September 27, 2012

Sajak Perahu pada Malam Aswad


pada laju lelah bis yang lewati tamantaman,
tibatiba aku membayangmu
: Muda Wijaya


kau menari puisi dalam
sajak perahu pada malam aswad
seperti nelayan jaring ceritacerita lucu
yang sampai di segara telinga nganga
melaut hidup pada masa yang belum rampuh

lalu berkisah tentang si sumbing yang
tak sempat ditamatkan dua malam sekali lewat
keringatmu merampat butiran debu
dan terik kota kembang
di trotoar juga pertigaan jalan

“pada ragu aku menambat keberangkatan”, katamu
namun talabiah terpahat pada talaloka awal katakatamu
ketika ingatan melaju di sudutsudut
kota rumit dan riuh karena usia mengkerut

pada bumi ibumu kau tancapkan keyakinan
pada gelombang biru kau alirkan keraguan
kekosongan jiwa yang kau bawa datang
uraikan setiap peristiwa yang jelang
lalu hilang semisal de javu yang tak bisa dicegah
setelah ranah baru lindapkan jejakjejakmu

jamjam menyihirmu pada perjalanan lalu
tinggalkan jauh pulau penuh kenangan
sebelum layar terkembang pasang

gelisah selalu hantar kepulanganmu
dari kampung yang kayun dalam ingatan
terucap lusuh dari pengembara lugu
pada kotakota singgah
sembari menggelar tikar lelah

kita telah mencatat sejarah pada malam
saat sitor berduka dan sarabunis menghalau hujan
cuaca gerah karena angin murung dikala
azan fajar ladung sela asapasap sesak

lalu pagi menjadi kopi pahit perjalananmu
yang tak sempat tamam
belum usai kalam di dipati ukur terminal
ketika matahari perlahan binal


2005

No comments:

Post a Comment

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi

Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...