September 28, 2012

Pohon Cengkeh


Aku tidak mempunyai seorang pun anak perempuan. Tak satu pun. Batang rumah ini dipenuhi dengan anak laki-laki. Sesak kami di sini dengan pelir dan keringat anak-anak laki-lakiku yang selalu hilir-mudik di persimpangan rumah.
Lelah aku mengatur kenakalan mereka. Setiap hari, bahkan setiap menit, mereka selalu bergonta-ganti baju dan begitu saja melemparkannya di setiap sudut rumah ini. Aku harus sering membersihkan setiap celah dan kekacauan lainnya yang terjadi di rumah ini. Tentunya, aku sebagai ibu mereka yang harus mengurus semua keperluan, sedangkan ayah—suamiku tercinta, hanya kongkow di teras depan. Merokok bagai sepur, sembari sesekali diselingi segelas kopi pahit hangat dan beberapa carik koran usang.
Tak sekali pun suamiku merasa tergugah untuk membantuku. Dia hanya sanggup berceloteh ringan: karena itu adalah kewajiban seorang ibu sekaligus istri—itu alasannya. Aku mengerti. Aku coba sangat mengerti dari ketidakmengertiannya akan keadaan yang aku hadapi.
Aku seperti buruh pabrik, yang bahkan di bedeng pun aku masih lembur kerja. Aku menerima, karena aku seorang ibu sekaligus seorang istri. Ya, ya, suamiku selalu mempertegas keadaan yang kualami di tengah keluarga ini. “Karena perempuan selalu kembali ke sumur, dapur, dan kasur,” papar suamiku.
***
Hampir setiap malam aku selalu memimpikan seorang anak perempuan yang hadir di tengah keluarga ini. Bukan mimpi gasal. Seorang anak perempuan yang akan memberi warna lain dalam keluarga ini. Sebuah keberuntungan. Semisal bunga mawar merah yang tumbuh di tengah-tengah padang rumput liar. Bunga mawar itu akan tumbuh dengan sangat cantik sekali diantara hehijau rerumputan.
Sudah tentu dia pasti sangat dimanja oleh semua kakak laki-lakinya. Anak perempuanku tentu akan sangat bahagia hidup di tengah-tengah para adam yang siap sedia melindunginya. Sungguh beruntung dia nanti. Namun, aku hanya tersesat dalam mimpi sesaat. Berkali-kali kucoba—aku yang berpikir mungkin setelah kehamilanku yang entah keberapa, aku akan memomong seorang anak perempuan yang cantik dan lucu—kuharap akan mendapat anugerah keberuntungan dari Tuhan. Ya sudah pasti: seorang anak perempuan yang cantik dan lucu. Namun, keinginan itu kini hanya cerita yang berangan-angan.
Suamiku pernah bilang, belum tentu anak perempuan membawa keberuntungan. Anak laki-laki lebih bisa diandalkan. Dari kita, dan nanti bekerja untuk kita, dan bila kelak kita telah renta, mereka akan membiayai segala kebutuhan. Anak laki-laki lebih berguna dibandingkan anak perempuan. Mengangkat derajat keluarga. Penerus garis keturunan keluarga. Merekalah yang nanti akan membawa marga keluarga kepada keluarga baru yang mereka bangun.
Namun aku khawatir, karena anak laki-laki adalah kawan setia perjalanan. Merantau ke tanah-tanah penuh ranjau. Berjatuhan satu per satu serupa daun-daun kering pada pohon beringin yang rebah di halaman rumah. Aku tak bisa memungut satu pun, karena ranah jelajah menjadi rumah mereka yang baru, bagi perempuan-perempuan di kampung biru.
Aku sendiri sampai renta menjeruji diri, begitu pula kelak suamiku. Tanpa seorang yang setia tinggal di rumah penuh kesah. Tak ada yang merawat kami dan tinggal bersama lagi di rumah ini. Anak laki-laki merantau ke negeri-negeri, pergi dan mungkin akan singgah sesaat setahun sekali. Mungkin bahkan tak akan pernah kembali. Anak laki-laki yang terperangkap di pulau yang sesak dengan perempuan, penuh dengan kesenangan fana atau mungkin terkubur selamanya di pulau perempuan nun di sana. Selalu terbesit kata kepergian, namun tidak untuk kata kepulangan.
Anak perempuan selalu sedia mendampingi. Menghantarkan syair-syair riang maupun kisah-kisah berang. Mereka boleh pergi, namun pasti kembali. Menengok kami yang setia menanti. Atau mungkin rumah ini akan menjadi miliknya, penerus harta kasih sayang jiwa keluarga. Merengkuh kami penuh cinta kasih. Bagiku ketika ini, tiada yang paling sempurna jika di dalam keluarga tak ada anak perempuan, pembawa riang. Mungkin sempat aku terpikir, akan kuajak anak perempuanku berbincang duduk di tubir jenjang supaya tak diambil laki-laki negeri seberang. Namun, hati seorang ibu tak pernah tega penuh dendam.
***
Suamiku pergi berladang pagi ini kala fajar remukkan tulang rusuknya pada kabut-kabut ribut. Pada kulit wajah yang semakin keriput. Di bukit belakang yang penuh dengan buku-buku batang bambu, bekerja bagi jiwa-jiwa semangat baru. Dalam perjalanannya ke ladang, aku berharap dia membawa keberuntungan. Aku selalu mengingatkan, bila dalam perjalanannya pulang ke rumah, suamiku bertemu dengan seorang anak perempuan, undanglah dia ke mari. Aku ingin berdendang syair-syair tentang keelokkan perempuan dan berbagi bersama. Suamiku mungkin jenuh mendengarnya, namun aku terus mengenang.
Anak-anak laki-lakiku pergi sekolah. Menggendong beban-beban mata pelajaran dan mimpi semalam dengan kawan sepermainan. Rumah menjadi sepi, sesunyi sebatang pohon cengkeh di kebun seberang yang rindang. Pohon cengkeh itu telah lama tumbuh, tak pernah rubuh. Menemaniku ketika tak ada orang di rumah. Sempat suamiku ingin menebangnya karena menghalangi cahaya yang masuk ke jendela kamar tidur kami. Ruang kamar terlalu teduh, kilahnya. Kubujuk dia agar tak menebangnya. Bila kemarau datang, ruang kamar ini tak akan terlalu panas, ucapku. Akhirnya dia mengalah dan membiarkan pohon cengkeh itu tumbuh di kebun seberang rumah.
Sesekali kupetik bunga cengkeh, kuhirup baunya. Sungguh, aku ingin kelak anak perempuanku akan sewangi bunga cengkeh ini. Juga tak bosan dihirup laki-laki seperti batang rokok yang menempel di bibir hitam mereka. Sekali sebatang habis, akan ambil sebatang lagi. Dibawa serta ke mana-mana. Tak jenuh hidung menghirup bau cengkeh yang tergulung dalam kertas itu. Namun, sempat aku khawatir bila yang tersisa sepah dan abu, anak perempuanku mengabu menjadi babu. Tak mengapa menjadi menjadi babu bagi suami, namun aku pun tak ingin engkau kelak bernasib seperti aku.
Pohon cengkeh gagu mendengar keluh-kesah kisahku, tapi aku tak pernah berhenti berkisah tentang anak perempuan. Keluarga kami pasti sangat bahagia, pikirku. Pada sela-sela menanti kepulangan suamiku dari ladang, aku selalu memetik sekuntum bunga cengkeh di kebun seberang. Lalu kumasukan ke dalam sebuah toples gelas bening dan kutaruh di bawah ranjang tempat tidur kami. Sesekali aku buka tutup toples, hanya sebagian. Segera tercium wewangi bunga cengkeh itu dan teringatlah aku pada anak perempuanku. Punarbhawa anak perempuan dari pohon cengkeh titipan ibuku.
Suamiku tidak pernah tahu tindak-tandukku ini. Dia menyangka wangi bunga cengkeh ini berasal dari kebun seberang. Dan tak pernah sekali pun dia menanyakan muasal kenapa bisa tercium ke dalam kamar—karena menurutku sebatang pohon cengkeh tak sanggup menghantarkan wewangiannya sampai ke dalam kamar kami. Maka, setiap malam bau bunga cengkeh itu menyelimuti kisah percintaan kami di ranjang mesum.
***
Suatu malam, sayup-sayup aku mendengar seorang anak perempuan memanggilku. “Ibu!”, teriaknya. Aku hanya tertegun sesaat. Berfirasat, apakah aku tak salah mendengar. Aku menunggu beberapa lama. Tak ada suara lagi. Bukan, mungkin itu hanya ilusiku saja. Tak ada suara yang jelas terdengar selain riuh angin malam dan bunyi jangkrik menyanyi di dalam rumah. Aku kembali lelap. Lalu fajar kembali menusuk-nusuk rusuk kami yang keriput.
Malam berikutnya, sayup-sayup aku mendengar lagi teriakan seorang anak perempuan memanggilku. Kali ini terdengar sedikit jelas. “Ibu! Ibu!”. Kali ini aku tak mungkin salah. Terdengar sangat jelas dan jernih di ingatanku. Aku resah. Ingin segera kubangunkan suamiku, namun melihat wajahnya yang tertidur lelap di sampingku, aku tidak tega. Aku pun menunggu lagi. Selanjutnya tak ada suara.
Malam ketiga, lalu malam-malam berikutnya, suara teriakan anak perempuan itu semakin keras dan jelas memanggil. Tapi, entah dari mana asal datangnya. Aku gundah ketika suara itu akhirnya membuatku semakin lelah. Terpaksa aku ceritakan masalah ini kepada suamiku. Awalnya dia hanya tertegun saja. Diam tanpa ekspresi. Tak ada jawaban pada lekuk mimik wajahnya. Aku pun diam. Kami terdiam cukup lama. Suamiku pasti percaya, bukan? Lalu kenapa terbesit dalam pikiranku, kalau suamiku menyangka aku hanya mengarang cerita saja, dengan alasan bahwa aku—kami, suamiku juga—menginginkan anak perempuan. Selanjutnya hanya seutas senyum tersimpul di bibirnya.
Aku sangat mencintai suamiku. Keluarga kami bertahan berpuluh-puluh tahun karena kami saling percaya. Apakah senyum itu simbol bukti kepercayaannya kepadaku? Atau biduk keluarga ini sedang terhempas badai pasang? Aku coba masih percaya, pun kepada suamiku.
***
Pohon cengkeh itu yang telah memberikan anugerah tawa riang anak perempuan. Anak perempuan itu datang ketika wewangi bunga cengkeh semerbak di kamar dan ranjang. Bertambah banyak bunga cengkeh yang kupetik dan kumasukan ke dalam toples gelas. Dan ketika jelang malam, kusurutkan dukaku. Anak perempuan datang berkunjung pada ranah ibu yang telah lama pilu. Bunga-bunga cengkeh itu telah menjelma menjadi seorang anak perempuan yang cantik dan lucu, juga wangi cengkeh. Kemudian mengajakku bermain di bawah batang rindang pohon cengkeh. Suamiku lelap sekali. Setiap malam aku bermain bersamanya. Hanya pada malam kelam saja.
Anak perempuan itu hadir pada awal kisah mimpiku. Raut wajah, kilau hitam rambut panjang, bulu mata dan jari-jari lentik, bibir seranum merah delima, dan gerak lincah tubuh mungil. Kini, keinginanku bukanlah angan-angan yang membayang. Kami berdua selayang sepasang dalam permainan suka riang.
Keriangan itu kukisahkan kepada suamiku, namun ternyata suamiku tak mencintaiku lagi. Dia tak percaya padaku. Aku marah dan sedih. Anak perempuan itu nanti akan bermain dengan siapa. Tak ada, selain aku. Rumah ini akan penuh dengan suara-suara pilu memanggil ibu, memanggilku! Ketika kepulanganku dari pasar kampung seberang, kutengok pohon cengkehku telah hilang. Aku terkejut dan menjatuhkan semua barang-barang belanjaanku. Tak sehelai daun pun tersisa di kebun itu, bahkan tak ada lagi wangi bunga cengkeh. Sisa akar pun telah menjadi lubang tempat sampah. Ada abu yang masih hangat dan menganga.
Tidak pernah tumbuh pohon cengkeh di sana, kata suamiku. Aku berusaha menjelaskan apa yang aku tahu dan kurasakan. Namun, suamiku dengan tenang tak berkata apa-apa lagi dan menyuruhku untuk beristirahat di kamar. Dia bilang, aku hanya berilusi dan mimpi terlalu lama karena beberapa minggu ini aku kurang tidur. Itu tidak mungkin! Anak perempuanku akan menunggu lagi pada malam kelam. Pada malam-malam berikutnya. Aku tak ingin membuatnya menunggu. Sungguh!
***
“Akhirnya saya terpaksa menebang pohon cengkeh itu, Dok” keluh seorang lelaki renta menunduk pilu. Dokter itu mengangguk.
“Saya tahu, masalah utamanya bukanlah pohon cengkeh itu, tapi kenangan yang telah hidup di dalamnya. Memang sungguh menyakitkan bila kami harus terus mengingatnya,” suara parau lelaki itu menggema di ruang kantor praktik dokter itu.
“Saya sengaja menguburkannya di bawah pohon cengkeh itu, agar selalu dekat dengan kami. Bayi perempuan kami yang malang...”
Lelaki itu menangis. Setetes embun tangis jatuh pada lembaran kertas resep obat, yang baru saja diberikan dokter. Tangannya menggigir.
“Bersabarlah Pak. Biarlah dia mendapatkan ketenangan di tempat ini dulu,”
“Saya mohon Dok, sembuhkanlah istri saya. Saya sangat mencintainya, juga anak-anak kami di rumah,” pinta lelaki itu sembari kemudian meraih tangan dokter dan menggenggamnya erat-erat. Dokter itu kembali mengangguk dan tersenyum sendu.
Lelaki itu lalu pergi meninggalkan ruangan praktik dokter. Berjalan lunglai seperti telah kehilangan harapan. Kemudian arah langkahnya menuju sebuah ruangan pasien di ujung koridor Rumah Sakit. Di balik kaca jendela, ditatap nanar istrinya tercinta yang tengah bermain dengan udara.
***

Ciharashas-bumi singgah,
2005-2006

Dimuat di Khazanah, surat kabar Pikiran Rakyat, 2006

No comments:

Post a Comment

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi

Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...