Minggu, 08 Mei 2011
“Suatu karya dianggap berhasil ketika karya tersebut diukur berdasarkan kedalaman kualitasnya.”
"Tubuh kami menjelma duri-duri, kabel listrik, dan kloset. Dari Timur kami datang membentangkan pagar-pagar besi setinggi tubuh orang dewasa. Menancapkan kepala-kepala yang hanya tersenyum pada malam hari. "
Demikianlah selarik puisi penyair perempuan, Fina Sato. Puisi berjudul Saksi Maya itu dimuat di halaman Jurnal Sajak. Tak hanya Fina, sejumlah penyair yang sudah malang melintang di beberapa media massa lokal, nasional, maupun internasional, juga turut menapaskan tiap halaman dan rubrik jurnal ini lewat sejumlah karya mereka.
Tak cuma (puisi/sajak), namun juga esai serta ulasan. Beberapa di antaranya adalah Dorothea Rosa Herliani, Joko Pinurbo, D Zawawi Imron, Oka Rusmini, Pranita Dewi dan lain-lain.
Selain penyair dan penulis lokal, juga terdapat penyair atau penulis luar negeri yang menyumbang karyanya, sebut saja Anna Akhmatova (Rusia), Elizabeth Bishop ( Amerika Seriakat), Gabriel Mistral (Spanyol), Herta Muller (Rumania/Jerman) dan Ian Campbell yang terlahir dengan nama Ian Frank Campbell.
Keberadaan Jurnal Sajak yang diluncurkan 3 Mei 2011 di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, bolehlah disebut sebagai langkah untuk meramaikan dunia sastra di Tanah Air, yang kini mulai menggeliat lagi.
Apalagi, ditambah satu lagi jurnal serupa yang bernama Jurnal Kritik. Sesuai namanya, jurnal ini berisi kritik sastra yang belakangan memang minim, bahkan nyaris tak ada. Para kritikus sastra (jika boleh disebut demikian), semisal, Djakob Sumardjo, Abdul Hadi WM, Zen Hae turut mengisi jurnal ini.
Ditambah sejumlah kritikus luar negeri seperti Stefan Danerek, Andy Fuller dan lainnya. Kedua jurnal ini rencananya akan terbit empat bulan sekali, artinya tiga kali dalam setahun. Peluncuran kedua jurnal ini ditandai dengan diskusi sastra yang antara lain dihadiri Eep Saefullah Fatah, seorang pengamat politik yang juga penulis cerpen.
Menurut Eep, kebebasan- kompetisi-partisipasi dalam demokrasi menjadi seperti laju kuda liar yang tak bisa ditahan karena ingin segera ke luar dari kandangnya, sehingga kedua jurnal tersebut penting peranannya untuk masa depan.
“Jurnal ini jadi semacam pengikat para pembuat karya dengan komunitas, serta menjadi jangkar yang menautkan kapal-kapal di pelabuhan,” kata Eep.
Redaksi Jurnal Sajak dipimpin oleh Jamal D. Rahman yang dibantu Acep Zam-zam Noor, Agus R Sarjono, Ahmad Syubbanuddin Alwy dan Berthold Damshauser. Sedangkan Jurnal Kritik digawangi Agur R Sarjono (sebagai Pemred) serta Al Azhar dan Jamal D. Rahman.
Menurut Jamal D Rahman keberadaan kedua jurnal ini diilhami oleh Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, yang banyak menyimpan Koran-koran maupun buku-buku sastra. Menurut Jamal, dunia puisi yang cukup meriah, ditandai dengan banyaknya koran, majalah dan buku-buku yang memuat puisi. Namun, di sisi lain, dunia kritik justru sangat sepi.
“Ini menggambarkan kondisi yang sangat kontras. Sehingga dengan keberadaan kedua jurnal tersebut diharapkan dapat dijadikan sebagai “warung pojok“ untuk membicarakan karya sastra di tengahtengah kondisi tersebut,” ujarnya.
Tanpa Nama Namun, disadari atau tidak, kedekatan antara penyair/penulis dan penjaga gawang (redaktur/editor) sebuah jurnal kerapkali memberikan dampak yang sangat mengejutkan, khususnya dalam persoalan pemuatan karya.
Tak jarang seorang redaktur, selain melihat kedalaman atau kualitas dari suatu karya, juga kerapkali terperangkap dalam kedekatan hubungan emosional yang ironisnya menjadi salah satu parameter dalam pemuatan karya.
Berdasarkan kondisi objektif tersebut, dapat diramalkan, bagaimana sastra dan kesusatraan negeri ini ke depannya. Yang pasti, hubungan pertemanan tersebut akan menjadi salah jika tidak ditempatkan pada tempatnya, dalam konteks pengkaryaan. Karena suatu karya dianggap berhasil ketika karya tersebut diukur berdasarkan kedalaman kualitasnya, bukan kedekatan antara pengkarya dan pemberi nilai terhadap karya tersebut (redaktur).
Menurut Jamal, untuk menghindari “jebakan” dari hubungan tersebut, dalam Jurnal Sajak dan Jurnal Kritik, proses penyaringan karya akan dilakukan selektif. Redaksi, katanya, hanya disuguhkan karya saja tanpa nama penulisnya.
“Artinya, redaktur hanya menilai berdasarkan kualitas karya untuk memutuskan diterbitkan atau tidak.” Menurut Jamal, awak redaksi kedua jurnal ini akan berupaya bekerja seprofesional mungkin dan meminimalisir faktor koneksi maupun perkoncoan dalam pemuatan karya. Tapi, dari itu semua, semua tentu terpulang lagi kepada pembaca.
Sebab, mereka lah yang kelak akan menilai karya yang dimuat bermutu atau tidak. Selain itu, usia kedua jurnal ini pun tergantung keseriusan dari para awak redaksinya, dana para pembuat serta penikmat sastra. Jangan-jangan bernasib sama dengan majalahmajalah budaya atau jurnal lainnya, yang tak ada seumur jagung atau kalau pun terbit seperti “hidup segan mati tak mau”. _
*) frans ekodhanto
Sumber: www.koran-jakarta.com
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi
Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...
-
Ferina Meliasanti Mantap Memilih Bidang Sastra*) photo by langgeng prima anggradinata Kecintaannya terhadap dunia sastra menjadikan ...
-
berjengkal-jengkal tanah, semuanya masih rahasia bait-bait telibun pembawa Muli Putri dari surga dengan alunan serdam ditiup sehedi ke ...
-
Seppuku Awalnya saya akan bunuh diri hari ini. Tetapi tiba-tiba niat itu terhenti karena kedatangan suatu lintasan berupa ingatan. In...
No comments:
Post a Comment