September 28, 2012

Lawalata


Ia terus berjalan, menembus udara, menyelusup ke kedalaman kepalanya menuju kenangan yang meliuk lekang diam-diam. Ia seakan berabun-rabun dengan sesuatu yang tak kasat mata. Di Mahasa—begitulah konon sejarah kuno menamai daerah ini, kakinya telah tertambat. Di antara hijau mayur, silau biru punggung-punggung gunung, dan jalad rapat di pori-pori kulit. Ia tengok kakinya yang telanjang, melesak lekat mencengkeram tanah hitam, seakan kian dalam menjalar membaur dengan tanah kelahiran.
Suara-suara sumbang, bunyi-bunyi tetabuhan, wajah-wajah tak dikenal, dan segala peristiwa yang terasa aneh baginya kian melintas kilat, menusuk ligat ke ulu hati bagai teka-teki. Entah kenapa ia merasa perlu bertanya kali ini, bagaimana bisa ia terpasah di sini? Tetapi ia sadar, tidak ada sesal tertambat menuju tempat ini. Tempat ini seakan membekukan pertanyaan-pertanyaan yang melintas liar lebih jauh, lebih dalam lagi. Ia pun tahu, bahwa bukan dirinya-lah kini yang singgah di tempat ini, tetapi seseorang yang lain; seseorang yang berusaha menyeruak keluar dari dalam tubuhnya, dalam pikirannya, untuk sejenak melupakan masa lalu (atau ingatan?) seperti tunas yang bangun menggeliat menjemput matahari.
Ia dapat merasakan dan melihat malis putih arak awan mengiris puncak Klabat tidak terbelah. Kabut yang mencuci mata menjadi kesap-kesip dalam lindap garis alam. Kekandi yang luap oleh pucuk-pucuk embun di pagi buta telah membuat jisimnya enggan beranjak. Di jambar inilah ia mengistirahkan segalanya, tentang kenangan ganjil menuju sebuah perjalanan asing, karena ia tidak tahu harus memulai dari mana. Kini, Lawalata malan terus berjalan meramu ingatan menujum waktu.
***
            Kaki yang telanjang meraba-raba tanah merah, tanah hitam, atau kadang kecoklatan. Kaki yang tangguh merenjis di bulak tanah berbatu, sungai-sungai ikhbar dari hulu jejak gunung, lesir belukar penuh duri di bukit-bukit tinggi, hutan-hutan penuh jerit keasingan, dan padang sabana yang menyesatkan mata. Ia tidak akan pernah berhenti. Ada yang menunggu, sesuatu yang dicari pada rincik kelir sungai dan udara yang berlayar.
Ranah penuh berkah, rumah yang riah. Di Putussibau, mungkin sebuah ingatan akan menyambutnya. Di arus lurus sungai Mendalam, ia dapat melihat pusat kegiatan sehari-hari para anggota suku. Tangan-tangan itu melambai di tepian sungai dan di ladang dan hutan, yang meraup hari dan meramu tanah. Tanah basah penuh peluh. Alir sungai telah menambatkan ujung selup menuju Tipung Jawe’, seorang wanita tua penguasa adat Dayak Kayan, yang berpakaian khas dengan lengan dibalut Kelinge, sebuah tato yang membalut sempurna. Daun telinga yang berjuntai panjang menggantung Isaang, menyilaukan warna perak. Lawalata hanya mampu menatap, ketika tubuh itu melayah cepat mengusir roh-roh jahat yang telah kisruhkan kehidupan di Kampung Long Miting. Lawalata hanya mampu tertungkap, seperti hendak menjemput sesuatu yang muncul meluap.
Tetabuhan bunyi semakin bersipongang gegap gempita seakan telah merangsuk ke dadanya hingga terasa sangat menyesakkan. Terasa sangat berat. Silau warna perak itu seakan terus menerkam tajam menusuk-nusuk kepalanya. Ia pun jatuh sambil menahan rasa sakit di kepalanya. Pisau-pisau ingatan itu tidak pernah bisa melepaskannya begitu mudah. Ia hanya mampu mengaduh seraya menahan luka yang perih.
“Setiap tanda selalu membawa isyarat. Setiap isyarat membawa kebenaran yang akan tenggelam.”
Suara itu lagi! Lawalata gegas bangkit sambil menahan sakit yang sangat dan melilau gusar ke sekeliling. Tidak ada siapa pun. Suara lelaki tua itu yang selalu saja berbunyi bisik di telinganya, di sekitarnya. Tanda, isyarat, kebenaran, apa arti semua ini?
***
            Udara kering kemendang. Batang-batang pohon kisut dan tanah-tanah rengkah berjejak seperti alir sungai gersang. Matahari menyisip selupat tubuh-tubuh legam dan kerontang. Kebun-kebun yang disergap ilalang, dimulailah pembakaran. Asap menghantarkan harapan, dibawa angin menuju langit tertinggi. Di langit tertinggi itulah, air suci yang dipinta belum kunjung datang. Namun, keyakinan tidak datang terlambat. Sebuah keyakinan yang menghantarkan pada sebuah upacara. Ritual bagi hujan.
Pada bulan November, ia berjalan menuju Fuaton, sebuah upacara untuk meminta hujan dan memohon berkah agar mendapatkan hasil yang lebih baik pada musim panen di desa Oeolo dan Bisafe. Perjalanan puncak menuju bukit tertinggi, menuju Yutneno, si penyangga langit. Penyangga langit sebagai titik paling tinggi di bukit itu telah membuat orang-orang semakin dekat dengan sang Dewa Langit pemilik alam. Homonef, sebuah kayu bercabang tiga menunggu tegap, pagan, dan sunyi. Homonef di Titutneno dipercaya sebagai tempat berkumpulnya leluhur seluruh warga Desa Oeolo. Mereka berkisar memberi persembahan terbaik, yaitu hati dan jantung babi. Lawalata masih menginjakkan kakinya di tanah pasir bukit itu. Dia hanya berdiri, sendirian, jauh dari kerumunan orang-orang yang melaksanakan ritual.
“Di ladang itu, hujan akan turun,” ia bergumam penuh lamun. “Hujan?” Ia tertungkap lagi. Ia mulai menyelusup melenting geliat ke kedalaman pikirannya. Mengaduk-aduk segala peristiwa, perjalanan konon yang mungkin masih tersimpan lengkap pada catatan-catatan ingatan. Sungguh. Adakah di sana menyisakan sedikit saja ingatan? Seberkas yang disebut tanda atau kalimat jawaban. Namun, di sana ia semakin menemukan pintu-pintu masih tertutup; masih tetap rapat dan menjulang semenjak dahulu. Pintu-pintu terkunci dan ia masih begitu lenguh untuk menemukan kunci-kunci itu. Ia diam terkelu. Kosong.
Lalu kenapa harus menuju pada hujan?
***
Ia terus menapaki jejak ranah-ranah di setiap pulau yang mengapung pagan di negeri itu. Setiap pulau, setiap ritual, setiap peristiwa (ataukah tanda?) yang selalu menarik perhatiannya. Ia melintasi ruang dan waktu yang memamah usia. Ia ingin menegaskan pada sekeliling, tanah kelahiran yang kini dijejaknya lagi, setelah sekian lama ia tinggalkan, bahwa ia telah pulang. Ia telah pulang dari perjalanan asing di luar ranah-ranah negerinya. Ia pulang untuk merengkuh menggelitik kembali kerinduan, sesuatu yang dahulu lekat lengang berdenyar dalam dirinya, yang kini bernama kenangan. Ada yang menunggu dan harus dicari tanpa henti, dicatat tanpa cacat. Ia menjejaki ranah-ranah yang mungkin menyimpan kalimat-kalimat jawaban yang tersimpan terlalu dalam. Atau mungkin tanda, isyarat, kebenaran, yang sebenarnya tidak pernah bisa ia pahami dan menuju ke mana semua itu. Namun, kelak akan mungkin ia temukan di sebuah malka. Tetabuhan itu... suara itu... kilau perak itu....
Ia terus berjalan, menembus udara, menyelusup ke kedalaman kepalanya menuju kenangan yang meliuk lekang diam-diam. Suara-suara sumbang, bunyi-bunyi tetabuhan, wajah-wajah tidak dikenal, dan segala peristiwa yang terasa aneh baginya kian melintas kilat, menusuk ligat ke ulu hati bagai teka-teki. Entah kenapa ia merasa perlu bertanya kali ini, bagaimana bisa ia terpasah seperti ini? Di jambar inilah, ia mengistirahkan segalanya, tentang kenangan ganjil menuju sebuah perjalanan asing, karena ia tidak tahu harus memulai dari mana. Jamung di samping jambarnya terus berkobar, memberi kabar dan kisah perjalanan yang tak pernah selesai.
“Setiap tanda selalu membawa isyarat. Setiap isyarat membawa kebenaran yang akan tenggelam.”
***
Aku benar-benar tidak tahu, kenapa Ibu jika mendongak ke angkasa selalu kelihatan begitu bahagia. “Seperti bintang kutub utara, jatuh cinta,” katanya.
Aku ini katanya mirip dengan Ayah sehingga aku merasa selalu takut kalau tumbuh jadi besar, jadi dewasa. “Jika tertimpa sinar matahari, bulu matamu berwarna coklat keemasan.”
Kata Ibu, Ayah adalah mahluk luar angkasa. Ada selaputnya. Pesawat Ayah pergi ke Bulan. Di angkasa, pesawat itu menyusup meliuk ke langit seperti warna buah pir keemasan, keperakan, berkibar-kibar gemerlapan. Gemerisik pasir percik-api pesawat Ayah jadi terlihat karena cahaya Bumi. Ketika langit berganti rupa biru gelap, pesawat itu tampak begitu jauh, menyilaukan biji mata.
Saat bulan penuh, jika cuaca cerah, pangkalan di bulan akan terlihat jelas. Atap kubahnya bersinar. Bersinar seperti perak. Lalu Ibu akan berteriak bahagia ke angkasa, “Itu adalah mahluk luar angkasaku!”
Ketika masih kecil, setiap menjelang tidur, Ibu akan bercerita kepadaku tentang banyak hal dan banyak cerita. Ibu tahu, aku suka sekali dengan cerita-cerita dan aku tidak bisa tidur tanpanya, walaupun pada akhirnya aku tidak pernah tahu bagaimana akhir cerita-cerita itu karena aku telah terlelap kemudian. Dari semua cerita yang pernah Ibu ceritakan, yang paling kusukai adalah cerita tentang Ayah.
Ibu bercerita tentang masa kelahiranku. Saat itu Ayah sedang berada di atas perahu perak di seberang Bulan, mendengarkan radio. Saat itu mengalunlah lagu “Kanon Silver Harbour”. Lalu Ibu pun akan menatap bola mataku sangat dalam, seperti tengah mencari sekeping koin perak yang terjatuh di sebuah danau jernih yang dalam di sana. Ibu terkagum-kagum dengan mata binar dan berkaca-kaca sambil memegang kedua pipiku dengan kedua tangannya yang hangat. “Baik mata, maupun mulutnya benar-benar mirip. Kau benar-benar duplikat Ayah,” kata Ibu tersenyum. Terharu. Aku pun hanya diam menatap tatapan itu.
Tetapi Bu, aku lebih suka seperti Ibu....
***
Kepulangan malang dari petualangan panjang. Ia telah melihat, merasakan, dan mendengar semuanya. Sesuatu yang dicarinya selama ini tidak pernah bersembunyi. Namun, kini semuanya terlambat. Di halai-balai jambar ini, matanya telah buta.
“Ia ada di sana!”
Terdengar teriakan seorang lelaki yang tidak asing di telinga Lawalata. Sejenak ia mendengar alunan tabuh tifa, masih sedikit samar, namun ia yakin dapat mendengarnya dengan sangat jelas. Telinganya lebih peka dan tajam dibandingkan dahulu sebelum ia tidak dapat melihat seperti sekarang ini. Ia masih mengingat ketika beberapa orang dari Mahasa membawanya dan orang-orang lainnya yang bernasib sama ke sebuah pulau kecil, yang masih menjadi bagian Pulau Ganjil—begitulah ia menyebutnya. Ia tahu, ada yang tidak beres, sesuatu yang telah merasuki dan menyusup geliat ke dalam tubuhnya sehingga orang-orang itu merasa jijik dengannya.
“Mungkin Anda akan membutuhkan sehelai saputangan ini. Ambillah, hanya ini yang tersisa.”
“Baiklah. Terima kasih.” Ucap Lawalata begitu tenang, namun berbalut gelisah.
Suara itu, seperti tidak asing dalam ingatannya. Suara seorang lelaki tua yang selalu muncul tiba-tiba dalam setiap mimpinya. Ia mulai bertanya-tanya, apakah semua tanda, isyarat yang dilihat pikiran dan yang dirasakan oleh tubuhnya adalah bukanlah kesia-siaan? Ingatannya semakin tertarik kembali berpuluh-puluh tahun ke masa depan (ataukah sebenarnya masa lalu?). Ingatan itu terus memanjang meregang, berpintal-pintal dalam nujum waktu yang kelu. Suara-suara yang tak dikenalnya, wajah-wajah yang memanggil, menghempas-lipat dalam lorong-lorong melengkung. Ingatan itu semakin membuat kepalanya bertambah sakit.
Ia ingat, seorang lelaki tua bernama Saina yang pernah ia jumpai di sebuah Kota Bukit, di sebuah negeri yang amat jauh. Sebuah kota yang tenang dengan hamparan padang anggur dan lavender. Ia baru menyadari ketika pertemuannya dengan lelaki tua itu terasa aneh. Namun, terkadang ia lebih suka menyebutnya gila. Iya, ia suka dengan hal-hal gila, tidak masuk akal, mengejutkan, sehingga pertemuannya dengan lelaki tua itu terasa harus ditakdirkan. Ketika pertemuan pertama kali itu, si lelaki tua pernah mengucapkan kalimat-kalimat aneh yang tidak masuk akal, “Kita adalah mahluk luar angkasa yang melintasi ruang. Berputar berkisar melengkung di dalam lubang di antara waktu hampa dan kosong.”
            Lawalata terdiam. Mahluk luar angkasa? Apakah lelaki tua ini memang sebenarnya adalah orang gila? Orang gila yang telah melarikan diri dari Rumah Sakit Jiwa dan tanpa sengaja bersinggungan dengannya di Kota Bukit ini. Sungguh. Ia tidak dapat menerjemahkannya dengan masuk akal.
            “Aku tahu kau suka hal-hal gila dan irasional, seperti ayahmu dahulu. Ingatlah, bahwa setiap tanda selalu membawa isyarat. Setiap isyarat membawa kebenaran yang akan tenggelam,” lelaki tua itu melanjutkan tanpa merasa canggung berbicara hal semacam itu kepadanya.
“Ayahku?” Rupanya lelaki tua itu telah mengenal ayahnya dengan baik. Memang Lawalata mengetahui betul bagaimana ayahnya. Ayahnya memang sangat menyukai hal-hal yang irasional, tetapi apakah tampak jelas pula di wajahnya bahwa ia pun orang yang seperti lelaki tua itu telah katakan: menyukai hal-hal yang irasional? Sungguh.
Ia tidak merasa aneh tentang hal-hal seperti itu, karena pekerjaannya selama ini adalah meneliti hal-hal yang dapat menjadi sebuah kemungkinan ada, terjadi, dan dilakukan. Bahkan, ia pun memiliki laboratorium pribadi di rumah barunya di kota ini. Pertemuannya dengan lelaki tua itu pun kemudian berlanjut berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun....
 Pada akhirnya, setelah pertemuannya tumbuh dengan lelaki tua itu, maka ia pun melakukan perjalanan waktu melintasi ruang-ruang seorang diri melalui warphole(1), lubang menyesatkan. Ia ingin melihat perjalanan ayahnya—sebagaimana yang ia baca di buku catatan harian sang ayah, ketika tengah melayang terapung di atas kapal Ida Elizabeth yang tengah berlayar di samudera Atlantik pada tahun 1864 menuju sebuah Pulau Ganjil(2).
Namun, tanpa diduga, perjalanan itu telah menjebaknya di dunia lampau sebelum ruh tubuhnya belum terencana dan tercipta. Kini, ia terjebak dalam sebuah leproseri bersama pesakit-pesakit lain di pulau terpencil. Ia tidak dapat menemukan daun Hura crepitians brasiliensis(3) di tempat terpencil ini untuk mengobati luka-luka yang menjijikkan ini, saat para perompak itu tiba-tiba menyerangnya dan menyergap  penduduk di wilayah terpencil itu, ketika ia hendak menyeberang ke Mahasa untuk ketiga kalinya. Para perompak itu berlabuh di bibir pantai dengan perahu-perahu yang dikayuh dua baris dayung: satu baris di atas dan satu baris di dasar perut perahu, sambil diiringi alunan tetabuhan kolintang atau tifa.
Dan saat ini ia telah mendengar suara lelaki tua itu dengan sangat jelas, walaupun di luar, hujan turun tidak begitu kentara. Suara lelaki itu telah memberi ketenangan baginya, kebahagiaan seperti alun melodi gerimis lagu lenor, nyanyian anak-anak Mahasa memanggil hujan. Suara lelaki itu mengiang kian merdu dan lembut di telinganya. Sungguh berbeda ketika ia mendengar suara itu dalam mimpinya. Apakah ini bernama isyarat? Sejenak ia termenung menghitung-hitung peristiwa (ataukah tanda?).
Kini, dari jauh sana, suara tetabuhan yang tadi terdengar samar itu pun kian jelas, kian kuat merambat gegas ke dalam tubuhnya bagai sipongang. “Setiap tanda selalu membawa isyarat. Setiap isyarat membawa kebenaran yang akan tenggelam.” Begitulah, di luar sana perlahan-lahan rincik hujan semakin deras dan mengeras....
***

bumi singgah, 2008-2009


Keterangan:

(1)   Istilah populer fiksi ilmiah, yaitu semacam teknologi yang bisa membuat manusia berjelajah dengan menembus jarak yang sangat jauh dalam masa yang singkat, bahkan bisa menembus ruang waktu menuju zaman lampau dan masa depan. Diistilahkan juga sebagai wormhole (fiksi ilmiah juga istilah sains) berdasarkan aktifitas black hole (lubang hitam) di luar angkasa, yang secara fisik merupakan sebuah hipotesis dari segi topologikal ruang-waktu yang pada dasarnya sebuah “jalan pintas” untuk menembus angkasa dan masa.
(2)   Pada sekitar pertengahan abad ke-19 atau sekitar tahun 1980-an, seorang pendeta bernama N. Graafland melakukan perjalanan misionaris ke daerah Minahasa, kawasan paling utara Pulau Sulawesi dan semua catatan perjalanannya kemudian dibukukan dengan judul De Minahasa: Haar verdelen en haar tegenwoordige toesstand (Rotterdam: M. Wyt & Zonen, 1986).
(3)   Daun dari tumbuhan yang termasuk genus/ golongan pepohonan tropikal dari Brasil, yang bisa menyembuhkan secara keseluruhan atau sebagian luka pada penderita penyakit kusta.



*) Dimuat di Ujung Laut Pulau Marwah – Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia III (Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, 2010.

No comments:

Post a Comment

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi

Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...