(Catatan Negeri Terakhir)
Akhirnya kami seakan kembali melihat sejarah. Melihat ulang sejarah yang telah lama terkubur begitu dalam begitu kelam. Beribu-ribu tahun lampau. Tentang sejarah yang biasa kami baca dalam buku-buku pelajaran semenjak dari sekolah dasar hingga menengah umum. Kami seakan terpelanting menembus waktu menuju masa-masa ketika kami bersekolah dahulu tentang cerita-cerita sejarah setiap negeri di belahan dunia lain. Sungguh, cerita-cerita itu selalu membuat kami kagum dan mangau. Setelah mendengar cerita-cerita itu, kami sanggup berdiam diri; membisu, membelalakkan kedua mata kami, sesekali berkedip, dan hanyut pergi menjelajahi ruang imajinasi kami selama berhari-hari sehingga kami lupa makan, minum, bahkan berak atau kencing. Kami seakan menghipnotis diri kami sendiri dengan cerita-cerita yang sungguh luar biasa itu. Kadang kami pun akan menceracau kepada ayah dan ibu kami tentang cerita-cerita itu sehingga membuat ayah dan ibu kami tidak tahan terhadap tingkah laku kami dan akhirnya membenci pelajaran Sejarah.
Ayah dan ibu kami lalu tak mengizinkan kami untuk mengikuti pelajaran Sejarah dan ingin kami mengganti atau mengambil mata pelajaran lain, karena bagi mereka, mata pelajaran Sejarah bukanlah mata pelajaran utama di sekolah. Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika, itulah yang utama. Ayah dan ibu kami tahu itu. Kami pun hanya mampu menuruti perintah ayah dan ibu kami, karena kami tidak ingin dikeluarkan dari sekolah itu.
Tetapi kemudian, kami selalu mencuri-curi waktu untuk mengikuti pelajaran Sejarah di sekolah dan ketika kami selesai mengikutinya, kami selalu menelpon ayah dan ibu kami, bahwa kami akan menginap beberapa hari di rumah kawan sekolah kami dengan alasan: ada tugas kelompok yang sangat sulit, yang mengharuskan kami untuk menyelesaikannya lebih cepat. Ayah dan ibu pun selalu mengizinkan kami. Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun kami tak dapat melepaskan diri untuk selalu mengikuti kelas pelajaran Sejarah. Kami kian ketagihan untuk ikut setiap waktu sehingga terpaksa, kami berbohong kepada ayah dan ibu kami dengan memaksa mereka mendaftarkan kami menjadi siswa asrama di sekolah itu. Alasan kami, pertama, karena kami sering datang terlambat tiba di sekolah akibat angkutan umum yang sering terlalu lama menunggu penumpang atau terjebak kemacetan lalu lintas terutama pada pagi hari. Selanjutnya karena jam pulang sekolah kami yang terlalu sore sehingga memangkas waktu istirahat kami hingga malam hari dan keesokan paginya kami masih merasa lelah berangkat ke sekolah. Ayah dan ibu kami pun mengizinkan. Alasan mereka, tentu, ingin anak-anaknya belajar mandiri sehingga tidak menyusahkan orangtua kami ketika kami telah dewasa nanti.
Lalu mengapa kami menyebut sejarah sebagai cerita? Sungguh, karena kami tidak pernah tahu atau melihat dengan mata kami sendiri, bagaimana setiap peristiwa-peristiwa yang disebut sejarah itu terjadi. Kami tidak pernah tahu dan tidak pernah mengalami sendiri sehingga bagi kami, semua itu hanyalah cerita belaka. Hanya cerita. Kami hanya membaca, mendengarkan, lalu menurut saja dan percaya, bahwa segala hal dan peristiwa yang ditulis dalam buku-buku pelajaran Sejarah itu adalah cerita-cerita yang benar, yang disebut dengan sejarah. Ya, cerita yang benar, yang sesuai dituturkan oleh guru-guru Sejarah kami di depan kelas dengan layah setiap anggota tubuh yang penuh tekanan dan langgam suara yang berat mendesak dan cepat. Dengan begitu, guru-guru Sejarah kami berpikir, dapat membuat kami merasakan bagaimana sesungguhnya atmosfer latar keterkejutan, ketakutan, kebingungan, kesedihan, kegembiraan, dan kemarahan ketika sejarah itu dimulai, tengah, dan selesai terjadi.
Konon, kami pernah membaca tentang cerita sejarah kota-kota atau negeri-negeri yang terkubur dalam kungkungan waktu gelap yang pengap dan terkubur sangat dalam di bumi vulkanis yang basah. Dan yang selalu kami ingat adalah cerita sejarah tentang tiga kota1) yang diubah waktu menjadi batu-batu, menjadi fosil-fosil yang kekal kemudian dikuak dan dipelajari para ilmuan dan arkeolog. Kami selalu mengingatnya, karena kami tidak dapat melepaskan diri dari ingatan foto-foto, gambar-gambar, dan dalam tur film yang diperlihatkan kepada kami oleh guru-guru Sejarah kami; di mana tubuh orang-orang di ketiga kota itu terhampar utuh membatu seakan tertidur dalam lelap yang abadi seperti sebuah karya agung tangan seorang seniman patung kelas dunia. Begitu nyata, kuat, dan hidup. Kami seakan berimajinasi tentang bagaimana tubuh-tubuh itu hendak melarikan diri dari maut kemudian beku-membatu berbalut lumpur yang mengeras berwarna coklat keabu-abuan seperti warna tanah liat keramik yang masih basah, lengkap dengan kain pakaian yang masih melekat; terperangkap, merumuk, terlentang, dan tenggelam dalam bisu batu. Kota-kota menjadi bangkai dan mati sunyi-senyap seketika. Gunung yang biru menjulang tinggi dan kokoh menjadi latar di belakang puing-puing bangunan dan pilar-pilar kuil itu seakan adalah tahta titah raja yang tak dapat dibantah. Meskipun begitu, gambar-gambar, film, dan segala hal yang dituturkan oleh guru Sejarah kami, semua itu masih kami anggap sebagai sebuah cerita belaka, bukan sejarah.
Hingga pada akhirnya kami sadar, hari ini kami telah menjadi bagian peristiwa sebuah sejarah—walaupun bukan bagian dari sejarah (atau cerita?) yang disampaikan oleh guru-guru Sejarah kami. Kali ini kami tidak membaca atau mendengar cerita-cerita sejarah itu dari buku-buku atau dari yang dituturkan oleh guru-guru Sejarah kami. Kami telah mengalaminya sendiri sehingga kami paham, bahwa sejarah bukanlah cerita melainkan kehidupan yang terkubur. Kami telah melihatnya dengan mata kami sendiri. Di atas tebing bukit ini kami melihat berbagai rangkaian peristiwa terjadi lalu kemudian tumbuh menjadi sebuah sejarah. Kami melihat—sebagaimana yang pernah kami ingat tentang cerita, bukan, sejarah tentang tiga kota yang diubah waktu menjadi batu-batu—di atas tebing bukit ini dengan mata kami sendiri di mana sebuah negeri yang telah terkubur lalu tumbuh menjadi sejarah, yang penuh kebahagiatan, kerelaan diri, dan cinta. Kami melihat orang-orang itu begitu rela, begitu cinta dengan negeri mereka sendiri dengan luapan sejarah yang telah mereka tanam di dalamnya sehingga mereka hanya diam dan bahagia ketika maut melahap perlahan-lahan. Kami sungguh tidak mengerti dan betapa kami menganggap mereka hanyalah orang-orang yang egois karena sejarah sendiri. Betapa kami pun tidak mengerti bagaimana sejarah telah menjadikan mereka orang-orang yang rela penuh cinta dan kebahagiaan. Akhirnya yang dapat kami lakukan hanya memakluminya saja sambil berdiri termangu menatap nanap negeri itu yang perlahan-lahan pupus terkubur alir magma berpercik cahaya kuning yang sangat terang. Kami hanya dapat menggenggam sisa-sisa ingatan yang dititipkan kepada kami di hari-hari terakhir persinggahan kami di negeri itu kemudian menatap sunyi sekantung plastik mungil yang berisi biji-biji pohon maple, hadiah terakhir untuk kami dari seorang anak laki-laki.
***
Anak laki-laki itu bernama Sergei. Fajar mulai bangkit ketika dia tengah membersihkan ruang lobi hotel milik keluarganya. Disapunya lantai dengan perlahan sambil menahan kantuk dengan terangguk-angguk. Semalam dia memang tidak tidur nyenyak, karena terlalu lama menatap langit dan bintang-bintang. Beberapa hari ini cuaca pada malam hari sungguh cerah sehingga anak itu tidak ingin melewatkan setiap malamnya untuk selalu menatap hana langit, begitu lama. Selalu ada keinginan kuat yang menambatkan hatinya untuk sekadar bercakap-cakap dengan hitam langit dan kilau bintang-bintang.
Dalam pikirannya, terbersit suatu keinginan untuk menjaring perasaan saat menatap hitam langit dan kilau bintang-bintang dari tempat yang berbeda, jauh di luar negeri yang ditinggalinya ini semenjak lahir. Ada yang harus kujelajahi di luar sana, pikirnya. Jika aku dapat menjelajahi setiap penjuru negeri di dunia ini, maka aku akan menjadi seorang pemandu wisata terbaik di dunia. Si anak ingin merasakan bagaimana rasanya melihat langit di belahan dunia yang berbeda dan di tempat yang berbeda pula. Apakah akan terasa sama ataukah terasa lain. Hanya itu kepenasarannya selama ini yang selalu membuat dia betah berlama-lama hanya untuk menatap langit dan hamparan bintang-bintang sambil merebahkan diri di bentangan padang rumput kemudian menyilangkan kedua tangannya di bawah kepala.
Sebelumnya dia telah memutuskan untuk bermalam di luar rumah saja; merebahkan diri di hamparan padang rumput, di bawah sebatang pohon maple hanya untuk merasakan kedamaian yang mungkin kelak tidak akan pernah didapatkannya lagi. Anak itu teringat percakapan dengan Ayahnya suatu sore ketika acara minum teh keluarga di kebun belakang rumahnya.
“Jika kelak kau telah tumbuh dewasa, maka tidak ada waktu bagimu untuk bersantai hanya untuk merebahkan diri di tempat itu dan menatap langit sepuasnya. Saat kita telah dewasa, kita harus bekerja dan mengurus rumahtangga seperti kehidupan ayahmu kini” kata ayahnya. “Ingatlah, tugas utama seorang laki-laki dewasa adalah membahagiakan orang yang paling dicintainya,” ayahnya melanjutkan.
“Mengapa ayah? Bukankah aku selalu membahagiakan ayah dan ibu walaupun saat ini aku belum bekerja,” anak laki-laki itu ingin tahu. Dia selalu mengingat bagaimana ayah dan ibunya selalu berkata setiap malam menjelang tidurnya, bahwa dia adalah anak kebahagian bagi mereka. Betapa si anak laki-laki itu pun selalu menyadari begitu besar cinta orangtuanya kepada dia.
“Karena selama ini ayahlah yang telah bekerja untuk membahagiakanmu dan ibumu sehingga kamu dapat membahagiakan ayah dan ibumu juga. Ketika dewasa nanti, kamu harus membahagiakan orang yang paling kamu cintai, selain ayah dan ibumu, yaitu istri dan anakmu.”
Si anak tercenung. Mengangguk-anggukan kepala juga menggeleng-gelengkan kepala, antara paham dan belum paham makna perkataan ayahnya itu. Tetapi yang ada dalam pikirannya saat itu adalah, bahwa tugasnya kelak setelah menjadi seorang laki-laki dewasa akan lebih berat dibandingkan ayahnya, karena dia harus membahagiakan empat orang yang paling dicintainya, yaitu ayah, ibu, istrinya, dan anaknya. Oleh karena itu, sebelum usia dewasa itu tiba dan dia pasti selalu sibuk membahagiakan orang-orang yang paling dicintainya, maka saat ini anak itu ingin sepuas-puasnya menatap langit dan bintang-bintang yang menggelimantang jutaan cahaya di mata bulatnya.
Tetapi kemudian niatnya selalu pupus, Ibu anak itu akan berteriak-teriak memanggil namanya untuk segera masuk ke dalam rumah jika dia telah terlalu lama menenggelamkan diri dalam dingin pekat malam. Ibunya tidak ingin anak itu terkena flu. Anak itu pun segera menuruti perintah ibunya. Ada helaan nafas pendek yang berat, tetapi si anak itu lalu tersadar betapa dia begitu mencintai ayah dan ibunya. “Jika bukan karena ayah dan ibu, aku tidak mungkin di sini menatap langit sepuasnya,” ucapnya sambil bangkit lalu menepuk-nepuk pantatnya, membersihkan serpihan-serpihan rumput dan daun-daun kering. “Iya, Bu! Aku segera masuk!” teriak si anak sambil berlari menantang hembusan udara dingin di sekujur tubuhnya.
Kenangannya setiap malam itu pun lalu membuyar pecah ketika dia menyadari tubuhnya mulai terasa hangat. Cahaya matahari telah menyirami sebagian tubuhnya melalui beberapa jendela kaca hotel. Si anak ingat, dia belum menyapu halaman depan hotel itu dari tebaran daun-daun kering berwarna kuning terang yang berjatuhan dari beberapa batang pohon maple. Kemarin ayahnya menyuruh dia untuk menyapu halaman depan hotel itu. Tidak seperti biasanya, pikir anak itu. “Esok seorang pengembara akan berkunjung ke negeri kita,” kata ayahnya. Tiba-tiba mata mungil anak itu pun langsung terbelalak membesar, memercikkan cahaya.
***
Jika kau lihat negeri itu dari atas tebing bukit ini, sungguh tampak seperti nirwana yang pernah kau baca atau dibayangkan. Negeri yang tentram. Negeri itu tampak seperti tertanam jauh ke kedalaman ceruk tasik kering. Berpayung awan tipis, berjurang dalam, berlembah sempit, dan berbenteng pilar gunung-gunung yang tegak pagan di kedua belah sisinya, menjulang di sebelah barat dan timur. Ketika fajar tiba, kota-kota yang terletak di sebelah barat akan bergelimantang cahaya, dan ketika senja merekah maka kota-kota bagian timur akan berbalut temaram surya. Dan saat matahari menggelinding dan tercacak tepat di antara kedua gunung itu, maka seluruh kota akan menggeliat bersinar gemerlapan. Gedung-gedung dan bangunan rumah-rumah penduduk yang serupa kubus-kubus berdiri dengan tegak memantulkan kilauan cahaya matahari ke segala penjuru dan pilar gunung-gunung dan tebing-tebing perbukitan menahan pantulan-pantulan kilau cahaya itu untuk selalu menyelubungi negeri itu. Tepat ketika waktu itulah, kota-kota di negeri itu akan ramai penduduk. Orang-orang di negeri itu satu per satu keluar dari rumah mereka masing-masing. Menikmati guyuran cahaya matahari bersama-sama. Di ibu kota negeri itu, keramaian terjadi dan orang-orang mulai saling menyapa tetangga mereka satu per satu, berjalan-jalan, bercerita, sekadar bercanda, atau saling bertukar hasil yang telah diraupnya kemarin hari.
Selain dibentengi oleh dua pilar gunung yang tegak, negeri itu pun dikelilingi selubung hutan hijau pekat maha luas sehingga orang-orang tidak akan menduga, bahwa ada sebuah negeri melesak di tempat seperti itu. Di sekelilingnya, termangu pagar benteng yang setinggi duapuluh meter dengan dua buah madat di samping kiri dan kanan, berpapasan dengan gerbang masuk sehingga kehidupan di negeri itu terisolasi dari peradaban luar selama berabad-abad. Walaupun negeri itu berada di tengah hutan dan diapit dua pilar gunung yang menjulang kokoh, dipenuhi lembah dan perbukitan yang berbalut rumput hijau, juga tanah yang terkenal subur, mata pencaharian utama penduduknya bukanlah sebagai penebang kayu, peladang, pemburu, atau pun petani, melainkan banyak yang menjadi pemilik hotel dan pemandu wisata. Tentu, selebihnya adalah penjual roti, kue, bunga, kain, dan suvenir, juga sedikit penebang kayu, peladang, pemburu, atau pun petani.
Negeri itu tidak seluas yang kau bayangkan. Jika dibandingkan dengan luas wilayah Negara Kota2) yang terhampar di daratan Eropa sana, negeri itu hanya memiliki setengah luas wilayahnya saja. Di negeri itu, sebuah kota hanya berpenduduk sekitar sebelas Kepala Keluarga yang terdiri dari tiga hingga lima orang anggota keluarga yang kemudian menghuni sembilan kota. Dataran yang paling rendah dari negeri itu berada sekitar tiga ribu kaki di atas permukaan laut. Saat musim dingin tiba, cuaca begitu teramat dingin sehingga salju turun sangat lebat dan sering menghalangi permukaan puncak gunung. Tetapi selanjutnya selalu tergantikan oleh datangnya musim panas yang dingin, kering, dan cerah.
Selalu terlintas dalam setiap perjalananku untuk menemukan negeri itu. Orang-orang yang pernah kutemui selama perjalananku selalu bercerita, bahwa di hutan bagian utara terdapat sebuah negeri yang terkenal dengan penduduknya yang tidak ramah. Orang-orang itu kemudian menjuluki negeri itu dengan sebutan Negeri yang Tak Ramah, walaupun sebenarnya mereka tidak tahu pasti nama sesungguhnya negeri itu. Terlebih lagi ditambah rumor yang mengatakan, bahwa penduduk negeri itu sangat membenci kaum pengembara. Jika ada pengembara singgah di negeri itu atau berusaha menyeberangi negeri itu, maka penduduk negeri itu akan melemparinya dengan batu, panah, atau senjata-senjata tajam lainnya sehingga tak ada seorang pengembara pun yang dapat selamat dan melanjutkan perjalanan mereka. Para pengembara yang berhadapan dengan negeri itu selalu ditemukan mati dengan leher dan tubuh legam lunglai tercabik-cabik tergantung di depan gerbang pintu masuk. Lalu darah mereka akan membanjiri halaman gerbang pintu masuk. Dari jarak sekitar sepuluh meter kau dapat dengan mudah mencium amis darah yang memualkan. Karena itu, banyak kaum pengembara yang tidak sudi memilih rute perjalanannya melewati negeri itu, melainkan mengambil jalan memutar menjauhi negeri itu. Namun yang sangat kusayangkan pula, belum ada satu orang pun dari orang-orang yang bercerita itu melihat dengan mata telanjangnya sendiri.
“Jadi, itukah alasanmu? Kau tidak percaya dengan kisah yang diceritakan orang-orang itu padamu?”
Begitulah, sebelum aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kupikir itu hanya kabar angin saja. Kabar angin yang terbang dan bertiup dari satu negeri ke negeri lainnya, namun tetaplah, angin hanya sebuah kekosongan belaka. Jikalau cerita itu benar, maka tampaknya aku menemui ajalku sendiri.
“Apa kau gila?! Lebih baik kita mengikuti saran orang-orang itu dan mengambil jalan memutar. Lalu bagaimana kau bisa melanjutkan perjalananmu? Sinting!”
Hahahaha... Kau mudah sekali dipengaruhi cerita kosong orang-orang itu. Itulah sebabnya, aku tidak suka berlama-lama singgah di setiap negeri yang kudatangi. Mereka selalu berusaha merampas pikiran dan perasaanmu agar berpurwacipta seperti mereka. Dan akhirnya kau pun akan memutuskan berhenti melanjutkan perjalananmu dan diam lalu tumbuh dan menggeliat di negeri mereka.
“Tetapi...”
Ataukah karena kau takut tersesat di hutan seperti tempo hari? Kurasa, karena itulah kau berkeras diri membujukku mengambil jalan memutar tanpa melewati hutan pekat dan negeri itu, bukan? Hutan memang terkadang menyesatkan, jika kau salah menerjemahkan layah pohon-pohon, nyanyian udara, dan bisikan sungai. Kali ini, aku mempercayakan perjalananku pada akar-akar pohon, karena mereka selalu berpilin menjalar menuju sumber kehidupan.
“Lalu apa yang akan kau lakukan di negeri itu?”
Aku masih selalu mengingat ucapan kakekku semasa aku masih bocah, “Kita terlahir dari sejarah kemudian mati bersama sejarah, menjadi sejarah. Jika kau ingin mengenal baik penduduk di sebuah negeri, maka pelajarilah sejarah negeri itu maka dapat kau lihat bagaimana penduduk itu tumbuh menjalani kehidupannya sepanjang masa selama berabad-abad.”
“Itukan sebabnya kau memutuskan mengembara?”
Aku percaya, orang-orang tumbuh dari sejarah. Aku selalu ingin tahu bagaimana sejarah selalu tumbuh dalam diri orang-orang itu. Namun, ada satu hal yang belum dapat kupahami, di setiap negeri, di setiap penjuru, orang-orang selalu pergi meninggalkan negeri-negeri mereka, menjauh dari sejarah mereka sendiri. Melupakan setiap rangkaian masa lalu dan selalu terlena dengan hal-hal baru yang begitu canggih, modern, dan instan. Akan tetapi, tanpa mereka sadari pula, pada akhirnya mereka selalu kembali pulang pada sejarah yang dahulu mereka sia-siakan. Kembali pulang pada kelampauan yang dahulu mereka lupakan: sejarah mereka sendiri.
***
Tepat di depan gerbang masuk menuju negeri itu, kulihat dua orang penjaga berpakaian militer berjaga dengan mata awas lalu perlahan-lahan menghampiriku. Kukatakan kepada mereka, bahwa aku ingin mengunjungi negeri mereka dan bermalam selama beberapa hari. Kedua penjaga itu lalu memindaiku dengan sorotan mata tajam dari ujung kaki hingga kepala dan beberapa tas-tas perbekalan yang kuikat di kedua sisi sepeda motorku. Kedua penjaga itu lalu melangkah menjauhiku dan mulai saling berbisik.
“Mungkinkah kedua penjaga itu ingin membunuh kita?”
Aku tidak tahu. Mungkin saja, yang jelas mereka sudah menduga bahwa aku seorang pengembara, tetapi aku tidak ingin mati hari ini. Peluru-peluruku yang akan berbicara nanti jika mereka mulai bertingkah mencurigakan dan mengancam. Tenanglah.
Kemudian seorang penjaga menghampiriku dan bertanya, berapa lama aku akan tinggal di negeri mereka. Kujawab, belum pasti. Aku mungkin akan tinggal lama jika aku menginginkannya atau sebaliknya, bergegas pergi jika aku mulai merasa bosan. Namun, entah bagaimana, akhirnya aku menyebutkan juga tawaranku, mungkin sekitar lima hari. Kedua penjaga itu pun kembali saling berbisik dan salah seorang penjaga berkata, “Tidak bisa! Kami hanya bisa mengizinkanmu berkunjung selama tiga hari saja. Tidak lebih! Jika kau tidak setuju, maka pergilah!”
Tiga hari... Aku diam dan menimbang-nimbang, mengapa mereka harus membatasi waktu kesinggahanku di negeri mereka. Aku bisa melihat kecemasan dan raut tidak menerima jalan kompromi di wajah kedua penjaga ini. Ah baiklah, tiga hari sudah cukup bagiku daripada aku kehilangan kesempatan. Mereka mengangguk lalu menyuruhku menghadap salah seorang penjaga lainnya di salah satu pos penjagaan untuk membuat surat perjanjian tinggal selama tiga hari di negeri itu.
“Menurutmu, kenapa kita hanya diizinkan selama tiga hari saja? Apakah karena kita kaum pengembara?”
Entahlah. Mungkin mereka tidak mau ambil risiko yang akan membahayakan keamanan negerinya. Kurasa kita akan mengetahuinya nanti setelah kita masuk ke dalam negeri itu.
Kemudian aku melangkah memasuki pintu gerbang dan seketika jua aku tertungkap. Aku mematung dan terpana. Alir darah di urat nadiku pun seakan tiba-tiba berhenti, mencoba menyadarkan waktu. Ada apa dengan negeri ini? Orang-orang ini! Aku nanap pana melihat orang-orang ini.
“Ada apa dengan orang-orang ini? Ada apa dengan negeri ini? Tidak mungkin!”
Iya. Aku tidak tahu. Aku pun tidak percaya dengan apa yang kulihat dengan mataku sendiri. Sungguh aneh!
Orang-orang itu, orang-orang di negeri ini menyambut kedatanganku dengan pesta! Pesta yang sangat meriah dan megah. Dapat kulihat karnaval kereta kuda penuh hiasan bunga, sirkus dengan badut-badut, teriakan terompet, dan gadis-gadis cantik! Mereka tersenyum lebar dengan mata berbinar. Aku hanya dapat melilau memperhatikan sekeliling. Kulihat pula beberapa spanduk yang bertuliskan, “Selamat Datang Pengembara!” Kemudian satu per satu, para penduduk itu, mulai menghampiriku lalu mengerumuniku. Sungguh, kau pun tak akan menduga apa yang tengah terjadi padaku saat ini. Mereka bersorak girang, tertawa bahagia lalu menyalamiku sebagai tanda selamat datang atas kunjunganku di negeri mereka.
“Ada pengembara! Seorang pengembara telah mengunjungi negeri kita! Ada pengembara! Selamat datang pengembara! Selamat datang di negeri kami!”. Seperti itulah teriakan mereka menyambutku. Aku tidak dapat berkata apa-apa. Di sini tak kulihat ketidakramahan itu, seperti yang telah kudengar dari orang-orang yang telah kutemui selama perjalananku yang lampau. Mereka semua tersenyum bahagia. Yang kulihat hanyalah kegembiraan! Gegap gempita gelak tawa! Kurasa aku masih tidak menyadari dengan apa yang kulihat ini. Di manakah Negeri yang Tak Ramah itu? Apakah aku telah tersesat dan terpasah?
Kemudian satu per satu orang-orang itu berdesakan berusaha menawarkan pelayanan hotelnya masing-masing sehingga aku bingung untuk memilih. Ketika aku mulai jeri dan merasa sangat lelah dengan suara riuh orang-orang itu, aku pun berteriak kencang, berusaha meredam keriuhan. Sontak mereka semua diam terpana. Sunyi. Saat situasi perlahan tenang dan dapat kukendalikan, kutanyakan kepada mereka, apakah ada hotel yang menyediakan layanan kamar dengan garasi untuk satu sepeda motor dalam satu ruangan. Orang-orang itu diam. Mereka melilau ke sana ke mari. Kurasa memang tak ada hotel yang mampu menyediakan pelayanan kamar seperti itu. Namun, tiba-tiba seorang bocah lelaki melompat dari atas tong kayu yang hampir setinggi ukuran tubuhnya dan lantang berteriak memecah kerumun keriuhan, “Di hotelku ada!” Dan saat itulah pertama kali aku bertemu Sergei.
***
Kau tahu, Tuan Pengembara? Kami lahir dari darah-darah peperangan, tulang-tulang pembantaian, dan luka-luka pengkhianatan. Dahulu kami adalah penduduk sebuah negeri yang subur dan damai, itulah yang selalu diceritakan ayah dan ibu kami secara turun temurun selama berabad-abad lampau. Tetapi kemudian kedamaian di negeri kami yang terdahulu terusik oleh masalah sengketa tanah dengan negeri tetangga kami. Para penguasa kami saling berebut dan lupa diri, padahal sebelumnya hubungan negeri kami dengan negeri tetangga kami sangatlah damai sehingga kami selalu menganggap penduduk di negeri tetangga kami sebagai saudara kami sendiri. Para penguasa di tiap negeri kemudian membangun kelompok-kelompoknya sendiri-sendiri, armada-armadanya sendiri, dan masing-masing penguasa negeri kemudian sepakat mendeklarasikan diri untuk berperang, bahwa pihak yang menang akan mendapatkan tanah itu.
Tetapi perang tak kunjung selesai, Tuan, berbulan-bulan, bertahun-tahun.... kedua belah pihak yang berperang sama-sama kuat. Seimbang. Kami semakin kehilangan harta, tanah, dan pekerjaan kami, juga satu per satu teman-teman kami, sahabat-sahabat kami, bahkan saudara-saudara kami. Kami yang hanya penduduk biasa, tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawan keputusan para penguasa kami, karena perang telah memusnahkan semuanya yang ada pada kami. Kami semakin tidak paham dan tidak tahan dengan sikap kekukuhan para penguasa kami yang kemudian selalu mementingkan perang daripada sengketa tanah yang dahulu pernah mereka perebutkan dengan negara tetangga kami. Akhirnya permasalahan sengketa tanah itu menjadi tidak penting lagi bagi kedua pihak yang berperang, tetapi peranglah yang paling penting. Kami lelah dan sengsara, begitu pula para warga sipil di negeri tetangga kami. Bahkan kami menjadi korban kedua belah pihak yang berperang, karena benda-benda yang menjadi sasaran penembakan dan pengeboman dalam berperang semakin berkurang. Kami, para warga sipil, layaknya boneka-boneka yang siap dihancurkan dalam permainan perang mereka. Maka kami dan sebagian penduduk dari negeri tetangga kami bersepakat untuk meninggalkan negeri kami masing-masing. Kami bersepakat untuk menyelamatkan diri kami dari ambisi para penguasa kami yang begitu mencintai perang.
Kemudian kami berdiaspora mencari negeri baru untuk kami tinggali selama berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun, tetapi tak ada satu pun dari negeri-negeri yang kami datangi itu mau menerima kadatangan kami karena kami dikenal dengan orang-orang dari negeri yang cinta berperang. Kami sempat putus asa, Tuan, karena banyak di antara teman-teman dan saudara-saudara kami yang meninggal dalam perjalanan kami mencari negeri untuk ditinggali dan kami pun tidak mungkin kembali pada negeri kami yang dahulu karena keduanya telah lebur tanpa sisa. Kami hanya tersangkut di hutan-hutan dan di puncak-puncak pegunungan selama menempuh perjalanan untuk menemukan negeri yang sudi menerima kami. Tetapi, tak ada satu negeri pun yang sudi menerima kami, Tuan. Kami lelah dan terpuruk.
Akhirnya, kami pun memutuskan untuk membangun negeri kami sendiri di atas tanah ini, tepatnya di wilayah hutan ini, yang terhampar di antara kedua pilar gunung. Di sini kami membangun perkampungan penduduk dan kemudian perkampungan kami berkembang menjadi kota-kota, sebagaimana bertambahnya jumlah orang-orang di sini, setelah selama berabad-abad, maka tanah ini pun tumbuh menjadi sebuah negeri. Negeri yang kemudian menjadi milik kami selamanya. Kami tidak akan pernah lupa dari mana asal kami; bagaimana darah, air mata, dan nyawa kami menjadi materi-materi untuk membangun negeri ini, Tuan, sehingga tak ada dari kami yang ingin keluar dari negeri kami hanya untuk melancong ke negeri lain, karena mereka dahulu adalah negeri orang-orang yang pernah menolak menampung kami. Oleh karena itu, kami sengaja menyebarkan kabar angin, bahwa penduduk negeri kami adalah para penduduk yang tak ramah dan sering membunuh kaum pengembara yang datang ke negeri kami, karena kami takut, kaum pengembara akan datang ke negeri kami dan berbagi kabar tentang keberadaan negeri kami ke negeri-negeri lainnya.
Tetapi suatu hari, pemimpin negeri kami memutuskan untuk menerima kedatangan seorang pengembara. Kami telah menunggu selama beberapa hari, namun tak datang jua hingga akhirnya Tuan datang. Sempat kami merasa ketakutan, sudah tak ada lagi pengembara yang ingin datang mengunjungi negeri kami karena sebaran rumor itu, Tuan. Kami pun sengaja membatasi waktu kunjungan Tuan yang hanya tiga hari saja, karena setelah berakhirnya hari kunjungan Tuan di negeri ini, maka akan menjadi hari terakhir bagi negeri kami pula. Kami tidak ingin membuat Tuan cemas dan gelisah jika Tuan tahu, bahwa negeri kami tengah berada dalam situasi yang rawan. Kami, anak-anak negeri ini, tidak diberitahu oleh pemimpin negeri, bahkan orangtua kami bahwa hari ini adalah hari terakhir kehidupan kami.
Tuan tahu? Sesungguhnya perasaan kami lebih peka dibandingkan orangtua kami. Kami tahu, bahwa Pusat Badan Geologi telah memberitahukan kepada pemimpin negeri kami, bahwa sekitar satu minggu lagi kedua pilar gunung ini akan memuntahkan amarahnya dan letusan kedua gunung itu akan menghancurkan dan mengubur negeri kami dalam-dalam. Kami tahu dan menyadari, bahwa jika kami pergi dari negeri ini untuk menyelamatkan diri, sesungguhnya tak akan ada satu negeri pun yang akan menerima kami dan jika kami pergi untuk membangun negeri kami yang baru, kami tidak memiliki kekuatan lagi, Tuan, karena saat ini kebanyakan dari kami terdiri dari orang-orang tua, wanita-wanita, dan anak-anak. Akhirnya kami pun memutuskan tinggal dan tidak ingin melarikan diri dari negeri ini karena negeri ini pun adalah bagian inti nyawa kami. Walaupun begitu, kami yang telah tumbuh di dalam sejarah negeri ini, akan selalu bersama dan menuruti orangtua kami. Kami rela dengan keputusan orangtua kami dan inilah cara kami membahagiakan orang-orang yang paling kami cintai.
Kami telah bersepakat menerima kunjungan Tuan di negeri kami supaya Tuan dapat mengabarkan tentang keberadaan negeri kami ke negeri-negeri lainnya. Tuan dapat mengabarkan kepada mereka, bahwa sesungguhnya negeri kami adalah negeri yang ramah. Dan kabarkan pula kepada para sejarawan dunia, bahwa pernah ada sebuah negeri yang tertancap di bawah timbunan magma beku ini. Sebarkanlah pula biji-biji pohon maple itu di setiap negeri yang Tuan datangi, bahwa inilah pohon yang menjadi simbol keramahan negeri kami. Maafkanlah kami Tuan, orangtua kami, dan pemimpin negeri kami yang telah menyembunyikan hal ini dari Tuan. Sesungguhnya, kami pun dilarang untuk memberitahukannya kepada Tuan, tetapi kami tidak ingin negeri ini tenggelam begitu tanpa ada satu orang pun tahu, bahwa pernah ada sebuah negeri tumbuh di antara dua pilar gunung ini yaitu sebuah negeri yang ramah. Kami tidak ingin dikenal oleh orang-orang dari negeri-negeri lain sebagai orang-orang yang tidak ramah atau bahkan orang-orang yang mencintai perang. Tidak Tuan, kami adalah orang-orang sangat mencintai kedamaian.
Tuan, mungkin kami tidak dapat menjadi pemandu wisata yang terbaik di dunia ini, karena kami hanya mampu menjelajahi negeri kami sendiri, sejarah kami sendiri, tetapi kami telah memandu Tuan selama tiga hari di negeri kami dengan segala kemampuan dan kebahagiaan yang kami miliki. Terima kasih, Tuan.
Salam,
Sergei
***
bumi singgah,
2008
Keterangan:
1) Pada tanggal 24 Agustus tahun 79 Setelah Masehi, pada pertengahan abad ke-19, tiga kota besar; Herculaneum, Pompeii, dan Stabiae di Italia terkubur oleh erupsi Gunung Vesuvius dan sekitar 2000 orang meninggal dunia.
2) Kota Vatikan (Vatican City); Negara Kota merdeka terkecil di dunia dengan luas area 44 hektar (110 ekar), terletak di bukit Vatikan, sebelah kanan tepi Sungai Tibet, dengan kepala negara dan pemerintah dipimpin oleh Paus.
Madat : menara tempat orang berjaga (berkawal), di mana dinding/ tembok di atap/ di menara diberi lubang-lubang untuk mengintai atau menembak.
*) Dimuat pada Jurnal Cerpen Indonesia Edisi Khusus, Edisi 10, tahun 2010