatu yang macam-macam. Sekarang pada usiaku yang telah remaja, aku pun masih memikirkan toleransi atas semua permintaanku kepada Ayah. Permintaan dari keinginanku, dari impian, dari harapan.
            Entah, aku tak pernah tahu bagaimana kehidupan remaja seusiaku di belahan dunia sana. Aku hanya mampu membaca dari buku-buku pelajaran, buku-buku di perpustakaan, dan sesekali melihat di televisi, di rumah tetanggaku. Mereka sepertinya bisa hidup mewah dan mencapai harapan dengan mudah, seperti yang kulihat di sinetron-sinetron. Tapi harapanku Ayah? Keinginanku ini ditentang olehmu. Apakah bukan pula karena kakak?
            Kakak memang telah pergi dari ranah ini, meninggalkan keluarga tanpa pamit dan hingga sekarang pun tak ada sehelai kabar darinya. Tapi aku tidak ingin seperti kakak. Aku memohon izin dari Ayah agar kelak aku mendapatkan kepulangan yang aman dan direstui. Ah Ayah, ke manakah harus kulabuhkan keinginan ini jika engkau tak berkehendak?
***
            Laut. Laut memendam segalanya. Memendam luka, kenangan, keriangan, harapan dan keinginanku. Karang terjal hanya bisu. Laut selalu penuh misteri. Sunyi menggelanggang. Gelombang yang membawa dendang riang bahkan kematian. Batu karang memberi rintih abadi bagi deru pacu dan  ringkik ombak di tepian tanjung. Padang lamun termenung. Ada yang selalu diam, sepi, dan dingin. Ada yang selalu menatap dendam, sedih, dan rindu. Ada yang selalu tak berubah: takdir, seperti badai. Hilir mudik angin menjadi kabar paling duka yang pernah kuterima. Ganggang-ganggang laut menjadi paya. Semua berduka. Ya, kabar tak terduga itu datang dari laut: laut merampas Ayah!
Kepergian Ayah tempo hari—yang tanpa salam—telah menguburkan dalam-dalam keinginanku. Kini, aku tak yakin bahwa laut akan mengembalikan Ayah kepadaku, kepada kami. Badai mengamuk tanpa bisa dihalau. Tali layar terputus oleh terjang cambuk ombak dan gelombang pasang. Kapal Ayah terpiuh ke kedalaman yang entah. Ayah pun lindap bersama para awak kapal lainnya dan sampai tersisa rangka tanpa nyawa ke pesisir pantai kami.
Aku mulai mafhum Ayah. Walaupun semuanya telah ditakdirkan, bukan berarti kita harus menyerah. Tetapi apa yang harus kita lakukan yang terbaik untuk takdir itu, untuk kehidupan kita. Ayah pergi. Tapi aku tak akan pergi. Hati menjadi kisruh. Duka luruh. Tapi bukankah masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, Ayah?
“Ayah, aku menginginkan perjalanan.”
***
Ayah, aku ingin menjadi palung laut, bukan elang laut lagi.... Aku akan kokoh tertanam di laut milik kita! Kujelajahi hingga ke dasar yang paling dalam dan entah. Muskilkah, Ayah?
***
bumi singgah,
2006


Dimuat dalam antologi cerpen Ketika Mei Bernyawa Dua (Rayakultura, 2007)

Pohon Cengkeh


Aku tidak mempunyai seorang pun anak perempuan. Tak satu pun. Batang rumah ini dipenuhi dengan anak laki-laki. Sesak kami di sini dengan pelir dan keringat anak-anak laki-lakiku yang selalu hilir-mudik di persimpangan rumah.
Lelah aku mengatur kenakalan mereka. Setiap hari, bahkan setiap menit, mereka selalu bergonta-ganti baju dan begitu saja melemparkannya di setiap sudut rumah ini. Aku harus sering membersihkan setiap celah dan kekacauan lainnya yang terjadi di rumah ini. Tentunya, aku sebagai ibu mereka yang harus mengurus semua keperluan, sedangkan ayah—suamiku tercinta, hanya kongkow di teras depan. Merokok bagai sepur, sembari sesekali diselingi segelas kopi pahit hangat dan beberapa carik koran usang.
Tak sekali pun suamiku merasa tergugah untuk membantuku. Dia hanya sanggup berceloteh ringan: karena itu adalah kewajiban seorang ibu sekaligus istri—itu alasannya. Aku mengerti. Aku coba sangat mengerti dari ketidakmengertiannya akan keadaan yang aku hadapi.
Aku seperti buruh pabrik, yang bahkan di bedeng pun aku masih lembur kerja. Aku menerima, karena aku seorang ibu sekaligus seorang istri. Ya, ya, suamiku selalu mempertegas keadaan yang kualami di tengah keluarga ini. “Karena perempuan selalu kembali ke sumur, dapur, dan kasur,” papar suamiku.
***
Hampir setiap malam aku selalu memimpikan seorang anak perempuan yang hadir di tengah keluarga ini. Bukan mimpi gasal. Seorang anak perempuan yang akan memberi warna lain dalam keluarga ini. Sebuah keberuntungan. Semisal bunga mawar merah yang tumbuh di tengah-tengah padang rumput liar. Bunga mawar itu akan tumbuh dengan sangat cantik sekali diantara hehijau rerumputan.
Sudah tentu dia pasti sangat dimanja oleh semua kakak laki-lakinya. Anak perempuanku tentu akan sangat bahagia hidup di tengah-tengah para adam yang siap sedia melindunginya. Sungguh beruntung dia nanti. Namun, aku hanya tersesat dalam mimpi sesaat. Berkali-kali kucoba—aku yang berpikir mungkin setelah kehamilanku yang entah keberapa, aku akan memomong seorang anak perempuan yang cantik dan lucu—kuharap akan mendapat anugerah keberuntungan dari Tuhan. Ya sudah pasti: seorang anak perempuan yang cantik dan lucu. Namun, keinginan itu kini hanya cerita yang berangan-angan.
Suamiku pernah bilang, belum tentu anak perempuan membawa keberuntungan. Anak laki-laki lebih bisa diandalkan. Dari kita, dan nanti bekerja untuk kita, dan bila kelak kita telah renta, mereka akan membiayai segala kebutuhan. Anak laki-laki lebih berguna dibandingkan anak perempuan. Mengangkat derajat keluarga. Penerus garis keturunan keluarga. Merekalah yang nanti akan membawa marga keluarga kepada keluarga baru yang mereka bangun.
Namun aku khawatir, karena anak laki-laki adalah kawan setia perjalanan. Merantau ke tanah-tanah penuh ranjau. Berjatuhan satu per satu serupa daun-daun kering pada pohon beringin yang rebah di halaman rumah. Aku tak bisa memungut satu pun, karena ranah jelajah menjadi rumah mereka yang baru, bagi perempuan-perempuan di kampung biru.
Aku sendiri sampai renta menjeruji diri, begitu pula kelak suamiku. Tanpa seorang yang setia tinggal di rumah penuh kesah. Tak ada yang merawat kami dan tinggal bersama lagi di rumah ini. Anak laki-laki merantau ke negeri-negeri, pergi dan mungkin akan singgah sesaat setahun sekali. Mungkin bahkan tak akan pernah kembali. Anak laki-laki yang terperangkap di pulau yang sesak dengan perempuan, penuh dengan kesenangan fana atau mungkin terkubur selamanya di pulau perempuan nun di sana. Selalu terbesit kata kepergian, namun tidak untuk kata kepulangan.
Anak perempuan selalu sedia mendampingi. Menghantarkan syair-syair riang maupun kisah-kisah berang. Mereka boleh pergi, namun pasti kembali. Menengok kami yang setia menanti. Atau mungkin rumah ini akan menjadi miliknya, penerus harta kasih sayang jiwa keluarga. Merengkuh kami penuh cinta kasih. Bagiku ketika ini, tiada yang paling sempurna jika di dalam keluarga tak ada anak perempuan, pembawa riang. Mungkin sempat aku terpikir, akan kuajak anak perempuanku berbincang duduk di tubir jenjang supaya tak diambil laki-laki negeri seberang. Namun, hati seorang ibu tak pernah tega penuh dendam.
***
Suamiku pergi berladang pagi ini kala fajar remukkan tulang rusuknya pada kabut-kabut ribut. Pada kulit wajah yang semakin keriput. Di bukit belakang yang penuh dengan buku-buku batang bambu, bekerja bagi jiwa-jiwa semangat baru. Dalam perjalanannya ke ladang, aku berharap dia membawa keberuntungan. Aku selalu mengingatkan, bila dalam perjalanannya pulang ke rumah, suamiku bertemu dengan seorang anak perempuan, undanglah dia ke mari. Aku ingin berdendang syair-syair tentang keelokkan perempuan dan berbagi bersama. Suamiku mungkin jenuh mendengarnya, namun aku terus mengenang.
Anak-anak laki-lakiku pergi sekolah. Menggendong beban-beban mata pelajaran dan mimpi semalam dengan kawan sepermainan. Rumah menjadi sepi, sesunyi sebatang pohon cengkeh di kebun seberang yang rindang. Pohon cengkeh itu telah lama tumbuh, tak pernah rubuh. Menemaniku ketika tak ada orang di rumah. Sempat suamiku ingin menebangnya karena menghalangi cahaya yang masuk ke jendela kamar tidur kami. Ruang kamar terlalu teduh, kilahnya. Kubujuk dia agar tak menebangnya. Bila kemarau datang, ruang kamar ini tak akan terlalu panas, ucapku. Akhirnya dia mengalah dan membiarkan pohon cengkeh itu tumbuh di kebun seberang rumah.
Sesekali kupetik bunga cengkeh, kuhirup baunya. Sungguh, aku ingin kelak anak perempuanku akan sewangi bunga cengkeh ini. Juga tak bosan dihirup laki-laki seperti batang rokok yang menempel di bibir hitam mereka. Sekali sebatang habis, akan ambil sebatang lagi. Dibawa serta ke mana-mana. Tak jenuh hidung menghirup bau cengkeh yang tergulung dalam kertas itu. Namun, sempat aku khawatir bila yang tersisa sepah dan abu, anak perempuanku mengabu menjadi babu. Tak mengapa menjadi menjadi babu bagi suami, namun aku pun tak ingin engkau kelak bernasib seperti aku.
Pohon cengkeh gagu mendengar keluh-kesah kisahku, tapi aku tak pernah berhenti berkisah tentang anak perempuan. Keluarga kami pasti sangat bahagia, pikirku. Pada sela-sela menanti kepulangan suamiku dari ladang, aku selalu memetik sekuntum bunga cengkeh di kebun seberang. Lalu kumasukan ke dalam sebuah toples gelas bening dan kutaruh di bawah ranjang tempat tidur kami. Sesekali aku buka tutup toples, hanya sebagian. Segera tercium wewangi bunga cengkeh itu dan teringatlah aku pada anak perempuanku. Punarbhawa anak perempuan dari pohon cengkeh titipan ibuku.
Suamiku tidak pernah tahu tindak-tandukku ini. Dia menyangka wangi bunga cengkeh ini berasal dari kebun seberang. Dan tak pernah sekali pun dia menanyakan muasal kenapa bisa tercium ke dalam kamar—karena menurutku sebatang pohon cengkeh tak sanggup menghantarkan wewangiannya sampai ke dalam kamar kami. Maka, setiap malam bau bunga cengkeh itu menyelimuti kisah percintaan kami di ranjang mesum.
***
Suatu malam, sayup-sayup aku mendengar seorang anak perempuan memanggilku. “Ibu!”, teriaknya. Aku hanya tertegun sesaat. Berfirasat, apakah aku tak salah mendengar. Aku menunggu beberapa lama. Tak ada suara lagi. Bukan, mungkin itu hanya ilusiku saja. Tak ada suara yang jelas terdengar selain riuh angin malam dan bunyi jangkrik menyanyi di dalam rumah. Aku kembali lelap. Lalu fajar kembali menusuk-nusuk rusuk kami yang keriput.
Malam berikutnya, sayup-sayup aku mendengar lagi teriakan seorang anak perempuan memanggilku. Kali ini terdengar sedikit jelas. “Ibu! Ibu!”. Kali ini aku tak mungkin salah. Terdengar sangat jelas dan jernih di ingatanku. Aku resah. Ingin segera kubangunkan suamiku, namun melihat wajahnya yang tertidur lelap di sampingku, aku tidak tega. Aku pun menunggu lagi. Selanjutnya tak ada suara.
Malam ketiga, lalu malam-malam berikutnya, suara teriakan anak perempuan itu semakin keras dan jelas memanggil. Tapi, entah dari mana asal datangnya. Aku gundah ketika suara itu akhirnya membuatku semakin lelah. Terpaksa aku ceritakan masalah ini kepada suamiku. Awalnya dia hanya tertegun saja. Diam tanpa ekspresi. Tak ada jawaban pada lekuk mimik wajahnya. Aku pun diam. Kami terdiam cukup lama. Suamiku pasti percaya, bukan? Lalu kenapa terbesit dalam pikiranku, kalau suamiku menyangka aku hanya mengarang cerita saja, dengan alasan bahwa aku—kami, suamiku juga—menginginkan anak perempuan. Selanjutnya hanya seutas senyum tersimpul di bibirnya.
Aku sangat mencintai suamiku. Keluarga kami bertahan berpuluh-puluh tahun karena kami saling percaya. Apakah senyum itu simbol bukti kepercayaannya kepadaku? Atau biduk keluarga ini sedang terhempas badai pasang? Aku coba masih percaya, pun kepada suamiku.
***
Pohon cengkeh itu yang telah memberikan anugerah tawa riang anak perempuan. Anak perempuan itu datang ketika wewangi bunga cengkeh semerbak di kamar dan ranjang. Bertambah banyak bunga cengkeh yang kupetik dan kumasukan ke dalam toples gelas. Dan ketika jelang malam, kusurutkan dukaku. Anak perempuan datang berkunjung pada ranah ibu yang telah lama pilu. Bunga-bunga cengkeh itu telah menjelma menjadi seorang anak perempuan yang cantik dan lucu, juga wangi cengkeh. Kemudian mengajakku bermain di bawah batang rindang pohon cengkeh. Suamiku lelap sekali. Setiap malam aku bermain bersamanya. Hanya pada malam kelam saja.
Anak perempuan itu hadir pada awal kisah mimpiku. Raut wajah, kilau hitam rambut panjang, bulu mata dan jari-jari lentik, bibir seranum merah delima, dan gerak lincah tubuh mungil. Kini, keinginanku bukanlah angan-angan yang membayang. Kami berdua selayang sepasang dalam permainan suka riang.
Keriangan itu kukisahkan kepada suamiku, namun ternyata suamiku tak mencintaiku lagi. Dia tak percaya padaku. Aku marah dan sedih. Anak perempuan itu nanti akan bermain dengan siapa. Tak ada, selain aku. Rumah ini akan penuh dengan suara-suara pilu memanggil ibu, memanggilku! Ketika kepulanganku dari pasar kampung seberang, kutengok pohon cengkehku telah hilang. Aku terkejut dan menjatuhkan semua barang-barang belanjaanku. Tak sehelai daun pun tersisa di kebun itu, bahkan tak ada lagi wangi bunga cengkeh. Sisa akar pun telah menjadi lubang tempat sampah. Ada abu yang masih hangat dan menganga.
Tidak pernah tumbuh pohon cengkeh di sana, kata suamiku. Aku berusaha menjelaskan apa yang aku tahu dan kurasakan. Namun, suamiku dengan tenang tak berkata apa-apa lagi dan menyuruhku untuk beristirahat di kamar. Dia bilang, aku hanya berilusi dan mimpi terlalu lama karena beberapa minggu ini aku kurang tidur. Itu tidak mungkin! Anak perempuanku akan menunggu lagi pada malam kelam. Pada malam-malam berikutnya. Aku tak ingin membuatnya menunggu. Sungguh!
***
“Akhirnya saya terpaksa menebang pohon cengkeh itu, Dok” keluh seorang lelaki renta menunduk pilu. Dokter itu mengangguk.
“Saya tahu, masalah utamanya bukanlah pohon cengkeh itu, tapi kenangan yang telah hidup di dalamnya. Memang sungguh menyakitkan bila kami harus terus mengingatnya,” suara parau lelaki itu menggema di ruang kantor praktik dokter itu.
“Saya sengaja menguburkannya di bawah pohon cengkeh itu, agar selalu dekat dengan kami. Bayi perempuan kami yang malang...”
Lelaki itu menangis. Setetes embun tangis jatuh pada lembaran kertas resep obat, yang baru saja diberikan dokter. Tangannya menggigir.
“Bersabarlah Pak. Biarlah dia mendapatkan ketenangan di tempat ini dulu,”
“Saya mohon Dok, sembuhkanlah istri saya. Saya sangat mencintainya, juga anak-anak kami di rumah,” pinta lelaki itu sembari kemudian meraih tangan dokter dan menggenggamnya erat-erat. Dokter itu kembali mengangguk dan tersenyum sendu.
Lelaki itu lalu pergi meninggalkan ruangan praktik dokter. Berjalan lunglai seperti telah kehilangan harapan. Kemudian arah langkahnya menuju sebuah ruangan pasien di ujung koridor Rumah Sakit. Di balik kaca jendela, ditatap nanar istrinya tercinta yang tengah bermain dengan udara.
***

Ciharashas-bumi singgah,
2005-2006

Dimuat di Khazanah, surat kabar Pikiran Rakyat, 2006

Cerita Pendek Terjemahan*)


Kambing Hitam
Italo Calvino


Syahdan, terdapat sebuah negeri yang seluruh penduduknya adalah perampok.

Setiap malam, semua penduduk akan mengunci rumah mereka dengan kunci-kunci berkepala tengkorak, kemudian pergi sambil membawa lentera untuk merampok rumah tetangga mereka. Ketika tiba waktu subuh, mereka pulang kembali ke rumahnya masing-masing, penuh dengan barang-barang hasil rampokan, dan kemudian menemukan, bahwa rumah mereka telah dirampok.

Maka seluruh penduduk pun hidup bahagia bersama-sama, tidak ada yang dirugikan, karena masing-masing orang saling merampok satu sama lain, dan begitu seterusnya sampai pada si perampok terakhir merampok si perampok yang pertama.

Kecurangan di antara penjual dan pembeli pun tidak dapat dihindari dalam sektor perdagangan di negeri ini. Pemerintah telah menjadi organisasi kriminal yang merampok para penduduknya, dan para penduduk pun hanya tertarik mengorupsi uang pemerintah. Kehidupan mereka berjalan mulus sehingga tidak ada orang kaya dan tidak ada orang miskin.

Pada suatu hari, tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang jujur tinggal di negeri itu. Setiap malam, ia tinggal di rumahnya dengan membaca buku-buku novel sambil merokok, daripada pergi keluar rumah membawa karung dan lenteranya. Datanglah para perampok. Mereka melihat lampu di rumah itu masih menyala sehingga mereka pun tidak berani masuk.

Keadaan seperti itu hanya berlangsung sementara. Kemudian para penduduk negeri itu merasa berkewajiban menjelaskan kepada si lelaki jujur, bahwa walaupun ia ingin menjalani hidup tanpa melakukan apa pun, hal itu tidak dapat dijadikan alasan untuk mencegah orang lain berbuat sesuatu. Jika ia terus menerus menghabiskan malamnya dengan berdiam diri saja di rumah, maka satu keluarga tidak akan bisa makan selama seharian.

Lelaki jujur itu sangat tidak setuju dengan alasan semacam itu. Namun, ia pergi keluar dari rumahnya ketika malam tiba dan pulang kembali pada pagi hari, seperti yang dilakukan para penduduk lain, tetapi tidak merampok. Ia memang seorang lelaki yang jujur dan mereka tidak dapat berbuat apa pun terhadap keputusannya itu. Maka, si lelaki jujus pun pergi sejauh-jauhnya menuju ke sebuah jembatan dan melihat alir sungai di bawah jembatan itu. Dan ketika ia kembali ke rumahnya, ia menemukan rumahnya telah dirampok.

Sekitar kurang dari seminggu, lelaki jujur itu sudah tidak memiliki uang sepeser pun. Ia tidak punya sesuatu untuk dimakan dan seisi rumahnya kosong. Hal tersebut menjadi masalah yang rumit, karena keadaan itu adalah akibat kesalahannya sendiri; oh, tidak, masalahnya adalah perilakunya yang telah mengacaukan segalanya, karena ia membiarkan orang lain merampok segala yang ia miliki tanpa ia merampok apa pun dari orang lain. Jadi, ketika para penduduk pulang setiap subuh, selalu ada rumah yang tidak tersentuh oleh perampok: itulah rumah yang seharusnya dirampok oleh si lelaki jujur itu. Setelah beberapa hari, penduduk yang rumahnya tidak dirampok menjadi kaya dibandingkan yang lain dan tidak ingin merampok lagi. Keadaan semakin bertambah parah ketika perampok yang mendatangi rumah si lelaki jujur, selalu mendapati rumah itu dalam keadaan kosong sehingga mereka pun jatuh miskin.

Sementara itu, penduduk yang telah menjadi kaya kemudian mengikuti kebiasaan si lelaki jujur: setiap malam pergi ke jembatan untuk melihat air sungai mengalir di bawah jembatan itu. Keadaan ini kian membingungkan, karena semakin banyak orang yang bertambah kaya dan semakin banyak pula orang yang menjadi miskin.

Kini, orang-orang kaya itu membayangkan, jika mereka setiap malam pergi ke jembatan maka mereka pun akan segera menjadi miskin. Dan mereka berpikir, 'ayo, kita gaji orang-orang miskin itu agar mereka pergi merampok untuk kita'. Kemudian mereka membuat kontrak-kontrak kesepakatan dan menetapkan gaji, keuntungannya: mereka masih berstatus perampok dan mencoba mengecoh/ menipu satu sama lain. Sedangkan, kecenderungan yang terjadi malah menjadikan orang kaya semakin kaya dan bertambah kaya raya, dan yang miskin menjadi semakin melarat.

Beberapa orang kaya mendadak menjadi sangat kaya sehingga mereka tidak perlu merampok atau menyuruh orang lain merampok untuk mereka agar mereka tetap kaya. Tetapi, jika mereka berhenti merampok, mereka akan menjadi miskin karena orang miskin akan merampok mereka. Jadi, mereka pun membayar orang miskin itu dengan gaji yang sangat minim untuk mempertahankan harta milik mereka dari orang miskin yang lainnya, dan itu artinya mengerahkan pasukan polisi dan membangun penjara-penjara.

Setelah beberapa tahun semenjak kemunculan si lelaki jujur itu, orang-orang tidak lagi membicarakan tentang perampokan dan dirampok, tetapi si kaya dan si miskin. Namun, mereka semuanya masih berstatus sebagai perampok.

Dan satu-satunya penduduk yang jujur adalah si lelaki jujur itu, dan ia meninggal dunia dalam tempo yang sangat singkat karena kelaparan.***


*) Diterjemahkan oleh F. Meliasanti dalam buku Numbers in the Dark and Other Stories Karya Italo Calvino, 1995.

July 6, 2012

Sergei

(Catatan Negeri Terakhir)


Akhirnya kami seakan kembali melihat sejarah. Melihat ulang sejarah yang telah lama terkubur begitu dalam begitu kelam. Beribu-ribu tahun lampau. Tentang sejarah yang biasa kami baca dalam buku-buku pelajaran semenjak dari sekolah dasar hingga menengah umum. Kami seakan terpelanting menembus waktu menuju masa-masa ketika kami bersekolah dahulu tentang cerita-cerita sejarah setiap negeri di belahan dunia lain. Sungguh, cerita-cerita itu selalu membuat kami kagum dan mangau. Setelah mendengar cerita-cerita itu, kami sanggup berdiam diri; membisu, membelalakkan kedua mata kami, sesekali berkedip, dan hanyut pergi menjelajahi ruang imajinasi kami selama berhari-hari sehingga kami lupa makan, minum, bahkan berak atau kencing. Kami seakan menghipnotis diri kami sendiri dengan cerita-cerita yang sungguh luar biasa itu. Kadang kami pun akan menceracau kepada ayah dan ibu kami tentang cerita-cerita itu sehingga membuat ayah dan ibu kami tidak tahan terhadap tingkah laku kami dan akhirnya membenci pelajaran Sejarah.
Ayah dan ibu kami lalu tak mengizinkan kami untuk mengikuti pelajaran Sejarah dan ingin kami mengganti atau mengambil mata pelajaran lain, karena bagi mereka, mata pelajaran Sejarah bukanlah mata pelajaran utama di sekolah. Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika, itulah yang utama. Ayah dan ibu kami tahu itu. Kami pun hanya mampu menuruti perintah ayah dan ibu kami, karena kami tidak ingin dikeluarkan dari sekolah itu.
Tetapi kemudian, kami selalu mencuri-curi waktu untuk mengikuti pelajaran Sejarah di sekolah dan ketika kami selesai mengikutinya, kami selalu menelpon ayah dan ibu kami, bahwa kami akan menginap beberapa hari di rumah kawan sekolah kami dengan alasan: ada tugas kelompok yang sangat sulit, yang mengharuskan kami untuk menyelesaikannya lebih cepat. Ayah dan ibu pun selalu mengizinkan kami. Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun kami tak dapat melepaskan diri untuk selalu mengikuti kelas pelajaran Sejarah. Kami kian ketagihan untuk ikut setiap waktu sehingga terpaksa, kami berbohong kepada ayah dan ibu kami dengan memaksa mereka mendaftarkan kami menjadi siswa asrama di sekolah itu. Alasan kami, pertama, karena kami sering datang terlambat tiba di sekolah akibat angkutan umum yang sering terlalu lama menunggu penumpang atau terjebak kemacetan lalu lintas terutama pada pagi hari. Selanjutnya karena jam pulang sekolah kami yang terlalu sore sehingga memangkas waktu istirahat kami hingga malam hari dan keesokan paginya kami masih merasa lelah berangkat ke sekolah. Ayah dan ibu kami pun mengizinkan. Alasan mereka, tentu, ingin anak-anaknya belajar mandiri sehingga tidak menyusahkan orangtua kami ketika kami telah dewasa nanti.
Lalu mengapa kami menyebut sejarah sebagai cerita? Sungguh, karena kami tidak pernah tahu atau melihat dengan mata kami sendiri, bagaimana setiap peristiwa-peristiwa yang disebut sejarah itu terjadi. Kami tidak pernah tahu dan tidak pernah mengalami sendiri sehingga bagi kami, semua itu hanyalah cerita belaka. Hanya cerita. Kami hanya membaca, mendengarkan, lalu menurut saja dan percaya, bahwa segala hal dan peristiwa yang ditulis dalam buku-buku pelajaran Sejarah itu adalah cerita-cerita yang benar, yang disebut dengan sejarah. Ya, cerita yang benar, yang sesuai dituturkan oleh guru-guru Sejarah kami di depan kelas dengan layah setiap anggota tubuh yang penuh tekanan dan langgam suara yang berat mendesak dan cepat. Dengan begitu, guru-guru Sejarah kami berpikir, dapat membuat kami merasakan bagaimana sesungguhnya atmosfer latar keterkejutan, ketakutan, kebingungan, kesedihan, kegembiraan, dan kemarahan ketika sejarah itu dimulai, tengah, dan selesai terjadi.
Konon, kami pernah membaca tentang cerita sejarah kota-kota atau negeri-negeri yang terkubur dalam kungkungan waktu gelap yang pengap dan terkubur sangat dalam di bumi vulkanis yang basah. Dan yang selalu kami ingat adalah cerita sejarah tentang tiga kota1) yang diubah waktu menjadi batu-batu, menjadi fosil-fosil yang kekal kemudian dikuak dan dipelajari para ilmuan dan arkeolog. Kami selalu mengingatnya, karena kami tidak dapat melepaskan diri dari ingatan foto-foto, gambar-gambar, dan dalam tur film yang diperlihatkan kepada kami oleh guru-guru Sejarah kami; di mana tubuh orang-orang di ketiga kota itu terhampar utuh membatu seakan tertidur dalam lelap yang abadi seperti sebuah karya agung tangan seorang seniman patung kelas dunia. Begitu nyata, kuat, dan hidup. Kami seakan berimajinasi tentang bagaimana tubuh-tubuh itu hendak melarikan diri dari maut kemudian beku-membatu berbalut lumpur yang mengeras berwarna coklat keabu-abuan seperti warna tanah liat keramik yang masih basah, lengkap dengan kain pakaian yang masih melekat; terperangkap, merumuk, terlentang, dan tenggelam dalam bisu batu. Kota-kota menjadi bangkai dan mati sunyi-senyap seketika. Gunung yang biru menjulang tinggi dan kokoh menjadi latar di belakang puing-puing bangunan dan pilar-pilar kuil itu seakan adalah tahta titah raja yang tak dapat dibantah. Meskipun begitu, gambar-gambar, film, dan segala hal yang dituturkan oleh guru Sejarah kami, semua itu masih kami anggap sebagai sebuah cerita belaka, bukan sejarah.
Hingga pada akhirnya kami sadar, hari ini kami telah menjadi bagian peristiwa sebuah sejarah—walaupun bukan bagian dari sejarah (atau cerita?) yang disampaikan oleh guru-guru Sejarah kami. Kali ini kami tidak membaca atau mendengar cerita-cerita sejarah itu dari buku-buku atau dari yang dituturkan oleh guru-guru Sejarah kami. Kami telah mengalaminya sendiri sehingga kami paham, bahwa sejarah bukanlah cerita melainkan kehidupan yang terkubur. Kami telah melihatnya dengan mata kami sendiri. Di atas tebing bukit ini kami melihat berbagai rangkaian peristiwa terjadi lalu kemudian tumbuh menjadi sebuah sejarah. Kami melihat—sebagaimana yang pernah kami ingat tentang cerita, bukan, sejarah tentang tiga kota yang diubah waktu menjadi batu-batu—di atas tebing bukit ini dengan mata kami sendiri di mana sebuah negeri yang telah terkubur lalu tumbuh menjadi sejarah, yang penuh kebahagiatan, kerelaan diri, dan cinta. Kami melihat orang-orang itu begitu rela, begitu cinta dengan negeri mereka sendiri dengan luapan sejarah yang telah mereka tanam di dalamnya sehingga mereka hanya diam dan bahagia ketika maut melahap perlahan-lahan. Kami sungguh tidak mengerti dan betapa kami menganggap mereka hanyalah orang-orang yang egois karena sejarah sendiri. Betapa kami pun tidak mengerti bagaimana sejarah telah menjadikan mereka orang-orang yang rela penuh cinta dan kebahagiaan. Akhirnya yang dapat kami lakukan hanya memakluminya saja sambil berdiri termangu menatap nanap negeri itu yang perlahan-lahan pupus terkubur alir magma berpercik cahaya kuning yang sangat terang. Kami hanya dapat menggenggam sisa-sisa ingatan yang dititipkan kepada kami di hari-hari terakhir persinggahan kami di negeri itu kemudian menatap sunyi sekantung plastik mungil yang berisi biji-biji pohon maple, hadiah terakhir untuk kami dari seorang anak laki-laki.
***
Anak laki-laki itu bernama Sergei. Fajar mulai bangkit ketika dia tengah membersihkan ruang lobi hotel milik keluarganya. Disapunya lantai dengan perlahan sambil menahan kantuk dengan terangguk-angguk. Semalam dia memang tidak tidur nyenyak, karena terlalu lama menatap langit dan bintang-bintang. Beberapa hari ini cuaca pada malam hari sungguh cerah sehingga anak itu tidak ingin melewatkan setiap malamnya untuk selalu menatap hana langit, begitu lama. Selalu ada keinginan kuat yang menambatkan hatinya untuk sekadar bercakap-cakap dengan hitam langit dan kilau bintang-bintang.
Dalam pikirannya, terbersit suatu keinginan untuk menjaring perasaan saat menatap hitam langit dan kilau bintang-bintang dari tempat yang berbeda, jauh di luar negeri yang ditinggalinya ini semenjak lahir. Ada yang harus kujelajahi di luar sana, pikirnya. Jika aku dapat menjelajahi setiap penjuru negeri di dunia ini, maka aku akan menjadi seorang pemandu wisata terbaik di dunia. Si anak ingin merasakan bagaimana rasanya melihat langit di belahan dunia yang berbeda dan di tempat yang berbeda pula. Apakah akan terasa sama ataukah terasa lain. Hanya itu kepenasarannya selama ini yang selalu membuat dia betah berlama-lama hanya untuk menatap langit dan hamparan bintang-bintang sambil merebahkan diri di bentangan padang rumput kemudian menyilangkan kedua tangannya di bawah kepala.
Sebelumnya dia telah memutuskan untuk bermalam di luar rumah saja; merebahkan diri di hamparan padang rumput, di bawah sebatang pohon maple hanya untuk merasakan kedamaian yang mungkin kelak tidak akan pernah didapatkannya lagi. Anak itu teringat percakapan dengan Ayahnya suatu sore ketika acara minum teh keluarga di kebun belakang rumahnya.
“Jika kelak kau telah tumbuh dewasa, maka tidak ada waktu bagimu untuk bersantai hanya untuk merebahkan diri di tempat itu dan menatap langit sepuasnya. Saat kita telah dewasa, kita harus bekerja dan mengurus rumahtangga seperti kehidupan ayahmu kini” kata ayahnya. “Ingatlah, tugas utama seorang laki-laki dewasa adalah membahagiakan orang yang paling dicintainya,” ayahnya melanjutkan.
“Mengapa ayah? Bukankah aku selalu membahagiakan ayah dan ibu walaupun saat ini aku belum bekerja,” anak laki-laki itu ingin tahu. Dia selalu mengingat bagaimana ayah dan ibunya selalu berkata setiap malam menjelang tidurnya, bahwa dia adalah anak kebahagian bagi mereka. Betapa si anak laki-laki itu pun selalu menyadari begitu besar cinta orangtuanya kepada dia.
“Karena selama ini ayahlah yang telah bekerja untuk membahagiakanmu dan ibumu sehingga kamu dapat membahagiakan ayah dan ibumu juga. Ketika dewasa nanti, kamu harus membahagiakan orang yang paling kamu cintai, selain ayah dan ibumu, yaitu istri dan anakmu.”
Si anak tercenung. Mengangguk-anggukan kepala juga menggeleng-gelengkan kepala, antara paham dan belum paham makna perkataan ayahnya itu. Tetapi yang ada dalam pikirannya saat itu adalah, bahwa tugasnya kelak setelah menjadi seorang laki-laki dewasa akan lebih berat dibandingkan ayahnya, karena dia harus membahagiakan empat orang yang paling dicintainya, yaitu ayah, ibu, istrinya, dan anaknya. Oleh karena itu, sebelum usia dewasa itu tiba dan dia pasti selalu sibuk membahagiakan orang-orang yang paling dicintainya, maka saat ini anak itu ingin sepuas-puasnya menatap langit dan bintang-bintang yang menggelimantang jutaan cahaya di mata bulatnya.
Tetapi kemudian niatnya selalu pupus, Ibu anak itu akan berteriak-teriak memanggil namanya untuk segera masuk ke dalam rumah jika dia telah terlalu lama menenggelamkan diri dalam dingin pekat malam. Ibunya tidak ingin anak itu terkena flu. Anak itu pun segera menuruti perintah ibunya. Ada helaan nafas pendek yang berat, tetapi si anak itu lalu tersadar betapa dia begitu mencintai ayah dan ibunya. “Jika bukan karena ayah dan ibu, aku tidak mungkin di sini menatap langit sepuasnya,” ucapnya sambil bangkit lalu menepuk-nepuk pantatnya, membersihkan serpihan-serpihan rumput dan daun-daun kering. “Iya, Bu! Aku segera masuk!” teriak si anak sambil berlari menantang hembusan udara dingin di sekujur tubuhnya.
Kenangannya setiap malam itu pun lalu membuyar pecah ketika dia menyadari tubuhnya mulai terasa hangat. Cahaya matahari telah menyirami sebagian tubuhnya melalui beberapa jendela kaca hotel. Si anak ingat, dia belum menyapu halaman depan hotel itu dari tebaran daun-daun kering berwarna kuning terang yang berjatuhan dari beberapa batang pohon maple. Kemarin ayahnya menyuruh dia untuk menyapu halaman depan hotel itu. Tidak seperti biasanya, pikir anak itu. “Esok seorang pengembara akan berkunjung ke negeri kita,” kata ayahnya. Tiba-tiba mata mungil anak itu pun langsung terbelalak membesar, memercikkan cahaya.
***
Jika kau lihat negeri itu dari atas tebing bukit ini, sungguh tampak seperti nirwana yang pernah kau baca atau dibayangkan. Negeri yang tentram. Negeri itu tampak seperti tertanam jauh ke kedalaman ceruk tasik kering. Berpayung awan tipis, berjurang dalam, berlembah sempit, dan berbenteng pilar gunung-gunung yang tegak pagan di kedua belah sisinya, menjulang di sebelah barat dan timur. Ketika fajar tiba, kota-kota yang terletak di sebelah barat akan bergelimantang cahaya, dan ketika senja merekah maka kota-kota bagian timur akan berbalut temaram surya. Dan saat matahari menggelinding dan tercacak tepat di antara kedua gunung itu, maka seluruh kota akan menggeliat bersinar gemerlapan. Gedung-gedung dan bangunan rumah-rumah penduduk yang serupa kubus-kubus berdiri dengan tegak memantulkan kilauan cahaya matahari ke segala penjuru dan pilar gunung-gunung dan tebing-tebing perbukitan menahan pantulan-pantulan kilau cahaya itu untuk selalu menyelubungi negeri itu. Tepat ketika waktu itulah, kota-kota di negeri itu akan ramai penduduk. Orang-orang di negeri itu satu per satu keluar dari rumah mereka masing-masing. Menikmati guyuran cahaya matahari bersama-sama. Di ibu kota negeri itu, keramaian terjadi dan orang-orang mulai saling menyapa tetangga mereka satu per satu, berjalan-jalan, bercerita, sekadar bercanda, atau saling bertukar hasil yang telah diraupnya kemarin hari.
Selain dibentengi oleh dua pilar gunung yang tegak, negeri itu pun dikelilingi selubung hutan hijau pekat maha luas sehingga orang-orang tidak akan menduga, bahwa ada sebuah negeri melesak di tempat seperti itu. Di sekelilingnya, termangu pagar benteng yang setinggi duapuluh meter dengan dua buah madat di samping kiri dan kanan, berpapasan dengan gerbang masuk sehingga kehidupan di negeri itu terisolasi dari peradaban luar selama berabad-abad. Walaupun negeri itu berada di tengah hutan dan diapit dua pilar gunung yang menjulang kokoh, dipenuhi lembah dan perbukitan yang berbalut rumput hijau, juga tanah yang terkenal subur, mata pencaharian utama penduduknya bukanlah sebagai penebang kayu, peladang, pemburu, atau pun petani, melainkan banyak yang menjadi pemilik hotel dan pemandu wisata. Tentu, selebihnya adalah penjual roti, kue, bunga, kain, dan suvenir, juga sedikit penebang kayu, peladang, pemburu, atau pun petani.
Negeri itu tidak seluas yang kau bayangkan. Jika dibandingkan dengan luas wilayah Negara Kota2) yang terhampar di daratan Eropa sana, negeri itu hanya memiliki setengah luas wilayahnya saja. Di negeri itu, sebuah kota hanya berpenduduk sekitar sebelas Kepala Keluarga yang terdiri dari tiga hingga lima orang anggota keluarga yang kemudian menghuni sembilan kota. Dataran yang paling rendah dari negeri itu berada sekitar tiga ribu kaki di atas permukaan laut. Saat musim dingin tiba, cuaca begitu teramat dingin sehingga salju turun sangat lebat dan sering menghalangi permukaan puncak gunung. Tetapi selanjutnya selalu tergantikan oleh datangnya musim panas yang dingin, kering, dan cerah.
Selalu terlintas dalam setiap perjalananku untuk menemukan negeri itu. Orang-orang yang pernah kutemui selama perjalananku selalu bercerita, bahwa di hutan bagian utara terdapat sebuah negeri yang terkenal dengan penduduknya yang tidak ramah. Orang-orang itu kemudian menjuluki negeri itu dengan sebutan Negeri yang Tak Ramah, walaupun sebenarnya mereka tidak tahu pasti nama sesungguhnya negeri itu. Terlebih lagi ditambah rumor yang mengatakan, bahwa penduduk negeri itu sangat membenci kaum pengembara. Jika ada pengembara singgah di negeri itu atau berusaha menyeberangi negeri itu, maka penduduk negeri itu akan melemparinya dengan batu, panah, atau senjata-senjata tajam lainnya sehingga tak ada seorang pengembara pun yang dapat selamat dan melanjutkan perjalanan mereka. Para pengembara yang berhadapan dengan negeri itu selalu ditemukan mati dengan leher dan tubuh legam lunglai tercabik-cabik tergantung di depan gerbang pintu masuk. Lalu darah mereka akan membanjiri halaman gerbang pintu masuk. Dari jarak sekitar sepuluh meter kau dapat dengan mudah mencium amis darah yang memualkan. Karena itu, banyak kaum pengembara yang tidak sudi memilih rute perjalanannya melewati negeri itu, melainkan mengambil jalan memutar menjauhi negeri itu. Namun yang sangat kusayangkan pula, belum ada satu orang pun dari orang-orang yang bercerita itu melihat dengan mata telanjangnya sendiri.
“Jadi, itukah alasanmu? Kau tidak percaya dengan kisah yang diceritakan orang-orang itu padamu?”
Begitulah, sebelum aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kupikir itu hanya kabar angin saja. Kabar angin yang terbang dan bertiup dari satu negeri ke negeri lainnya, namun tetaplah, angin hanya sebuah kekosongan belaka. Jikalau cerita itu benar, maka tampaknya aku menemui ajalku sendiri.
“Apa kau gila?! Lebih baik kita mengikuti saran orang-orang itu dan mengambil jalan memutar. Lalu bagaimana kau bisa melanjutkan perjalananmu? Sinting!”
Hahahaha... Kau mudah sekali dipengaruhi cerita kosong orang-orang itu. Itulah sebabnya, aku tidak suka berlama-lama singgah di setiap negeri yang kudatangi. Mereka selalu berusaha merampas pikiran dan perasaanmu agar berpurwacipta seperti mereka. Dan akhirnya kau pun akan memutuskan berhenti melanjutkan perjalananmu dan diam lalu tumbuh dan menggeliat di negeri mereka.
“Tetapi...”
Ataukah karena kau takut tersesat di hutan seperti tempo hari? Kurasa, karena itulah kau berkeras diri membujukku mengambil jalan memutar tanpa melewati hutan pekat dan negeri itu, bukan? Hutan memang terkadang menyesatkan, jika kau salah menerjemahkan layah pohon-pohon, nyanyian udara, dan bisikan sungai. Kali ini, aku mempercayakan perjalananku pada akar-akar pohon, karena mereka selalu berpilin menjalar menuju sumber kehidupan.
“Lalu apa yang akan kau lakukan di negeri itu?”
Aku masih selalu mengingat ucapan kakekku semasa aku masih bocah, “Kita terlahir dari sejarah kemudian mati bersama sejarah, menjadi sejarah. Jika kau ingin mengenal baik penduduk di sebuah negeri, maka pelajarilah sejarah negeri itu maka dapat kau lihat bagaimana penduduk itu tumbuh menjalani kehidupannya sepanjang masa selama berabad-abad.”
“Itukan sebabnya kau memutuskan mengembara?”
Aku percaya, orang-orang tumbuh dari sejarah. Aku selalu ingin tahu bagaimana sejarah selalu tumbuh dalam diri orang-orang itu. Namun, ada satu hal yang belum dapat kupahami, di setiap negeri, di setiap penjuru, orang-orang selalu pergi meninggalkan negeri-negeri mereka, menjauh dari sejarah mereka sendiri. Melupakan setiap rangkaian masa lalu dan selalu terlena dengan hal-hal baru yang begitu canggih, modern, dan instan. Akan tetapi, tanpa mereka sadari pula, pada akhirnya mereka selalu kembali pulang pada sejarah yang dahulu mereka sia-siakan. Kembali pulang pada kelampauan yang dahulu mereka lupakan: sejarah mereka sendiri.
***
Tepat di depan gerbang masuk menuju negeri itu, kulihat dua orang penjaga berpakaian militer berjaga dengan mata awas lalu perlahan-lahan menghampiriku. Kukatakan kepada mereka, bahwa aku ingin mengunjungi negeri mereka dan bermalam selama beberapa hari. Kedua penjaga itu lalu memindaiku dengan sorotan mata tajam dari ujung kaki hingga kepala dan beberapa tas-tas perbekalan yang kuikat di kedua sisi sepeda motorku. Kedua penjaga itu lalu melangkah menjauhiku dan mulai saling berbisik.
“Mungkinkah kedua penjaga itu ingin membunuh kita?”
Aku tidak tahu. Mungkin saja, yang jelas mereka sudah menduga bahwa aku seorang pengembara, tetapi aku tidak ingin mati hari ini. Peluru-peluruku yang akan berbicara nanti jika mereka mulai bertingkah mencurigakan dan mengancam. Tenanglah.
Kemudian seorang penjaga menghampiriku dan bertanya, berapa lama aku akan tinggal di negeri mereka. Kujawab, belum pasti. Aku mungkin akan tinggal lama jika aku menginginkannya atau sebaliknya, bergegas pergi jika aku mulai merasa bosan. Namun, entah bagaimana, akhirnya aku menyebutkan juga tawaranku, mungkin sekitar lima hari. Kedua penjaga itu pun kembali saling berbisik dan salah seorang penjaga berkata, “Tidak bisa! Kami hanya bisa mengizinkanmu berkunjung selama tiga hari saja. Tidak lebih! Jika kau tidak setuju, maka pergilah!”
Tiga hari... Aku diam dan menimbang-nimbang, mengapa mereka harus membatasi waktu kesinggahanku di negeri mereka. Aku bisa melihat kecemasan dan raut tidak menerima jalan kompromi di wajah kedua penjaga ini. Ah baiklah, tiga hari sudah cukup bagiku daripada aku kehilangan kesempatan. Mereka mengangguk lalu menyuruhku menghadap salah seorang penjaga lainnya di salah satu pos penjagaan untuk membuat surat perjanjian tinggal selama tiga hari di negeri itu.
“Menurutmu, kenapa kita hanya diizinkan selama tiga hari saja? Apakah karena kita kaum pengembara?”
Entahlah. Mungkin mereka tidak mau ambil risiko yang akan membahayakan keamanan negerinya. Kurasa kita akan mengetahuinya nanti setelah kita masuk ke dalam negeri itu.
Kemudian aku melangkah memasuki pintu gerbang dan seketika jua aku tertungkap. Aku mematung dan terpana. Alir darah di urat nadiku pun seakan tiba-tiba berhenti, mencoba menyadarkan waktu. Ada apa dengan negeri ini? Orang-orang ini! Aku nanap pana melihat orang-orang ini.
“Ada apa dengan orang-orang ini? Ada apa dengan negeri ini? Tidak mungkin!”
Iya. Aku tidak tahu. Aku pun tidak percaya dengan apa yang kulihat dengan mataku sendiri. Sungguh aneh!
Orang-orang itu, orang-orang di negeri ini menyambut kedatanganku dengan pesta! Pesta yang sangat meriah dan megah. Dapat kulihat karnaval kereta kuda penuh hiasan bunga, sirkus dengan badut-badut, teriakan terompet, dan gadis-gadis cantik! Mereka tersenyum lebar dengan mata berbinar. Aku hanya dapat melilau memperhatikan sekeliling. Kulihat pula beberapa spanduk yang bertuliskan, “Selamat Datang Pengembara!” Kemudian satu per satu, para penduduk itu, mulai menghampiriku lalu mengerumuniku. Sungguh, kau pun tak akan menduga apa yang tengah terjadi padaku saat ini. Mereka bersorak girang, tertawa bahagia lalu menyalamiku sebagai tanda selamat datang atas kunjunganku di negeri mereka.
“Ada pengembara! Seorang pengembara telah mengunjungi negeri kita! Ada pengembara! Selamat datang pengembara! Selamat datang di negeri kami!”. Seperti itulah teriakan mereka menyambutku. Aku tidak dapat berkata apa-apa. Di sini tak kulihat ketidakramahan itu, seperti yang telah kudengar dari orang-orang yang telah kutemui selama perjalananku yang lampau. Mereka semua tersenyum bahagia. Yang kulihat hanyalah kegembiraan! Gegap gempita gelak tawa! Kurasa aku masih tidak menyadari dengan apa yang kulihat ini. Di manakah Negeri yang Tak Ramah itu? Apakah aku telah tersesat dan terpasah?
Kemudian satu per satu orang-orang itu berdesakan berusaha menawarkan pelayanan hotelnya masing-masing sehingga aku bingung untuk memilih. Ketika aku mulai jeri dan merasa sangat lelah dengan suara riuh orang-orang itu, aku pun berteriak kencang, berusaha meredam keriuhan. Sontak mereka semua diam terpana. Sunyi. Saat situasi perlahan tenang dan dapat kukendalikan, kutanyakan kepada mereka, apakah ada hotel yang menyediakan layanan kamar dengan garasi untuk satu sepeda motor dalam satu ruangan. Orang-orang itu diam. Mereka melilau ke sana ke mari. Kurasa memang tak ada hotel yang mampu menyediakan pelayanan kamar seperti itu. Namun, tiba-tiba seorang bocah lelaki melompat dari atas tong kayu yang hampir setinggi ukuran tubuhnya dan lantang berteriak memecah kerumun keriuhan, “Di hotelku ada!” Dan saat itulah pertama kali aku bertemu Sergei.
***
Kau tahu, Tuan Pengembara? Kami lahir dari darah-darah peperangan, tulang-tulang pembantaian, dan luka-luka pengkhianatan. Dahulu kami adalah penduduk sebuah negeri yang subur dan damai, itulah yang selalu diceritakan ayah dan ibu kami secara turun temurun selama berabad-abad lampau. Tetapi kemudian kedamaian di negeri kami yang terdahulu terusik oleh masalah sengketa tanah dengan negeri tetangga kami. Para penguasa kami saling berebut dan lupa diri, padahal sebelumnya hubungan negeri kami dengan negeri tetangga kami sangatlah damai sehingga kami selalu menganggap penduduk di negeri tetangga kami sebagai saudara kami sendiri. Para penguasa di tiap negeri kemudian membangun kelompok-kelompoknya sendiri-sendiri, armada-armadanya sendiri, dan masing-masing penguasa negeri kemudian sepakat mendeklarasikan diri untuk berperang, bahwa pihak yang menang akan mendapatkan tanah itu.
Tetapi perang tak kunjung selesai, Tuan, berbulan-bulan, bertahun-tahun.... kedua belah pihak yang berperang sama-sama kuat. Seimbang. Kami semakin kehilangan harta, tanah, dan pekerjaan kami, juga satu per satu teman-teman kami, sahabat-sahabat kami, bahkan saudara-saudara kami. Kami yang hanya penduduk biasa, tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawan keputusan para penguasa kami, karena perang telah memusnahkan semuanya yang ada pada kami. Kami semakin tidak paham dan tidak tahan dengan sikap kekukuhan para penguasa kami yang kemudian selalu mementingkan perang daripada sengketa tanah yang dahulu pernah mereka perebutkan dengan negara tetangga kami. Akhirnya permasalahan sengketa tanah itu menjadi tidak penting lagi bagi kedua pihak yang berperang, tetapi peranglah yang paling penting. Kami lelah dan sengsara, begitu pula para warga sipil di negeri tetangga kami. Bahkan kami menjadi korban kedua belah pihak yang berperang, karena benda-benda yang menjadi sasaran penembakan dan pengeboman dalam berperang semakin berkurang. Kami, para warga sipil, layaknya boneka-boneka yang siap dihancurkan dalam permainan perang mereka. Maka kami dan sebagian penduduk dari negeri tetangga kami bersepakat untuk meninggalkan negeri kami masing-masing. Kami bersepakat untuk menyelamatkan diri kami dari ambisi para penguasa kami yang begitu mencintai perang.
Kemudian kami berdiaspora mencari negeri baru untuk kami tinggali selama berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun, tetapi tak ada satu pun dari negeri-negeri yang kami datangi itu mau menerima kadatangan kami karena kami dikenal dengan orang-orang dari negeri yang cinta berperang. Kami sempat putus asa, Tuan, karena banyak di antara teman-teman dan saudara-saudara kami yang meninggal dalam perjalanan kami mencari negeri untuk ditinggali dan kami pun tidak mungkin kembali pada negeri kami yang dahulu karena keduanya telah lebur tanpa sisa. Kami hanya tersangkut di hutan-hutan dan di puncak-puncak pegunungan selama menempuh perjalanan untuk menemukan negeri yang sudi menerima kami. Tetapi, tak ada satu negeri pun yang sudi menerima kami, Tuan. Kami lelah dan terpuruk.
Akhirnya, kami pun memutuskan untuk membangun negeri kami sendiri di atas tanah ini, tepatnya di wilayah hutan ini, yang terhampar di antara kedua pilar gunung. Di sini kami membangun perkampungan penduduk dan kemudian perkampungan kami berkembang menjadi kota-kota, sebagaimana bertambahnya jumlah orang-orang di sini, setelah selama berabad-abad, maka tanah ini pun tumbuh menjadi sebuah negeri. Negeri yang kemudian menjadi milik kami selamanya. Kami tidak akan pernah lupa dari mana asal kami; bagaimana darah, air mata, dan nyawa kami menjadi materi-materi untuk membangun negeri ini, Tuan, sehingga tak ada dari kami yang ingin keluar dari negeri kami hanya untuk melancong ke negeri lain, karena mereka dahulu adalah negeri orang-orang yang pernah menolak menampung kami. Oleh karena itu, kami sengaja menyebarkan kabar angin, bahwa penduduk negeri kami adalah para penduduk yang tak ramah dan sering membunuh kaum pengembara yang datang ke negeri kami, karena kami takut, kaum pengembara akan datang ke negeri kami dan berbagi kabar tentang keberadaan negeri kami ke negeri-negeri lainnya.
Tetapi suatu hari, pemimpin negeri kami memutuskan untuk menerima kedatangan seorang pengembara. Kami telah menunggu selama beberapa hari, namun tak datang jua hingga akhirnya Tuan datang. Sempat kami merasa ketakutan, sudah tak ada lagi pengembara yang ingin datang mengunjungi negeri kami karena sebaran rumor itu, Tuan. Kami pun sengaja membatasi waktu kunjungan Tuan yang hanya tiga hari saja, karena setelah berakhirnya hari kunjungan Tuan di negeri ini, maka akan menjadi hari terakhir bagi negeri kami pula. Kami tidak ingin membuat Tuan cemas dan gelisah jika Tuan tahu, bahwa negeri kami tengah berada dalam situasi yang rawan. Kami, anak-anak negeri ini, tidak diberitahu oleh pemimpin negeri, bahkan orangtua kami bahwa hari ini adalah hari terakhir kehidupan kami.
Tuan tahu? Sesungguhnya perasaan kami lebih peka dibandingkan orangtua kami. Kami tahu, bahwa Pusat Badan Geologi telah memberitahukan kepada pemimpin negeri kami, bahwa sekitar satu minggu lagi kedua pilar gunung ini akan memuntahkan amarahnya dan letusan kedua gunung itu akan menghancurkan dan mengubur negeri kami dalam-dalam. Kami tahu dan menyadari, bahwa jika kami pergi dari negeri ini untuk menyelamatkan diri, sesungguhnya tak akan ada satu negeri pun yang akan menerima kami dan jika kami pergi untuk membangun negeri kami yang baru, kami tidak memiliki kekuatan lagi, Tuan, karena saat ini kebanyakan dari kami terdiri dari orang-orang tua, wanita-wanita, dan anak-anak. Akhirnya kami pun memutuskan tinggal dan tidak ingin melarikan diri dari negeri ini karena negeri ini pun adalah bagian inti nyawa kami. Walaupun begitu, kami yang telah tumbuh di dalam sejarah negeri ini, akan selalu bersama dan menuruti orangtua kami. Kami rela dengan keputusan orangtua kami dan inilah cara kami membahagiakan orang-orang yang paling kami cintai.
Kami telah bersepakat menerima kunjungan Tuan di negeri kami supaya Tuan dapat mengabarkan tentang keberadaan negeri kami ke negeri-negeri lainnya. Tuan dapat mengabarkan kepada mereka, bahwa sesungguhnya negeri kami adalah negeri yang ramah. Dan kabarkan pula kepada para sejarawan dunia, bahwa pernah ada sebuah negeri yang tertancap di bawah timbunan magma beku ini. Sebarkanlah pula biji-biji pohon maple itu di setiap negeri yang Tuan datangi, bahwa inilah pohon yang menjadi simbol keramahan negeri kami. Maafkanlah kami Tuan, orangtua kami, dan pemimpin negeri kami yang telah menyembunyikan hal ini dari Tuan. Sesungguhnya, kami pun dilarang untuk memberitahukannya kepada Tuan, tetapi kami tidak ingin negeri ini tenggelam begitu tanpa ada satu orang pun tahu, bahwa pernah ada sebuah negeri tumbuh di antara dua pilar gunung ini yaitu sebuah negeri yang ramah. Kami tidak ingin dikenal oleh orang-orang dari negeri-negeri lain sebagai orang-orang yang tidak ramah atau bahkan orang-orang yang mencintai perang. Tidak Tuan, kami adalah orang-orang sangat mencintai kedamaian.
Tuan, mungkin kami tidak dapat menjadi pemandu wisata yang terbaik di dunia ini, karena kami hanya mampu menjelajahi negeri kami sendiri, sejarah kami sendiri, tetapi kami telah memandu Tuan selama tiga hari di negeri kami dengan segala kemampuan dan kebahagiaan yang kami miliki. Terima kasih, Tuan.

Salam,
Sergei

***

bumi singgah,
2008




Keterangan:


1) Pada tanggal 24 Agustus tahun 79 Setelah Masehi, pada pertengahan abad ke-19, tiga kota besar; Herculaneum, Pompeii, dan Stabiae di Italia terkubur oleh erupsi Gunung Vesuvius dan sekitar 2000 orang meninggal dunia.


2) Kota Vatikan (Vatican City); Negara Kota merdeka terkecil di dunia dengan luas area 44 hektar (110 ekar), terletak di bukit Vatikan, sebelah kanan tepi Sungai Tibet, dengan kepala negara dan pemerintah dipimpin oleh Paus.


Madat : menara tempat orang berjaga (berkawal), di mana dinding/ tembok di atap/ di menara diberi lubang-lubang untuk mengintai atau menembak.


*) Dimuat pada Jurnal Cerpen Indonesia Edisi Khusus, Edisi 10, tahun 2010

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi

Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...