September 29, 2012

Ada yang Terisak dalam Dekap


 Sekali perahu kembangkan layar lebih baik tenggelam daripada balik di tengah jalan1. Kata tuah terakhir dari seorang yang terkasih atau mungkin hanya sebagai alamat pulang ke kehidupan yang akan diarungi kemudian? Sungguh, ia tak pernah tahu. Ketika malam melangkah kisruh dan menjaring kembali seluruh kenangan, mungkin ingatan, ia hanya mampu mengingat badai, deru ombak, dan paluh yang menggerus cadik, katir, dan sabang. Ingatan yang kemudian merembihkan derai pematang sungai pada reluk wajahnya dan dengus alun nafas yang putus-putus.
Laut adalah kesunyian yang menggelanggang, penuh misteri. Gelombang yang membawa dendang riang kenangan, sendu, bahkan kematian. Batu karang memberi rintih abadi bagi deru pacu dan ringkik ombak di tepian tanjung. Ada yang selalu mengayuh diam, memiuh sepi, dan membakar dingin. Ada yang selalu menatap dendam, sedih, dan rindu. Namun, ada yang selalu tak pernah akan berubah, takdir! Mungkin juga seperti badai yang selalu memeram sengkarut kisah dari dendam, rindu, cinta, dan kesetiaan para petualang. Dan sesuatu yang bernama kepulangan, hanya bermaktub pada catatan kaki dalam kitab berjudul kenangan.
Perempuan kisut itu sudah terlalu letih dan renta. Kini hidupnya cukup menjadi kondo’na boyang, Ibu rumahtangga yang pulang-pergi dari hari pasar di pasar kecamatan sebagai penjual ikan dari hasil tangkapan saudara dan keponakannya. Bila tak habis terjual, maka ia segera mengawetkan ikan-ikan itu dengan es kemudian pada keesokkan harinya, bila bukan hari pasar, ia akan pergi ke Tinambung yang beberapa kilometer ke sebelah barat dari kampungnya. Walaupun jarak yang ditempuh sangat jauh sehingga remai-lah jisimnya, hal itu bukan masalah, karena anak semata wayang menanti segenggam harap bagi lapar dan dahaga, juga impian.
***
Tiga malam sebelum berangkat motangnga, sore harinya, Amma’ Mina telah mengatur menu untuk ritual kuliwa. Ritual khas ini merupakan “penyeimbang” antara harapan dengan rezeki dalam segala usaha yang akan dilakukan. Sebagai istri seorang punggawa posasi’—nahkoda, ia jangan sampai melupakan segala sesuatunya. Semua ini demi mendapatkan keselamatan dan rezeki bagi seluruh awak kapal saat berlabuh. Sokkol dan cucur telah diletakkannya di dekat posi’ boyang. Kedua menu makanan itu pun jangan sampai terlewatkan. Ritual berjalan lancar, dari awal ritual sampai suaminya, Mustafa, melumuri bagian depan lambung sande’—perahu bercadik khas sukunya dengan layar segitiga—dengan pasir pantai. Amma’ Mina berdoa khusyuk, mudah-mudahan cuaca tak kikir angin pada musim timur kali ini dan permukaan laut akan tenang karena akan sangat kurang menguntungkan bagi perahu yang mengandalkan angin, seperti sande’. Bila berlabuh cepat, suaminya dan para sawi atau anak buah kapal, akan mendapatkan hasil tangkapan yang berlimpah.
Suasana sungguh riuh semarak ketika seorang sawi memboyong menu ritual keluar rumah lalu diburu oleh anak-anak yang menginginkan menu ritual itu. Sesampainya di perahu, barulah habis semua menu ritual diborong anak-anak penuh girang. Ia pun tak lupa mengingatkan suaminya untuk menangkap Dingkis lebih banyak. Telur ikan itu kesukaan Amma’ Mina. Suaminya hanya mengangguk lalu tersenyum manis kepadanya. Melihat renjis wajah suaminya, Amma’ Mina merasa tersindir.
            Namun kemudian ada sesuatu yang menghantarkan Amma’ Mina pada sebuah kegelisahan. Sebuah duga yang tak disangkanya ketika itu. Malam sebelum diadakannya kuliwa, Mustafa mengutarakan keinginannya untuk berhenti mengejar ikan terbang. Ingin ditambatkannya perahu itu ke selat lain. Entah kenapa, Amma’ Mina seperti melihat sesuatu yang gasal pada wajah suaminya. Dirinya dan warga kampung telah sangat mengetahui dan menyadari, bahwa suaminya adalah seorang passande’ sejati, seorang pelaut ulung dengan perahu sande’. Telah bertahun-tahun berlayar, berburu beribu-ribu Raja. Lalu apa yang membuatnya tiba-tiba berubah pikir seperti itu. Secepat itu. Kekhawatiran apa yang tak sanggup dibagi suaminya bersama Amma’ Mina? Ia pun tahu, bahwa usia Mustafa belumlah menginjak setengah abad. Mustafa muda yang kaya pengalaman, semua itu ia dapatkan dari ayahnya dahulu, seorang punggawa posasi’ sejati. Namun malam kian beringsut ganjil dan semakin menggigil. Kegasalan itu hanya menjadi udara beku pada bibir Amma’ Mina yang tak sanggup berbicara.
***
            Ia basuh keringat yang bercucuran menuruni tebing pipinya. Seperti biasa, udara panas siang itu masih mampu dikalahkannya. Menunggu lama ia di jenjang pintu.  Matanya meraba seluruh hamparan pasir-pasir dan bangkai perahu yang enggan berlaju. Dilihatnya katir yang lepas lunglai dari lengan cadik. Perahu-perahu yang dulu hidup bersamanya, kini halai-balai tak berdaya. Sande’-sande’ itu telah dikalahkan. Dok tak punya musim beristirahat atau bekerja. Musim-musim berhenti merenyapkan angin. Namun, tidak baginya. Dari tempatnya sekarang, ia dapat berlari ke anjung-anjung, ia tegakkan andang-andang lalu dihempaskannya tros dari tanggul itu. Segera dilarikannya perahu-perahu menuju pesolot di ujung matanya. Ia bentangkan layar. Berlabuhlah! Berlabuhlah! Lalu dikejarnya su’ba, kerumunan ikan itu, dengan seruan pasti kepada Baruna, sang penguasa laut, tapi tetap ia urung tak berdaya. Selalu tidak berdaya jika tiba-tiba seseorang yang terlampau sangat dicintainya, belingsat dalam ingatan.
Ada yang selama ini ia rindukan, Lopi sande’na malolo; Perahu sande’ yang cantik. Di jenjang pintu itu, ia dapat mengkhayalkan segala mimpinya. Tak ada yang melarang atau menggubrisnya tiba-tiba. Ia dalam kesendirian. Namun, mimpi itu hanya menjemputnya sesaat saja. Lalu kepalanya akan menunduk dengan wajah kesah. Ya, kembali ia mengingat lagi percakapan itu semalam.
“Cukup jadi po’angga’ saja. Dengan seperti itu pun, hidup kita masih lebih dari cukup. Perutmu takkan keroncongan lagi” tukas Amma’ Mina.
“Kawan-kawanku semuanya jadi sawi. Melaut!”
“Rupanya telah kau dengar juga cerita itu…” wajah Amma’ Mina melemas.
“Lopi sande’na malolo. Tidakkah kita menginginkannya kembali? Aku bisa menggantikan ayah melaut dan ibu menyiapkan ritual…,”
“Hentikan!!! Sudah cukup perjuangan ayahmu diwakili olehnya sendiri. Dan sekarang, hiduplah kita apa adanya saja…” berlalulah segera perempuan itu ke dapur, terisak.
Ubahudin mafhum. Ia terdiam. Ibu tercinta telah dilukainya. Perempuan yang mengasuh dan membesarkannya selama ini, seorang diri. Ya, hanya seorang diri saja perempuan itu menjaga anak semata wayang; Ubahudin, lari dari kenangan, mungkin pula ingatan, dan kesu-kesi warga kampung.
Amma’ Mina melakukan semua pekerjaan sendirian, tanpa kecuali pekerjaan lelaki sekalipun, demi anak semata. Setiap hari pulang-pergi dari pasar kecamatan, jarak berpuluh-puluh kilometer dilaluinya bersama keringat, muai udara, pekik debu, kaki rengkah, lecet, bahkan sempat dengan cucuran air mata. Entahlah. Ketika itu, Amma’ Mina sempat menyerah, setengah kalah melalui kehidupan ini sendirian tanpa sanak saudara yang membantunya. Amma’ Mina masih muda dan cantik, tapi ia tidak ingin menikah lagi. Kenangan itu, mungkin ingatan, tidak dapat lenyap dari pikiran dan hatinya. Terlalu menyakitkan, bahkan nanti dapat menyakiti orang yang berada di dekatnya. Namun kemudian, ia dibangunkan oleh suara tangis Ubahudin kecil di malam kelam kala itu. Ya, suara tangis yang setia menemani kehidupannya hingga sekarang agar tak henti berjuang. Seperti tangis gasal Mustafa malam itu ketika terakhir kali pergi melaut.
***
Laut selalu penuh misteri. Tak ada yang dapat diduga. Alam adalah keheningan yang bersiasat. Sunyi menggelanggang. Gelombang yang membawa dendang riang kenangan bahkan kematian. Batu karang memberi rintih abadi bagi deru pacu dan  ringkik ombak di tepian tanjung. Ada yang selalu diam, sepi, dan dingin. Ada yang selalu menatap dendam, sedih, dan rindu. Ada yang selalu tak berubah; takdir, seperti badai. Seperti malam kisruh ketika Mustafa dan para sawi melajukan sande’ menantang ricuh gelombang laut dan gemuruh rusuh angin yang membentangkan layar. Bulir-bulir air terbang, menampar wajah-wajah nanap para pelaut. Mengombang-ambing kapal wasiat nenek moyang. Layar semakin kencang, meringis, menahan arus kencang angin yang berang. 
“Putar haluan!!!” teriak Mustafa
“Sebentar lagi. Lihat ikan-ikan itu!”  teriak salah seorang sawi sambil menunjuk ke arah ikan-ikan terbang yang berlompatan lalu lindap.
“Tidak! Tidak akan bertahan lama! Kita kembali! Aku sudah tahu!”
“Kita kembaliii!”
“Putar haluan! Putar haluan!”
“Layaaaaar!!!”
Kemudian semua awak kapal berpegangan pada tali di tiang layar. Mereka berdoa dan berharap dalam degup, dapat selamat dari amuk badai yang tiba-tiba jelang tanpa duga. Dan tiba-tiba mereka (harus) mengingat semua kenangan, mungkin ingatan, istri tercinta dan anak-anak, sanak saudara, dan pottana—daratan. Namun, cuaca tak dapat diduga karena ia datang tiba-tiba. Begitu pula badai yang mengerumus sande’ dan para awak kapal. Semuanya lindap, terlambat, namun tetap ada yang bersisa seperti puing-puing patahan kayu, katir, tiang layar, kain layar yang terkulai, dan berkolek-kolek nyawa di lautan menjadi epitaf sunyi. Usai badai, laut kembali berdamai. Seperti tak ada jenjang antara laut dengan langit, hanya hamparan biru yang mengharu.
***
           Setahun lewat hingga akhirnya amuk badai kembali berlayar ke daratan. Tertambat di daratan hati Amma’ Mina dan Ubahudin kecil, yang kini hidup berdua tanpa sanak saudara. Sebenarnya tetangga di sekitar rumah Amma’ Mina adalah  sanak saudara dari Mustafa, namun mereka tak menghiraukannya lagi setelah Mustafa tiada. Amma’ Mina harus dapat hidup sendiri. Berjuang sendiri demi Ubahudin kecil, malaikat titipan dari Mustafa, suami tercinta.
Sebelum kesu-kesi menjamur di telinga warga kampungnya yang berkisah tentang pelayaran motangnga di malam berang, hidup mereka baik-baik saja. Semuanya rukun dan tenang, seperti hari-hari biasa kehidupannya dahulu ketika Mustafa masih bersamanya. Kini, kisah itu menjadi luka dan badai baru dalam kehidupan Amma’ Mina. Hati Amma’ Mina sungguh pilu karena tak pernah ia menduga akan membesarkan seorang anak laki-laki sendirian, tanpa seorang ayah! Amma’ Mina takut, apakah ia sanggup melewati semua rintangan hidup sendiri bersama Ubahudin kecil. Dan ketika Amma’ Mina tahu, bahwa keluarga Mustafa tidak terlalu menyukainya karena ia berasal dari kampung seberang, seorang perempuan Bugis sejati2, ia mulai sadar diri lalu menyendiri.
            “Mustafa sudah tahu. Ia pun tahu tentang pa’issangang aposasiang, bahkan tahu juga pa’issangang asumombalang” ujar Kandaenna Afah.
            “Mustahil bisa tenggelam,” timbal seorang warga kampung yang lain.
            “Ayahnya seorang punggawa posasi’ sejati. Begitu pula ia,”
            “Belangnya bagus. Kokoh!”
            “Dahulu pun mereka pasti kembali. Badai berang tak jadi masalah bagi sande’ sebuas itu”
            “Ritual kuliwa berjalan lancar. Disiapkan oleh istrinya dengan baik…,”
            “Istrinya?!” Kandaenna Afah mengernyitkan dahi.
            “Iya, malahan waktu itu Pamanku sendiri yang membawakan menu ritual itu ke perahu”
            “Hmm…”
***
            Ia basuh keringat yang bercucuran menuruni tebing pipinya. Seperti biasa, udara panas siang itu masih mampu dikalahkannya. Menunggu lama ia di jenjang pintu.  Matanya meraba seluruh hamparan pasir-pasir dan bangkai perahu yang enggan berlaju. Dilihatnya katir yang lepas lunglai dari lengan cadik. Perahu-perahu yang dulu hidup bersamanya, kini tergolek tak berdaya. Sande’-sande’ itu telah dikalahkan. Laut selalu penuh misteri. Sunyi menggelanggang. Gelombang yang membawa dendang riang kenangan bahkan kematian. Batu karang memberi rintih abadi bagi deru pacu dan  ringkik ombak di tepian tanjung. Ada yang selalu diam, sepi, dan dingin. Ada yang selalu menatap dendam, sedih, dan rindu.
                Ia masih setia menunggu perempuan setengah baya yang akan memberikan senyum damai di hatinya. Kemudian ia akan bangkit dari jenjang pintu dan berlari, membawakan kerau kosong, sisa dari hari pasar. Dan akan ia utarakan keinginannya lagi untuk melaut, menjadi sawi, bersama kawan-kawannya. Ayahnya, Mustafa, telah memanggil, memintanya berjabat dengan gelombang, riuh ombak, dan badai ganas. Sudah waktunya ia melaut, pikirnya. Perjuangan ibunya, Amma’ Mina, tidak akan pernah sia-sia. Bagaimanapun ia adalah seorang anak dari punggawa posasi’ sejati. Seorang pelaut ulung. Kehidupannya adalah laut.
            “Aku pasti kembali!” tegas Ubahudin.
            “Dan tanpa alamat pulang?!” mata Amma’ Mina menyalib tubuh Ubahudin.
            “Aku terlahir dari dua moyang pelaut. Aku pasti kembali!”
            “Lalu membiarkan Ibumu merindu, sendirian…”
            “Ayah memanggilku, ingin kujemput ia untuk Ibu…”
            “…”
            “Aku pasti kembali!”
            Ada yang terisak dalam dekap. Ada yang berlari memburu mimpi, memburu rindu, memburu hidup yang pasti. Laut memberi cemburu bagi hati Ibu yang sendu. Camar memberi kabar gelisah tak berkesudahan dan warta angin menjadi sehelai surat tanpa alamat, membasuh rema dan air mata di tepi dermaga. Ada yang tiba-tiba lindap di hati yang terluka. Ada yang tiba-tiba bersauh meninggalkan dendam yang kelam.
***
  
bumi singgah,
Maret 2006


Keterangan:

1 Takkalai disombalang dotai lele ruppu dadi nalele tuali dilolangan. Sepenggal ungkapan yang menyimbolkan keberanian dan tekad mengarungi lautan di kalangan pelaut dan nelayan di Sulawesi Selatan.
2  Orang Bugis dan Makassar sejak dahulu menguasai daerah-daerah subur dan mempunyai akses terhadap pelabuhan-pelabuhan strategis, mereka menjadi suku-suku yang dominan di Sulawesi Selatan. Sebaliknya, Mandar dan Toraja sering menjadi korban ambisi penguasa Bugis atau Makassar. Abad ke-17 dipenuhi perburuan hegemoni antara Bugis Bone dan kerajaan Makassar Goa.
motangnga: kegiatan menangkap ikan terbang beserta telurnya di palung Selat Makassar dan sekitarnya. Menghanyut di lautan selama 10-15 hari atau lebih untuk menunggu alat tangkapnya yang berada di sekitar perahu
posi’ boyang: istilah ini sangat penting dalam kepercayaan mistik di masyarakat Mandar yang menyimbolkan kehidupan. Posi’ di dalam rumah disebut posi’ boyang.
Raja; Mara’dia: pengganti nama ikan terbang (tui tuing) dalam musim penangkapan ikan terbang dan telurnya.
po’angga’: salah satu unsur kelompok nelayan yang bertugas mewakili punggawa pottana (nelayan darat) dalam tawar-menawar dengan pembeli, mengurus administrasi, dan mengurus pembagian hasil.
pa’issangang aposasiang: pengetahuan tentang pelbagai hal yang berhubungan dengan laut, pelayaran, cuaca, bahaya-bahaya, mantra-mantra, dan cara menangkap ikan.
pa’issangang asumombalang: pengetahuan mengenai berlayar dan keterampilan taknis lainnya.
belang: bagian bawah lambung perahu sande’ atau perahu bercadik berukuran kecil lain yang terbuat dari sebatang kayu utuh. Kayu tersebut dikeruk sampai membentuk kedalaman lambung yang diinginkan.



*) dimuat pada Majalah Sastra HORISON, Tahun XXXXI, No.5/ 2007, Mei 2007

No comments:

Post a Comment

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi

Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...