Sebulan lewat. Siang ini, saya berencana untuk mengunjungi lelaki muda itu lagi. Saya rasa, waktu sebulan akan cukup untuk membuat lelaki berumur delapan belas tahun itu merasa tidak kerasan tinggal di rumah pesakitan. Seperti pada pertemuan kami sebelumnya, saya harus bersikap tenang ketika menghadapinya agar ia bisa merelakan diri untuk menceritakan perasaannya tanpa ada manipulasi.
Setiba di tempat itu, saya memohon kepada sipir agar saya bisa menemui lelaki muda itu kembali. Ia pun mempersilakan saya masuk dan menyuruh saya mencari sendiri lelaki muda itu. Kemudian saya melangkah masuk menuju gerbang pintu masuk lapis kedua dan pergi menuju bangunan aula para tahanan. Saya merasa aman dan leluasa mendatangi setiap aula para tahanan di rumah tahanan ini, karena di setiap wilayah bangunan aula telah dijaga oleh beberapa sipir. Para sipir di rumah tahanan ini dan sebagian para penghuni tahanan telah mengenal saya dengan baik.
Lalu saya mendatangi bangunan aula di area unit bagian utara, tempat di mana lelaki muda itu ditahan. Di halaman luar aula sudah terlihat beberapa penghuni tahanan tengah duduk santai di bangku kayu sambil merokok. Tepat di tengah, di atas pintu bangunan aula itu tertulis huruf A dengan ukuran sangat besar. Saya menghampiri mereka dan bertanya tentang lelaki muda itu. Mereka bilang, lelaki muda itu telah dipindahkan ke area unit bagian barat, di bangunan aula D, sambil menunjuk ke arah sebelah kanan mereka.
***
Walaupun tempat ini dikatakan rumah tahanan, namun sistem keamanan, fasilitas, dan pengelolaan ruang-ruang tahanan di sini tidak dirancang laiknya rumah tahanan atau penjara. Ruang-ruang tahanan di sini tidak dibangun secara sel per sel, kamar per kamar —yang biasanya satu sel akan dihuni oleh dua atau empat orang penghuni tahanan. Di rumah tahanan ini, semua penghuni tahanan dicampur-aduk tanpa didasarkan tingkat tuduhan kejahatan ringan, sedang, atau berat.
Ruang-ruang tahanan bagi para penganut kriminal di sini adalah ruangan aula tanpa sekat dengan bangku tidur bertingkat dua seadanya. Satu ruangan aula bisa menampung sekitar limapuluh orang tahanan, seperti barak militer atau saya rasa bisa dikatakan seperti asrama mahasiswa, karena sistem keamanannya yang rendah. Sedangkan yang saya ketahui, ruang tahanan yang memiliki sistem keamanan rendah atau sering disebut pemondokan transisi adalah hanya untuk para tahanan yang telah mendapatkan pembebasan bersyarat atau jaminan. Namun, rumah tahanan di wilayah terpencil seperti ini —dan bisa dikatakan sebagai wilayah miskin dengan tingkat pendidikan rendah dan terisolasi dari peradaban modern— keadaan itu adalah pengecualian.
Rumah tahanan yang memenuhi standar hanya bisa ditemui di ibu kota negara. Oleh karena itu, motif dan standar kejahatan para kriminal di sini, walaupun ada yang dikategorikan kejahatan berat, seperti membunuh, semua itu terjadi karena tingkat pendidikan mereka yang masih rendah. Pemakluman yang lumrah. Banyak di antara mereka yang tidak bersekolah, karena sekolah hanya ada di ibu kota negara, dan jarak tempuh menuju ibu kota negara paling cepat ditempuh dua hari satu malam dengan kendaraan bermesin, seperti sepeda motor atau mobil.
Di wilayah ini, rumah tahanan cukup dibangun dengan dikelilingi benteng dari tembok setinggi dua puluh lima meter yang dibubuhi puluhan meter kawat berduri di puncaknya, dengan dua gerbang utama masuk di depan dan di belakang bangunan. Semenjak direnovasi tiga setengah tahun yang lalu, tidak ada yang berubah dari tempat ini, kecuali para penghuni tahanan yang semakin sesak.
***
Saya melihat lelaki muda itu keluar dari bangunan aula dengan pakaian kaos hitam dan celana hitam pendek selutut—o iya, saya lupa menyampaikan, di sini tidak disediakan seragam khusus untuk para tahanan, tapi cukup dengan pakaian yang diberikan oleh anggota keluarga atau relasi terdekat mereka.
Sejenak, lelaki muda itu tertegun melihat saya. Ia diam menatap saya seakan tengah mengais-ngais ingatan, siapa orang yang berdiri di hadapannya ini. Namun, saya tidak memberi banyak waktu agar ia leluasa menelusuri celah-celah ingatannya itu, karena saya gegas memberinya isyarat untuk mengikuti saya. Ia berjalan di belakang saya ketika kami pergi menuju sebuah ruangan yang terkadang digunakan sebagai ruang interogasi, padahal ruangan itu bukanlah ruang interogasi resmi, melainkan ruang istirahat dan berkumpul sementara para sipir.
Di ruangan itu ada tiga orang sipir yang tengah beristirahat. Posisi mereka berjarak sekitar tiga meja dari meja yang kami duduki. Lelaki muda itu duduk membelakangi para sipir dan menghadap ke arah muka saya. Saya menanyakan kabarnya. Ia menjawab dengan anggukan, bertanda baik-baik saja. Selanjutnya kami diam beberapa menit, karena saya melihat gelagat, bahwa ia belum siap diberikan pertanyaan. Saya rasa, ia belum selesai menelusuri celah-celah ingatan, siapakah diri saya. Kali ini, saya sengaja membiarkannya. Dengan tenang, saya menunggu angka-angka waktu berkisar di sekitar kami. Tidak berapa lama, saya melihat kedua alis matanya sedikit terangkat dibarengi dengan tatapan mata yang sedikit menghentak. Ia menatap saya dengan gerak tubuh menegak agak condong, tetapi ia tidak berkata apa-apa.
“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya saya memulai komunikasi dengannya. Ia diam. Lalu saya pun diam menunggu jawaban darinya. Tetapi, tidak ada jawaban. Ia malah menunduk sambil sesekali bertatapan dengan saya.
“Bagaimana perasaanmu terhadapnya?”
Ia diam.
....
“Bagaimana perasaanmu sekarang?” saya mengulangi pertanyaan saya yang pertama
Ia masih diam.
“Apakah kamu tahu, kamu telah membuat luka memar di lehernya?”
Ia tetap diam.
Kami diam.
Lelaki muda di hadapan saya ini bergeming sama sekali. Sekarang, ia malah memainkan jari-jari kukunya, menundukkan kepala, dan tetap sesekali bertatapan dengan saya. Sedikit pun, saya tidak melepaskan pandangan darinya. Saya menelisik tingkah-laku dan ekspresi wajahnya itu —yang selalu mengherankan saya, karena selalu nampak baik-baik saja. Selanjutnya, kami pun hanya saling diam dan kebisuan itu terjadi selama sekitar tigapuluh menit.
Saya tidak ingin memaksa dia membuka mulut, karena paksaan malah akan membuat dia terpaksa mencari-cari jawaban yang dimanipulasi.
“Menurutmu, bagaimana tindakanmu itu terhadapnya?” tanya saya kepada Bagume, lelaki muda yang kini masih tetap asyik bermain dengan jari-jemarinya.
Namun, Bagume tetap diam....
***
Lelaki tua itu diam. Ia seakan tidak sanggup lagi bercerita kepada saya tentang peristiwa yang menimpa anak perempuannya. Sesekali ia berusaha menahan diri untuk tidak menangis. Namun, kedua matanya perlahan berkaca-kaca dan warna merah menyembur samar di wajahnya. Sungguh, ia terlihat sangat susah dan semakin nampak tua dibandingkan usia yang sebenarnya. Meskipun sepertinya akan sangat sulit untuk membuat ia bercerita, tetapi saya harus mengetahui segalanya, dan saya akan menunggu.
“Ia menangis sepanjang hari. Terkadang saya tidak percaya kejadian itu terjadi padanya. Mungkin, karena ia tahu, sebentar lagi anakku akan menjadi perempuan dewasa, hal inilah yang telah menarik perhatian lelaki itu,” lanjut lelaki tua itu bercerita. Saya memandang dengan lekat wajah lelaki tua itu. Keringat diam-diam telah mengusap kebisuannya.
“Ia dari Malifuru. Begitu pula para polisi itu, mereka juga Malifuru. Seperti yang telah saya dengar tempo hari, ayah si lelaki itu datang ke kantor polisi, minta anaknya dibebaskan. Ia bawa uang. Ia minta kasus ini ditutup,”
“Anak saya..., “ ia terdiam kebingungan. Ragu-ragu.
“Kami..., kami bukan Malifuru.” Tegasnya.
Mendengarkan cerita lelaki tua itu telah membuat saya menelusuri ingatan penuh dengan lamunan, seakan tengah menjejakan diri kembali pada puing-puing kekejian masa lalu.
“Saya ingin membunuh lelaki itu, tetapi istri saya, keluarga saya, dan para tetangga melarang saya. Sekarang, saya tidak tahu apakah lelaki itu masih ada di penjara atau tidak.” Ucap lelaki tua itu mengakhiri sebongkah kisah tragis saat setetes air mata jatuh ke punggung tangannya.
Saya menghela nafas. Berat dan perih. Sepatah kata pun tidak keluar dari mulut saya, tetapi hati saya semakin berat menahan tumpuan emosi dan serpihan ingatan masa lalu, tentang kami, tentang peristiwa berdarah itu. Tentang perang, di masa lalu.
***
Setelah perang selesai, banyak kasus pemerkosaan terjadi pada para perempuan di wilayah ini; tidak mengenal apakah perempuan itu masih perawan atau tidak. Selama ini para pemerkosa pun tidak pernah mendapatkan ganjaran setimpal. Mereka hanya mendapat hukuman tahanan sementara atau saling sikut meredam kasus itu agar tidak timbul ke permukaan; tidak diketahui masyarakat, dengan suap, menikahi si perempuan diam-diam, atau main dukun sihir. Maka, tak pelak setiap tahun tingkat kasus pemerkosaan pun meninggi. Akhirnya, pemerkosaan seperti telah dianggap tindakan lumrah oleh sebagian pihak dan tidak berlaku sebagai sebuah tindak kejahatan. Sedangkan pemerintah kami masih miskin dalam masa paska perang sehingga mereka lebih banyak diam.
Lalu, saya dengan beberapa kawan jurnalis di radio siaran lokal mendirikan Perkumpulan Pembaharu, dengan mengumpulkan beberapa perempuan korban pemerkosaan, perempuan yang masih perawan dan sudah menikah, juga para lelaki yang salah seorang anggota keluarganya merupakan korban pemerkosaan. Perkumpulan Pembaharu adalah sebuah organisasi penyuluhan dan saling berbagi. Bahkan, kami pun mewawancarai salah seorang anggota keluarga korban pemerkosaan untuk kami siarkan langsung melalui radio siaran lokal.
Kami tahu, tindakan ini akan mengancam keselamatan hidup kami. Seperti yang telah terjadi sebulan lalu, dua orang perempuan jurnalis radio kami disekap setelah siaran langsung dengan salah satu korban pemerkosaan. Namun, syukurlah, kami berhasil membebaskannya dengan negosiasi yang lama dan penuh siasat itu.
Seperti sore ini, seorang lelaki bernama Samburu bercerita di hadapan kami. Pada awalnya, ia enggan untuk datang ke Perkumpulan Pembaharu ini bersama istrinya, karena ia malu dan takut —istri Samburu telah menjadi korban pemerkosaan oleh enam orang lelaki tak dikenal.
“Saya marah kepadanya, tetapi istri saya tidak salah apa-apa. Saya dendam kepada mereka, tetapi saya bisa apa. Saya menangis setiap malam. Saya ingin mengembalikan istri saya kepada keluarganya!” tegas Samburu. Namun, sesaat kemudian ia berhenti bercerita, matanya berkaca-kaca, tangannya gemetar, dan wajahnya tersapu merah. Tak berapa lama Samburu menundukkan kepalanya, mengatur nafas, dan mulutnya merapat kuat seakan ia tengah menggigit lidahnya, menahan rasa perih dan sakit tak terkirakan. Kami semua diam.
“PERUBAHAN! YA!”
Tiba-tiba seorang perempuan berdiri dan lantang meneriakkan kata-kata “keberanian” kami. Setelah mendengar itu, gegas, kami seperti tersihir untuk bangkit lalu dengan serentak mengoarkan kata-kata itu, berkali-kali. Semakin kuat, semakin lantang. Kemudian Samburu pun menengadahkan kepalanya. Ia tajam menatap kami dan berteriak, “Perubahan! Ya!”
“Saya pun akhirnya mengembalikan istri saya kepada keluarganya. Namun, setelah itu, selama dua minggu saya tidak bisa tidur nyenyak. Pikir saya, ‘istri saya tidak bersalah, kenapa saya harus membuangnya?’ Setelah saya berpikir rapat-rapat, keesokan hari, saya menjemput istri saya ke rumah keluarganya. Saya bawa ia kembali bersama saya, karena saya memang mencintainya,” katanya.
“Dan selama enam bulan, kami berjuang mengembalikan segalanya menjadi utuh, tetapi ternyata tidak semudah itu. Namun, saya selalu percaya pada waktu yang akan memberi kami harapan. Dan kita, tidak akan berhenti untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Perubahan! Ya!” ujar Samburu mengakhiri kisah perihnya kepada kami.
Tidak semua perempuan di wilayah ini seberuntung memiliki suami seperti Samburu dan tidak semua lelaki memiliki keberanian seperti Samburu untuk bercerita dan membagi sebongkah perih dan keberanian itu kepada kami. Cerita itu, cerita yang telah disampaikan Samburu mengingatkan saya ketika suatu sore, beberapa tahun yang lalu, suami saya meninggalkan saya. Setelah saya bercerita tentang malam jahanam itu kepada suami saya, ia menangis dan saya pun menangis, tetapi ia tidak bisa mengekang keinginannya untuk kemudian mengembalikan saya kepada keluarga saya. Dan hingga saat ini, saya pun tidak pernah mendengar lagi sesayup kabar darinya.
***
Bagume masih diam....
Ia masih asyik memainkan jari-jarinya. Usianya memang masih remaja. Saya pun tahu, Bagume tidak pernah mencecap kehidupan sekolah. Kini, ia sekilas tampak seperti jiwa seorang anak kecil yang terjebak di dalam raga orang dewasa. Ia menatap saya dengan wajah yang polos, wajah yang selalu nampak baik-baik saja, wajah yang..., ah, saya rasa, penjara tidak membuat dirinya merasa sebagai seorang terhukum. Ya, Bagume selalu nampak baik-baik saja.
“Apa kamu tahu tindakanmu itu telah melukainya?” tanya saya.
Bagume diam. Saya pun diam. Ia malah terbuai menarik-narik sehelai benang sisa berwarna putih yang menjuntai di lengan kaosnya, lalu ia memutuskannya dari rekat jahitan kaos itu. Selanjutnya, ia memintalkan sehelai benang putih itu di telunjuk tangan kirinya, lalu ia tarik, dan ia pintalkan lagi di sana.
“Apa kamu menyadari bahwa tindakanmu adalah kejahatan?” tanya saya lagi.
Bagume tetap diam. Saya memperhatikannya dengan tenang, berusaha menahan keperihan gadis itu; keperihan kami. Bagume menundukkan kepala, sesekali ia masih bertatapan dengan saya, dan sesekali menatap pintalan benang putih di telunjuk tangan kirinya. Wajahnya itu, selalu nampak baik-baik saja...***
bumi singgah, 2009
Riau Pos, Minggu, 4 Oktober 2009





.jpg)






