Sekali
perahu kembangkan layar lebih baik tenggelam daripada balik di tengah jalan1.
Kata tuah terakhir dari seorang yang terkasih atau mungkin hanya sebagai alamat
pulang ke kehidupan yang akan diarungi kemudian? Sungguh, ia tak pernah tahu.
Ketika malam melangkah kisruh dan menjaring kembali seluruh kenangan, mungkin
ingatan, ia hanya mampu mengingat badai, deru ombak, dan paluh yang menggerus
cadik, katir, dan sabang. Ingatan yang kemudian merembihkan derai pematang
sungai pada reluk wajahnya dan dengus alun nafas yang putus-putus.
Laut
adalah kesunyian yang menggelanggang, penuh misteri. Gelombang yang membawa
dendang riang kenangan, sendu, bahkan kematian. Batu karang memberi rintih
abadi bagi deru pacu dan ringkik ombak di tepian tanjung. Ada yang selalu
mengayuh diam, memiuh sepi, dan membakar dingin. Ada yang selalu menatap dendam, sedih, dan
rindu. Namun, ada yang selalu tak pernah akan berubah, takdir! Mungkin juga
seperti badai yang selalu memeram sengkarut kisah dari dendam, rindu, cinta,
dan kesetiaan para petualang. Dan sesuatu yang bernama kepulangan, hanya
bermaktub pada catatan kaki dalam kitab berjudul kenangan.
Perempuan
kisut itu sudah terlalu letih dan renta. Kini hidupnya cukup menjadi kondo’na boyang, Ibu rumahtangga yang
pulang-pergi dari hari pasar di pasar kecamatan sebagai penjual ikan dari hasil
tangkapan saudara dan keponakannya.
Bila tak habis terjual, maka ia segera mengawetkan ikan-ikan itu dengan es
kemudian pada keesokkan harinya, bila bukan hari pasar, ia akan pergi ke
Tinambung yang beberapa kilometer ke sebelah barat dari kampungnya. Walaupun
jarak yang ditempuh sangat jauh sehingga remai-lah jisimnya, hal itu bukan
masalah, karena anak semata wayang menanti segenggam harap bagi lapar dan
dahaga, juga impian.
***
Tiga
malam sebelum berangkat motangnga,
sore harinya, Amma’ Mina telah mengatur menu untuk ritual kuliwa. Ritual khas ini merupakan “penyeimbang” antara harapan
dengan rezeki dalam segala usaha yang akan dilakukan. Sebagai istri seorang punggawa posasi’—nahkoda, ia jangan
sampai melupakan segala sesuatunya. Semua ini demi mendapatkan keselamatan dan
rezeki bagi seluruh awak kapal saat berlabuh. Sokkol dan cucur telah
diletakkannya di dekat posi’ boyang.
Kedua menu makanan itu pun jangan sampai terlewatkan. Ritual berjalan lancar,
dari awal ritual sampai suaminya, Mustafa, melumuri bagian depan lambung sande’—perahu bercadik khas sukunya
dengan layar segitiga—dengan pasir pantai. Amma’ Mina berdoa khusyuk,
mudah-mudahan cuaca tak kikir angin pada musim timur kali ini dan permukaan
laut akan tenang karena akan sangat kurang menguntungkan bagi perahu yang
mengandalkan angin, seperti sande’.
Bila berlabuh cepat, suaminya dan para sawi
atau anak buah kapal, akan
mendapatkan hasil tangkapan yang berlimpah.
Suasana
sungguh riuh semarak ketika seorang sawi memboyong
menu ritual keluar rumah lalu diburu oleh anak-anak yang menginginkan menu
ritual itu. Sesampainya di perahu, barulah habis semua menu ritual diborong
anak-anak penuh girang. Ia pun tak
lupa mengingatkan suaminya untuk menangkap Dingkis lebih banyak. Telur ikan itu
kesukaan Amma’ Mina. Suaminya hanya mengangguk lalu tersenyum manis kepadanya.
Melihat renjis wajah suaminya, Amma’ Mina merasa tersindir.
Namun kemudian ada sesuatu yang
menghantarkan Amma’ Mina pada sebuah kegelisahan. Sebuah duga yang tak
disangkanya ketika itu. Malam sebelum diadakannya kuliwa, Mustafa mengutarakan keinginannya untuk berhenti mengejar
ikan terbang. Ingin ditambatkannya perahu itu ke selat lain. Entah kenapa,
Amma’ Mina seperti melihat sesuatu yang gasal pada wajah suaminya. Dirinya dan
warga kampung telah sangat mengetahui dan menyadari, bahwa suaminya adalah
seorang passande’ sejati, seorang
pelaut ulung dengan perahu sande’.
Telah bertahun-tahun berlayar, berburu beribu-ribu Raja. Lalu apa yang membuatnya tiba-tiba berubah pikir seperti itu.
Secepat itu. Kekhawatiran apa yang tak sanggup dibagi suaminya bersama Amma’
Mina? Ia pun tahu, bahwa usia Mustafa belumlah menginjak setengah abad. Mustafa
muda yang kaya pengalaman, semua itu ia dapatkan dari ayahnya dahulu, seorang punggawa posasi’ sejati. Namun malam
kian beringsut ganjil dan semakin menggigil. Kegasalan itu hanya menjadi udara
beku pada bibir Amma’ Mina yang tak sanggup berbicara.
***
Ia basuh keringat yang bercucuran
menuruni tebing pipinya. Seperti biasa, udara panas siang itu masih mampu
dikalahkannya. Menunggu lama ia di jenjang pintu. Matanya meraba seluruh hamparan pasir-pasir
dan bangkai perahu yang enggan berlaju. Dilihatnya katir yang lepas lunglai
dari lengan cadik. Perahu-perahu yang dulu hidup bersamanya, kini halai-balai
tak berdaya. Sande’-sande’ itu telah
dikalahkan. Dok tak punya musim beristirahat atau bekerja. Musim-musim berhenti
merenyapkan angin. Namun, tidak baginya. Dari tempatnya sekarang, ia dapat
berlari ke anjung-anjung, ia tegakkan andang-andang lalu dihempaskannya tros
dari tanggul itu. Segera dilarikannya perahu-perahu menuju pesolot di ujung
matanya. Ia bentangkan layar. Berlabuhlah! Berlabuhlah! Lalu dikejarnya su’ba, kerumunan ikan itu, dengan seruan
pasti kepada Baruna, sang penguasa laut, tapi tetap ia urung tak berdaya.
Selalu tidak berdaya jika tiba-tiba seseorang yang terlampau sangat
dicintainya, belingsat dalam ingatan.
Ada
yang selama ini ia rindukan, Lopi
sande’na malolo; Perahu sande’
yang cantik. Di jenjang pintu itu, ia dapat mengkhayalkan segala mimpinya. Tak
ada yang melarang atau menggubrisnya tiba-tiba. Ia dalam kesendirian. Namun,
mimpi itu hanya menjemputnya sesaat saja. Lalu kepalanya akan menunduk dengan
wajah kesah. Ya, kembali ia mengingat lagi percakapan itu semalam.
“Cukup
jadi po’angga’ saja. Dengan seperti
itu pun, hidup kita masih lebih dari cukup. Perutmu takkan keroncongan lagi”
tukas Amma’ Mina.
“Kawan-kawanku
semuanya jadi sawi. Melaut!”
“Rupanya
telah kau dengar juga cerita itu…” wajah Amma’ Mina melemas.
“Lopi sande’na malolo. Tidakkah kita menginginkannya kembali? Aku bisa
menggantikan ayah melaut dan ibu menyiapkan ritual…,”
“Hentikan!!!
Sudah cukup perjuangan ayahmu diwakili olehnya sendiri. Dan sekarang, hiduplah
kita apa adanya saja…” berlalulah segera perempuan itu ke dapur, terisak.
Ubahudin
mafhum. Ia terdiam. Ibu tercinta telah dilukainya. Perempuan yang mengasuh dan
membesarkannya selama ini, seorang diri. Ya, hanya seorang diri saja perempuan
itu menjaga anak semata wayang; Ubahudin, lari dari kenangan, mungkin pula
ingatan, dan kesu-kesi warga kampung.
Amma’
Mina melakukan semua pekerjaan sendirian, tanpa kecuali pekerjaan lelaki
sekalipun, demi anak semata. Setiap hari pulang-pergi dari pasar kecamatan,
jarak berpuluh-puluh kilometer dilaluinya bersama keringat, muai udara, pekik
debu, kaki rengkah, lecet, bahkan sempat dengan cucuran air mata. Entahlah.
Ketika itu, Amma’ Mina sempat menyerah, setengah kalah melalui kehidupan ini
sendirian tanpa sanak saudara yang membantunya. Amma’ Mina masih muda dan
cantik, tapi ia tidak ingin menikah lagi. Kenangan itu, mungkin ingatan, tidak
dapat lenyap dari pikiran dan hatinya. Terlalu menyakitkan, bahkan nanti dapat
menyakiti orang yang berada di dekatnya. Namun kemudian, ia dibangunkan oleh
suara tangis Ubahudin kecil di malam kelam kala itu. Ya, suara tangis yang
setia menemani kehidupannya hingga sekarang agar tak henti berjuang. Seperti
tangis gasal Mustafa malam itu ketika terakhir kali pergi melaut.
***
Laut
selalu penuh misteri. Tak ada yang dapat diduga. Alam adalah keheningan yang
bersiasat. Sunyi menggelanggang. Gelombang yang membawa dendang riang kenangan
bahkan kematian. Batu karang memberi rintih abadi bagi deru pacu dan ringkik ombak di tepian tanjung. Ada yang
selalu diam, sepi, dan dingin. Ada
yang selalu menatap dendam, sedih, dan rindu. Ada yang selalu tak berubah;
takdir, seperti badai. Seperti malam kisruh ketika Mustafa dan para sawi melajukan sande’ menantang ricuh gelombang laut dan gemuruh rusuh angin yang
membentangkan layar. Bulir-bulir air terbang, menampar wajah-wajah nanap para
pelaut. Mengombang-ambing kapal wasiat nenek moyang. Layar semakin kencang,
meringis, menahan arus kencang angin yang berang.
“Putar
haluan!!!” teriak Mustafa
“Sebentar
lagi. Lihat ikan-ikan itu!” teriak salah
seorang sawi sambil menunjuk ke arah
ikan-ikan terbang yang berlompatan lalu lindap.
“Tidak!
Tidak akan bertahan lama! Kita kembali! Aku sudah tahu!”
“Kita
kembaliii!”
“Putar
haluan! Putar haluan!”
“Layaaaaar!!!”
Kemudian
semua awak kapal berpegangan pada tali di tiang layar. Mereka berdoa dan berharap dalam degup, dapat selamat dari amuk badai
yang tiba-tiba jelang tanpa duga. Dan tiba-tiba mereka (harus) mengingat semua
kenangan, mungkin ingatan, istri tercinta dan anak-anak, sanak saudara, dan pottana—daratan. Namun, cuaca tak dapat
diduga karena ia datang tiba-tiba. Begitu pula badai yang mengerumus sande’ dan para awak kapal. Semuanya
lindap, terlambat, namun tetap ada yang bersisa seperti puing-puing patahan
kayu, katir, tiang layar, kain layar yang terkulai, dan berkolek-kolek nyawa di
lautan menjadi epitaf sunyi. Usai badai, laut kembali berdamai. Seperti tak ada
jenjang antara laut dengan langit, hanya hamparan biru yang mengharu.
***
Setahun lewat hingga akhirnya amuk badai kembali berlayar ke daratan.
Tertambat di daratan hati Amma’ Mina dan Ubahudin kecil, yang kini hidup berdua
tanpa sanak saudara. Sebenarnya tetangga di sekitar rumah Amma’ Mina
adalah sanak saudara dari Mustafa, namun
mereka tak menghiraukannya lagi setelah Mustafa tiada. Amma’ Mina harus dapat
hidup sendiri. Berjuang sendiri demi Ubahudin kecil, malaikat titipan dari
Mustafa, suami tercinta.
Sebelum
kesu-kesi menjamur di telinga warga kampungnya yang berkisah tentang pelayaran motangnga di malam berang, hidup mereka
baik-baik saja. Semuanya rukun dan tenang, seperti hari-hari biasa kehidupannya
dahulu ketika Mustafa masih bersamanya. Kini, kisah itu menjadi luka dan badai
baru dalam kehidupan Amma’ Mina. Hati Amma’ Mina sungguh pilu karena tak pernah
ia menduga akan membesarkan seorang anak laki-laki sendirian, tanpa seorang
ayah! Amma’ Mina takut, apakah ia sanggup melewati semua rintangan hidup
sendiri bersama Ubahudin kecil. Dan ketika Amma’ Mina tahu, bahwa keluarga
Mustafa tidak terlalu menyukainya karena ia berasal dari kampung seberang,
seorang perempuan Bugis sejati2,
ia mulai sadar diri lalu menyendiri.
“Mustafa sudah tahu. Ia pun tahu
tentang pa’issangang aposasiang,
bahkan tahu juga pa’issangang
asumombalang” ujar Kandaenna Afah.
“Mustahil bisa tenggelam,” timbal
seorang warga kampung yang lain.
“Ayahnya seorang punggawa posasi’ sejati. Begitu pula
ia,”
“Belangnya
bagus. Kokoh!”
“Dahulu pun mereka pasti kembali.
Badai berang tak jadi masalah bagi sande’
sebuas itu”
“Ritual kuliwa berjalan lancar. Disiapkan oleh istrinya dengan baik…,”
“Istrinya?!” Kandaenna Afah
mengernyitkan dahi.
“Iya, malahan waktu itu Pamanku
sendiri yang membawakan menu ritual itu ke perahu”
“Hmm…”
***
Ia basuh keringat yang bercucuran
menuruni tebing pipinya. Seperti biasa, udara panas siang itu masih mampu
dikalahkannya. Menunggu lama ia di jenjang pintu. Matanya meraba seluruh hamparan pasir-pasir
dan bangkai perahu yang enggan berlaju. Dilihatnya katir yang lepas lunglai
dari lengan cadik. Perahu-perahu yang dulu hidup bersamanya, kini tergolek tak
berdaya. Sande’-sande’ itu telah
dikalahkan. Laut selalu penuh misteri. Sunyi menggelanggang. Gelombang yang
membawa dendang riang kenangan bahkan kematian. Batu karang memberi rintih
abadi bagi deru pacu dan ringkik ombak
di tepian tanjung. Ada yang selalu diam, sepi, dan dingin. Ada yang selalu menatap dendam, sedih, dan
rindu.
Ia
masih setia menunggu perempuan setengah baya yang akan memberikan senyum damai
di hatinya. Kemudian ia akan bangkit dari jenjang pintu dan berlari, membawakan
kerau kosong, sisa dari hari pasar.
Dan akan ia utarakan keinginannya lagi
untuk melaut, menjadi sawi, bersama
kawan-kawannya. Ayahnya, Mustafa, telah memanggil, memintanya berjabat dengan
gelombang, riuh ombak, dan badai ganas. Sudah waktunya ia melaut, pikirnya.
Perjuangan ibunya, Amma’ Mina, tidak akan pernah sia-sia. Bagaimanapun ia
adalah seorang anak dari punggawa posasi’
sejati. Seorang pelaut ulung. Kehidupannya adalah laut.
“Aku pasti kembali!” tegas Ubahudin.
“Dan tanpa alamat pulang?!” mata
Amma’ Mina menyalib tubuh Ubahudin.
“Aku terlahir dari dua moyang
pelaut. Aku pasti kembali!”
“Lalu membiarkan Ibumu merindu,
sendirian…”
“Ayah memanggilku, ingin kujemput ia
untuk Ibu…”
“…”
“Aku pasti kembali!”
***
bumi singgah,
Maret 2006
Keterangan:
1 Takkalai disombalang dotai lele ruppu dadi nalele tuali dilolangan. Sepenggal ungkapan yang menyimbolkan
keberanian dan tekad mengarungi lautan di kalangan pelaut dan nelayan di
Sulawesi Selatan.
2
Orang Bugis dan Makassar sejak dahulu menguasai
daerah-daerah subur dan mempunyai akses terhadap pelabuhan-pelabuhan strategis,
mereka menjadi suku-suku yang dominan di Sulawesi Selatan. Sebaliknya, Mandar
dan Toraja sering menjadi korban ambisi penguasa Bugis atau Makassar. Abad
ke-17 dipenuhi perburuan hegemoni antara Bugis Bone dan kerajaan Makassar Goa.
motangnga: kegiatan menangkap ikan terbang beserta
telurnya di palung Selat Makassar dan sekitarnya. Menghanyut di lautan selama
10-15 hari atau lebih untuk menunggu alat tangkapnya yang berada di sekitar
perahu
posi’ boyang: istilah ini sangat penting dalam kepercayaan
mistik di masyarakat Mandar yang menyimbolkan kehidupan. Posi’ di dalam rumah disebut posi’
boyang.
Raja; Mara’dia: pengganti nama ikan terbang (tui tuing) dalam musim penangkapan ikan
terbang dan telurnya.
po’angga’: salah satu unsur kelompok nelayan yang
bertugas mewakili punggawa pottana (nelayan
darat) dalam tawar-menawar dengan pembeli, mengurus administrasi, dan mengurus
pembagian hasil.
pa’issangang aposasiang: pengetahuan tentang pelbagai hal yang
berhubungan dengan laut, pelayaran, cuaca, bahaya-bahaya, mantra-mantra, dan
cara menangkap ikan.
pa’issangang asumombalang: pengetahuan mengenai berlayar dan
keterampilan taknis lainnya.
belang: bagian bawah lambung perahu sande’ atau perahu bercadik berukuran
kecil lain yang terbuat dari sebatang kayu utuh. Kayu tersebut dikeruk sampai
membentuk kedalaman lambung yang diinginkan.
*) dimuat pada Majalah Sastra HORISON, Tahun XXXXI, No.5/ 2007, Mei 2007
No comments:
Post a Comment