September 28, 2012
Cerita Pendek Terjemahan*)
Kambing Hitam
Italo Calvino
Syahdan, terdapat sebuah negeri yang seluruh penduduknya adalah perampok.
Setiap malam, semua penduduk akan mengunci rumah mereka dengan kunci-kunci berkepala tengkorak, kemudian pergi sambil membawa lentera untuk merampok rumah tetangga mereka. Ketika tiba waktu subuh, mereka pulang kembali ke rumahnya masing-masing, penuh dengan barang-barang hasil rampokan, dan kemudian menemukan, bahwa rumah mereka telah dirampok.
Maka seluruh penduduk pun hidup bahagia bersama-sama, tidak ada yang dirugikan, karena masing-masing orang saling merampok satu sama lain, dan begitu seterusnya sampai pada si perampok terakhir merampok si perampok yang pertama.
Kecurangan di antara penjual dan pembeli pun tidak dapat dihindari dalam sektor perdagangan di negeri ini. Pemerintah telah menjadi organisasi kriminal yang merampok para penduduknya, dan para penduduk pun hanya tertarik mengorupsi uang pemerintah. Kehidupan mereka berjalan mulus sehingga tidak ada orang kaya dan tidak ada orang miskin.
Pada suatu hari, tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang jujur tinggal di negeri itu. Setiap malam, ia tinggal di rumahnya dengan membaca buku-buku novel sambil merokok, daripada pergi keluar rumah membawa karung dan lenteranya. Datanglah para perampok. Mereka melihat lampu di rumah itu masih menyala sehingga mereka pun tidak berani masuk.
Keadaan seperti itu hanya berlangsung sementara. Kemudian para penduduk negeri itu merasa berkewajiban menjelaskan kepada si lelaki jujur, bahwa walaupun ia ingin menjalani hidup tanpa melakukan apa pun, hal itu tidak dapat dijadikan alasan untuk mencegah orang lain berbuat sesuatu. Jika ia terus menerus menghabiskan malamnya dengan berdiam diri saja di rumah, maka satu keluarga tidak akan bisa makan selama seharian.
Lelaki jujur itu sangat tidak setuju dengan alasan semacam itu. Namun, ia pergi keluar dari rumahnya ketika malam tiba dan pulang kembali pada pagi hari, seperti yang dilakukan para penduduk lain, tetapi tidak merampok. Ia memang seorang lelaki yang jujur dan mereka tidak dapat berbuat apa pun terhadap keputusannya itu. Maka, si lelaki jujus pun pergi sejauh-jauhnya menuju ke sebuah jembatan dan melihat alir sungai di bawah jembatan itu. Dan ketika ia kembali ke rumahnya, ia menemukan rumahnya telah dirampok.
Sekitar kurang dari seminggu, lelaki jujur itu sudah tidak memiliki uang sepeser pun. Ia tidak punya sesuatu untuk dimakan dan seisi rumahnya kosong. Hal tersebut menjadi masalah yang rumit, karena keadaan itu adalah akibat kesalahannya sendiri; oh, tidak, masalahnya adalah perilakunya yang telah mengacaukan segalanya, karena ia membiarkan orang lain merampok segala yang ia miliki tanpa ia merampok apa pun dari orang lain. Jadi, ketika para penduduk pulang setiap subuh, selalu ada rumah yang tidak tersentuh oleh perampok: itulah rumah yang seharusnya dirampok oleh si lelaki jujur itu. Setelah beberapa hari, penduduk yang rumahnya tidak dirampok menjadi kaya dibandingkan yang lain dan tidak ingin merampok lagi. Keadaan semakin bertambah parah ketika perampok yang mendatangi rumah si lelaki jujur, selalu mendapati rumah itu dalam keadaan kosong sehingga mereka pun jatuh miskin.
Sementara itu, penduduk yang telah menjadi kaya kemudian mengikuti kebiasaan si lelaki jujur: setiap malam pergi ke jembatan untuk melihat air sungai mengalir di bawah jembatan itu. Keadaan ini kian membingungkan, karena semakin banyak orang yang bertambah kaya dan semakin banyak pula orang yang menjadi miskin.
Kini, orang-orang kaya itu membayangkan, jika mereka setiap malam pergi ke jembatan maka mereka pun akan segera menjadi miskin. Dan mereka berpikir, 'ayo, kita gaji orang-orang miskin itu agar mereka pergi merampok untuk kita'. Kemudian mereka membuat kontrak-kontrak kesepakatan dan menetapkan gaji, keuntungannya: mereka masih berstatus perampok dan mencoba mengecoh/ menipu satu sama lain. Sedangkan, kecenderungan yang terjadi malah menjadikan orang kaya semakin kaya dan bertambah kaya raya, dan yang miskin menjadi semakin melarat.
Beberapa orang kaya mendadak menjadi sangat kaya sehingga mereka tidak perlu merampok atau menyuruh orang lain merampok untuk mereka agar mereka tetap kaya. Tetapi, jika mereka berhenti merampok, mereka akan menjadi miskin karena orang miskin akan merampok mereka. Jadi, mereka pun membayar orang miskin itu dengan gaji yang sangat minim untuk mempertahankan harta milik mereka dari orang miskin yang lainnya, dan itu artinya mengerahkan pasukan polisi dan membangun penjara-penjara.
Setelah beberapa tahun semenjak kemunculan si lelaki jujur itu, orang-orang tidak lagi membicarakan tentang perampokan dan dirampok, tetapi si kaya dan si miskin. Namun, mereka semuanya masih berstatus sebagai perampok.
Dan satu-satunya penduduk yang jujur adalah si lelaki jujur itu, dan ia meninggal dunia dalam tempo yang sangat singkat karena kelaparan.***
*) Diterjemahkan oleh F. Meliasanti dalam buku Numbers in the Dark and Other Stories Karya Italo Calvino, 1995.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi
Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...
-
picture taken from blog-writeathome-com Francine Prose dalam bukunya Reading Like a Writer (2006), mencatat bahwa siasat untuk dapat m...
-
Ferina Meliasanti Mantap Memilih Bidang Sastra*) photo by langgeng prima anggradinata Kecintaannya terhadap dunia sastra menjadikan ...
-
Senja Terakhir di Tataan (1) Hari itu mungkin hari sepi paling sunyi tapi ia musti melangkah pergi Di benaknya bulir-bulir ...
No comments:
Post a Comment