September 29, 2012

Kardiman dan Tuhan


Pintu kamar terbuka pelan-pelan, hampir tak dapat membangunkan suara dengkur yang dari tadi terus menyalak. Bunyi pintu masih kalah dengan nyanyian jangkrik dalam kelam. Lelaki setengah baya itu berjalan keluar seperti maling, mengendap-endap. Kali ini harus lebih berhati-hati, jangan sampai kekasih abadinya terbangun, seperti malam Jumat minggu lalu. Dengan kaki berjinjit, lelaki itu akhirnya bisa meninggalkan istrinya tanpa keributan lagi. Masih terngiang peristiwa malam Jumat lalu, ketika sang istri bangun dan memergokinya kabur dari ranjang.
“Hmm... mau ke mana lagi, Pak?” tanya istrinya termangu-mangu, maklum masih ada mimpi yang belum sempat ditamatkannya. Kisah romantis telenovela, yang tadi siang bersambung.
“Jam berapa ini? Belum subuh, kan?” lelaki perawakan kecil dengan rambut klimis dan beruban itu tampak kebingungan. Jam dinding menunjukan pukul sebelas. Sudah hampir ketiga kalinya kepergok dan lelaki jangkis itu kalah bersiasat.
Akhir-akhir ini, Kardiman memang sering keluar malam, khususnya malam Jumat. Seperti sebuah rutinitas yang menyenangkan ketika lelaki sederhana itu mulai penat dengan seisi rumah.
Objekan pekerjaan Kardiman tidak datang setiap hari. Uang yang dikantongi tidak setimpal dengan pekerjaannya selama ini—mengangkut batu dan pasir di kali. Sungguh melelahkan dan uang yang didapatnya hanya cukup untuk makan sebulan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari lainnya. Itu pun masih harus ngutang sana-sini. Pekerja kasar memang harus berbagi upah dengan pekerja kasar lainnya. Dan tentu saja, sirkulasi terselipnya uang lebih, mandor yang atur. Jika protes, pasti kena pecat. Kardiman memilih diam dan pasrah.
Sebelum menjadi tukang batu dan pasir, Kardiman pernah bertani. Namun entah kenapa, tanah di kampung itu seperti terkena kutukan. Tak mau mengunyah benih. Hasil panen tak pernah memuaskan. Bukannya untung, malang buntung. Pinjam uang ke tengkulak, Kardiman mana mungkin berani. Dia tidak mungkin menjadikan tanahnya sebagai jaminan, karena tanah itu merupakan harta warisan terakhir satu-satunya yang diberikan orangtua Kardiman untuk modal menikah.
Sedangkan istrinya hanya bekerja di sumur, dapur, dan kasur. Tak sedikit pun membantu dalam keuangan. Bukan tidak mau membantu, tapi siapa lagi yang akan mengurus rumah dan segala perabotan, juga Kardiman selain dirinya. Mengayomi suami sepenuhnya, hanya kepada suami. Rumah tangga yang masih bertahan selama duapuluh tahun, tanpa anak, rumah seperti tempat asing yang senyap. Entah siapa yang harus disalahkan, Kardiman, istrinya, atau Tuhan?
“Sabar saja, Pak... ini sudah nasib kita,” ucap istrinya ketika Kardiman mulai kesal dan termenung di bale-bale. Sudah lama Kardiman bersabar. Sedangkan pekerjaan istrinya hanya bisa bersabar dan menyabarkan suami tercinta. Kehidupan yang panjang ini seperti kiamat Kubro bagi Kardiman. Kehidupan yang sangat kekurangan ini sudah membuat diri Kardiman muak. Kawan-kawannya telah jadi orang semua, sedangkan ia masih bergelut dengan batu-batu dan pasir. Kardiman telah lelah bersabar. Mungkinkah Tuhan menakdirkannya menjadi orang miskin dan tanpa dianugerahi seorang anak pun?! Sampai kapan?! Rupanya Kardiman telah kehilangan kesabaran dan keyakinannya.
Konon, rumah tangga mereka bisa dibilang bahagia dan berkecukupan. Dapat dimaklum karena masih dalam tahap perkawinan muda usia. Kala itu, mereka rajin beribadah, memohon untuk kehidupan yang lebih baik. Dan tentunya seorang anak, yang katanya dapat meramaikan rumah supaya lebih menyenangkan. Kardiman teringat sebuah pepatah, jikalau banyak anak, banyak pula rejekinya. Bagi Kardiman, pepatah itu bukan hanya sebagai warisan amanat dari keluarganya terdahulu.
Tahun berganti tahun. Musim berlewat musim. Kehidupan rumah tangga mereka masih baik-baik saja. Mereka masih taat beribadah, beramal, rutin menghadiri pengajian-pengajian di setiap mesjid di kampungnya. Bahkan sempat berkonsultasi dengan dukun beranak setempat agar cepat dapat momongan. Namun, keadaan tetap tak pernah berubah. Akhirnya lambat laun melunturkan sedikit demi sedikit keyakinan Kardiman terhadap jerit payah yang telah dilakukannya sampai berkeringat peluh. “Kita toh sudah berusaha, Pak. Sabar saja.... “
“Sabar...sabar... lama-lama kesal juga Bu! Mungkin Tuhan lebih menyayangi Ibu daripada aku, ya?” timpal Kardiman sambil berjalan ke luar rumah dan duduk santai di bale-bale. Merokok dan minum kopi pahit, seperti biasa. “Tuhan hanya menjadikan keluarga ini bahan kutukan saja”. Kardiman pikir percuma mendengarkan semua perkataan istrinya, dia bisanya cuma pasrah dan pasrah. Terlalu banyak berusaha, namun hasilnya tetap nihil. Kardiman cemburu dengan para tetangganya. Sudah setengah baya itu, mereka telah menggendong cucu dan setiap Idul Fitri, pasti ramai. Hmm... Kardiman hanya menunggu.
Sampai suatu hari, Kardiman diajak salah satu kawan buruh yang bekerja di sekitar kali itu, untuk ikut dalam sebuah perkumpulan. Katanya sih, acara khusus bagi laki-laki yang kurang bahagia. Katanya juga di sana akan sesak orang-orang, yang kebanyakan berasal dari kota semua. Kardiman ikut saja, tanpa berpikir panjang. Karena dia merasa memang tidak bahagia, mungkin orang-orang dari kota itu bisa memberikan perubahan pada kehidupannya yang selama ini membosankan.
Namun, acara perkumpulan ternyata jauh dari bayangannya selama ini. Banyak kata-kata istilah atau bagi mungkin Kardiman terkesan sangat ilmiah. Mana becus Kardiman mengerti maksud istilah-istilah yang selama ini sangat asing di telinganya. Kadang Kardiman tidak mengerti yang dibicarakan dalam perkumpulan itu. Kata-kata atau mungkin mantra-mantra itu berbau tidak jelas. Maklumlah bila Kardiman tidak mengerti kata-kata itu, karena sekolahnya hanya sampai kelas enam Sekolah Dasar, di kampung pula.
Kardiman tak pernah mempertanyakan atau memusingkan istilah-istilah itu, takut nanti malah tambah pusing. Lebih baik Kardiman menikmati hidangan dan obrolan-obrolan santai itu. Itu sangat lebih dari cukup. Kardiman rajin hadir dalam setiap pertemuan. Daripada tidak ada kerjaan, lebih baik mengobrol semalam suntuk agar tak membosankan, pikir Kardiman. Karena selama mengikuti acara perkumpulan itu, Kardiman merasa semakin berkurang daya stresnya. Pikirannya jadi agak lumayan tenang. Dan entah kenapa pula Kardiman tidak pernah sedikit pun mempertanyakan, kenapa pertemuan itu harus diadakan malam hari dan tersembunyi? Mungkin Kardiman terlalu hanyut dalam obrolan dan hidangan.
Akhir-akhir minggu ini, Kardiman semakin tambah rajin menghadiri pertemuan perkumpulan dan mulai jarang beribadah jemaah dengan istri atau pun pergi ke mesjid. Bila ditanya istrinya, kenapa Kardiman belum mengerjakan ibadahnya, seribu satu alasan Kardiman bersiasat kepada istrinya. Kardiman selalu berkata mau inilah-itulah, mau istirahat dulu, atau sudah mengerjakan shalat di mesjid, atau badan pegal-pegal minta dipijitin dan akhirnya meringkuk berlayar mimpi.
Sikap Kardiman mulai tak sabaran, selalu emosi, dan kini Tuhan baginya adalah angan saja1. Lama-kelamaan Kardiman pun meninggalkan ibadah-ibadahnya itu dan semakin rutin bercokol ke pertemuan sehingga akhirnya dipercaya untuk menjadi salah satu pengurus perkumpulan itu.
Istrinya sempat mencurigai Kardiman karena sikapnya mulai berubah, sedikit aneh, namun istrinya tidak berani bertanya karena takut dengan sikap Kardiman yang akhir-akhir ini kasar. Istrinya berpikir, mungkin Kardiman sedang kelelahan dan butuh ketenangan.
Hingga tiba suatu malam rasa curiga itu tidak terbendung lagi dan Kardiman bertengkar seru dengan istrinya.
“Kalau kita sabar...InsyaAllah Tuhan akan mendengar doa-doa kita dan memperlihatkan hasilnya,” sambung istrinya.
“Tuhan yang mana?”
“Opo2 sih, Pak?! Eling koe3!” istrinya kaget mendengar jawaban suaminya itu.
“Semua itu hanya omong kosong saja!”
“Tidak ada Tuhan, karena manusia hanya sendirian”. Istrinya semakin heran.
“Tuhan itu hanya hasil ciptaan manusia saja, Bu! Rahasia di belakang Tuhan itu adalah manusia sendiri. Tanggungjawab manusia sendiri atas kehidupannya,” jelas Kardiman.
Istrinya semakin bingung dan tidak mengerti. Telah disanggahnya semua pernyataan-pernyataan suaminya itu, namun setiap perkataannya semakin gasal. Istrinya tidak kuat lagi, tidak mengerti. Kemudian istrinya lari ke kamar sambil menangis terisak-isak, menutup pintu keras-keras. Kardiman hanya terdiam di ruang tengah rumahnya.
**
Setelah beberapa bulan setelah peristiwa itu, Kardiman dan istrinya akur kembali. Kardiman meminta maaf kepada istrinya, bahwa selama ini dirinya masih baik-baik saja. Kardiman coba menjelaskan, bahwa malam itu dirinya sedang labil, kesal ,dan akalnya jenat untuk sesaat. Istrinya coba memaklumi, karena dia mengenal suaminya sebagai ahli ibadah dan rasanya tidak mungkin pernyataan-pernyataan itu keluar dari mulut suaminya tercinta. Suaminya mungkin sedang khilaf.
Kehidupan mereka kembali seperti biasa lagi. Kardiman semakin berbaik hati kepada istrinya. Kardiman takut kebiasaannya yang setiap malam Jumat itu, suatu saat diketahui istrinya.
Kardiman pun kembali beribadah seperti biasa. Namun, itu hanya berlangsung beberapa minggu saja sampai istrinya sudah tidak lagi menyadari tingkah suaminya itu.
Setelah semuanya kembali normal, Kardiman semakin rajin datang ke scara pertemuan perkumpulan itu. Kardiman semakin banyak berfilosofis. Orang-orang kota itu tampak bangga dengan kemajuan Kardiman setiap harinya. Tampak pula Kardiman semakin mahir mengendalikan emosinya, juga bualan-bualannya kepada sang istri. Pasti istrinya berpikir karena Kardiman semakin sabar dan rajin beribadah. Tahun berganti tahun. Musim berlewat musim. Istrinya merasa sekarang ini, suaminya tidak pernah mempersoalkan tentang anak lagi. Di mata istrinya, Kardiman semakin bijak dan tenang.
**
Suatu ketika warga di kampung itu geger. Isu tersebar ke segala penjuru kampung dan sampai di telinga-telinga kampung seberang. Menjadi buah bibir dalam waktu singkat saja. Lebih seru daripada acara gosip atau kriminal berita di teve. Warga kampung semakin penasaran. Orang-orang dari kampung seberang pun datang berduyun-duyun ingin melihat kejadian yang sebenarnya. Aneh bin ajaib. Apalagi dengan istri Kardiman sendiri, kaget setengah mati! Tak bisa dipercaya semua perbuatan murtad suaminya. Semuanya serba menjadi tanda tanya. Tak ada fakta yang kasatmata
“Masa ada Tuhan kedua?! Apa ada, gitu?!” warga keheranan.
“Ya...mungkin saja, jeng4!”
“Ah!!! Tahayul besar-besaran. Tak bisa dipercaya!”
“Nah! Kalau benar?! Bagaimana?” warga semakin ditambah pusing seribu keliling.
“Toh! Si Tamin sendiri yang bilang begitu kok! Katanya dia lihat si Kardiman telah membunuh Tuhan....” warga melongo.
“Opo iyo5, toh?!” Semua hanya diam penuh tanda tanya, saling menatap dan bergeleng kepala. Dan pergunjingan warga di kampung pun menjadi arena ring gosip yang seru.
Tamin, salah satu warga di kampung itu dan dialah yang mengajak Kardiman bergabung dengan perkumpulan tersembunyi itu. Perkataan Tamin memang selalu dipercayai warga kampung sekitar. Seolah seluruh kisah-kisah yang diceritakannya kepada orang-orang adalah hal yang nyata terjadi. Entah, alasannya apa. Padahal di kampung asal muasalnya lahir, yang jauh di ujung pulau sana, Tamin dikenal sebagai pembual. Tamin memang pandai berkisah.
Istri Kardiman hanya bisa menangis dan pasrah saja, menyerahkan semuanya kepada Tuhan. Mungkin saja Kardiman diculik penjahat, atau mungkin Kardiman melayat saudaranya di pulau seberang sana, tanpa pamitan dan memberitahukan istrinya. Kardiman lenyap tanpa jejak seperti buih ombak ditelan lautan. Seonggok tubuh Kardiman pun lenyap entah di mana. Dan entah dari mana pula isu itu muncul dan menjamur. Istri Kardiman hanya menerima sepucuk kertas yang diberikan Tamin, setelah merebaknya isu lenyapnya Kardiman. Tamin bilang, bahwa Kardiman takkan pernah kembali untuk selamanya. Namun, istri Kardiman tak percaya semua itu. Dia yakin suaminya pasti kembali dan mereka akan berkumpul lagi sebagai keluarga yang bahagia. Sepucuk surat itu menggigil di tangan istrinya. TUHAN TELAH MATI.
***

bumi singgah,
April 2005


_____________________________________________________________
Keterangan:1Terilhami oleh puisi “Simphoni” karya Subagio Sastrowardoyo.2Bahasa Jawa, artinya’ Apa’.3Bahasa Jawa, artinya ‘Sadar Kamu’.
4Dalam bahasa Jawa, artinya ‘adik perempuan’ (sapaan).
5Bahasa Jawa, artinya ‘Apa iya’.



Dimuat dalam antologi cerpen Dilarang Menangis! (Kakibuku, 2005)

No comments:

Post a Comment

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi

Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...