July 6, 2012

“Post-etnisitas” Kazuo Ishiguro

oleh Fina Sato


Ishiguro's Works  -  picture taken from google images
Selesai membaca tulisan Anwar Holid tentang Martin Amis “Badabudu dan Martin Amis”, Khazanah, Pikiran Rakyat, (3/5), saya teringat pada karya-karya Kazuo Ishiguro. Seingat saya, Martin Amis dan Kazuo Ishiguro merupakan regenerasi penulis dalam kancah sastra Inggris pada era 1980-an, yang telah menjadi bagian penting dalam percaturan sastra dunia hingga saat ini. Namun, saya tidak hendak membandingkan keduanya. Meski keduanya memiliki strategi dan karakteristik karya yang berbeda, namun kekuatan karya mereka sama-sama mempunyai keunikan yang menggoda.

Dalam khazanah kesusastraan Inggris, Kazuo Ishiguro merupakan salah satu penulis produktif yang telah menguatkan kembali perspektif fiksi sastra kontemporer. Novelnya The Remains of the Day menjadi bestseller terbitan 1989 di Britania Raya yang menggiring Ishiguro memenangkan penghargaan Man Booker Prize 1989, sekaligus mengukuhkan pengakuan dan eksistensinya sebagai penulis sastra kontemporer dunia. Novel yang kaya detail penelitian kesejarahan ini adalah satu karya Ishiguro yang telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Puing-puing Kehidupan (2007).

The Remains of the Day juga sukses diadaptasi ke dalam film layar lebar 1993 dan berhasil mendapatkan penghargaan Academy Award pada tahun yang sama. Naskahnya diadaptasi oleh Ruth Prawer Jhabvala—seorang penulis sastra paskakolonial kelahiran Jerman yang hidup di Inggris dan kemudian lebih dikenal sebagai penulis naskah film. Film arahan James Ivory ini dibintangi oleh Anthony Hopkins sebagai Mr. Stevens dan Emma Thompson sebagai Miss Kenton. Mr.Stevens dan Miss Kenton ini adalah tokoh-tokoh yang merefleksikan elemen ironi tragedi dan komedi pada titik psikologi-sosial dalam sejarah kehidupan manusia terhadap nilai-nilai lingkungan-sosial antara kewajiban dan dedikasi, dengan setting di Inggris pada pertengahan tahun 1950-an. Pada masa itu, Ishiguro mampu memecahkan hegemoni efek peristiwa kolektif pada sebuah perubahan sejarah dalam konteks identitas kehidupan tokoh-tokoh itu, dan kemudian mentransformasinya dengan gagasan lokal sebagai tindakan individu.

Dalam sebuah wawancara yang dilansir situs web writersblocpresents.com, Ishiguro menyatakan bahwa ia selalu tertarik pada apa yang terjadi di dalam diri setiap individu ketika mereka telah mengorbankan seluruh tenaga dan kehidupan mereka pada kelaziman nilai-nilai sosial, hanya untuk melihat mereka berubah. “Saat di akhir kehidupan, mereka menemukan bahwa dunia telah mengubah pemikiran tentang suatu nilai kebaikan dan keburukan. Namun ternyata bagi orang-orang ini, semuanya telah sangat terlambat” ujarnya.

Kazuo Ishiguro lahir pada 8 November 1954 di Nagasaki, Jepang. Ayahnya, Shizuo adalah seorang ahli kelautan, dan ibunya, Shizuko adalah ibu rumah tangga. Ishiguro hanya bisa menikmati kehidupan masa kecilnya selama enam tahun di Jepang, karena ia beserta kedua saudara perempuannya kemudian harus pindah dan tinggal di Inggris. Saat itu, ayahnya mendapat komisi dari pemerintah Inggris untuk melaksanakan projek kelautan. Meskipun saat itu keluarganya berharap hanya tinggal sementara di Inggris, namun pada kenyataanya pekerjaan sang ayah tidak mengizinkan mereka pulang kembali ke Jepang. Pada akhirnya mereka pun harus menjadi warga imigran tetap di Inggris.

Ishiguro dan kedua saudara perempuannya kemudian menjalani kehidupan masa kecil tipikal anak-anak Inggris pada umumnya. Namun, sang ayah sangat memegang kuat tradisi dan budaya Jepang sehingga saat berada di rumah, mereka diwajibkan berkomunikasi dengan bahasa Jepang dan menjalani kehidupan layaknya orang-orang Jepang. Keseharian keluarganya yang tetap mempertahankan tradisi dan budaya Jepang, telah menuntun Ishiguro memasuki dunia literer.

Bagi Ishiguro, menulis adalah ruang dan alat untuk mengawetkan kenangan tentang tanah kelahiran yang tidak dapat ia jumpai lagi hingga 1989. Dari situlah, lalu Ishiguro mengambil dan memperoleh gelar sarjana muda Ilmu Sastra di Fakultas Filsafat dan Kesusastraan di Kent University 1978. Selama menempuh pendidikan itu, Ishiguro bekerja sebagai pekerja sosial selama beberapa tahun sampai ia mampu mendapatkan penghasilan sebagai penulis. Selama masa waktunya sebagai pekerja sosial, ia bertemu dengan Lorna Anne MacDougall, yang kemudian menjadi istrinya pada 1986 dan seorang putri bernama Naomi yang lahir pada 1992. Ia pun berhasil merampungkan gelar Master of Arts dalam Program Penulisan Kreatif di Anglia East University di bawah bimbingan Malcolm Bradbury (1932–2000), seorang akademisi sastra dan novelis terkenal di Inggris.

Setelah memublikasikan beberapa judul cerita pendeknya seperti ‘A Strange and Sometimes Sadness’, ‘Waiting for J’, dan ‘Getting Poisoned’ dalam antologi cerpen Introduction 7: Stories by New Writers (1981), dan beberapa artikel majalah pada awal tahun 1980-an, Ishiguro menerbitkan novel pertamanya A Pale View of Hills (1982) yang berhasil memenangkan penghargaan Winifred Holtby Memorial Prize, penghargaan dari Perhimpunan Kesusastraan Kerajaan Inggris (Royal Society of Literature). Kemudian, novelnya yang berjudul An Artist of the Floating World (1986), tidak hanya memenangkan Whitbread Fiction Prize, tetapi juga dianugerahi sebagai Whitbread Book of the Year, Primio Scanno, dan masuk daftar nominasi penerima penghargaan Booker Prize. Tokoh-tokoh, setting, dan karakteristik kedua novel itu menggambarkan kondisi masyarakat Jepang (human condition) pasca-Perang Dunia II.

Dalam dunia literer, Ishiguro pun memiliki ketertarikan terhadap dunia musik dan film. Ishiguro menulis beberapa naskah film seperti A Profile of Arthur J. Mason untuk stasiun televisi Inggris, Channel 4 (1984) dan The Gourmet untuk BBC, yang kemudian naskahnya dipublikasikan dalam Granta 43 (1987). Sedangkan ketertarikannya terhadap dunia musik, ia tuangkan dalam naskah film The Saddest Music in the World (2003), The White Countess (2005), dan antologi cerpen Nocturnes: Five Stories of Music and Nightfall (2009). Semua prestasi Ishiguro itu membuktikan, bahwa ketertarikannya pada tradisi menulis sejak kecil telah menjadi sebuah profesi yang sangat berharga dan menjanjikan baginya hingga saat ini.
**

Beberapa kritikus sastra di Inggris menilai karakteristik karya-karya Ishiguro berpatron spiritualisme para penulis Jepang, seperti Yasunari Kawabata, Kenzaburo Oe, dan bergaya New Age ala Haruki Murakami sehingga ia lebih pantas dikatakan penulis dari Jepang. Pernyataan itu didasarkan atas dua novel yang sebelumnya ditulis Ishiguro, yang banyak menceritakan kondisi manusia Jepang dan sebagian berlatar tempat di Jepang pascaperang. Namun, Ishiguro kemudian membantah keras pernyataan itu. Meskipun ia dilahirkan di Jepang, tetapi setelah dirinya menjadi warga negara Inggris dan sejak 1960 telah tinggal di London, ia telah menjadi bagian kultural masyarakat Inggris.

Bantahan Ishiguro itu kemudian dibuktikan dengan terbitnya The Unconsoled (1995), novel surealis penuh mimpi buruk tentang kehidupan seorang pianis di salah satu negara bagian Eropa Selatan. Karakteristik novel yang memenangkan penghargaan Cheltenham Prize ini, menyerupai karya-karya Franz Kafka yang penuh “keanehan dan mengganggu” itu, meskipun Ishiguro mengakui bahwa dirinya banyak terilhami oleh karya-karya Dostoevsky, Chekov, dan Tolstoy. Pada tahun itu pula, Ishiguro kemudian menerima OBE (Order of the British Empire) atas sumbangsihnya terhadap perkembangan kesusastraan Inggris. Ia pun menerima tanda kehormatan dari pemerintah Prancis dalam bidang seni, yaitu de l'Ordre des Arts et des Lettres (1998).

Kemudian, novel When We Were Orphans (2000) yang bercerita tentang tokoh sentral seorang detektif di London adalah salah satu entitas reaksi pembuktian Ishiguro terhadap para pembacanya yang mengarah pada pemahaman orientalisme. Tahun 2005, Ishiguro kembali mendapatkan penghargaan sebagai finalis Man Booker Prize atas novelnya Never Let Me Go. Novel yang membahas tentang kondisi manusia kloning dan pendonoran organ-organ tubuh dari manusia kloning ini, ditulisnya sebagai sebuah kritik terhadap antroposentrisme, suatu gagasan etis atau layak diterima, dengan mengorbankan binatang non-manusia sebagai sebuah kebutuhan dan hasrat dalam kehidupan manusia itu sendiri.

Karya-karya Ishiguro telah diterjemahkan ke dalam 28 bahasa. Selama karier kepenulisannya, Ishiguro telah menulis berbagai masalah tentang autensitas, perbandingan, dan kecukupan pada setiap peristiwa dalam kehidupan manusia, serta resistensinya terhadap sebuah perubahan. Problematika perubahan sejarah dan kultur yang dialami Ishiguro bukanlah sebagai narasi transeden, melainkan sebagai sebuah kedalaman internal, struktur, dimensi teks, dan kombinasi dari keakraban perspektif seorang narator di bawah indera tindakan, dengan melibatkan transisi sejarah yang berkelanjutan.

Teks telah menjadi sebuah alat kritik dari suatu keunikan dan pertimbangan atas kegigihannya terhadap paradigma global, seperti hubungan, tradisi, etnis, dan skala. David Damrosch (2003) pernah membahas, tugas-tugas kesusastraan telah menyirkulasi melebihi keaslian kultur itu sendiri sehingga hampir seluruh karya-karya sastra lahir, yang kemudian kita kenal kini sebagai sastra nasional.***


Fina Sato
*penulis bergiat di ASAS dan MnemoniC.


Dimuat dalam Khazanah, Pikiran Rakyat, Minggu, 27 Juni 2009

Sergei

(Catatan Negeri Terakhir)


Akhirnya kami seakan kembali melihat sejarah. Melihat ulang sejarah yang telah lama terkubur begitu dalam begitu kelam. Beribu-ribu tahun lampau. Tentang sejarah yang biasa kami baca dalam buku-buku pelajaran semenjak dari sekolah dasar hingga menengah umum. Kami seakan terpelanting menembus waktu menuju masa-masa ketika kami bersekolah dahulu tentang cerita-cerita sejarah setiap negeri di belahan dunia lain. Sungguh, cerita-cerita itu selalu membuat kami kagum dan mangau. Setelah mendengar cerita-cerita itu, kami sanggup berdiam diri; membisu, membelalakkan kedua mata kami, sesekali berkedip, dan hanyut pergi menjelajahi ruang imajinasi kami selama berhari-hari sehingga kami lupa makan, minum, bahkan berak atau kencing. Kami seakan menghipnotis diri kami sendiri dengan cerita-cerita yang sungguh luar biasa itu. Kadang kami pun akan menceracau kepada ayah dan ibu kami tentang cerita-cerita itu sehingga membuat ayah dan ibu kami tidak tahan terhadap tingkah laku kami dan akhirnya membenci pelajaran Sejarah.
Ayah dan ibu kami lalu tak mengizinkan kami untuk mengikuti pelajaran Sejarah dan ingin kami mengganti atau mengambil mata pelajaran lain, karena bagi mereka, mata pelajaran Sejarah bukanlah mata pelajaran utama di sekolah. Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika, itulah yang utama. Ayah dan ibu kami tahu itu. Kami pun hanya mampu menuruti perintah ayah dan ibu kami, karena kami tidak ingin dikeluarkan dari sekolah itu.
Tetapi kemudian, kami selalu mencuri-curi waktu untuk mengikuti pelajaran Sejarah di sekolah dan ketika kami selesai mengikutinya, kami selalu menelpon ayah dan ibu kami, bahwa kami akan menginap beberapa hari di rumah kawan sekolah kami dengan alasan: ada tugas kelompok yang sangat sulit, yang mengharuskan kami untuk menyelesaikannya lebih cepat. Ayah dan ibu pun selalu mengizinkan kami. Berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan bertahun-tahun kami tak dapat melepaskan diri untuk selalu mengikuti kelas pelajaran Sejarah. Kami kian ketagihan untuk ikut setiap waktu sehingga terpaksa, kami berbohong kepada ayah dan ibu kami dengan memaksa mereka mendaftarkan kami menjadi siswa asrama di sekolah itu. Alasan kami, pertama, karena kami sering datang terlambat tiba di sekolah akibat angkutan umum yang sering terlalu lama menunggu penumpang atau terjebak kemacetan lalu lintas terutama pada pagi hari. Selanjutnya karena jam pulang sekolah kami yang terlalu sore sehingga memangkas waktu istirahat kami hingga malam hari dan keesokan paginya kami masih merasa lelah berangkat ke sekolah. Ayah dan ibu kami pun mengizinkan. Alasan mereka, tentu, ingin anak-anaknya belajar mandiri sehingga tidak menyusahkan orangtua kami ketika kami telah dewasa nanti.
Lalu mengapa kami menyebut sejarah sebagai cerita? Sungguh, karena kami tidak pernah tahu atau melihat dengan mata kami sendiri, bagaimana setiap peristiwa-peristiwa yang disebut sejarah itu terjadi. Kami tidak pernah tahu dan tidak pernah mengalami sendiri sehingga bagi kami, semua itu hanyalah cerita belaka. Hanya cerita. Kami hanya membaca, mendengarkan, lalu menurut saja dan percaya, bahwa segala hal dan peristiwa yang ditulis dalam buku-buku pelajaran Sejarah itu adalah cerita-cerita yang benar, yang disebut dengan sejarah. Ya, cerita yang benar, yang sesuai dituturkan oleh guru-guru Sejarah kami di depan kelas dengan layah setiap anggota tubuh yang penuh tekanan dan langgam suara yang berat mendesak dan cepat. Dengan begitu, guru-guru Sejarah kami berpikir, dapat membuat kami merasakan bagaimana sesungguhnya atmosfer latar keterkejutan, ketakutan, kebingungan, kesedihan, kegembiraan, dan kemarahan ketika sejarah itu dimulai, tengah, dan selesai terjadi.
Konon, kami pernah membaca tentang cerita sejarah kota-kota atau negeri-negeri yang terkubur dalam kungkungan waktu gelap yang pengap dan terkubur sangat dalam di bumi vulkanis yang basah. Dan yang selalu kami ingat adalah cerita sejarah tentang tiga kota1) yang diubah waktu menjadi batu-batu, menjadi fosil-fosil yang kekal kemudian dikuak dan dipelajari para ilmuan dan arkeolog. Kami selalu mengingatnya, karena kami tidak dapat melepaskan diri dari ingatan foto-foto, gambar-gambar, dan dalam tur film yang diperlihatkan kepada kami oleh guru-guru Sejarah kami; di mana tubuh orang-orang di ketiga kota itu terhampar utuh membatu seakan tertidur dalam lelap yang abadi seperti sebuah karya agung tangan seorang seniman patung kelas dunia. Begitu nyata, kuat, dan hidup. Kami seakan berimajinasi tentang bagaimana tubuh-tubuh itu hendak melarikan diri dari maut kemudian beku-membatu berbalut lumpur yang mengeras berwarna coklat keabu-abuan seperti warna tanah liat keramik yang masih basah, lengkap dengan kain pakaian yang masih melekat; terperangkap, merumuk, terlentang, dan tenggelam dalam bisu batu. Kota-kota menjadi bangkai dan mati sunyi-senyap seketika. Gunung yang biru menjulang tinggi dan kokoh menjadi latar di belakang puing-puing bangunan dan pilar-pilar kuil itu seakan adalah tahta titah raja yang tak dapat dibantah. Meskipun begitu, gambar-gambar, film, dan segala hal yang dituturkan oleh guru Sejarah kami, semua itu masih kami anggap sebagai sebuah cerita belaka, bukan sejarah.
Hingga pada akhirnya kami sadar, hari ini kami telah menjadi bagian peristiwa sebuah sejarah—walaupun bukan bagian dari sejarah (atau cerita?) yang disampaikan oleh guru-guru Sejarah kami. Kali ini kami tidak membaca atau mendengar cerita-cerita sejarah itu dari buku-buku atau dari yang dituturkan oleh guru-guru Sejarah kami. Kami telah mengalaminya sendiri sehingga kami paham, bahwa sejarah bukanlah cerita melainkan kehidupan yang terkubur. Kami telah melihatnya dengan mata kami sendiri. Di atas tebing bukit ini kami melihat berbagai rangkaian peristiwa terjadi lalu kemudian tumbuh menjadi sebuah sejarah. Kami melihat—sebagaimana yang pernah kami ingat tentang cerita, bukan, sejarah tentang tiga kota yang diubah waktu menjadi batu-batu—di atas tebing bukit ini dengan mata kami sendiri di mana sebuah negeri yang telah terkubur lalu tumbuh menjadi sejarah, yang penuh kebahagiatan, kerelaan diri, dan cinta. Kami melihat orang-orang itu begitu rela, begitu cinta dengan negeri mereka sendiri dengan luapan sejarah yang telah mereka tanam di dalamnya sehingga mereka hanya diam dan bahagia ketika maut melahap perlahan-lahan. Kami sungguh tidak mengerti dan betapa kami menganggap mereka hanyalah orang-orang yang egois karena sejarah sendiri. Betapa kami pun tidak mengerti bagaimana sejarah telah menjadikan mereka orang-orang yang rela penuh cinta dan kebahagiaan. Akhirnya yang dapat kami lakukan hanya memakluminya saja sambil berdiri termangu menatap nanap negeri itu yang perlahan-lahan pupus terkubur alir magma berpercik cahaya kuning yang sangat terang. Kami hanya dapat menggenggam sisa-sisa ingatan yang dititipkan kepada kami di hari-hari terakhir persinggahan kami di negeri itu kemudian menatap sunyi sekantung plastik mungil yang berisi biji-biji pohon maple, hadiah terakhir untuk kami dari seorang anak laki-laki.
***
Anak laki-laki itu bernama Sergei. Fajar mulai bangkit ketika dia tengah membersihkan ruang lobi hotel milik keluarganya. Disapunya lantai dengan perlahan sambil menahan kantuk dengan terangguk-angguk. Semalam dia memang tidak tidur nyenyak, karena terlalu lama menatap langit dan bintang-bintang. Beberapa hari ini cuaca pada malam hari sungguh cerah sehingga anak itu tidak ingin melewatkan setiap malamnya untuk selalu menatap hana langit, begitu lama. Selalu ada keinginan kuat yang menambatkan hatinya untuk sekadar bercakap-cakap dengan hitam langit dan kilau bintang-bintang.
Dalam pikirannya, terbersit suatu keinginan untuk menjaring perasaan saat menatap hitam langit dan kilau bintang-bintang dari tempat yang berbeda, jauh di luar negeri yang ditinggalinya ini semenjak lahir. Ada yang harus kujelajahi di luar sana, pikirnya. Jika aku dapat menjelajahi setiap penjuru negeri di dunia ini, maka aku akan menjadi seorang pemandu wisata terbaik di dunia. Si anak ingin merasakan bagaimana rasanya melihat langit di belahan dunia yang berbeda dan di tempat yang berbeda pula. Apakah akan terasa sama ataukah terasa lain. Hanya itu kepenasarannya selama ini yang selalu membuat dia betah berlama-lama hanya untuk menatap langit dan hamparan bintang-bintang sambil merebahkan diri di bentangan padang rumput kemudian menyilangkan kedua tangannya di bawah kepala.
Sebelumnya dia telah memutuskan untuk bermalam di luar rumah saja; merebahkan diri di hamparan padang rumput, di bawah sebatang pohon maple hanya untuk merasakan kedamaian yang mungkin kelak tidak akan pernah didapatkannya lagi. Anak itu teringat percakapan dengan Ayahnya suatu sore ketika acara minum teh keluarga di kebun belakang rumahnya.
“Jika kelak kau telah tumbuh dewasa, maka tidak ada waktu bagimu untuk bersantai hanya untuk merebahkan diri di tempat itu dan menatap langit sepuasnya. Saat kita telah dewasa, kita harus bekerja dan mengurus rumahtangga seperti kehidupan ayahmu kini” kata ayahnya. “Ingatlah, tugas utama seorang laki-laki dewasa adalah membahagiakan orang yang paling dicintainya,” ayahnya melanjutkan.
“Mengapa ayah? Bukankah aku selalu membahagiakan ayah dan ibu walaupun saat ini aku belum bekerja,” anak laki-laki itu ingin tahu. Dia selalu mengingat bagaimana ayah dan ibunya selalu berkata setiap malam menjelang tidurnya, bahwa dia adalah anak kebahagian bagi mereka. Betapa si anak laki-laki itu pun selalu menyadari begitu besar cinta orangtuanya kepada dia.
“Karena selama ini ayahlah yang telah bekerja untuk membahagiakanmu dan ibumu sehingga kamu dapat membahagiakan ayah dan ibumu juga. Ketika dewasa nanti, kamu harus membahagiakan orang yang paling kamu cintai, selain ayah dan ibumu, yaitu istri dan anakmu.”
Si anak tercenung. Mengangguk-anggukan kepala juga menggeleng-gelengkan kepala, antara paham dan belum paham makna perkataan ayahnya itu. Tetapi yang ada dalam pikirannya saat itu adalah, bahwa tugasnya kelak setelah menjadi seorang laki-laki dewasa akan lebih berat dibandingkan ayahnya, karena dia harus membahagiakan empat orang yang paling dicintainya, yaitu ayah, ibu, istrinya, dan anaknya. Oleh karena itu, sebelum usia dewasa itu tiba dan dia pasti selalu sibuk membahagiakan orang-orang yang paling dicintainya, maka saat ini anak itu ingin sepuas-puasnya menatap langit dan bintang-bintang yang menggelimantang jutaan cahaya di mata bulatnya.
Tetapi kemudian niatnya selalu pupus, Ibu anak itu akan berteriak-teriak memanggil namanya untuk segera masuk ke dalam rumah jika dia telah terlalu lama menenggelamkan diri dalam dingin pekat malam. Ibunya tidak ingin anak itu terkena flu. Anak itu pun segera menuruti perintah ibunya. Ada helaan nafas pendek yang berat, tetapi si anak itu lalu tersadar betapa dia begitu mencintai ayah dan ibunya. “Jika bukan karena ayah dan ibu, aku tidak mungkin di sini menatap langit sepuasnya,” ucapnya sambil bangkit lalu menepuk-nepuk pantatnya, membersihkan serpihan-serpihan rumput dan daun-daun kering. “Iya, Bu! Aku segera masuk!” teriak si anak sambil berlari menantang hembusan udara dingin di sekujur tubuhnya.
Kenangannya setiap malam itu pun lalu membuyar pecah ketika dia menyadari tubuhnya mulai terasa hangat. Cahaya matahari telah menyirami sebagian tubuhnya melalui beberapa jendela kaca hotel. Si anak ingat, dia belum menyapu halaman depan hotel itu dari tebaran daun-daun kering berwarna kuning terang yang berjatuhan dari beberapa batang pohon maple. Kemarin ayahnya menyuruh dia untuk menyapu halaman depan hotel itu. Tidak seperti biasanya, pikir anak itu. “Esok seorang pengembara akan berkunjung ke negeri kita,” kata ayahnya. Tiba-tiba mata mungil anak itu pun langsung terbelalak membesar, memercikkan cahaya.
***
Jika kau lihat negeri itu dari atas tebing bukit ini, sungguh tampak seperti nirwana yang pernah kau baca atau dibayangkan. Negeri yang tentram. Negeri itu tampak seperti tertanam jauh ke kedalaman ceruk tasik kering. Berpayung awan tipis, berjurang dalam, berlembah sempit, dan berbenteng pilar gunung-gunung yang tegak pagan di kedua belah sisinya, menjulang di sebelah barat dan timur. Ketika fajar tiba, kota-kota yang terletak di sebelah barat akan bergelimantang cahaya, dan ketika senja merekah maka kota-kota bagian timur akan berbalut temaram surya. Dan saat matahari menggelinding dan tercacak tepat di antara kedua gunung itu, maka seluruh kota akan menggeliat bersinar gemerlapan. Gedung-gedung dan bangunan rumah-rumah penduduk yang serupa kubus-kubus berdiri dengan tegak memantulkan kilauan cahaya matahari ke segala penjuru dan pilar gunung-gunung dan tebing-tebing perbukitan menahan pantulan-pantulan kilau cahaya itu untuk selalu menyelubungi negeri itu. Tepat ketika waktu itulah, kota-kota di negeri itu akan ramai penduduk. Orang-orang di negeri itu satu per satu keluar dari rumah mereka masing-masing. Menikmati guyuran cahaya matahari bersama-sama. Di ibu kota negeri itu, keramaian terjadi dan orang-orang mulai saling menyapa tetangga mereka satu per satu, berjalan-jalan, bercerita, sekadar bercanda, atau saling bertukar hasil yang telah diraupnya kemarin hari.
Selain dibentengi oleh dua pilar gunung yang tegak, negeri itu pun dikelilingi selubung hutan hijau pekat maha luas sehingga orang-orang tidak akan menduga, bahwa ada sebuah negeri melesak di tempat seperti itu. Di sekelilingnya, termangu pagar benteng yang setinggi duapuluh meter dengan dua buah madat di samping kiri dan kanan, berpapasan dengan gerbang masuk sehingga kehidupan di negeri itu terisolasi dari peradaban luar selama berabad-abad. Walaupun negeri itu berada di tengah hutan dan diapit dua pilar gunung yang menjulang kokoh, dipenuhi lembah dan perbukitan yang berbalut rumput hijau, juga tanah yang terkenal subur, mata pencaharian utama penduduknya bukanlah sebagai penebang kayu, peladang, pemburu, atau pun petani, melainkan banyak yang menjadi pemilik hotel dan pemandu wisata. Tentu, selebihnya adalah penjual roti, kue, bunga, kain, dan suvenir, juga sedikit penebang kayu, peladang, pemburu, atau pun petani.
Negeri itu tidak seluas yang kau bayangkan. Jika dibandingkan dengan luas wilayah Negara Kota2) yang terhampar di daratan Eropa sana, negeri itu hanya memiliki setengah luas wilayahnya saja. Di negeri itu, sebuah kota hanya berpenduduk sekitar sebelas Kepala Keluarga yang terdiri dari tiga hingga lima orang anggota keluarga yang kemudian menghuni sembilan kota. Dataran yang paling rendah dari negeri itu berada sekitar tiga ribu kaki di atas permukaan laut. Saat musim dingin tiba, cuaca begitu teramat dingin sehingga salju turun sangat lebat dan sering menghalangi permukaan puncak gunung. Tetapi selanjutnya selalu tergantikan oleh datangnya musim panas yang dingin, kering, dan cerah.
Selalu terlintas dalam setiap perjalananku untuk menemukan negeri itu. Orang-orang yang pernah kutemui selama perjalananku selalu bercerita, bahwa di hutan bagian utara terdapat sebuah negeri yang terkenal dengan penduduknya yang tidak ramah. Orang-orang itu kemudian menjuluki negeri itu dengan sebutan Negeri yang Tak Ramah, walaupun sebenarnya mereka tidak tahu pasti nama sesungguhnya negeri itu. Terlebih lagi ditambah rumor yang mengatakan, bahwa penduduk negeri itu sangat membenci kaum pengembara. Jika ada pengembara singgah di negeri itu atau berusaha menyeberangi negeri itu, maka penduduk negeri itu akan melemparinya dengan batu, panah, atau senjata-senjata tajam lainnya sehingga tak ada seorang pengembara pun yang dapat selamat dan melanjutkan perjalanan mereka. Para pengembara yang berhadapan dengan negeri itu selalu ditemukan mati dengan leher dan tubuh legam lunglai tercabik-cabik tergantung di depan gerbang pintu masuk. Lalu darah mereka akan membanjiri halaman gerbang pintu masuk. Dari jarak sekitar sepuluh meter kau dapat dengan mudah mencium amis darah yang memualkan. Karena itu, banyak kaum pengembara yang tidak sudi memilih rute perjalanannya melewati negeri itu, melainkan mengambil jalan memutar menjauhi negeri itu. Namun yang sangat kusayangkan pula, belum ada satu orang pun dari orang-orang yang bercerita itu melihat dengan mata telanjangnya sendiri.
“Jadi, itukah alasanmu? Kau tidak percaya dengan kisah yang diceritakan orang-orang itu padamu?”
Begitulah, sebelum aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Kupikir itu hanya kabar angin saja. Kabar angin yang terbang dan bertiup dari satu negeri ke negeri lainnya, namun tetaplah, angin hanya sebuah kekosongan belaka. Jikalau cerita itu benar, maka tampaknya aku menemui ajalku sendiri.
“Apa kau gila?! Lebih baik kita mengikuti saran orang-orang itu dan mengambil jalan memutar. Lalu bagaimana kau bisa melanjutkan perjalananmu? Sinting!”
Hahahaha... Kau mudah sekali dipengaruhi cerita kosong orang-orang itu. Itulah sebabnya, aku tidak suka berlama-lama singgah di setiap negeri yang kudatangi. Mereka selalu berusaha merampas pikiran dan perasaanmu agar berpurwacipta seperti mereka. Dan akhirnya kau pun akan memutuskan berhenti melanjutkan perjalananmu dan diam lalu tumbuh dan menggeliat di negeri mereka.
“Tetapi...”
Ataukah karena kau takut tersesat di hutan seperti tempo hari? Kurasa, karena itulah kau berkeras diri membujukku mengambil jalan memutar tanpa melewati hutan pekat dan negeri itu, bukan? Hutan memang terkadang menyesatkan, jika kau salah menerjemahkan layah pohon-pohon, nyanyian udara, dan bisikan sungai. Kali ini, aku mempercayakan perjalananku pada akar-akar pohon, karena mereka selalu berpilin menjalar menuju sumber kehidupan.
“Lalu apa yang akan kau lakukan di negeri itu?”
Aku masih selalu mengingat ucapan kakekku semasa aku masih bocah, “Kita terlahir dari sejarah kemudian mati bersama sejarah, menjadi sejarah. Jika kau ingin mengenal baik penduduk di sebuah negeri, maka pelajarilah sejarah negeri itu maka dapat kau lihat bagaimana penduduk itu tumbuh menjalani kehidupannya sepanjang masa selama berabad-abad.”
“Itukan sebabnya kau memutuskan mengembara?”
Aku percaya, orang-orang tumbuh dari sejarah. Aku selalu ingin tahu bagaimana sejarah selalu tumbuh dalam diri orang-orang itu. Namun, ada satu hal yang belum dapat kupahami, di setiap negeri, di setiap penjuru, orang-orang selalu pergi meninggalkan negeri-negeri mereka, menjauh dari sejarah mereka sendiri. Melupakan setiap rangkaian masa lalu dan selalu terlena dengan hal-hal baru yang begitu canggih, modern, dan instan. Akan tetapi, tanpa mereka sadari pula, pada akhirnya mereka selalu kembali pulang pada sejarah yang dahulu mereka sia-siakan. Kembali pulang pada kelampauan yang dahulu mereka lupakan: sejarah mereka sendiri.
***
Tepat di depan gerbang masuk menuju negeri itu, kulihat dua orang penjaga berpakaian militer berjaga dengan mata awas lalu perlahan-lahan menghampiriku. Kukatakan kepada mereka, bahwa aku ingin mengunjungi negeri mereka dan bermalam selama beberapa hari. Kedua penjaga itu lalu memindaiku dengan sorotan mata tajam dari ujung kaki hingga kepala dan beberapa tas-tas perbekalan yang kuikat di kedua sisi sepeda motorku. Kedua penjaga itu lalu melangkah menjauhiku dan mulai saling berbisik.
“Mungkinkah kedua penjaga itu ingin membunuh kita?”
Aku tidak tahu. Mungkin saja, yang jelas mereka sudah menduga bahwa aku seorang pengembara, tetapi aku tidak ingin mati hari ini. Peluru-peluruku yang akan berbicara nanti jika mereka mulai bertingkah mencurigakan dan mengancam. Tenanglah.
Kemudian seorang penjaga menghampiriku dan bertanya, berapa lama aku akan tinggal di negeri mereka. Kujawab, belum pasti. Aku mungkin akan tinggal lama jika aku menginginkannya atau sebaliknya, bergegas pergi jika aku mulai merasa bosan. Namun, entah bagaimana, akhirnya aku menyebutkan juga tawaranku, mungkin sekitar lima hari. Kedua penjaga itu pun kembali saling berbisik dan salah seorang penjaga berkata, “Tidak bisa! Kami hanya bisa mengizinkanmu berkunjung selama tiga hari saja. Tidak lebih! Jika kau tidak setuju, maka pergilah!”
Tiga hari... Aku diam dan menimbang-nimbang, mengapa mereka harus membatasi waktu kesinggahanku di negeri mereka. Aku bisa melihat kecemasan dan raut tidak menerima jalan kompromi di wajah kedua penjaga ini. Ah baiklah, tiga hari sudah cukup bagiku daripada aku kehilangan kesempatan. Mereka mengangguk lalu menyuruhku menghadap salah seorang penjaga lainnya di salah satu pos penjagaan untuk membuat surat perjanjian tinggal selama tiga hari di negeri itu.
“Menurutmu, kenapa kita hanya diizinkan selama tiga hari saja? Apakah karena kita kaum pengembara?”
Entahlah. Mungkin mereka tidak mau ambil risiko yang akan membahayakan keamanan negerinya. Kurasa kita akan mengetahuinya nanti setelah kita masuk ke dalam negeri itu.
Kemudian aku melangkah memasuki pintu gerbang dan seketika jua aku tertungkap. Aku mematung dan terpana. Alir darah di urat nadiku pun seakan tiba-tiba berhenti, mencoba menyadarkan waktu. Ada apa dengan negeri ini? Orang-orang ini! Aku nanap pana melihat orang-orang ini.
“Ada apa dengan orang-orang ini? Ada apa dengan negeri ini? Tidak mungkin!”
Iya. Aku tidak tahu. Aku pun tidak percaya dengan apa yang kulihat dengan mataku sendiri. Sungguh aneh!
Orang-orang itu, orang-orang di negeri ini menyambut kedatanganku dengan pesta! Pesta yang sangat meriah dan megah. Dapat kulihat karnaval kereta kuda penuh hiasan bunga, sirkus dengan badut-badut, teriakan terompet, dan gadis-gadis cantik! Mereka tersenyum lebar dengan mata berbinar. Aku hanya dapat melilau memperhatikan sekeliling. Kulihat pula beberapa spanduk yang bertuliskan, “Selamat Datang Pengembara!” Kemudian satu per satu, para penduduk itu, mulai menghampiriku lalu mengerumuniku. Sungguh, kau pun tak akan menduga apa yang tengah terjadi padaku saat ini. Mereka bersorak girang, tertawa bahagia lalu menyalamiku sebagai tanda selamat datang atas kunjunganku di negeri mereka.
“Ada pengembara! Seorang pengembara telah mengunjungi negeri kita! Ada pengembara! Selamat datang pengembara! Selamat datang di negeri kami!”. Seperti itulah teriakan mereka menyambutku. Aku tidak dapat berkata apa-apa. Di sini tak kulihat ketidakramahan itu, seperti yang telah kudengar dari orang-orang yang telah kutemui selama perjalananku yang lampau. Mereka semua tersenyum bahagia. Yang kulihat hanyalah kegembiraan! Gegap gempita gelak tawa! Kurasa aku masih tidak menyadari dengan apa yang kulihat ini. Di manakah Negeri yang Tak Ramah itu? Apakah aku telah tersesat dan terpasah?
Kemudian satu per satu orang-orang itu berdesakan berusaha menawarkan pelayanan hotelnya masing-masing sehingga aku bingung untuk memilih. Ketika aku mulai jeri dan merasa sangat lelah dengan suara riuh orang-orang itu, aku pun berteriak kencang, berusaha meredam keriuhan. Sontak mereka semua diam terpana. Sunyi. Saat situasi perlahan tenang dan dapat kukendalikan, kutanyakan kepada mereka, apakah ada hotel yang menyediakan layanan kamar dengan garasi untuk satu sepeda motor dalam satu ruangan. Orang-orang itu diam. Mereka melilau ke sana ke mari. Kurasa memang tak ada hotel yang mampu menyediakan pelayanan kamar seperti itu. Namun, tiba-tiba seorang bocah lelaki melompat dari atas tong kayu yang hampir setinggi ukuran tubuhnya dan lantang berteriak memecah kerumun keriuhan, “Di hotelku ada!” Dan saat itulah pertama kali aku bertemu Sergei.
***
Kau tahu, Tuan Pengembara? Kami lahir dari darah-darah peperangan, tulang-tulang pembantaian, dan luka-luka pengkhianatan. Dahulu kami adalah penduduk sebuah negeri yang subur dan damai, itulah yang selalu diceritakan ayah dan ibu kami secara turun temurun selama berabad-abad lampau. Tetapi kemudian kedamaian di negeri kami yang terdahulu terusik oleh masalah sengketa tanah dengan negeri tetangga kami. Para penguasa kami saling berebut dan lupa diri, padahal sebelumnya hubungan negeri kami dengan negeri tetangga kami sangatlah damai sehingga kami selalu menganggap penduduk di negeri tetangga kami sebagai saudara kami sendiri. Para penguasa di tiap negeri kemudian membangun kelompok-kelompoknya sendiri-sendiri, armada-armadanya sendiri, dan masing-masing penguasa negeri kemudian sepakat mendeklarasikan diri untuk berperang, bahwa pihak yang menang akan mendapatkan tanah itu.
Tetapi perang tak kunjung selesai, Tuan, berbulan-bulan, bertahun-tahun.... kedua belah pihak yang berperang sama-sama kuat. Seimbang. Kami semakin kehilangan harta, tanah, dan pekerjaan kami, juga satu per satu teman-teman kami, sahabat-sahabat kami, bahkan saudara-saudara kami. Kami yang hanya penduduk biasa, tidak memiliki cukup kekuatan untuk melawan keputusan para penguasa kami, karena perang telah memusnahkan semuanya yang ada pada kami. Kami semakin tidak paham dan tidak tahan dengan sikap kekukuhan para penguasa kami yang kemudian selalu mementingkan perang daripada sengketa tanah yang dahulu pernah mereka perebutkan dengan negara tetangga kami. Akhirnya permasalahan sengketa tanah itu menjadi tidak penting lagi bagi kedua pihak yang berperang, tetapi peranglah yang paling penting. Kami lelah dan sengsara, begitu pula para warga sipil di negeri tetangga kami. Bahkan kami menjadi korban kedua belah pihak yang berperang, karena benda-benda yang menjadi sasaran penembakan dan pengeboman dalam berperang semakin berkurang. Kami, para warga sipil, layaknya boneka-boneka yang siap dihancurkan dalam permainan perang mereka. Maka kami dan sebagian penduduk dari negeri tetangga kami bersepakat untuk meninggalkan negeri kami masing-masing. Kami bersepakat untuk menyelamatkan diri kami dari ambisi para penguasa kami yang begitu mencintai perang.
Kemudian kami berdiaspora mencari negeri baru untuk kami tinggali selama berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun, bahkan berpuluh-puluh tahun, tetapi tak ada satu pun dari negeri-negeri yang kami datangi itu mau menerima kadatangan kami karena kami dikenal dengan orang-orang dari negeri yang cinta berperang. Kami sempat putus asa, Tuan, karena banyak di antara teman-teman dan saudara-saudara kami yang meninggal dalam perjalanan kami mencari negeri untuk ditinggali dan kami pun tidak mungkin kembali pada negeri kami yang dahulu karena keduanya telah lebur tanpa sisa. Kami hanya tersangkut di hutan-hutan dan di puncak-puncak pegunungan selama menempuh perjalanan untuk menemukan negeri yang sudi menerima kami. Tetapi, tak ada satu negeri pun yang sudi menerima kami, Tuan. Kami lelah dan terpuruk.
Akhirnya, kami pun memutuskan untuk membangun negeri kami sendiri di atas tanah ini, tepatnya di wilayah hutan ini, yang terhampar di antara kedua pilar gunung. Di sini kami membangun perkampungan penduduk dan kemudian perkampungan kami berkembang menjadi kota-kota, sebagaimana bertambahnya jumlah orang-orang di sini, setelah selama berabad-abad, maka tanah ini pun tumbuh menjadi sebuah negeri. Negeri yang kemudian menjadi milik kami selamanya. Kami tidak akan pernah lupa dari mana asal kami; bagaimana darah, air mata, dan nyawa kami menjadi materi-materi untuk membangun negeri ini, Tuan, sehingga tak ada dari kami yang ingin keluar dari negeri kami hanya untuk melancong ke negeri lain, karena mereka dahulu adalah negeri orang-orang yang pernah menolak menampung kami. Oleh karena itu, kami sengaja menyebarkan kabar angin, bahwa penduduk negeri kami adalah para penduduk yang tak ramah dan sering membunuh kaum pengembara yang datang ke negeri kami, karena kami takut, kaum pengembara akan datang ke negeri kami dan berbagi kabar tentang keberadaan negeri kami ke negeri-negeri lainnya.
Tetapi suatu hari, pemimpin negeri kami memutuskan untuk menerima kedatangan seorang pengembara. Kami telah menunggu selama beberapa hari, namun tak datang jua hingga akhirnya Tuan datang. Sempat kami merasa ketakutan, sudah tak ada lagi pengembara yang ingin datang mengunjungi negeri kami karena sebaran rumor itu, Tuan. Kami pun sengaja membatasi waktu kunjungan Tuan yang hanya tiga hari saja, karena setelah berakhirnya hari kunjungan Tuan di negeri ini, maka akan menjadi hari terakhir bagi negeri kami pula. Kami tidak ingin membuat Tuan cemas dan gelisah jika Tuan tahu, bahwa negeri kami tengah berada dalam situasi yang rawan. Kami, anak-anak negeri ini, tidak diberitahu oleh pemimpin negeri, bahkan orangtua kami bahwa hari ini adalah hari terakhir kehidupan kami.
Tuan tahu? Sesungguhnya perasaan kami lebih peka dibandingkan orangtua kami. Kami tahu, bahwa Pusat Badan Geologi telah memberitahukan kepada pemimpin negeri kami, bahwa sekitar satu minggu lagi kedua pilar gunung ini akan memuntahkan amarahnya dan letusan kedua gunung itu akan menghancurkan dan mengubur negeri kami dalam-dalam. Kami tahu dan menyadari, bahwa jika kami pergi dari negeri ini untuk menyelamatkan diri, sesungguhnya tak akan ada satu negeri pun yang akan menerima kami dan jika kami pergi untuk membangun negeri kami yang baru, kami tidak memiliki kekuatan lagi, Tuan, karena saat ini kebanyakan dari kami terdiri dari orang-orang tua, wanita-wanita, dan anak-anak. Akhirnya kami pun memutuskan tinggal dan tidak ingin melarikan diri dari negeri ini karena negeri ini pun adalah bagian inti nyawa kami. Walaupun begitu, kami yang telah tumbuh di dalam sejarah negeri ini, akan selalu bersama dan menuruti orangtua kami. Kami rela dengan keputusan orangtua kami dan inilah cara kami membahagiakan orang-orang yang paling kami cintai.
Kami telah bersepakat menerima kunjungan Tuan di negeri kami supaya Tuan dapat mengabarkan tentang keberadaan negeri kami ke negeri-negeri lainnya. Tuan dapat mengabarkan kepada mereka, bahwa sesungguhnya negeri kami adalah negeri yang ramah. Dan kabarkan pula kepada para sejarawan dunia, bahwa pernah ada sebuah negeri yang tertancap di bawah timbunan magma beku ini. Sebarkanlah pula biji-biji pohon maple itu di setiap negeri yang Tuan datangi, bahwa inilah pohon yang menjadi simbol keramahan negeri kami. Maafkanlah kami Tuan, orangtua kami, dan pemimpin negeri kami yang telah menyembunyikan hal ini dari Tuan. Sesungguhnya, kami pun dilarang untuk memberitahukannya kepada Tuan, tetapi kami tidak ingin negeri ini tenggelam begitu tanpa ada satu orang pun tahu, bahwa pernah ada sebuah negeri tumbuh di antara dua pilar gunung ini yaitu sebuah negeri yang ramah. Kami tidak ingin dikenal oleh orang-orang dari negeri-negeri lain sebagai orang-orang yang tidak ramah atau bahkan orang-orang yang mencintai perang. Tidak Tuan, kami adalah orang-orang sangat mencintai kedamaian.
Tuan, mungkin kami tidak dapat menjadi pemandu wisata yang terbaik di dunia ini, karena kami hanya mampu menjelajahi negeri kami sendiri, sejarah kami sendiri, tetapi kami telah memandu Tuan selama tiga hari di negeri kami dengan segala kemampuan dan kebahagiaan yang kami miliki. Terima kasih, Tuan.

Salam,
Sergei

***

bumi singgah,
2008




Keterangan:


1) Pada tanggal 24 Agustus tahun 79 Setelah Masehi, pada pertengahan abad ke-19, tiga kota besar; Herculaneum, Pompeii, dan Stabiae di Italia terkubur oleh erupsi Gunung Vesuvius dan sekitar 2000 orang meninggal dunia.


2) Kota Vatikan (Vatican City); Negara Kota merdeka terkecil di dunia dengan luas area 44 hektar (110 ekar), terletak di bukit Vatikan, sebelah kanan tepi Sungai Tibet, dengan kepala negara dan pemerintah dipimpin oleh Paus.


Madat : menara tempat orang berjaga (berkawal), di mana dinding/ tembok di atap/ di menara diberi lubang-lubang untuk mengintai atau menembak.


*) Dimuat pada Jurnal Cerpen Indonesia Edisi Khusus, Edisi 10, tahun 2010

May 7, 2012

Koleksi 932010


Seppuku

Awalnya saya akan bunuh diri hari ini. Tetapi tiba-tiba niat itu terhenti karena kedatangan suatu lintasan berupa ingatan. Ingatan itu menyeruak, memaksa saya untuk tetap hidup sementara waktu. Jelas sekali, saya tidak ingin mati dengan cara yang menyedihkan berdasarkan versi saya sendiri, yaitu mati tanpa memiliki kenangan. Saya pikir itu tidak akan menjadi terlalu menyedihkan bagi saya. Saya mengurungkan niat itu karena sebuah benda yang saya temukan di gudang, di lantai dua rumah saya.

Awalnya saya merasa terganggu oleh lengkingan suara, seperti suara kucing. Saat saya periksa, ternyata dugaan saya benar. Ada empat ekor bayi kucing dan induknya dalam sebuah kardus kosong. Saya tidak tahu bagaimana induk kucing itu bisa sampai ke lantai dua rumah saya, saya pun tidak terlalu memedulikannya. Saya pun segera memindahkan kardus kucing itu dan itu berarti saya pun harus memindahkan beberapa tumpukan kardus di bawahnya. Di sanalah saya menemukan geletak surat undangan yang telah usang. Surat undangan yang usang itu bagai tertanam di dasar tumpukan kardus-kardus buku-buku bekas, lembaran kertas-kertas tugas, data-data kepenulisan, barang pernak-pernik yang setiap satu buahnya adalah kunci bagi ingatan-ingatan saya. Surat undangan itu rupanya telah terjatuh sekian lama dari kardus penyimpanan barang pernak-pernik ketika saya meletakkannya pertama kali di gudang sehingga saya baru bisa melihatnya lagi hingga saat ini. Surat undangan yang usang itu bukanlah surat undangan biasa serupa undangan untuk pernikahan, perayaan ulang tahun, atau undangan menghadiri acara dan kegiatan sastra yang biasa saya terima. Surat undangan yang usang itu sepertinya ditulis sebagai sebuah tantangan terhadap diri saya daripada sebagai surat undangan.

Kolektor

Sekitar tujuh tahun yang lalu, saya bertemu dengan seseorang. Laki-laki. Dia telah membuat saya tertarik kepadanya karena namanya. Kekariban yang begitu licin menghampiri kami yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Saya bukanlah orang yang mudah begitu karib terhadap laki-laki meski telah bertemu beberapa kali. Saya pun tak dapat memungkiri diri bahwa saya orang yang membosankan dan dingin. Ketika saya berbicara dengan lawan bicara saya, mereka pasti akan langsung menjauhi saya dengan berbagai alasan. Dari jarak yang jauh, mereka seolah-olah telah melihat saya memang begitu membosankan. Tampaknya saya tidak terlalu membutuhkan dunia yang dipenuhi komunikasi.

Namun menjadi berbeda setelah saya bertemu dengan lelaki itu, yang saya ketahui kemudian namanya adalah Sangdenai. Mendengar ia memperkenalkan diri dan mengucapkan namanya telah membuat saya senang sekaligus penasaran, meskipun saya menyadari nama itu bisa saja bukan nama aslinya, namun hal itu tidak menyurutkan niat saya. Saya merasa telah menemukan sesuatu yang membuat diri saya tertarik kepadanya tanpa ia harus bersusah payah untuk membuat saya tertarik terhadapnya.

Saya bertemu dengannya di sebuah toko buku. Ketika itu, saya tidak tahu bahwa ia adalah salah satu pemilik toko buku itu, sampai kemudian ia mengajak saya ke sebuah ruangan di belakang toko buku itu yang berukuran sekitar 5 x 5 meter yang dipenuhi dengan buku-buku koleksinya setelah pertemuan kami yang kesekian. Saya akui, buku-buku di toko bukunya tidak ada satu pun yang menarik perhatian dan minat saya. Namun tentu saja saya tidak akan mengatakan hal itu kepadanya. Meskipun saya membosankan, saya tidak terlalu tolol untuk merencanakan strategi pertemuan saya dengannya.

Ia mengatakan semua buku-buku itu tidak dijual. Saya perhatikan buku-buku koleksinya lebih banyak daripada buku-buku yang ia jual di toko bukunya sendiri. Buku-buku di ruangan itu menarik perhatian saya. Seluruh buku di ruangan itu disusun rapi secara alfabet seperti di perpustakaan umum dan tersimpan dalam lemari kaca lima tingkat. Dari situ saya berkesimpulan, bahwa buku adalah benda yang paling berharga baginya dan ruangan itu pasti perpustakaan pribadinya. Akan tetapi ketika saya menanyakan itu, ia bilang buku-buku itu bukanlah benda yang paling berharga baginya dan bukan perpustakaan pribadi.

"Jika begitu untuk apa buku-buku itu?" tanya saya penasaran.

"Saya kolektor, bukan pustakawan!"

Sungguh mengagetkan ia menjawab seperti itu, namun sangat rasional bagi saya. Hal yang paling utama bagi seorang kolektor adalah memiliki benda yang ingin dikoleksinya. Tak ada alasan yang mengharuskan untuk benda-benda itu dipergunakan atau dibaca seperti buku-buku koleksi miliknya.

"Lalu mengapa buku-buku itu tidak berharga, tetapi tetap disimpan sebagai koleksi?"

"Karena itu pilihanku. Aku memiliki berbagai jenis benda yang kukoleksi. Dan dibandingkan jenis benda koleksiku yang lain, koleksi buku-buku ini bukanlah koleksi yang paling berharga buatku."

"Hmm, sayang sekali ya buku-buku ini tidak bisa dibaca atau dipinjamkan...," ucap saya menggerutu pelan sekali berharap ia tidak mendengarnya. Namun rasanya, Sangdenai telah mendengarnya, "Karena itu pun pilihanku! Aku tidak melakukan sesuatu karena alasan tertentu, tetapi karena aku ingin melakukannya. Termasuk untuk tidak membaca dan meminjamkan buku-buku ini!" jelasnya. Keinginan dan pilihan dalam diri manusia untuk memutuskan sesuatu memang luar biasa dan mengejutkan, seperti halnya saya yang berkeinginan untuk bertemu dengannya. Postur tubuh Sangdenai tinggi seolah-olah menjelma pohon Angsana yang rawan rubuh. Kulitnya yang putih serupa lapisan kambium pohon Ekaliptus. Rambut panjang melebihi bahu seolah-olah sulur-sulur akar pohon beringin yang kehujanan. Dan sepasang mata berkacamata serupa burung hantu. Saya menduga, sepasang matanya itu lebih berguna saat datang malam hari sehingga akan memantulkan cahaya dalam kegelapan bak mata burung hantu.

"Apakah kamu memiliki sesuatu yang dikoleksi, Fina?" Saya diam sejenak. Buku-buku yang saya miliki di perpustakaan pribadi di lantai dua rumah saya tidak bisa dibilang koleksi, tetapi karena saya seorang penulis. Namun menurut sepengetahuan saya, suatu benda yang disebut koleksi merupakan benda-benda yang sangat disukai, berjumlah banyak, dan sangat berharga. Maka saya pun menjawab sekenanya, "Buku!"

Maison Bogerijen

Saya tidak menyangka jika pertemuan saya dengan Sangdenai di ruangan seluas 5 x 5 meter itu akan menjadi pertemuan terakhir bagi saya dengannya. Ketika keesokan minggu berikutnya saya mengunjungi toko buku itu, ia tidak ada di sana. Saya putuskan saya akan datang lagi pada minggu berikutnya. Namun, hingga minggu berikutnya dan berikutnya, juga berikutnya lagi, saya tidak pernah bertemu dengannya lagi hingga beberapa bulan selanjutnya.

Sampai enam bulan berikutnya setelah pertemuan terakhir saya dengan Sangdenai, tanpa saya duga seorang kawan saya yang hampir tiga bulan tidak mengontak saya muncul mengirimkan pesan singkat kepada saya. Dia bernama Dian Hartati. Ia mengajak bertemu dengan saya petang hari di Maison Bogerijen. Saya pikir ia mengontak saya lagi karena merindukan saya untuk dapat berbagi cerita ditemani semangkuk glacier, es krim selembut bedak sutra dan sebongkah roti mungil empuk seperti bantal guling. Dahulu, saya dan Dian memang sering datang ke tempat itu. Maison Bogerijen adalah kafe yang megah dan anggun bagi kami. Kami langsung jatuh cinta pada tempat itu setelah sebelumnya kami masuk ke ruang dapur tempat di mana es krim bak salju dan roti serupa kapuk empuk itu dibuat dengan pengaduk adonan dan oven tua.

Petang itu saya segera meluncur menyusuri Jalan Braga dari arah Jalan Wastukencana yang kemudian memotong Jalan Perintis Kemerdekaan dan Jalan Lembong. Maison Bogerijen yang hampir berseberangan dengan Gang Affandi itu tampak berkilau hijau-oranye. Dian terlihat sudah memesan tempat duduk di luar kafe arah gerbang masuk sebelah kanan. Kami saling menyapa dan berbincang-bincang ala kadarnya. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan meletakan benda itu di hadapan saya. Sebuah surat undangan. Saya mengambil dan membacanya, dan tertulis undangan itu berasal dari Sangdenai.

"Hah! Mana mungkin dia bisa begitu ceroboh mengatakan bahwa koleksiku belum lengkap?! Di kota ini tidak ada yang bisa mengalahkanku jika menyangkut soal gelang tangan," ucap Dian dengan nada kesal dan merasa disepelekan. Dian memiliki harga diri yang tinggi jika menyangkut benda-benda koleksi yang dimilikinya. Jika itu boleh dikatakan sebagai kepercayaan diri yang tinggi ataukah kesombongan, saya menduga kedua hal itu ada di dalam dirinya. Dian kemudian menceritakan pertemuannya dengan Sangdenai. Saya menduga itulah mengapa saya selama enam bulan terakhir ini tidak bertemu dengan Sangdenai lagi dan bagaimana ia bisa menghubungkan saya dengan Dian melalui surat undangan itu.

Dalam surat undangan itu tertulis bahwa benda-benda koleksi kami belum lengkap dan jika kami bermaksud melengkapi koleksi milik kami maka datanglah ke tempatnya yang baru. "Dengan mengatakan bahwa koleksiku belum lengkap, tentu akan mengerutkan kehormatanku sebagai seorang kolektor. Aku tidak terlalu memahaminya, tetapi jika koleksiku nanti tidak menjadi lengkap, kukira tak ada salahnya kita datang ke tempat barunya itu," ucap Dian yang saya artikan sebagai ajakan kepada saya untuk bersama-sama pergi ke tempat baru milik Sangdenai itu.

"Baiklah." Saya mengangguk.

Lukisan

Akhirnya saya akan bunuh diri hari ini. Meski saya mati hari ini, esok atau lusa saya akan hidup lagi. Begitulah alur kehidupan saya selanjutnya. Esok atau lusa si kolektor yang mengoleksi saya akan kembali memasukkan saya ke dalam lukisan. Si kolektor akan melukis saya kembali, begitupun dengan yang lainnya. Sekarang saya mengerti mengapa saya dan Dian Hartati diundang ke tempat milik Sangdenai yang baru itu. Tidak hanya kami berdua, tetapi beberapa orang telah diundang oleh Sangdenai. Mereka itu adalah kolektor benda-benda tertentu. Kami telah menunggu hampir lima jam lebih, tetapi si pemilik rumah tidak sekali pun menampakkan batang hidungnya untuk menyambut kami.

Sangdenai si pemilik rumah memang telah menyediakan ruang tidur bagi kami. Melalui pembantunya, ia telah menyediakan seluruh kebutuhan kami sehari-hari mulai dari makanan, pakaian, bahkan pekerjaan sehingga orang-orang ini rela menunggu untuk waktu yang tidak pasti itu. Namun, seiring waktu berkisar dalam penantian kami, saya baru menyadari bahwa beberapa orang telah menghilang di dalam ruangan ini. Jumlah kami berkurang dan jumlah lukisan semakin bertambah. Hingga kemudian Dian pun tidak berada di sekitar saya lagi. Saya sendiri, seakan telah berada di tempat yang paling nyaman sehingga tidak ingin pulang. Seakan itulah rumah saya. Bahkan, tidak saya sadari pula, bahwa saya telah tinggal di rumah itu selama berhari-hari, berbulan-bulan, hingga bertahun-tahun. Saya pikir, Sangdenai telah melengkapi benda koleksinya yang paling berharga dalam hidupnya, yaitu para kolektor-salah satunya termasuk saya, kolektor koleksinya yang ke-932010.

n.b.

Anda tahu apa yang telah saya lupakan? Hal yang paling penting bagi seorang kolektor adalah mengoleksi sesuatu yang tidak dapat dikoleksi oleh siapa pun.***


bumi singgah, 2010

Pikiran Rakyat, 18 April 2010

Bagume

Sebulan lewat. Siang ini, saya berencana untuk mengunjungi lelaki muda itu lagi. Saya rasa, waktu sebulan akan cukup untuk membuat lelaki berumur delapan belas tahun itu merasa tidak kerasan tinggal di rumah pesakitan. Seperti pada pertemuan kami sebelumnya, saya harus bersikap tenang ketika menghadapinya agar ia bisa merelakan diri untuk menceritakan perasaannya tanpa ada manipulasi.

Setiba di tempat itu, saya memohon kepada sipir agar saya bisa menemui lelaki muda itu kembali. Ia pun mempersilakan saya masuk dan menyuruh saya mencari sendiri lelaki muda itu. Kemudian saya melangkah masuk menuju gerbang pintu masuk lapis kedua dan pergi menuju bangunan aula para tahanan. Saya merasa aman dan leluasa mendatangi setiap aula para tahanan di rumah tahanan ini, karena di setiap wilayah bangunan aula telah dijaga oleh beberapa sipir. Para sipir di rumah tahanan ini dan sebagian para penghuni tahanan telah mengenal saya dengan baik.

Lalu saya mendatangi bangunan aula di area unit bagian utara, tempat di mana lelaki muda itu ditahan. Di halaman luar aula sudah terlihat beberapa penghuni tahanan tengah duduk santai di bangku kayu sambil merokok. Tepat di tengah, di atas pintu bangunan aula itu tertulis huruf A dengan ukuran sangat besar. Saya menghampiri mereka dan bertanya tentang lelaki muda itu. Mereka bilang, lelaki muda itu telah dipindahkan ke area unit bagian barat, di bangunan aula D, sambil menunjuk ke arah sebelah kanan mereka.
***

Walaupun tempat ini dikatakan rumah tahanan, namun sistem keamanan, fasilitas, dan pengelolaan ruang-ruang tahanan di sini tidak dirancang laiknya rumah tahanan atau penjara. Ruang-ruang tahanan di sini tidak dibangun secara sel per sel, kamar per kamar —yang biasanya satu sel akan dihuni oleh dua atau empat orang penghuni tahanan. Di rumah tahanan ini, semua penghuni tahanan dicampur-aduk tanpa didasarkan tingkat tuduhan kejahatan ringan, sedang, atau berat.

Ruang-ruang tahanan bagi para penganut kriminal di sini adalah ruangan aula tanpa sekat dengan bangku tidur bertingkat dua seadanya. Satu ruangan aula bisa menampung sekitar limapuluh orang tahanan, seperti barak militer atau saya rasa bisa dikatakan seperti asrama mahasiswa, karena sistem keamanannya yang rendah. Sedangkan yang saya ketahui, ruang tahanan yang memiliki sistem keamanan rendah atau sering disebut pemondokan transisi adalah hanya untuk para tahanan yang telah mendapatkan pembebasan bersyarat atau jaminan. Namun, rumah tahanan di wilayah terpencil seperti ini —dan bisa dikatakan sebagai wilayah miskin dengan tingkat pendidikan rendah dan terisolasi dari peradaban modern— keadaan itu adalah pengecualian.

Rumah tahanan yang memenuhi standar hanya bisa ditemui di ibu kota negara. Oleh karena itu, motif dan standar kejahatan para kriminal di sini, walaupun ada yang dikategorikan kejahatan berat, seperti membunuh, semua itu terjadi karena tingkat pendidikan mereka yang masih rendah. Pemakluman yang lumrah. Banyak di antara mereka yang tidak bersekolah, karena sekolah hanya ada di ibu kota negara, dan jarak tempuh menuju ibu kota negara paling cepat ditempuh dua hari satu malam dengan kendaraan bermesin, seperti sepeda motor atau mobil.

Di wilayah ini, rumah tahanan cukup dibangun dengan dikelilingi benteng dari tembok setinggi dua puluh lima meter yang dibubuhi puluhan meter kawat berduri di puncaknya, dengan dua gerbang utama masuk di depan dan di belakang bangunan. Semenjak direnovasi tiga setengah tahun yang lalu, tidak ada yang berubah dari tempat ini, kecuali para penghuni tahanan yang semakin sesak.
***

Saya melihat lelaki muda itu keluar dari bangunan aula dengan pakaian kaos hitam dan celana hitam pendek selutut—o iya, saya lupa menyampaikan, di sini tidak disediakan seragam khusus untuk para tahanan, tapi cukup dengan pakaian yang diberikan oleh anggota keluarga atau relasi terdekat mereka.

Sejenak, lelaki muda itu tertegun melihat saya. Ia diam menatap saya seakan tengah mengais-ngais ingatan, siapa orang yang berdiri di hadapannya ini. Namun, saya tidak memberi banyak waktu agar ia leluasa menelusuri celah-celah ingatannya itu, karena saya gegas memberinya isyarat untuk mengikuti saya. Ia berjalan di belakang saya ketika kami pergi menuju sebuah ruangan yang terkadang digunakan sebagai ruang interogasi, padahal ruangan itu bukanlah ruang interogasi resmi, melainkan ruang istirahat dan berkumpul sementara para sipir.

Di ruangan itu ada tiga orang sipir yang tengah beristirahat. Posisi mereka berjarak sekitar tiga meja dari meja yang kami duduki. Lelaki muda itu duduk membelakangi para sipir dan menghadap ke arah muka saya. Saya menanyakan kabarnya. Ia menjawab dengan anggukan, bertanda baik-baik saja. Selanjutnya kami diam beberapa menit, karena saya melihat gelagat, bahwa ia belum siap diberikan pertanyaan. Saya rasa, ia belum selesai menelusuri celah-celah ingatan, siapakah diri saya. Kali ini, saya sengaja membiarkannya. Dengan tenang, saya menunggu angka-angka waktu berkisar di sekitar kami. Tidak berapa lama, saya melihat kedua alis matanya sedikit terangkat dibarengi dengan tatapan mata yang sedikit menghentak. Ia menatap saya dengan gerak tubuh menegak agak condong, tetapi ia tidak berkata apa-apa.

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya saya memulai komunikasi dengannya. Ia diam. Lalu saya pun diam menunggu jawaban darinya. Tetapi, tidak ada jawaban. Ia malah menunduk sambil sesekali bertatapan dengan saya.

“Bagaimana perasaanmu terhadapnya?”

Ia diam.

....

“Bagaimana perasaanmu sekarang?” saya mengulangi pertanyaan saya yang pertama

Ia masih diam.

“Apakah kamu tahu, kamu telah membuat luka memar di lehernya?”

Ia tetap diam.

Kami diam.

Lelaki muda di hadapan saya ini bergeming sama sekali. Sekarang, ia malah memainkan jari-jari kukunya, menundukkan kepala, dan tetap sesekali bertatapan dengan saya. Sedikit pun, saya tidak melepaskan pandangan darinya. Saya menelisik tingkah-laku dan ekspresi wajahnya itu —yang selalu mengherankan saya, karena selalu nampak baik-baik saja. Selanjutnya, kami pun hanya saling diam dan kebisuan itu terjadi selama sekitar tigapuluh menit.

Saya tidak ingin memaksa dia membuka mulut, karena paksaan malah akan membuat dia terpaksa mencari-cari jawaban yang dimanipulasi.

“Menurutmu, bagaimana tindakanmu itu terhadapnya?” tanya saya kepada Bagume, lelaki muda yang kini masih tetap asyik bermain dengan jari-jemarinya.
Namun, Bagume tetap diam....
***

Lelaki tua itu diam. Ia seakan tidak sanggup lagi bercerita kepada saya tentang peristiwa yang menimpa anak perempuannya. Sesekali ia berusaha menahan diri untuk tidak menangis. Namun, kedua matanya perlahan berkaca-kaca dan warna merah menyembur samar di wajahnya. Sungguh, ia terlihat sangat susah dan semakin nampak tua dibandingkan usia yang sebenarnya. Meskipun sepertinya akan sangat sulit untuk membuat ia bercerita, tetapi saya harus mengetahui segalanya, dan saya akan menunggu.

“Ia menangis sepanjang hari. Terkadang saya tidak percaya kejadian itu terjadi padanya. Mungkin, karena ia tahu, sebentar lagi anakku akan menjadi perempuan dewasa, hal inilah yang telah menarik perhatian lelaki itu,” lanjut lelaki tua itu bercerita. Saya memandang dengan lekat wajah lelaki tua itu. Keringat diam-diam telah mengusap kebisuannya.

“Ia dari Malifuru. Begitu pula para polisi itu, mereka juga Malifuru. Seperti yang telah saya dengar tempo hari, ayah si lelaki itu datang ke kantor polisi, minta anaknya dibebaskan. Ia bawa uang. Ia minta kasus ini ditutup,”

“Anak saya..., “ ia terdiam kebingungan. Ragu-ragu.

“Kami..., kami bukan Malifuru.” Tegasnya.

Mendengarkan cerita lelaki tua itu telah membuat saya menelusuri ingatan penuh dengan lamunan, seakan tengah menjejakan diri kembali pada puing-puing kekejian masa lalu.
“Saya ingin membunuh lelaki itu, tetapi istri saya, keluarga saya, dan para tetangga melarang saya. Sekarang, saya tidak tahu apakah lelaki itu masih ada di penjara atau tidak.” Ucap lelaki tua itu mengakhiri sebongkah kisah tragis saat setetes air mata jatuh ke punggung tangannya.

Saya menghela nafas. Berat dan perih. Sepatah kata pun tidak keluar dari mulut saya, tetapi hati saya semakin berat menahan tumpuan emosi dan serpihan ingatan masa lalu, tentang kami, tentang peristiwa berdarah itu. Tentang perang, di masa lalu.
***

Setelah perang selesai, banyak kasus pemerkosaan terjadi pada para perempuan di wilayah ini; tidak mengenal apakah perempuan itu masih perawan atau tidak. Selama ini para pemerkosa pun tidak pernah mendapatkan ganjaran setimpal. Mereka hanya mendapat hukuman tahanan sementara atau saling sikut meredam kasus itu agar tidak timbul ke permukaan; tidak diketahui masyarakat, dengan suap, menikahi si perempuan diam-diam, atau main dukun sihir. Maka, tak pelak setiap tahun tingkat kasus pemerkosaan pun meninggi. Akhirnya, pemerkosaan seperti telah dianggap tindakan lumrah oleh sebagian pihak dan tidak berlaku sebagai sebuah tindak kejahatan. Sedangkan pemerintah kami masih miskin dalam masa paska perang sehingga mereka lebih banyak diam.

Lalu, saya dengan beberapa kawan jurnalis di radio siaran lokal mendirikan Perkumpulan Pembaharu, dengan mengumpulkan beberapa perempuan korban pemerkosaan, perempuan yang masih perawan dan sudah menikah, juga para lelaki yang salah seorang anggota keluarganya merupakan korban pemerkosaan. Perkumpulan Pembaharu adalah sebuah organisasi penyuluhan dan saling berbagi. Bahkan, kami pun mewawancarai salah seorang anggota keluarga korban pemerkosaan untuk kami siarkan langsung melalui radio siaran lokal.

Kami tahu, tindakan ini akan mengancam keselamatan hidup kami. Seperti yang telah terjadi sebulan lalu, dua orang perempuan jurnalis radio kami disekap setelah siaran langsung dengan salah satu korban pemerkosaan. Namun, syukurlah, kami berhasil membebaskannya dengan negosiasi yang lama dan penuh siasat itu.

Seperti sore ini, seorang lelaki bernama Samburu bercerita di hadapan kami. Pada awalnya, ia enggan untuk datang ke Perkumpulan Pembaharu ini bersama istrinya, karena ia malu dan takut —istri Samburu telah menjadi korban pemerkosaan oleh enam orang lelaki tak dikenal.
“Saya marah kepadanya, tetapi istri saya tidak salah apa-apa. Saya dendam kepada mereka, tetapi saya bisa apa. Saya menangis setiap malam. Saya ingin mengembalikan istri saya kepada keluarganya!” tegas Samburu. Namun, sesaat kemudian ia berhenti bercerita, matanya berkaca-kaca, tangannya gemetar, dan wajahnya tersapu merah. Tak berapa lama Samburu menundukkan kepalanya, mengatur nafas, dan mulutnya merapat kuat seakan ia tengah menggigit lidahnya, menahan rasa perih dan sakit tak terkirakan. Kami semua diam.
“PERUBAHAN! YA!”

Tiba-tiba seorang perempuan berdiri dan lantang meneriakkan kata-kata “keberanian” kami. Setelah mendengar itu, gegas, kami seperti tersihir untuk bangkit lalu dengan serentak mengoarkan kata-kata itu, berkali-kali. Semakin kuat, semakin lantang. Kemudian Samburu pun menengadahkan kepalanya. Ia tajam menatap kami dan berteriak, “Perubahan! Ya!”
“Saya pun akhirnya mengembalikan istri saya kepada keluarganya. Namun, setelah itu, selama dua minggu saya tidak bisa tidur nyenyak. Pikir saya, ‘istri saya tidak bersalah, kenapa saya harus membuangnya?’ Setelah saya berpikir rapat-rapat, keesokan hari, saya menjemput istri saya ke rumah keluarganya. Saya bawa ia kembali bersama saya, karena saya memang mencintainya,” katanya.

“Dan selama enam bulan, kami berjuang mengembalikan segalanya menjadi utuh, tetapi ternyata tidak semudah itu. Namun, saya selalu percaya pada waktu yang akan memberi kami harapan. Dan kita, tidak akan berhenti untuk melakukan perubahan yang lebih baik. Perubahan! Ya!” ujar Samburu mengakhiri kisah perihnya kepada kami.

Tidak semua perempuan di wilayah ini seberuntung memiliki suami seperti Samburu dan tidak semua lelaki memiliki keberanian seperti Samburu untuk bercerita dan membagi sebongkah perih dan keberanian itu kepada kami. Cerita itu, cerita yang telah disampaikan Samburu mengingatkan saya ketika suatu sore, beberapa tahun yang lalu, suami saya meninggalkan saya. Setelah saya bercerita tentang malam jahanam itu kepada suami saya, ia menangis dan saya pun menangis, tetapi ia tidak bisa mengekang keinginannya untuk kemudian mengembalikan saya kepada keluarga saya. Dan hingga saat ini, saya pun tidak pernah mendengar lagi sesayup kabar darinya.
***

Bagume masih diam....

Ia masih asyik memainkan jari-jarinya. Usianya memang masih remaja. Saya pun tahu, Bagume tidak pernah mencecap kehidupan sekolah. Kini, ia sekilas tampak seperti jiwa seorang anak kecil yang terjebak di dalam raga orang dewasa. Ia menatap saya dengan wajah yang polos, wajah yang selalu nampak baik-baik saja, wajah yang..., ah, saya rasa, penjara tidak membuat dirinya merasa sebagai seorang terhukum. Ya, Bagume selalu nampak baik-baik saja.
“Apa kamu tahu tindakanmu itu telah melukainya?” tanya saya.

Bagume diam. Saya pun diam. Ia malah terbuai menarik-narik sehelai benang sisa berwarna putih yang menjuntai di lengan kaosnya, lalu ia memutuskannya dari rekat jahitan kaos itu. Selanjutnya, ia memintalkan sehelai benang putih itu di telunjuk tangan kirinya, lalu ia tarik, dan ia pintalkan lagi di sana.

“Apa kamu menyadari bahwa tindakanmu adalah kejahatan?” tanya saya lagi.

Bagume tetap diam. Saya memperhatikannya dengan tenang, berusaha menahan keperihan gadis itu; keperihan kami. Bagume menundukkan kepala, sesekali ia masih bertatapan dengan saya, dan sesekali menatap pintalan benang putih di telunjuk tangan kirinya. Wajahnya itu, selalu nampak baik-baik saja...***

bumi singgah, 2009

Riau Pos, Minggu, 4 Oktober 2009

Monolog Hujan

Percakapan Awal: Surat Tanpa Alamat

Pintu-pintu tahun bersibak seperti pintu-pintu bahasa, menuju entah. Semalam kau bertutur kepadaku: esok, kita musti menemukan isyarat-isyarat, mengurai lanskap, merancang rencana di halaman ganda. Esok, kita mesti menemukan, sekali lagi (1).

Lelaki itu kembali mengirim pesan yang sama. Ditulis olehnya di atas kertas lusuh dengan tinta hitam, tanpa tanggal, tanpa salam. Amplop yang hampir menguning karena disimpan terlalu lama di dalam almari pakaiannya. Namun, lelaki itu tampak tidak peduli dengan keadaan surat yang kisruh itu. Sebuah pesan—juga beberapa pesan lainnya telah ia tulis jauh hari sebelumnya, yang tidak mungkin sampai di tangan Paz. Perangko kilat itu pun telah dijilatnya jauh hari lalu ditempelkannya dengan sangat hati-hati. Hingga akhirnya pada hari ini, lelaki itu melangkahkan kakinya dengan gegas ke sebuah kantor pos.

Gedung kantor pos tua yang rimpuh. Kantor pos yang lengang. Lelaki itu hanya bisa terpana melihat sekeliling ruangan kantor pos yang lengang dan menggaung. Sekarang orang-orang lebih senang berkirim kabar dengan telepon, pesan-pesan singkat pada telepon genggam, atau surat elektronik. Konon, kala senja tenggelam dalam keheningan, hampir setiap hari lelaki itu sering berkirim kabar dengan kawan-kawannya yang berada di luar kota melalui pesan-pesan singkat melalui telepon genggamnya. Tetapi kali ini tidak. Saat ini kabar itu dikirimnya melalui pos, dengan surat tanpa alamat. Surat tanpa alamat. Akankah sampai? Sungguh, ia tak tahu lagi alamat Paz. Paz sudah lama hilang. Dia gelisah. Lelaki itu tak dapat melanjutkan hidupnya tanpa merindu Paz. Tanpa melayarkan kata-kata—walaupun hanya beberapa larik saja—kepada Paz. Ya! Hanya kepada Paz semata. Namun lelaki itu percaya, surat-surat itu akan sampai di tangan Paz walaupun tidak ada alamat tujuan.

Di ruangan kantor pos, langkah kaki lelaki itu menggema. Menapaki jejak-jejak kenangan yang lekang, tanpa usia. Ada sebongkah ingatan; lama sekali lelaki itu melayani rasa bersalahnya yang besar pada kehidupan. Tanpa asal-usul, tanpa duga, tanpa prasangka, yang lambat laun merambat pada jisimnya yang semakin ringkuh. Pada memoar perjalanan yang dahulu telah diselaminya, bersama Paz.

Kemudian diserahkannya surat itu, seperti menyerahkan duka dari luka yang tidak dapat disembuhkan. Dulu, petugas kantor pos menolak semua surat yang akan dikirimkan lelaki itu. Alasannya sangat jelas: surat tanpa alamat. Namun, lelaki itu tetap bersikeras menolak mengambil surat-surat itu kembali. Lelaki itu selalu memaksa untuk mengirimkannya, karena dia percaya Paz akan menerimanya. Lelaki itu kembali memaksa. Akhirnya, petugas kantor pos menyimpannya, mungkin suatu hari lelaki itu akan kembali ke kantor pos itu dan memberitahukan sebuah alamat atau kelak petugas kantor pos itu mengetahui alamat tujuannya: Paz. Ya, secarik alamat bagi ribuan kata yang kesepian dan sendiri pada kertas-kertas lusuh dan mungkin kelak pesan-pesan itu akan bersauh.
**

Percakapan Malam: Sebuah Pertemuan

Mungkin puisi hanya menyisakan mendung dan luka, keluh saya pada lelaki itu.
“Seperti wangi yang menyisakan debar dalam pahitnya perjalanan,” ucapnya. Walaupun langit sehabis hujan, masih ada bintang yang sedikit terang di langit. Seandainya saya dapat menatap apa yang tengah kau tatap saat ini, mungkin saya tidak akan mengeluh.

“Aku melihat pintu lantai atas masih terbuka. Tutuplah. Nanti ada angin jahat….”

Ah, apakah setiap peristiwa terjadi dengan kebetulan belaka? Atau hanya keterdugaan semata? Pintu di lantai atas memang masih terbuka, tapi tidak menjemput angin, melainkan sedang menjemput hujan yang kini datang. Di kotamu mungkin kau telah merasakannya. Hening bukan?

“Kalau begitu biarkan saja pintu itu berbisik, yang tulus murni di hati manusia tak lapuk dibasuh hujan. Mungkin kita seperti ikan yang bercakap-cakap di kedalaman,” akhirnya kau sadar. Maaf, selama ini saya harus terus bersembunyi darimu. Bersembunyi di belakang kata-kata yang membuatmu terus bertanya tentang saya, tanpa henti. Tentang asal-usul saya yang membuatmu gundah. Mungkin tak labutlah saya lakukan itu. Ingin saya tanyakan tentang Paz kepadamu, tapi saya enggan. Kabar kalian yang tidak takut untuk saling bertemu, bahkan sesekali saling merindu, dan berbagi puisi, itu kata Paz.

Angin memberimu kisah rantau dan biarkanlah riak air menjadi udara yang mengantarkan kata-kata yang tak terdengar. Kita hanya manusia yang tak pernah menjelma ikan, lalu menyelam lebih dalam.

“Ya mungkin begitu. Sekarang berpejamlah di kedalaman cemas risauku, hari sedang berkisar… Selamat tidur,” saya tahu kelelahanmu. Larungkan cemas risaumu pada sisa-sisa mimpi yang tak jadi. Genaplah pagi menjadi layaran kudus… Ya selamat tidur. Esok masih menagih janji. Jaga dirimu. Tabik.

Segera saya matikan telepon genggam saya, lalu terlelap menatap gelap. Entah kapan lagi lelaki itu akan berkirim pesan kepada saya, karena kedatangannya tidak bisa saya duga. Mungkin hanya kegelisahan yang akan menghantarkan rahasia sunyi di hati. Pesan-pesan tak terucap, namun kita saling tahu, saling bertemu di udara yang tak dapat kita genggam.
**

Percakapan Pagi: Sebuah Kekalahan

Hujan 00:29

Aku rindu kau. Kirimkan aku puisi. Malam ini aku mau mabuk sampai pagi.
Pagi ini saya harus menemui pesan-pesan itu kembali. Pesan-pesan yang tidak pernah berhenti di telepon genggam saya. Setiap hari hujan tak pernah mereda. Saya tidak tega menghentikannya. Kini, hidupnya dipenuhi kemarahan, ketakutan, dan kesepian. Dia lelah menjadi pihak yang kalah: keinginannya mengalahkan takdir. Tapi dia tidak mau lagi berkorban. Sudah cukupkah apa yang telah dikorbankannya? Entahlah. Saya semakin tidak mengerti, kadang terpaksa coba mengerti. Namun pada akhirnya, saya hanya bisa mengiriminya beberapa penggal puisi dari kawan yang tak dikenal atau sahabat yang tertambat di seberang. Saya pikir, puisi dapat menjadi penawar galaunya selama ini, di antara hari-harinya yang menyedihkan. Iya, hanya itu yang dapat saya lakukan untuknya. Mengiriminya puisi. Hanya beberapa penggalan saja.

Di persimpangan sejarah, kita bersulang senyum sambil mempercakapkan kelahiran demi kelahiran, benda di etalase mimpimu, jurang-jurang atau gang-gang gemerlap yang dingangakan kecemasan metropolitan (2).
**

Hujan 00:00
Beri aku puisi, agar bisa hidup lagi.

Tidak biasanya kau berkirim pesan seawal ini. Malam ini saya sedang lelah. Tidak ada kata-kata di ujung mulut saya. Sejak tadi sore, hujan tidak pernah berhenti. Saya kedinginan. Maafkan saya, malam ini tidak ada penggalan puisi dalam pesan singkat pada telepon genggammu. Jangan memaksa saya dan mengertilah. Hujan malam ini tak membawa bingkisan mimpi untuk saya. Di sini hujan tidak pernah mati, melainkan mengetuk setiap pintu dan jendela dengan atap-atap sirap. Membunuh kehangatan dan kelam mimpi para penghuni rumah, juga puisi malam ini yang harus saya simpan baik-baik di almari serapi mungkin.
**

Percakapan Bias: Saya dan Paz

“Paz, bagaimana kabarmu?” seperti biasa, Paz hanya bermain dengan kata-kata pada puisi-puisinya yang belum jadi. Tak ada jawaban. Saya kira Paz tahu, menanyakan kabarnya hanya basa-basi saya saja, yang tiba-tiba (terpaksa) menyapa. Saya pun diam, seperti hendak mempersilakan waktu untuk berhenti sesaat, kemudian lewat di antara kami dan menyihir kami dengan denyut-denyut angin yang sedari tadi menerbangkan helai rambut yang menutupi wajah Paz. Kedua mata Paz enggan menyapa saya. Mata yang diam dan kaku. Mata yang semu.
“Bagaimana kabar Jose? Saya dengar kau pernah berkirim kabar dengannya? Masihkah?” lantang saya menanyakan hal itu kepada Paz. Sungguh, awalnya saya tak punya niat bertanya hal itu kepadamu, Paz. Saya tahu. Kenapa saya harus memberi pisau lagi kepadamu, setelah dia melukaimu. Entahlah Paz. Ada yang menampar mulut ini tanpa saya perintah. Ada yang tak bisa saya cegah dalam diri saya ini. Maaf dan mengertilah.

Tiba-tiba Paz berhenti bermain. Tertegun sesaat. Adakah yang melintas di sana? Adakah serpihan yang disisakannya untukku? Di dalam relung kenangan yang sempat usang itu? Ah, Paz rupanya masih mengingat. Mengingat jejak-jejak lekang itu dalam dirimu, Paz. Syukurlah jika Paz merasa aku ada di sana bersamanya. Namun, diam Paz hanya sesaat dan dia kembali bermain.

Paz, apa yang harus aku lakukan terhadapmu? Aku pun lelah.

“Lama sekali saya tidak memberinya kabar,” ucap saya, dengan harapan Paz segera memberitahu saya ke mana bisa menghubungi kembali lelaki itu. Ingin saya bercerita kepada Paz tentang hujan yang tak pernah mereda, mencucuri malam saya dengan pesan-pesan asing. Teka-teki asing. Pesan-pesan yang membuat saya tidak bisa tidur terlelap setiap malam. Malam yang berubah menjadi sekam dan membuat hidup saya menjadi semakin mencekam. Tapi Paz, seperti biasa, saya enggan.

Saya ingin sekali tahu, Paz.

Paz semakin asik bermain dan bertingkah seolah saya tidak ada di sana. Kami diam. Sebenarnya saya yang diam, karena Paz masih bermain. Namun, Paz diam dengan beribu-ribu ragu dalam perjalanan masa lalu. Saya menduga, Paz sepertinya tidak ingin jika saya memberi kabar kepada lelaki itu. Kepada lelaki yang membuat daun-daun gugur di musim semi saya. Lelaki yang mengalirkan arus kenangan dan kerinduan dalam kelok alir hidup saya.

Paz menyembunyikan sesuatu dari saya tentang lelaki itu dan sungguh, saya tak peduli apa yang disembunyikannya. Itu bukan urusan saya. Itu urusan Paz dengan lelaki itu, dan saya yakin tak ada hubungannya dengan hidup saya selama ini. Saya hanya ingin memberi kabar saja. Tentang sebuah kisah, Paz.

“Paz, bicaralah,” ucap saya sedikit memaksa. Paz tahu saya kesal, tapi dia tetap diam saja. Sedikit pun tak berkutik.

“Aku di Mixcoac. Surat-surat membusuk dalam kotak-kotak pos (3). Secangkir kopi pahit dan sepotong dosa, itu sudah cukup. Hujan hanya singgah sebentar,” Paz yang tersedu. Saya kaget mendengarnya. Apa yang telah dilakukan hujan pada lelaki itu?

“Katakan Paz?!” saya memaksa. Namun Paz hanya berceloteh hal-hal yang tidak saya mengerti. Paz menceracau tentang entah, tentang hal-hal yang sama sekali tidak saya ketahui. Paz seperti kehilangan kendali dirinya, lalu tiba-tiba menangis memeluk saya. Air matanya membasahi bahu saya. Saya hanya diam. Kesedihan tiba-tiba menyergap hati dan ingatan saya. Paz terus tersedu. Sungguh, saya tidak bisa memaksanya lagi untuk bercerita lebih banyak tentang lelaki itu. Lelaki yang menemani mimpi-mimpi saya. Akhirnya, saya hanya bisa memeluk erat Paz dan meredakan sedu-sedannya lalu berharap, kapankah hujan akan reda di pelupuk matamu, Paz?
**

Percakapan Akhir: Monolog Hujan

Ya, hujan itu pindah ke luar jendela kamarku. Sekarang aku kedinginan. Aku tak ingat siapa diriku. Aku hilang pada sebuah insiden di malam hujan. Kenapa aku ditinggal? Di sini hujan. Aku tak yakin kau tengah merindukannya, apalagi mencintainya. Malam nanti hujan akan turun di sana. Tunggulah di balik jendela, sambil rangkaikan mimpimu untuknya.

Hujan deras di luar rumah. Rinainya menggenang seperti danau. Aku sedang mencari angsa di sana. Masih hujan, tapi apakah kau percaya atau tidak, aku mendapat angsa di tengah danau rinai hujan. Aku menari bersamanya. Mungkin besok aku sudah sampai di jalan-jalan yang dulu pernah dilewatinya dan juga tempat-tempat yang memungkinkan bagi dia dikuburkan.

Aku hanyut dalam sengkarut ingatan. Rasa-rasanya dia ada di sini, tapi di mana? Hujan adalah kenangan hidup dan awal kehidupan. Di mana lumpur menggenang adalah tumpukan sejarah yang mengingatkan kita pada masa silam. Pada sebuah pertemuan yang membahagiakan dan perpisahan yang menyedihkan. Kenangan pada kisah kota tua. Kata-kata yang merampas peradaban yang ada di sana. Petani yang mencangkul genangan lumpur dan berharap dia mendapatkan secercah harapan dari sejarah yang buram.

Mari, tulis sejarah baru dari rinai-rinai hujan sore ini. Jadikan manuskrip tua dengan bau yang khas dari perpustakaan lama. Adalah doa yang memayungi kata-kata dari hujan makna. Hujan adalah kenangan pada masa-masa lapar dan miskin yang mengutuki kehidupan kita. Lembar-lembar yang termaktub di dalam lumpur.
**

Sebuah Epilog

Lelaki itu terlampau mencintai laut. Mencintai gelombang pasang, deru ombak, ringkik karang, tangis tanjung, dan bulir pasir yang menemani kelam mimpi dan gelisah hidupnya. Melindungi dirinya dengan kisah-kisah yang ditulis dalam kertas lusuh dan amplop tanpa alamat. Lelaki itu sendiri menyelami setiap luka dan duka yang disayatnya untuk saya: perempuan yang mencintai laut dan hujan. Namun, luka itu menjadi bersahaja dan menjelma menjadi kerinduan dalam kenangan perjalanan.

Saya hanya perempuan yang tersesat dalam danau. Di sini terlalu dingin. Saya hanya dapat mencintai hujan, sedangkan laut yang kaucintai, menjadi serpih rindu dari permainan puzzle yang setiap petang saya mainkan. Mencintai adalah melepaskan kehendak diri. Bagi saya, kau hanya menjadi teka-teki asing yang tak dapat menepati janji.***

(1) Penggalan puisi “1 Januari” karya Octavia Paz.
(2) Penggalan puisi “Duka yang Dikirim Waktu” karya Nanoq Da Kansas.
(3) Penggalan puisi “Kembali” karya Octavia Paz.


Pikiran Rakyat, Sabtu, 26 Juli 2008

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi

Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...