September 27, 2012

Duka Luka dari Pesisir


: Yogyakarta


terlalu dini
duka memberi siar
diamdiam dalam sunyi
menyelusup diantara mimpi
dan matahari pagi

dan hujan mengabarkan sendu
ditangkup tangan kami
dari aroma amis darah
dan retak tulang patah
di ubunubun puncak lahar
yang tak henti rangkus jiwa
hingga menjadi abu dan debu

limbung tanahtanah berang
melipat rumahrumah
penuh keluh kesah
mengguncang nyawanyawa
kidung mayat tak terbaca

malam penuh doa
luap anyir lirih dzikir
dari sayat tangis anakanak
dan luka orangorang tua
tanpa tenda

gaung dindingdinding ngilu
luruh menjadi batubatu
dan kerikilkerikil di telapak kaki
menjadi jejakjejak menuju
trotoartrotoar sepi

adalah sejarah negeri
berabadabad lalu digiling batubatu
dilumat air bah
dijilat lidah api
diterpa wabah kurang gizi
lalu apa yang lebih kejam
dari ringkuk mayat anakanak kami
dari luka yang timpa
jiwajiwa tak berdosa

di sudut rumah roboh
tangantangan mungil bermain lidi
siapa yang telah pergi
siapa yang ditinggal mati
dan apa yang masih tersisa kini

lengking tangis di malam panjang
kini merangka jadi kenangan
dan rumahrumah kembali tanah
kami menjadi papa
lalu apa yang lebih berani
dari cuaca memuram diri
dari waktu yang tibatiba terhenti
adalah tangan yang memberi

ada yang berdoa
berebut nafas dan detak jantung
dari sebait puisi
lirih katakata terbata
dari erang tangis gempa yang mengaliri
rasa sakit
kian menjadi duka
luka dari pesisir




bumi singgah,
2006

No comments:

Post a Comment

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi

Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...