September 27, 2012

Rumah Kerang


kenapa malam seterik ini?
lembaran daundaun pisang yang
sobek bahkan tak sanggup mengusap keringatnya
sendiri
pun si betina enggan mencicip darah
yang mendidih pada dagingdaging kering
juga tak ada anginangin silang di sungsang
tubuhku
setumpuk gentinggenting tua
dan berlumut
hanya menghantarkan cerita tiangtiang diam
yang khusyuk menyimak bocah mengaji
terbatabata

kau suram di kertas putihku
serupa mimpi yusuf ditikam badai wahyu
yang mengabut
mengapa tak kau beri kabar
rumahrumah kerangmu di pantai gigir
dengan kipaskipas letih rajutan bambu
berlipatlipat

makin berlipat
semakin tebal

kau pernah menjumpainya di sudut
kerling matahari karam sehari yang lalu
dan berita tak mengeras
di udara seterik ini
atau hantuhantu berpesta di
ladangladang kelam
telanjang mengadukaduk do(s)a
yang sampai pada nokturno tanpa hujan

kakikaki terserek bukan
jejak lagi
tak melintang seperti pelangi
dipaku leher bukitbukit
atau tersangkut di pinggang langit
tapi dongengdongeng dilemparkan percuma
ketika butirbutir udara menyeruak
hampa




rumah,
5 oktober 2005

No comments:

Post a Comment

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi

Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...