Ayah, aku ingin menjadi elang laut, bukan palung laut.... Aku akan terbang ke langit yang maha luas, menjelajah! Dan akhirnya kembali kepada laut. Muskilkah, Ayah?
***
Kali ini keputusan Ayahku tak dapat kompromi. Akhirnya keputusan final itu dijatuhkan juga kepadaku. Rupanya ia tetap memaksaku untuk menjadi orang lain. Ya, orang lain yang asing. Tak ada naik banding atau pun kelonggaran-kelonggaran yang dahulu sering ia perhitungkan terhadap keinginan-keinginanku. Mungkin dahulu aku masih anak kecil ingusan dan tak pernah meminta sesuatu yang macam-macam. Sekarang pada usiaku yang telah remaja, aku pun masih memikirkan toleransi atas semua permintaanku kepada Ayah. Permintaan dari keinginanku, dari impian, dari harapan. Bagiku tak ada yang salah. Permintaanku itu adalah hal yang wajar. Bahkan, terlalu wajar bagi anak-anak remaja seusiaku. Apakah aku memang hidup hanya untuk memenuhi keinginan Ayah saja? Oalah... lalu kapan Ayah akan percaya, bahwa keinginanku ini bukan sesuatu yang muskil?Aku mafhum dengan kondisi keadaan keluarga kita yang sederhana. Mungkin sejujurnya bisa dibilang sangat sederhana. Sebuah kehidupan yang biasa diantara peristiwa-peristiwa yang luar biasa. Luar biasa bagiku, karena dari sejak usia dini, Ayah telah mengenalkanku pada laut. Laut! Laut yang selalu berdendang riang ketika pagi datang dan mengalun sendu ketika senja jelang. Kelimut kehidupan yang keras di daerah pesisir pantai membuat Ayah (dan kadang-kadang bersamaku) harus lasah demi menghidupi keluarga yang dicintai. Ayah tentu lebih banyak menghabiskan waktu di laut dibandingkan menjejakkan tapak di gumuk pasir bersamaku, bersama kami. Berhari-hari, bahkan beberapa minggu Ayah hanya menjadi bayangan dalam keluarga. Ayah pergi merogoh kedalaman laut dan tugasku-lah kemudian menjadi kepala keluarga. Seperti percakapan malam itu, ketika Ayah telah kembali kepada kami.
“Lihatlah, badai telah mengembalikanku kembali pada kalian. Lagu purba para nelayan telah merantai laut dan kami menunggangi badai dalam genggaman. Ombak berpiuh menjadi ringkik yang paling pilu. Dan suatu saat, kau pun akan merasakan pelayaran itu,” tukas Ayah dengan pandangan mata tajam berbinar. Aku selalu yakin, laut takkan pernah membawa Ayah pergi. Laut adalah rumah kedua bagi Ayah. Ayah selalu mengingatkan itu kepadaku ketika berdongeng sebelum aku akhirnya tertidur pulas dan tak pernah tahu pula bagaimana akhir dongeng itu. Aku tahu, Ayah menginginkanku menjemput laut. Namun hingga saat ini Ayah belum mengizinkanku, karena aku masih terlalu muda untuk bercengkerama dengan amuk badai, gelombang pasang, dan terjang ombak laut yang memuncak.
“Belum saatnya, Nak. Belum saatnya. Sekarang, kau belajarlah dengan baik dan bersabarlah hingga waktunya tiba.”
Iya Ayah, aku tahu. Namun, ketika tiba-tiba aku menginginkan sesuatu yang lain—yang bukan keinginan Ayah—apakah Ayah bisa menerima? Dan seketika pula mata Ayah menyalibku. Mata Ayah berubah menjadi merah. Aku tahu, hati Ayah pun menjadi geram memeram.
“Apa?! Apa kau tak sadar dengan keinginanmu itu?! Mustahil!!!” teriak Ayah.
“Tidak Ayah. Aku telah memikirkannya lama sekali. Aku telah melihatnya di buku-buku pelajaranku (dan di televisi tetangga). Ada sesuatu di luar sana, sesuatu yang luar biasa dan kelak aku bisa membawanya kembali ke tanah kita.” Ucapku dengan keberanian yang telah aku kumpulkan sebelumnya. Ini untuk keinginanku, harapanku.
“Apa?! Kau tidak akan pernah bisa membawa apa-apa. Jangan bertindak bodoh! Laut bisa memberimu segalanya. Apa pun!” ujar Ayah meyakinkanku. Iya Ayah, aku tahu. Dari kisah-kisah yang Ayah ceritakan dahulu, aku masih mengingatnya dengan baik. Tentang laut yang menyelamatkan hidup kita. Tentang laut yang memberi kesehajaan. Tentang laut yang merupakan rumah kedua bagi kita. Tapi laut sekarang tak dapat mengabulkan keinginanku saat ini. Keinginan yang kusemai di ranah-ranah singgah, bebukit, dan tapak langkah di bebatuan.
“Ayah, aku menginginkan perjalanan.”
***
Ayah, sedalam apakah lautan itu? Seluas apakah semesta ini? Sampai manakah batas dapat dikukuhkan? Sungguh, aku tak ingin menentang maksud baik Ayah. Ada karsa yang mencacah kerinduanku akan perjalanan. Aku telah memikirkannya dengan sangat matang. Dahulu, Ayah menyuruhku untuk terus belajar dan belajar, karena ilmu seperti lautan. Tidak akan pernah habis terkikis, seberapa pun jumlah kita meraupnya. Dan dari sanalah aku dapat melihat dunia bagian lain—bukan hanya ranah yang kita pijak sekarang. Dunia yang ingin kusentuh, kularungkan diriku dalam perjalanan. Melihatnya Ayah, mencari sesuatu yang akan berguna bagi kita. Kelak, jika tuntaslah perjalanan itu, aku pun akan kembali ke ranah rahim yang telah melahirkanku. Kembali kepada Ayah dan kepada laut. Sungguh Ayah, percayalah... tak ada yang muskil dengan keinginanku ini.
Ketika senja kasip dan kita masih menyemai lokan, latuh, dan barai, Ayah tak henti berkisah. Kisah yang selalu kurindui hingga saat ini. Aku masih ingat setiap perkataan Ayah. Bukankah Ayah pernah berkata, bahwa dunia ini adalah misteri yang harus kita jelajahi? Juga seperti laut yang Ayah arungi, maka keasingan itu menjadi luluh dan karib. Laut itu kemudian menjadi kawan dalam pelayaran dan rumah kedua yang paling nyaman. Aku ingin seperti ayah pula, tapi dengan diriku sendiri. Dengan keingintahuanku, dengan jalan berbeda dari hala yang kita lalui dan suatu hari kelak, kita dapat saling berbagi.
***
Merantau. Sudah sejak lama ritus ini menjadi kebiasaan masyarakat di kampung kita, Nak. Konon, ranah singgah yang menunggu para perantau di belahan dunia bagian sana sungguh sangat kaya dan penuh misteri. Kita tak pernah bisa menduga-duga. Siapa pun akan tergiur membayangkannya. Gedung-gedung tanpa kaki menyayat langit dengan sengit, jalan-jalan yang meliuk bagai ular menerkam mangsa dengan tiang penyangga, dan manusia seperti mesin yang tak pernah berhenti menderu siang dan malam.
Namun, kamar-kamar sungguh sempit. Gang-gang sempit dan kelam. Hidup saling terhimpit. Orang-orang yang bersepatu, sungguh berbeda dengan orang-orang yang bersandal jepit. Kota, anakku. Mereka menamakannya: kota. Kehidupan yang tak pernah mati sepanjang waktu dan tidak mempunyai jam rehat sedetik pun. Kehidupan kota seperti siklus tanpa pembatas. Waktu tidak pernah diizinkan memburu, melainkan sebaliknya. Riuh! Dan lama-kelamaan kesehajaan itu lindap. Lenyap!
Maka pada akhirnya Ayahmu ini memutuskan untuk kembali ke ranah rahim, Nak. Setelah beberapa hari merantau di kota antah berantah itu, Ayah tidak kuat. Ayah menjadi lemah dengan keasingan, kerumitan, kelimpungan, dan cuaca yang tak dapat diterka. Di kota tak ada tegur sapa, kerabat seperti orang lain yang asing. Mereka hidup bukan dalam koloni, tapi menipu diri sendiri. Lalu, salahkah Ayahmu ini memutuskan keinginanmu itu untuk kaukubur dalam-dalam dan kembali ke lautan? Ayah mafhum dengan keinginanmu itu. Tentang perjalanan yang kaurindui. Tentang banyak hal yang ingin kaulihat seperti yang ada dalam buku-buku pelajaranmu. Tapi Nak, Ayah tak ingin menyayat luka untuk kedua kalinya. Ketika pada akhirnya, perjalanan kakakmu pun tak menemui yang bernama: kepulangan.
***
“Ayah tak mengizinkanmu!” tukas Ayah suatu hari ketika aku baru pulang dari sekolah. Tidak seperti biasanya, mata Ayah dingin membekukan tubuhku. Sudah kubayangkan itu yang akan keluar dari mulut Ayah. Keputusan final!
“Lebih baik kau melinyar dengan Ayah nanti, daripada menemui perjalananmu yang taksa itu. Tak ada gunanya. Kau satu-satunya yang tersisa di keluarga ini yang akan melanjutkan sebagian kerja Ayah. Manfaatkanlah yang ada.” Jelas Ayah selanjutnya.
Kemudian Ayah pun pamit padaku tidak seperti biasanya. Tanpa salam. Hari itu memang waktu bagi Ayah kembali berjabat erat dengan laut. Dengan gumam dan ringkik ombak yang memanggil lantang. Setelah kepergian Ayah, tiba-tiba ruangan menjadi sunyi dan dingin. Ayah, aku tak bisa apa-apa.
***
Kali ini keputusan Ayahku tak dapat kompromi. Akhirnya keputusan final itu dijatuhkan juga kepadaku. Rupanya ia tetap memaksaku untuk menjadi orang lain. Ya, orang lain yang asing. Tak ada naik banding atau pun kelonggaran-kelonggaran yang dahulu sering ia perhitungkan terhadap keinginan-keinginanku. Mungkin dahulu aku masih anak kecil ingusan dan tak pernah meminta sesuatu yang macam-macam. Sekarang pada usiaku yang telah remaja, aku pun masih memikirkan toleransi atas semua permintaanku kepada Ayah. Permintaan dari keinginanku, dari impian, dari harapan.
Entah, aku tak pernah tahu bagaimana kehidupan remaja seusiaku di belahan dunia sana. Aku hanya mampu membaca dari buku-buku pelajaran, buku-buku di perpustakaan, dan sesekali melihat di televisi, di rumah tetanggaku. Mereka sepertinya bisa hidup mewah dan mencapai harapan dengan mudah, seperti yang kulihat di sinetron-sinetron. Tapi harapanku Ayah? Keinginanku ini ditentang olehmu. Apakah bukan pula karena kakak?
Kakak memang telah pergi dari ranah ini, meninggalkan keluarga tanpa pamit dan hingga sekarang pun tak ada sehelai kabar darinya. Tapi aku tidak ingin seperti kakak. Aku memohon izin dari Ayah agar kelak aku mendapatkan kepulangan yang aman dan direstui. Ah Ayah, ke manakah harus kulabuhkan keinginan ini jika engkau tak berkehendak?
***
Laut. Laut memendam segalanya. Memendam luka, kenangan, keriangan, harapan dan keinginanku. Karang terjal hanya bisu. Laut selalu penuh misteri. Sunyi menggelanggang. Gelombang yang membawa dendang riang bahkan kematian. Batu karang memberi rintih abadi bagi deru pacu dan ringkik ombak di tepian tanjung. Padang lamun termenung. Ada yang selalu diam, sepi, dan dingin. Ada yang selalu menatap dendam, sedih, dan rindu. Ada yang selalu tak berubah: takdir, seperti badai. Hilir mudik angin menjadi kabar paling duka yang pernah kuterima. Ganggang-ganggang laut menjadi paya. Semua berduka. Ya, kabar tak terduga itu datang dari laut: laut merampas Ayah!
Kepergian Ayah tempo hari—yang tanpa salam—telah menguburkan dalam-dalam keinginanku. Kini, aku tak yakin bahwa laut akan mengembalikan Ayah kepadaku, kepada kami. Badai mengamuk tanpa bisa dihalau. Tali layar terputus oleh terjang cambuk ombak dan gelombang pasang. Kapal Ayah terpiuh ke kedalaman yang entah. Ayah pun lindap bersama para awak kapal lainnya dan sampai tersisa rangka tanpa nyawa ke pesisir pantai kami.
Aku mulai mafhum Ayah. Walaupun semuanya telah ditakdirkan, bukan berarti kita harus menyerah. Tetapi apa yang harus kita lakukan yang terbaik untuk takdir itu, untuk kehidupan kita. Ayah pergi. Tapi aku tak akan pergi. Hati menjadi kisruh. Duka luruh. Tapi bukankah masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, Ayah?
“Ayah, aku menginginkan perjalanan.”
***
Ayah, aku ingin menjadi palung laut, bukan elang laut lagi.... Aku akan kokoh tertanam di laut milik kita! Kujelajahi hingga ke dasar yang paling dalam dan entah. Muskilkah, Ayah?
***
bumi singgah,
2006
Dimuat dalam antologi cerpen Ketika Mei Bernyawa Dua (Rayakultura, 2007)
No comments:
Post a Comment