October 4, 2012

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi


Episode Fetus


Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu
Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna
Tanganmu menjelma tunas-tunas dan bintik-bintik alis

wajah emas
Ruang hitam adalah rumah nyaman penuh rindu dan kenangan
Namun aku belum sempat memberimu nama di kulit-kulit ari
di gumpal-gumpal darah di tali pusar akar menikam tanah

Bulan pertama kau bernama kosong

bernama tiada bukan suara
Terembus dari mulut bukan manusia. Kau tahu aku tak pernah
mendengar seseorang mengetuk pintu, memencet bel,
mengirimiku surat ketika aku duduk lunglai di ruang tamu

Adakah engkau tiba-tiba mengada?
Tak terduga dari sangkaku dari waktu rahimku
Kau mengalir, memendar, mencari, menembus
menembus.
Diakah yang datang kala aku dideru nafsu di malam lalu?
Ah! Kita tak pernah tahu bahwa kau lahir dari tiada dari nafas

dari ruh yang tak kupunya.
Dari darah dari tulang dari daging dari urat dari pembuluh darah
bahkan dari DNA yang tak pernah didongengkan sebelumnya

Bilik-bilik tak serupa di kota-kota di gedung bertingkat
di hotel di villa
Membayangkanmu meliuk legat di antara batu-batu, lorong-lorong,
mobil-mobil, dan tiang-tiang penahan jalan layang

Kata mereka, kau menyebut mengulang menghitung angka-angka
waktu pada jam-jam dinding stopwatch lalu meluncur
dari hari per hari minggu per minggu bulan per bulan

Kau terlelap di rahimku mengada dari doa dari tubuh bersekutu
dengan janji dari semesta dari rahasia selama bertahun-tahun
bermasa-masa sebelum manusia pernah ada

Aku selalu bertanya tentang riwayatmu padahal kau pun
tak pernah meminta tak pernah menduga
layaknya pepohonan tumbuh reranting jatuh dan bulir hujan
membasahi tanah batu-batu

sampai ke akarku
Dunia berkata kau memang tak pernah berdosa



bumi singgah, 2009
---


Saksi Maya


Tubuh kami menjelma duri-duri, kabel listrik, dan toilet duduk. Dari timur kami datang membentangkan pagar-pagar besi setinggi tubuh orang dewasa, menancapkan kepala-kepala yang hanya tersenyum pada malam hari. Jalan-jalan terpaksa jadi hening dan tidak tercium lagi aroma natal dan kekudusan. Kami terpasung saat makan malam di kursi kayu sekeluarga, dengan duri-duri, kabel listrik, dan toilet duduk.

Tubuh kami menjelma botol bir, pelatuk senapan, dan kursi pengadilan. Ayah, ibu, kakak laki-laki, dan adik perempuan menjadi lukisan perayaan sejarah orang-orang besar. Kami menjadi pemain sirkus darah-darah peradaban. Perawan-perawan tidak berani pulang ke rumah karena mereka telah menjadi peluru-peluru yang bisu. Kota-kota jadi hening dan malam terpelanting menjadi bau mesiu yang menandai darah yang belum selesai surut dari perang saudara.

Tubuh kami menjelma pamflet, sebatang pohon, dan tiang gantungan. Dari barat kami pulang membawa sekandang ayam-ayam hasil curian dari bukit selatan. Tubuh-tubuh lelaki kami membandul di gerbang kota. Kami tidak tahu. Kami dipaksa buta oleh ninja-ninja. Kami hanya mampu tersungkur dan menggeliat serupa telinga-telinga hadiah ulang tahun dari seorang gadis seberang bernama maria. Tangis kami mungkin hanya sebatas riwayat tari lelawa dengan dasi dan setelan jas. Sepanjang jalan kami mengeras dan terhempas.

Tubuh kami menjelma cerita yang saat ini dirawikan padamu
mendesiskan doa-doa dalam derap bayang-bayang serdadu



bumi singgah, 2010
---

Telah dimuat pada Jurnal Sajak Nomor 1 tahun 2011
Jurnal Sajak Nomor 1 tahun 2011

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi

Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...