September 29, 2012

HORISON - Jawa Barat...


Liwa


kupagut dingin bukitbukit
dara yang merona
sejuk wajahmu bagai periperi hutan
tangis hujan merincik
di kotamu
membalut tubuhku dalam pesta sekura
kita menari, perempuanku!
meremang sepanjang tanjungkemala
kau perempuan hijau di punuk pesagi
tidakkah pertemuan kita
adalah sunyi?

ke barat,
kulumat perjalanan menuju krui
pelabuhan yang menjejak pulang dan pergi
kabut kembali meremang waktu
sepanjang bandar merindu
dan ikanikan tak henti bertanya
ke mana arah bidok cinta bermuara

di sini
orangorang pun akan bertanya padamu
danau ranau tempatmu merantau?
menyelami tiyuh kenangan
berkaca pada batubatu legam
pada sawahsawah basah
dan dendang burung di reranting pinang
lalu membasuh hitam rambutmu
di percikan kubuperahu?

kita luluh di kota tua ini
arus angin menggerus waktu
akhir usia di pucuk gunung
diantara uapacaraupacara adat
kita menari, muli!
karena ikanikan terus bersenandung
sepanjang way
di jalanjalan
tepian hutan


2006
--

Hikayat Gugus Daratan

dari batubatu. di jejakjejak lautan dan pantai,
anakanak raja membangun
bagan. di arus sungai, sampan
mengayuh jalai ke tepian. disapa
murai.
lalu berkumpul rapat
di bukit batu darat dengan bau karet di
belakang rumah dan pinang raja yang tak sempat
dijinakkan. tak sepekan. di tanjungpinang, senja
menjelma riak buih yang tertatih perih. yang
sempat terjajah senapan, meriam
dari sisa kelimut sejarah memuram

ketika hutanhutan masih perawan
dan basah,
rawarawa dan paya membisu
dimana mengalir dara gemurai dari
lurah yang bersimbah. geronggang dan
jelutung masih bersenandung. jeram
melanggam udara, menari
gaung di guagua.
bukankah kau harus segera bergegas?
sebelum hutanhutan ditampis
kikis dan gajahgajah kehilangan arah
dan sungai siak labuh beriak
karena rumahrumah di atas huma
semakin alpa,
pun laut semakin sepi sepanjang musim.
dan hujan
turun di tanahtanah hutan. kini orangorang
menepi dari pesisir. membuka ladang. dan
reranting damar semakin samar
oleh jampijampi belati. nipah semakin lelah.
lalu orangorang mulai menuliskan cuaca
menjadi jarak
bagi laut dan darat dalam almanak.

tengoklah ke perigi!
perempuanperempuan membasuh diri
sebelum petang
bersijingkat di jenjang tangga
menuju selasar bangsal bertonggak dengan sirap
rumbia yang selalu memberi hangat
tak ada siasat.

long tih, bertandanglah pula ke telo
dapat kau tengok asap dapur masih
mengepul
tanpa tabir, tanpa bilik
kau bisa mencicip wangi gaharu jadi abu
larut dalam rindu ranah berhulu

tasiktasik mistik adalah legenda cinta
dari rajaraja
di bukitbukit berbunga
lalu dewadewa yang singgah
di hutanhutan basah
memayungi rimba, muara, dan ladang
dari jembalang
dengan tangkaltangkal di lengan
dan nelayan sibuk berburu di lautlaut sendu
ketika ikanikan tertidur dalam badai
di pulau midai
sedangkan di tepian tanjung
kau mungkin hendak menjala rindu
bersama waktu


2006
--

Largisimo


partitur patah
pelan-pelan
not-not lelah
suaramu payah
di ruang tak beratap
kau selalu asyik bersenandung
kala badai menjadi nisbi
dalam perhitungan masehimu

aku mengendap
melalui saraf-sarafmu
pulas pada kanvas
bunga matahari yang konyol
sulur-sulur akar
pelepah kambium rontok
seperti helaian rambut merahmu
menantang api matahari

waktu tua, tua waktu
tak habis-habis mulutmu
mengikis
parit-parit lidah
wajah pecah
di pinggir kali
mungkin dermaga
kian lekat kau meratapi
sepi


2006 
--


Mengenang Taman
: buat Mnemonicers


rerumput menunggu
angin yang sama. waktu yang sama
orang-orang berjalan tanpa
tegur sapa
mungkin mereka alpa
jika pohon-pohon tak lagi bicara
tentang embun, sunyi, tawa kanak-kanak
dan polusi udara
kolam air beringsut hijau, mengingau kemarau
seperti suara azan senja yang parau

helai daun merindu detak hujan
seperti aku merindu suara-suara
laki dan perempuan saling berlari
layaknya percintaan dalam film india

kekupu dan serangga kian cemburu
pada hutan-hutan tengah kota
dipagar rapi para penjaga
aku hanya mengingat kita sama-sama tertawa
dari satu dua kepala menyeruput kahwa
hingga langit memerah lalu
cahaya-cahaya lampu memekat pedapa
sampai usailah waktu untuk menunggu
perjanjian sunyi kunang-kunang
di seberang jalan
kian lama semakin terasa
kita lupa pada usia


2006
--


Adalah Malam yang Menjaga Auratku
-fragmen kerinduan-


sulursulur akarku, wahai kekasih
lindap disadap subuh yang lusuh
langit gulita
tasbih semakin pekat
lalu
apa yang tersisa dari nafas dzikir yang terkilir?
ialah malam, wahai kekasih
saat ayatayat menjadi segumpal air mata
beku dan diam
angin bisik
malam bagi pecinta
gasal merana
bulan tumbang
di pangkuan sajadah
rebah dan
kalah

siang adalah nisan kefanaan
dari akar yang terbakar
menjelma abu di jarijariku
lihatlah
mata remang
di rembang petang
perjalananku
seperti kerikil pada setapak usia

adalah malam yang menjaga auratku
dalam kesunyian dan istirah
dari terik dosa
yang cemburu
dan maut yang tak henti memburu
aku alpa, wahai kekasih
jalan penuh cagak
lalu waktu semakin sesak

aku pernah mengira lautan
luap dalam rakaatku
gelombang pacu
lidahlidah ombak mengasma doadoa
tak henti
mengikis pasirpasir cibir
batu karang lumat menjadi waktu
tapi jisimku bagai arus pasang surut
di tanjung terakhir

kerinduan ini, wahai kekasih
adalah warta yang tak sampaisampai
pada helai sayapsayap malaikat
pada istirah panjang nabi terakhir
pun di puncak arasy
mulutku kian kalut melafal bendabenda
jiwa yang berpendar
kian samar
jalanjalan meliuk bagai ekor iblis yang sinis
dan sekali lagi kerinduan ini
beku
menjadi batu
tersimpan dalam setiap sujud dan rukuk
di sudut waktu

aku pun kembali di subuh hari
berubah menjadi manusia pitam
paling bahagia
sesak kerinduan
kian ruah tak terbantah
dalam DNA dalam udara dalam semesta
ketika matahari khusyu bersujud
dalam genggamanmu, wahai kekasih
adalah niskala wahyu yang kueja
dari kitabkitab terdahulu
mengaji kisah
penghalau resah

aku kungkum di akhir perjalanan
karena tak dapat kupahat usia
pada nyawa dan setiap lipatan tubuhku
ada maglub dalam nafsu
dan bermadah untukmu
tak henti
hingga ludah menjadi kemarau
dan darahku berubah payau

dan di batas malam pula
kudendang ayatayat
dari kerinduan yang tak sampaisampai
kepadamu, wahai kekasih…


2006
 --

dimuat pada Majalah Sastra HORISON, Tahun XXXXI, No.5/ 2007, Mei 2007

No comments:

Post a Comment

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi

Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...