September 28, 2012

Lawalata


Ia terus berjalan, menembus udara, menyelusup ke kedalaman kepalanya menuju kenangan yang meliuk lekang diam-diam. Ia seakan berabun-rabun dengan sesuatu yang tak kasat mata. Di Mahasa—begitulah konon sejarah kuno menamai daerah ini, kakinya telah tertambat. Di antara hijau mayur, silau biru punggung-punggung gunung, dan jalad rapat di pori-pori kulit. Ia tengok kakinya yang telanjang, melesak lekat mencengkeram tanah hitam, seakan kian dalam menjalar membaur dengan tanah kelahiran.
Suara-suara sumbang, bunyi-bunyi tetabuhan, wajah-wajah tak dikenal, dan segala peristiwa yang terasa aneh baginya kian melintas kilat, menusuk ligat ke ulu hati bagai teka-teki. Entah kenapa ia merasa perlu bertanya kali ini, bagaimana bisa ia terpasah di sini? Tetapi ia sadar, tidak ada sesal tertambat menuju tempat ini. Tempat ini seakan membekukan pertanyaan-pertanyaan yang melintas liar lebih jauh, lebih dalam lagi. Ia pun tahu, bahwa bukan dirinya-lah kini yang singgah di tempat ini, tetapi seseorang yang lain; seseorang yang berusaha menyeruak keluar dari dalam tubuhnya, dalam pikirannya, untuk sejenak melupakan masa lalu (atau ingatan?) seperti tunas yang bangun menggeliat menjemput matahari.
Ia dapat merasakan dan melihat malis putih arak awan mengiris puncak Klabat tidak terbelah. Kabut yang mencuci mata menjadi kesap-kesip dalam lindap garis alam. Kekandi yang luap oleh pucuk-pucuk embun di pagi buta telah membuat jisimnya enggan beranjak. Di jambar inilah ia mengistirahkan segalanya, tentang kenangan ganjil menuju sebuah perjalanan asing, karena ia tidak tahu harus memulai dari mana. Kini, Lawalata malan terus berjalan meramu ingatan menujum waktu.
***
            Kaki yang telanjang meraba-raba tanah merah, tanah hitam, atau kadang kecoklatan. Kaki yang tangguh merenjis di bulak tanah berbatu, sungai-sungai ikhbar dari hulu jejak gunung, lesir belukar penuh duri di bukit-bukit tinggi, hutan-hutan penuh jerit keasingan, dan padang sabana yang menyesatkan mata. Ia tidak akan pernah berhenti. Ada yang menunggu, sesuatu yang dicari pada rincik kelir sungai dan udara yang berlayar.
Ranah penuh berkah, rumah yang riah. Di Putussibau, mungkin sebuah ingatan akan menyambutnya. Di arus lurus sungai Mendalam, ia dapat melihat pusat kegiatan sehari-hari para anggota suku. Tangan-tangan itu melambai di tepian sungai dan di ladang dan hutan, yang meraup hari dan meramu tanah. Tanah basah penuh peluh. Alir sungai telah menambatkan ujung selup menuju Tipung Jawe’, seorang wanita tua penguasa adat Dayak Kayan, yang berpakaian khas dengan lengan dibalut Kelinge, sebuah tato yang membalut sempurna. Daun telinga yang berjuntai panjang menggantung Isaang, menyilaukan warna perak. Lawalata hanya mampu menatap, ketika tubuh itu melayah cepat mengusir roh-roh jahat yang telah kisruhkan kehidupan di Kampung Long Miting. Lawalata hanya mampu tertungkap, seperti hendak menjemput sesuatu yang muncul meluap.
Tetabuhan bunyi semakin bersipongang gegap gempita seakan telah merangsuk ke dadanya hingga terasa sangat menyesakkan. Terasa sangat berat. Silau warna perak itu seakan terus menerkam tajam menusuk-nusuk kepalanya. Ia pun jatuh sambil menahan rasa sakit di kepalanya. Pisau-pisau ingatan itu tidak pernah bisa melepaskannya begitu mudah. Ia hanya mampu mengaduh seraya menahan luka yang perih.
“Setiap tanda selalu membawa isyarat. Setiap isyarat membawa kebenaran yang akan tenggelam.”
Suara itu lagi! Lawalata gegas bangkit sambil menahan sakit yang sangat dan melilau gusar ke sekeliling. Tidak ada siapa pun. Suara lelaki tua itu yang selalu saja berbunyi bisik di telinganya, di sekitarnya. Tanda, isyarat, kebenaran, apa arti semua ini?
***
            Udara kering kemendang. Batang-batang pohon kisut dan tanah-tanah rengkah berjejak seperti alir sungai gersang. Matahari menyisip selupat tubuh-tubuh legam dan kerontang. Kebun-kebun yang disergap ilalang, dimulailah pembakaran. Asap menghantarkan harapan, dibawa angin menuju langit tertinggi. Di langit tertinggi itulah, air suci yang dipinta belum kunjung datang. Namun, keyakinan tidak datang terlambat. Sebuah keyakinan yang menghantarkan pada sebuah upacara. Ritual bagi hujan.
Pada bulan November, ia berjalan menuju Fuaton, sebuah upacara untuk meminta hujan dan memohon berkah agar mendapatkan hasil yang lebih baik pada musim panen di desa Oeolo dan Bisafe. Perjalanan puncak menuju bukit tertinggi, menuju Yutneno, si penyangga langit. Penyangga langit sebagai titik paling tinggi di bukit itu telah membuat orang-orang semakin dekat dengan sang Dewa Langit pemilik alam. Homonef, sebuah kayu bercabang tiga menunggu tegap, pagan, dan sunyi. Homonef di Titutneno dipercaya sebagai tempat berkumpulnya leluhur seluruh warga Desa Oeolo. Mereka berkisar memberi persembahan terbaik, yaitu hati dan jantung babi. Lawalata masih menginjakkan kakinya di tanah pasir bukit itu. Dia hanya berdiri, sendirian, jauh dari kerumunan orang-orang yang melaksanakan ritual.
“Di ladang itu, hujan akan turun,” ia bergumam penuh lamun. “Hujan?” Ia tertungkap lagi. Ia mulai menyelusup melenting geliat ke kedalaman pikirannya. Mengaduk-aduk segala peristiwa, perjalanan konon yang mungkin masih tersimpan lengkap pada catatan-catatan ingatan. Sungguh. Adakah di sana menyisakan sedikit saja ingatan? Seberkas yang disebut tanda atau kalimat jawaban. Namun, di sana ia semakin menemukan pintu-pintu masih tertutup; masih tetap rapat dan menjulang semenjak dahulu. Pintu-pintu terkunci dan ia masih begitu lenguh untuk menemukan kunci-kunci itu. Ia diam terkelu. Kosong.
Lalu kenapa harus menuju pada hujan?
***
Ia terus menapaki jejak ranah-ranah di setiap pulau yang mengapung pagan di negeri itu. Setiap pulau, setiap ritual, setiap peristiwa (ataukah tanda?) yang selalu menarik perhatiannya. Ia melintasi ruang dan waktu yang memamah usia. Ia ingin menegaskan pada sekeliling, tanah kelahiran yang kini dijejaknya lagi, setelah sekian lama ia tinggalkan, bahwa ia telah pulang. Ia telah pulang dari perjalanan asing di luar ranah-ranah negerinya. Ia pulang untuk merengkuh menggelitik kembali kerinduan, sesuatu yang dahulu lekat lengang berdenyar dalam dirinya, yang kini bernama kenangan. Ada yang menunggu dan harus dicari tanpa henti, dicatat tanpa cacat. Ia menjejaki ranah-ranah yang mungkin menyimpan kalimat-kalimat jawaban yang tersimpan terlalu dalam. Atau mungkin tanda, isyarat, kebenaran, yang sebenarnya tidak pernah bisa ia pahami dan menuju ke mana semua itu. Namun, kelak akan mungkin ia temukan di sebuah malka. Tetabuhan itu... suara itu... kilau perak itu....
Ia terus berjalan, menembus udara, menyelusup ke kedalaman kepalanya menuju kenangan yang meliuk lekang diam-diam. Suara-suara sumbang, bunyi-bunyi tetabuhan, wajah-wajah tidak dikenal, dan segala peristiwa yang terasa aneh baginya kian melintas kilat, menusuk ligat ke ulu hati bagai teka-teki. Entah kenapa ia merasa perlu bertanya kali ini, bagaimana bisa ia terpasah seperti ini? Di jambar inilah, ia mengistirahkan segalanya, tentang kenangan ganjil menuju sebuah perjalanan asing, karena ia tidak tahu harus memulai dari mana. Jamung di samping jambarnya terus berkobar, memberi kabar dan kisah perjalanan yang tak pernah selesai.
“Setiap tanda selalu membawa isyarat. Setiap isyarat membawa kebenaran yang akan tenggelam.”
***
Aku benar-benar tidak tahu, kenapa Ibu jika mendongak ke angkasa selalu kelihatan begitu bahagia. “Seperti bintang kutub utara, jatuh cinta,” katanya.
Aku ini katanya mirip dengan Ayah sehingga aku merasa selalu takut kalau tumbuh jadi besar, jadi dewasa. “Jika tertimpa sinar matahari, bulu matamu berwarna coklat keemasan.”
Kata Ibu, Ayah adalah mahluk luar angkasa. Ada selaputnya. Pesawat Ayah pergi ke Bulan. Di angkasa, pesawat itu menyusup meliuk ke langit seperti warna buah pir keemasan, keperakan, berkibar-kibar gemerlapan. Gemerisik pasir percik-api pesawat Ayah jadi terlihat karena cahaya Bumi. Ketika langit berganti rupa biru gelap, pesawat itu tampak begitu jauh, menyilaukan biji mata.
Saat bulan penuh, jika cuaca cerah, pangkalan di bulan akan terlihat jelas. Atap kubahnya bersinar. Bersinar seperti perak. Lalu Ibu akan berteriak bahagia ke angkasa, “Itu adalah mahluk luar angkasaku!”
Ketika masih kecil, setiap menjelang tidur, Ibu akan bercerita kepadaku tentang banyak hal dan banyak cerita. Ibu tahu, aku suka sekali dengan cerita-cerita dan aku tidak bisa tidur tanpanya, walaupun pada akhirnya aku tidak pernah tahu bagaimana akhir cerita-cerita itu karena aku telah terlelap kemudian. Dari semua cerita yang pernah Ibu ceritakan, yang paling kusukai adalah cerita tentang Ayah.
Ibu bercerita tentang masa kelahiranku. Saat itu Ayah sedang berada di atas perahu perak di seberang Bulan, mendengarkan radio. Saat itu mengalunlah lagu “Kanon Silver Harbour”. Lalu Ibu pun akan menatap bola mataku sangat dalam, seperti tengah mencari sekeping koin perak yang terjatuh di sebuah danau jernih yang dalam di sana. Ibu terkagum-kagum dengan mata binar dan berkaca-kaca sambil memegang kedua pipiku dengan kedua tangannya yang hangat. “Baik mata, maupun mulutnya benar-benar mirip. Kau benar-benar duplikat Ayah,” kata Ibu tersenyum. Terharu. Aku pun hanya diam menatap tatapan itu.
Tetapi Bu, aku lebih suka seperti Ibu....
***
Kepulangan malang dari petualangan panjang. Ia telah melihat, merasakan, dan mendengar semuanya. Sesuatu yang dicarinya selama ini tidak pernah bersembunyi. Namun, kini semuanya terlambat. Di halai-balai jambar ini, matanya telah buta.
“Ia ada di sana!”
Terdengar teriakan seorang lelaki yang tidak asing di telinga Lawalata. Sejenak ia mendengar alunan tabuh tifa, masih sedikit samar, namun ia yakin dapat mendengarnya dengan sangat jelas. Telinganya lebih peka dan tajam dibandingkan dahulu sebelum ia tidak dapat melihat seperti sekarang ini. Ia masih mengingat ketika beberapa orang dari Mahasa membawanya dan orang-orang lainnya yang bernasib sama ke sebuah pulau kecil, yang masih menjadi bagian Pulau Ganjil—begitulah ia menyebutnya. Ia tahu, ada yang tidak beres, sesuatu yang telah merasuki dan menyusup geliat ke dalam tubuhnya sehingga orang-orang itu merasa jijik dengannya.
“Mungkin Anda akan membutuhkan sehelai saputangan ini. Ambillah, hanya ini yang tersisa.”
“Baiklah. Terima kasih.” Ucap Lawalata begitu tenang, namun berbalut gelisah.
Suara itu, seperti tidak asing dalam ingatannya. Suara seorang lelaki tua yang selalu muncul tiba-tiba dalam setiap mimpinya. Ia mulai bertanya-tanya, apakah semua tanda, isyarat yang dilihat pikiran dan yang dirasakan oleh tubuhnya adalah bukanlah kesia-siaan? Ingatannya semakin tertarik kembali berpuluh-puluh tahun ke masa depan (ataukah sebenarnya masa lalu?). Ingatan itu terus memanjang meregang, berpintal-pintal dalam nujum waktu yang kelu. Suara-suara yang tak dikenalnya, wajah-wajah yang memanggil, menghempas-lipat dalam lorong-lorong melengkung. Ingatan itu semakin membuat kepalanya bertambah sakit.
Ia ingat, seorang lelaki tua bernama Saina yang pernah ia jumpai di sebuah Kota Bukit, di sebuah negeri yang amat jauh. Sebuah kota yang tenang dengan hamparan padang anggur dan lavender. Ia baru menyadari ketika pertemuannya dengan lelaki tua itu terasa aneh. Namun, terkadang ia lebih suka menyebutnya gila. Iya, ia suka dengan hal-hal gila, tidak masuk akal, mengejutkan, sehingga pertemuannya dengan lelaki tua itu terasa harus ditakdirkan. Ketika pertemuan pertama kali itu, si lelaki tua pernah mengucapkan kalimat-kalimat aneh yang tidak masuk akal, “Kita adalah mahluk luar angkasa yang melintasi ruang. Berputar berkisar melengkung di dalam lubang di antara waktu hampa dan kosong.”
            Lawalata terdiam. Mahluk luar angkasa? Apakah lelaki tua ini memang sebenarnya adalah orang gila? Orang gila yang telah melarikan diri dari Rumah Sakit Jiwa dan tanpa sengaja bersinggungan dengannya di Kota Bukit ini. Sungguh. Ia tidak dapat menerjemahkannya dengan masuk akal.
            “Aku tahu kau suka hal-hal gila dan irasional, seperti ayahmu dahulu. Ingatlah, bahwa setiap tanda selalu membawa isyarat. Setiap isyarat membawa kebenaran yang akan tenggelam,” lelaki tua itu melanjutkan tanpa merasa canggung berbicara hal semacam itu kepadanya.
“Ayahku?” Rupanya lelaki tua itu telah mengenal ayahnya dengan baik. Memang Lawalata mengetahui betul bagaimana ayahnya. Ayahnya memang sangat menyukai hal-hal yang irasional, tetapi apakah tampak jelas pula di wajahnya bahwa ia pun orang yang seperti lelaki tua itu telah katakan: menyukai hal-hal yang irasional? Sungguh.
Ia tidak merasa aneh tentang hal-hal seperti itu, karena pekerjaannya selama ini adalah meneliti hal-hal yang dapat menjadi sebuah kemungkinan ada, terjadi, dan dilakukan. Bahkan, ia pun memiliki laboratorium pribadi di rumah barunya di kota ini. Pertemuannya dengan lelaki tua itu pun kemudian berlanjut berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun....
 Pada akhirnya, setelah pertemuannya tumbuh dengan lelaki tua itu, maka ia pun melakukan perjalanan waktu melintasi ruang-ruang seorang diri melalui warphole(1), lubang menyesatkan. Ia ingin melihat perjalanan ayahnya—sebagaimana yang ia baca di buku catatan harian sang ayah, ketika tengah melayang terapung di atas kapal Ida Elizabeth yang tengah berlayar di samudera Atlantik pada tahun 1864 menuju sebuah Pulau Ganjil(2).
Namun, tanpa diduga, perjalanan itu telah menjebaknya di dunia lampau sebelum ruh tubuhnya belum terencana dan tercipta. Kini, ia terjebak dalam sebuah leproseri bersama pesakit-pesakit lain di pulau terpencil. Ia tidak dapat menemukan daun Hura crepitians brasiliensis(3) di tempat terpencil ini untuk mengobati luka-luka yang menjijikkan ini, saat para perompak itu tiba-tiba menyerangnya dan menyergap  penduduk di wilayah terpencil itu, ketika ia hendak menyeberang ke Mahasa untuk ketiga kalinya. Para perompak itu berlabuh di bibir pantai dengan perahu-perahu yang dikayuh dua baris dayung: satu baris di atas dan satu baris di dasar perut perahu, sambil diiringi alunan tetabuhan kolintang atau tifa.
Dan saat ini ia telah mendengar suara lelaki tua itu dengan sangat jelas, walaupun di luar, hujan turun tidak begitu kentara. Suara lelaki itu telah memberi ketenangan baginya, kebahagiaan seperti alun melodi gerimis lagu lenor, nyanyian anak-anak Mahasa memanggil hujan. Suara lelaki itu mengiang kian merdu dan lembut di telinganya. Sungguh berbeda ketika ia mendengar suara itu dalam mimpinya. Apakah ini bernama isyarat? Sejenak ia termenung menghitung-hitung peristiwa (ataukah tanda?).
Kini, dari jauh sana, suara tetabuhan yang tadi terdengar samar itu pun kian jelas, kian kuat merambat gegas ke dalam tubuhnya bagai sipongang. “Setiap tanda selalu membawa isyarat. Setiap isyarat membawa kebenaran yang akan tenggelam.” Begitulah, di luar sana perlahan-lahan rincik hujan semakin deras dan mengeras....
***

bumi singgah, 2008-2009


Keterangan:

(1)   Istilah populer fiksi ilmiah, yaitu semacam teknologi yang bisa membuat manusia berjelajah dengan menembus jarak yang sangat jauh dalam masa yang singkat, bahkan bisa menembus ruang waktu menuju zaman lampau dan masa depan. Diistilahkan juga sebagai wormhole (fiksi ilmiah juga istilah sains) berdasarkan aktifitas black hole (lubang hitam) di luar angkasa, yang secara fisik merupakan sebuah hipotesis dari segi topologikal ruang-waktu yang pada dasarnya sebuah “jalan pintas” untuk menembus angkasa dan masa.
(2)   Pada sekitar pertengahan abad ke-19 atau sekitar tahun 1980-an, seorang pendeta bernama N. Graafland melakukan perjalanan misionaris ke daerah Minahasa, kawasan paling utara Pulau Sulawesi dan semua catatan perjalanannya kemudian dibukukan dengan judul De Minahasa: Haar verdelen en haar tegenwoordige toesstand (Rotterdam: M. Wyt & Zonen, 1986).
(3)   Daun dari tumbuhan yang termasuk genus/ golongan pepohonan tropikal dari Brasil, yang bisa menyembuhkan secara keseluruhan atau sebagian luka pada penderita penyakit kusta.



*) Dimuat di Ujung Laut Pulau Marwah – Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia III (Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Tanjungpinang, 2010.

Perjalanan dan Palung Laut


Ayah, aku ingin menjadi elang laut, bukan palung laut.... Aku akan terbang ke langit yang maha luas, menjelajah! Dan akhirnya kembali kepada laut. Muskilkah, Ayah?
***
            Kali ini keputusan Ayahku tak dapat kompromi. Akhirnya keputusan final itu dijatuhkan juga kepadaku. Rupanya ia tetap memaksaku untuk menjadi orang lain. Ya, orang lain yang asing. Tak ada naik banding atau pun kelonggaran-kelonggaran yang dahulu sering ia perhitungkan terhadap keinginan-keinginanku. Mungkin dahulu aku masih anak kecil ingusan dan tak pernah meminta sesuatu yang macam-macam. Sekarang pada usiaku yang telah remaja, aku pun masih memikirkan toleransi atas semua permintaanku kepada Ayah. Permintaan dari keinginanku, dari impian, dari harapan. Bagiku tak ada yang salah. Permintaanku itu adalah hal yang wajar. Bahkan, terlalu wajar bagi anak-anak remaja seusiaku. Apakah aku memang hidup hanya untuk memenuhi keinginan Ayah saja? Oalah... lalu kapan Ayah akan percaya, bahwa keinginanku ini bukan sesuatu yang muskil?
            Aku mafhum dengan kondisi keadaan keluarga kita yang sederhana. Mungkin sejujurnya bisa dibilang sangat sederhana. Sebuah kehidupan yang biasa diantara peristiwa-peristiwa yang luar biasa. Luar biasa bagiku, karena dari sejak usia dini, Ayah telah mengenalkanku pada laut. Laut! Laut yang selalu berdendang riang ketika pagi datang dan mengalun sendu ketika senja jelang. Kelimut kehidupan yang keras di daerah pesisir pantai membuat Ayah (dan kadang-kadang bersamaku) harus lasah demi menghidupi keluarga yang dicintai. Ayah tentu lebih banyak menghabiskan waktu di laut dibandingkan menjejakkan tapak di gumuk pasir bersamaku, bersama kami. Berhari-hari, bahkan beberapa minggu Ayah hanya menjadi bayangan dalam keluarga. Ayah pergi merogoh kedalaman laut dan tugasku-lah kemudian menjadi kepala keluarga. Seperti percakapan malam itu, ketika Ayah telah kembali kepada kami.
            “Lihatlah, badai telah mengembalikanku kembali pada kalian. Lagu purba para nelayan telah merantai laut dan kami menunggangi badai dalam genggaman. Ombak berpiuh menjadi ringkik yang paling pilu. Dan suatu saat, kau pun akan merasakan pelayaran itu,” tukas Ayah dengan pandangan mata tajam berbinar. Aku selalu yakin, laut takkan pernah membawa Ayah pergi. Laut adalah rumah kedua bagi Ayah. Ayah selalu mengingatkan itu kepadaku ketika berdongeng sebelum aku akhirnya tertidur pulas dan tak pernah tahu pula bagaimana akhir dongeng itu. Aku tahu, Ayah menginginkanku menjemput laut. Namun hingga saat ini Ayah belum mengizinkanku, karena aku masih terlalu muda untuk  bercengkerama dengan amuk badai,  gelombang pasang, dan terjang ombak laut yang memuncak.
            “Belum saatnya, Nak. Belum saatnya. Sekarang, kau belajarlah dengan baik dan bersabarlah hingga waktunya tiba.”
Iya Ayah, aku tahu. Namun, ketika tiba-tiba aku menginginkan sesuatu yang lain—yang bukan keinginan Ayah—apakah Ayah bisa menerima? Dan seketika pula mata Ayah menyalibku. Mata Ayah berubah menjadi merah. Aku tahu, hati Ayah pun menjadi geram memeram.
            “Apa?! Apa kau tak sadar dengan keinginanmu itu?! Mustahil!!!” teriak Ayah.
            “Tidak Ayah. Aku telah memikirkannya lama sekali. Aku telah melihatnya di buku-buku pelajaranku (dan di televisi tetangga). Ada sesuatu di luar sana, sesuatu yang luar biasa dan kelak aku bisa membawanya kembali ke tanah kita.” Ucapku dengan keberanian yang telah aku kumpulkan sebelumnya. Ini untuk keinginanku, harapanku.
“Apa?! Kau tidak akan pernah bisa membawa apa-apa. Jangan bertindak bodoh! Laut bisa memberimu segalanya. Apa pun!” ujar Ayah meyakinkanku. Iya Ayah, aku tahu. Dari kisah-kisah yang Ayah ceritakan dahulu, aku masih mengingatnya dengan baik. Tentang laut yang menyelamatkan hidup kita. Tentang laut yang memberi kesehajaan. Tentang laut yang merupakan rumah kedua bagi kita. Tapi laut sekarang tak dapat mengabulkan keinginanku saat ini. Keinginan yang kusemai di ranah-ranah singgah, bebukit, dan tapak langkah di bebatuan.
“Ayah, aku menginginkan perjalanan.”
***
Ayah, sedalam apakah lautan itu? Seluas apakah semesta ini? Sampai manakah batas dapat dikukuhkan? Sungguh, aku tak ingin menentang maksud baik Ayah. Ada karsa yang mencacah kerinduanku akan perjalanan. Aku telah memikirkannya dengan sangat matang. Dahulu, Ayah menyuruhku untuk terus belajar dan belajar, karena ilmu seperti lautan. Tidak akan pernah habis terkikis, seberapa pun jumlah kita meraupnya. Dan dari sanalah aku dapat melihat dunia bagian lain—bukan hanya ranah yang kita pijak sekarang. Dunia yang ingin kusentuh, kularungkan diriku dalam perjalanan. Melihatnya Ayah, mencari sesuatu yang akan berguna bagi kita. Kelak, jika tuntaslah perjalanan itu, aku pun akan kembali ke ranah rahim yang telah melahirkanku. Kembali kepada Ayah dan kepada laut. Sungguh Ayah, percayalah... tak ada yang muskil dengan keinginanku ini.
Ketika senja kasip dan kita masih menyemai lokan, latuh, dan barai, Ayah tak henti berkisah. Kisah yang selalu kurindui hingga saat ini. Aku masih ingat setiap perkataan Ayah. Bukankah Ayah pernah berkata, bahwa dunia ini adalah misteri yang harus kita jelajahi? Juga seperti laut yang Ayah arungi, maka keasingan itu menjadi luluh dan karib. Laut itu kemudian menjadi kawan dalam pelayaran dan rumah kedua yang paling nyaman. Aku ingin seperti ayah pula, tapi dengan diriku sendiri. Dengan keingintahuanku, dengan jalan berbeda dari hala yang kita lalui dan suatu hari kelak, kita dapat saling berbagi.
***
            Merantau. Sudah sejak lama ritus ini menjadi kebiasaan masyarakat di kampung kita, Nak. Konon, ranah singgah yang menunggu para perantau di belahan dunia bagian sana sungguh sangat kaya dan penuh misteri. Kita tak pernah bisa menduga-duga. Siapa pun akan tergiur membayangkannya. Gedung-gedung tanpa kaki menyayat langit dengan sengit, jalan-jalan yang meliuk bagai ular menerkam mangsa dengan tiang penyangga, dan manusia seperti mesin yang tak pernah berhenti menderu siang dan malam.
Namun, kamar-kamar sungguh sempit. Gang-gang sempit dan kelam. Hidup saling terhimpit. Orang-orang yang bersepatu, sungguh berbeda dengan orang-orang yang bersandal jepit. Kota, anakku. Mereka menamakannya: kota. Kehidupan yang tak pernah mati sepanjang waktu dan tidak mempunyai jam rehat sedetik pun. Kehidupan kota seperti siklus tanpa pembatas. Waktu tidak pernah diizinkan memburu, melainkan sebaliknya. Riuh! Dan lama-kelamaan kesehajaan itu lindap. Lenyap!
            Maka pada akhirnya Ayahmu ini memutuskan untuk kembali ke ranah rahim, Nak. Setelah beberapa hari merantau di kota antah berantah itu, Ayah tidak kuat. Ayah menjadi lemah dengan keasingan, kerumitan, kelimpungan, dan cuaca yang tak dapat diterka. Di kota tak ada tegur sapa, kerabat seperti orang lain yang asing. Mereka hidup bukan dalam koloni, tapi menipu diri sendiri. Lalu, salahkah Ayahmu ini memutuskan keinginanmu itu untuk kaukubur dalam-dalam dan kembali ke lautan? Ayah mafhum dengan keinginanmu itu. Tentang perjalanan yang kaurindui. Tentang banyak hal yang ingin kaulihat seperti yang ada dalam buku-buku pelajaranmu. Tapi Nak, Ayah tak ingin menyayat luka untuk kedua kalinya. Ketika pada akhirnya, perjalanan kakakmu pun tak menemui yang bernama: kepulangan.
***
             “Ayah tak mengizinkanmu!” tukas Ayah suatu hari ketika aku baru pulang dari sekolah. Tidak seperti biasanya, mata Ayah dingin membekukan tubuhku. Sudah kubayangkan itu yang akan keluar dari mulut Ayah. Keputusan final!
            “Lebih baik kau melinyar dengan Ayah nanti, daripada menemui perjalananmu yang taksa itu. Tak ada gunanya. Kau satu-satunya yang tersisa di keluarga ini yang akan melanjutkan sebagian kerja Ayah. Manfaatkanlah yang ada.” Jelas Ayah selanjutnya.
Kemudian Ayah pun pamit padaku tidak seperti biasanya. Tanpa salam. Hari itu memang waktu bagi Ayah kembali berjabat erat dengan laut. Dengan gumam dan ringkik ombak yang memanggil lantang. Setelah kepergian Ayah, tiba-tiba ruangan menjadi sunyi dan dingin. Ayah, aku tak bisa apa-apa.
***
            Kali ini keputusan Ayahku tak dapat kompromi. Akhirnya keputusan final itu dijatuhkan juga kepadaku. Rupanya ia tetap memaksaku untuk menjadi orang lain. Ya, orang lain yang asing. Tak ada naik banding atau pun kelonggaran-kelonggaran yang dahulu sering ia perhitungkan terhadap keinginan-keinginanku. Mungkin dahulu aku masih anak kecil ingusan dan tak pernah meminta sesuatu yang macam-macam. Sekarang pada usiaku yang telah remaja, aku pun masih memikirkan toleransi atas semua permintaanku kepada Ayah. Permintaan dari keinginanku, dari impian, dari harapan.
            Entah, aku tak pernah tahu bagaimana kehidupan remaja seusiaku di belahan dunia sana. Aku hanya mampu membaca dari buku-buku pelajaran, buku-buku di perpustakaan, dan sesekali melihat di televisi, di rumah tetanggaku. Mereka sepertinya bisa hidup mewah dan mencapai harapan dengan mudah, seperti yang kulihat di sinetron-sinetron. Tapi harapanku Ayah? Keinginanku ini ditentang olehmu. Apakah bukan pula karena kakak?
            Kakak memang telah pergi dari ranah ini, meninggalkan keluarga tanpa pamit dan hingga sekarang pun tak ada sehelai kabar darinya. Tapi aku tidak ingin seperti kakak. Aku memohon izin dari Ayah agar kelak aku mendapatkan kepulangan yang aman dan direstui. Ah Ayah, ke manakah harus kulabuhkan keinginan ini jika engkau tak berkehendak?
***
            Laut. Laut memendam segalanya. Memendam luka, kenangan, keriangan, harapan dan keinginanku. Karang terjal hanya bisu. Laut selalu penuh misteri. Sunyi menggelanggang. Gelombang yang membawa dendang riang bahkan kematian. Batu karang memberi rintih abadi bagi deru pacu dan  ringkik ombak di tepian tanjung. Padang lamun termenung. Ada yang selalu diam, sepi, dan dingin. Ada yang selalu menatap dendam, sedih, dan rindu. Ada yang selalu tak berubah: takdir, seperti badai. Hilir mudik angin menjadi kabar paling duka yang pernah kuterima. Ganggang-ganggang laut menjadi paya. Semua berduka. Ya, kabar tak terduga itu datang dari laut: laut merampas Ayah!
Kepergian Ayah tempo hari—yang tanpa salam—telah menguburkan dalam-dalam keinginanku. Kini, aku tak yakin bahwa laut akan mengembalikan Ayah kepadaku, kepada kami. Badai mengamuk tanpa bisa dihalau. Tali layar terputus oleh terjang cambuk ombak dan gelombang pasang. Kapal Ayah terpiuh ke kedalaman yang entah. Ayah pun lindap bersama para awak kapal lainnya dan sampai tersisa rangka tanpa nyawa ke pesisir pantai kami.
Aku mulai mafhum Ayah. Walaupun semuanya telah ditakdirkan, bukan berarti kita harus menyerah. Tetapi apa yang harus kita lakukan yang terbaik untuk takdir itu, untuk kehidupan kita. Ayah pergi. Tapi aku tak akan pergi. Hati menjadi kisruh. Duka luruh. Tapi bukankah masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, Ayah?
“Ayah, aku menginginkan perjalanan.”
***
Ayah, aku ingin menjadi palung laut, bukan elang laut lagi.... Aku akan kokoh tertanam di laut milik kita! Kujelajahi hingga ke dasar yang paling dalam dan entah. Muskilkah, Ayah?
***
bumi singgah,
2006


Dimuat dalam antologi cerpen Ketika Mei Bernyawa Dua (Rayakultura, 2007)

Pohon Cengkeh


Aku tidak mempunyai seorang pun anak perempuan. Tak satu pun. Batang rumah ini dipenuhi dengan anak laki-laki. Sesak kami di sini dengan pelir dan keringat anak-anak laki-lakiku yang selalu hilir-mudik di persimpangan rumah.
Lelah aku mengatur kenakalan mereka. Setiap hari, bahkan setiap menit, mereka selalu bergonta-ganti baju dan begitu saja melemparkannya di setiap sudut rumah ini. Aku harus sering membersihkan setiap celah dan kekacauan lainnya yang terjadi di rumah ini. Tentunya, aku sebagai ibu mereka yang harus mengurus semua keperluan, sedangkan ayah—suamiku tercinta, hanya kongkow di teras depan. Merokok bagai sepur, sembari sesekali diselingi segelas kopi pahit hangat dan beberapa carik koran usang.
Tak sekali pun suamiku merasa tergugah untuk membantuku. Dia hanya sanggup berceloteh ringan: karena itu adalah kewajiban seorang ibu sekaligus istri—itu alasannya. Aku mengerti. Aku coba sangat mengerti dari ketidakmengertiannya akan keadaan yang aku hadapi.
Aku seperti buruh pabrik, yang bahkan di bedeng pun aku masih lembur kerja. Aku menerima, karena aku seorang ibu sekaligus seorang istri. Ya, ya, suamiku selalu mempertegas keadaan yang kualami di tengah keluarga ini. “Karena perempuan selalu kembali ke sumur, dapur, dan kasur,” papar suamiku.
***
Hampir setiap malam aku selalu memimpikan seorang anak perempuan yang hadir di tengah keluarga ini. Bukan mimpi gasal. Seorang anak perempuan yang akan memberi warna lain dalam keluarga ini. Sebuah keberuntungan. Semisal bunga mawar merah yang tumbuh di tengah-tengah padang rumput liar. Bunga mawar itu akan tumbuh dengan sangat cantik sekali diantara hehijau rerumputan.
Sudah tentu dia pasti sangat dimanja oleh semua kakak laki-lakinya. Anak perempuanku tentu akan sangat bahagia hidup di tengah-tengah para adam yang siap sedia melindunginya. Sungguh beruntung dia nanti. Namun, aku hanya tersesat dalam mimpi sesaat. Berkali-kali kucoba—aku yang berpikir mungkin setelah kehamilanku yang entah keberapa, aku akan memomong seorang anak perempuan yang cantik dan lucu—kuharap akan mendapat anugerah keberuntungan dari Tuhan. Ya sudah pasti: seorang anak perempuan yang cantik dan lucu. Namun, keinginan itu kini hanya cerita yang berangan-angan.
Suamiku pernah bilang, belum tentu anak perempuan membawa keberuntungan. Anak laki-laki lebih bisa diandalkan. Dari kita, dan nanti bekerja untuk kita, dan bila kelak kita telah renta, mereka akan membiayai segala kebutuhan. Anak laki-laki lebih berguna dibandingkan anak perempuan. Mengangkat derajat keluarga. Penerus garis keturunan keluarga. Merekalah yang nanti akan membawa marga keluarga kepada keluarga baru yang mereka bangun.
Namun aku khawatir, karena anak laki-laki adalah kawan setia perjalanan. Merantau ke tanah-tanah penuh ranjau. Berjatuhan satu per satu serupa daun-daun kering pada pohon beringin yang rebah di halaman rumah. Aku tak bisa memungut satu pun, karena ranah jelajah menjadi rumah mereka yang baru, bagi perempuan-perempuan di kampung biru.
Aku sendiri sampai renta menjeruji diri, begitu pula kelak suamiku. Tanpa seorang yang setia tinggal di rumah penuh kesah. Tak ada yang merawat kami dan tinggal bersama lagi di rumah ini. Anak laki-laki merantau ke negeri-negeri, pergi dan mungkin akan singgah sesaat setahun sekali. Mungkin bahkan tak akan pernah kembali. Anak laki-laki yang terperangkap di pulau yang sesak dengan perempuan, penuh dengan kesenangan fana atau mungkin terkubur selamanya di pulau perempuan nun di sana. Selalu terbesit kata kepergian, namun tidak untuk kata kepulangan.
Anak perempuan selalu sedia mendampingi. Menghantarkan syair-syair riang maupun kisah-kisah berang. Mereka boleh pergi, namun pasti kembali. Menengok kami yang setia menanti. Atau mungkin rumah ini akan menjadi miliknya, penerus harta kasih sayang jiwa keluarga. Merengkuh kami penuh cinta kasih. Bagiku ketika ini, tiada yang paling sempurna jika di dalam keluarga tak ada anak perempuan, pembawa riang. Mungkin sempat aku terpikir, akan kuajak anak perempuanku berbincang duduk di tubir jenjang supaya tak diambil laki-laki negeri seberang. Namun, hati seorang ibu tak pernah tega penuh dendam.
***
Suamiku pergi berladang pagi ini kala fajar remukkan tulang rusuknya pada kabut-kabut ribut. Pada kulit wajah yang semakin keriput. Di bukit belakang yang penuh dengan buku-buku batang bambu, bekerja bagi jiwa-jiwa semangat baru. Dalam perjalanannya ke ladang, aku berharap dia membawa keberuntungan. Aku selalu mengingatkan, bila dalam perjalanannya pulang ke rumah, suamiku bertemu dengan seorang anak perempuan, undanglah dia ke mari. Aku ingin berdendang syair-syair tentang keelokkan perempuan dan berbagi bersama. Suamiku mungkin jenuh mendengarnya, namun aku terus mengenang.
Anak-anak laki-lakiku pergi sekolah. Menggendong beban-beban mata pelajaran dan mimpi semalam dengan kawan sepermainan. Rumah menjadi sepi, sesunyi sebatang pohon cengkeh di kebun seberang yang rindang. Pohon cengkeh itu telah lama tumbuh, tak pernah rubuh. Menemaniku ketika tak ada orang di rumah. Sempat suamiku ingin menebangnya karena menghalangi cahaya yang masuk ke jendela kamar tidur kami. Ruang kamar terlalu teduh, kilahnya. Kubujuk dia agar tak menebangnya. Bila kemarau datang, ruang kamar ini tak akan terlalu panas, ucapku. Akhirnya dia mengalah dan membiarkan pohon cengkeh itu tumbuh di kebun seberang rumah.
Sesekali kupetik bunga cengkeh, kuhirup baunya. Sungguh, aku ingin kelak anak perempuanku akan sewangi bunga cengkeh ini. Juga tak bosan dihirup laki-laki seperti batang rokok yang menempel di bibir hitam mereka. Sekali sebatang habis, akan ambil sebatang lagi. Dibawa serta ke mana-mana. Tak jenuh hidung menghirup bau cengkeh yang tergulung dalam kertas itu. Namun, sempat aku khawatir bila yang tersisa sepah dan abu, anak perempuanku mengabu menjadi babu. Tak mengapa menjadi menjadi babu bagi suami, namun aku pun tak ingin engkau kelak bernasib seperti aku.
Pohon cengkeh gagu mendengar keluh-kesah kisahku, tapi aku tak pernah berhenti berkisah tentang anak perempuan. Keluarga kami pasti sangat bahagia, pikirku. Pada sela-sela menanti kepulangan suamiku dari ladang, aku selalu memetik sekuntum bunga cengkeh di kebun seberang. Lalu kumasukan ke dalam sebuah toples gelas bening dan kutaruh di bawah ranjang tempat tidur kami. Sesekali aku buka tutup toples, hanya sebagian. Segera tercium wewangi bunga cengkeh itu dan teringatlah aku pada anak perempuanku. Punarbhawa anak perempuan dari pohon cengkeh titipan ibuku.
Suamiku tidak pernah tahu tindak-tandukku ini. Dia menyangka wangi bunga cengkeh ini berasal dari kebun seberang. Dan tak pernah sekali pun dia menanyakan muasal kenapa bisa tercium ke dalam kamar—karena menurutku sebatang pohon cengkeh tak sanggup menghantarkan wewangiannya sampai ke dalam kamar kami. Maka, setiap malam bau bunga cengkeh itu menyelimuti kisah percintaan kami di ranjang mesum.
***
Suatu malam, sayup-sayup aku mendengar seorang anak perempuan memanggilku. “Ibu!”, teriaknya. Aku hanya tertegun sesaat. Berfirasat, apakah aku tak salah mendengar. Aku menunggu beberapa lama. Tak ada suara lagi. Bukan, mungkin itu hanya ilusiku saja. Tak ada suara yang jelas terdengar selain riuh angin malam dan bunyi jangkrik menyanyi di dalam rumah. Aku kembali lelap. Lalu fajar kembali menusuk-nusuk rusuk kami yang keriput.
Malam berikutnya, sayup-sayup aku mendengar lagi teriakan seorang anak perempuan memanggilku. Kali ini terdengar sedikit jelas. “Ibu! Ibu!”. Kali ini aku tak mungkin salah. Terdengar sangat jelas dan jernih di ingatanku. Aku resah. Ingin segera kubangunkan suamiku, namun melihat wajahnya yang tertidur lelap di sampingku, aku tidak tega. Aku pun menunggu lagi. Selanjutnya tak ada suara.
Malam ketiga, lalu malam-malam berikutnya, suara teriakan anak perempuan itu semakin keras dan jelas memanggil. Tapi, entah dari mana asal datangnya. Aku gundah ketika suara itu akhirnya membuatku semakin lelah. Terpaksa aku ceritakan masalah ini kepada suamiku. Awalnya dia hanya tertegun saja. Diam tanpa ekspresi. Tak ada jawaban pada lekuk mimik wajahnya. Aku pun diam. Kami terdiam cukup lama. Suamiku pasti percaya, bukan? Lalu kenapa terbesit dalam pikiranku, kalau suamiku menyangka aku hanya mengarang cerita saja, dengan alasan bahwa aku—kami, suamiku juga—menginginkan anak perempuan. Selanjutnya hanya seutas senyum tersimpul di bibirnya.
Aku sangat mencintai suamiku. Keluarga kami bertahan berpuluh-puluh tahun karena kami saling percaya. Apakah senyum itu simbol bukti kepercayaannya kepadaku? Atau biduk keluarga ini sedang terhempas badai pasang? Aku coba masih percaya, pun kepada suamiku.
***
Pohon cengkeh itu yang telah memberikan anugerah tawa riang anak perempuan. Anak perempuan itu datang ketika wewangi bunga cengkeh semerbak di kamar dan ranjang. Bertambah banyak bunga cengkeh yang kupetik dan kumasukan ke dalam toples gelas. Dan ketika jelang malam, kusurutkan dukaku. Anak perempuan datang berkunjung pada ranah ibu yang telah lama pilu. Bunga-bunga cengkeh itu telah menjelma menjadi seorang anak perempuan yang cantik dan lucu, juga wangi cengkeh. Kemudian mengajakku bermain di bawah batang rindang pohon cengkeh. Suamiku lelap sekali. Setiap malam aku bermain bersamanya. Hanya pada malam kelam saja.
Anak perempuan itu hadir pada awal kisah mimpiku. Raut wajah, kilau hitam rambut panjang, bulu mata dan jari-jari lentik, bibir seranum merah delima, dan gerak lincah tubuh mungil. Kini, keinginanku bukanlah angan-angan yang membayang. Kami berdua selayang sepasang dalam permainan suka riang.
Keriangan itu kukisahkan kepada suamiku, namun ternyata suamiku tak mencintaiku lagi. Dia tak percaya padaku. Aku marah dan sedih. Anak perempuan itu nanti akan bermain dengan siapa. Tak ada, selain aku. Rumah ini akan penuh dengan suara-suara pilu memanggil ibu, memanggilku! Ketika kepulanganku dari pasar kampung seberang, kutengok pohon cengkehku telah hilang. Aku terkejut dan menjatuhkan semua barang-barang belanjaanku. Tak sehelai daun pun tersisa di kebun itu, bahkan tak ada lagi wangi bunga cengkeh. Sisa akar pun telah menjadi lubang tempat sampah. Ada abu yang masih hangat dan menganga.
Tidak pernah tumbuh pohon cengkeh di sana, kata suamiku. Aku berusaha menjelaskan apa yang aku tahu dan kurasakan. Namun, suamiku dengan tenang tak berkata apa-apa lagi dan menyuruhku untuk beristirahat di kamar. Dia bilang, aku hanya berilusi dan mimpi terlalu lama karena beberapa minggu ini aku kurang tidur. Itu tidak mungkin! Anak perempuanku akan menunggu lagi pada malam kelam. Pada malam-malam berikutnya. Aku tak ingin membuatnya menunggu. Sungguh!
***
“Akhirnya saya terpaksa menebang pohon cengkeh itu, Dok” keluh seorang lelaki renta menunduk pilu. Dokter itu mengangguk.
“Saya tahu, masalah utamanya bukanlah pohon cengkeh itu, tapi kenangan yang telah hidup di dalamnya. Memang sungguh menyakitkan bila kami harus terus mengingatnya,” suara parau lelaki itu menggema di ruang kantor praktik dokter itu.
“Saya sengaja menguburkannya di bawah pohon cengkeh itu, agar selalu dekat dengan kami. Bayi perempuan kami yang malang...”
Lelaki itu menangis. Setetes embun tangis jatuh pada lembaran kertas resep obat, yang baru saja diberikan dokter. Tangannya menggigir.
“Bersabarlah Pak. Biarlah dia mendapatkan ketenangan di tempat ini dulu,”
“Saya mohon Dok, sembuhkanlah istri saya. Saya sangat mencintainya, juga anak-anak kami di rumah,” pinta lelaki itu sembari kemudian meraih tangan dokter dan menggenggamnya erat-erat. Dokter itu kembali mengangguk dan tersenyum sendu.
Lelaki itu lalu pergi meninggalkan ruangan praktik dokter. Berjalan lunglai seperti telah kehilangan harapan. Kemudian arah langkahnya menuju sebuah ruangan pasien di ujung koridor Rumah Sakit. Di balik kaca jendela, ditatap nanar istrinya tercinta yang tengah bermain dengan udara.
***

Ciharashas-bumi singgah,
2005-2006

Dimuat di Khazanah, surat kabar Pikiran Rakyat, 2006

Cerita Pendek Terjemahan*)


Kambing Hitam
Italo Calvino


Syahdan, terdapat sebuah negeri yang seluruh penduduknya adalah perampok.

Setiap malam, semua penduduk akan mengunci rumah mereka dengan kunci-kunci berkepala tengkorak, kemudian pergi sambil membawa lentera untuk merampok rumah tetangga mereka. Ketika tiba waktu subuh, mereka pulang kembali ke rumahnya masing-masing, penuh dengan barang-barang hasil rampokan, dan kemudian menemukan, bahwa rumah mereka telah dirampok.

Maka seluruh penduduk pun hidup bahagia bersama-sama, tidak ada yang dirugikan, karena masing-masing orang saling merampok satu sama lain, dan begitu seterusnya sampai pada si perampok terakhir merampok si perampok yang pertama.

Kecurangan di antara penjual dan pembeli pun tidak dapat dihindari dalam sektor perdagangan di negeri ini. Pemerintah telah menjadi organisasi kriminal yang merampok para penduduknya, dan para penduduk pun hanya tertarik mengorupsi uang pemerintah. Kehidupan mereka berjalan mulus sehingga tidak ada orang kaya dan tidak ada orang miskin.

Pada suatu hari, tiba-tiba datanglah seorang lelaki yang jujur tinggal di negeri itu. Setiap malam, ia tinggal di rumahnya dengan membaca buku-buku novel sambil merokok, daripada pergi keluar rumah membawa karung dan lenteranya. Datanglah para perampok. Mereka melihat lampu di rumah itu masih menyala sehingga mereka pun tidak berani masuk.

Keadaan seperti itu hanya berlangsung sementara. Kemudian para penduduk negeri itu merasa berkewajiban menjelaskan kepada si lelaki jujur, bahwa walaupun ia ingin menjalani hidup tanpa melakukan apa pun, hal itu tidak dapat dijadikan alasan untuk mencegah orang lain berbuat sesuatu. Jika ia terus menerus menghabiskan malamnya dengan berdiam diri saja di rumah, maka satu keluarga tidak akan bisa makan selama seharian.

Lelaki jujur itu sangat tidak setuju dengan alasan semacam itu. Namun, ia pergi keluar dari rumahnya ketika malam tiba dan pulang kembali pada pagi hari, seperti yang dilakukan para penduduk lain, tetapi tidak merampok. Ia memang seorang lelaki yang jujur dan mereka tidak dapat berbuat apa pun terhadap keputusannya itu. Maka, si lelaki jujus pun pergi sejauh-jauhnya menuju ke sebuah jembatan dan melihat alir sungai di bawah jembatan itu. Dan ketika ia kembali ke rumahnya, ia menemukan rumahnya telah dirampok.

Sekitar kurang dari seminggu, lelaki jujur itu sudah tidak memiliki uang sepeser pun. Ia tidak punya sesuatu untuk dimakan dan seisi rumahnya kosong. Hal tersebut menjadi masalah yang rumit, karena keadaan itu adalah akibat kesalahannya sendiri; oh, tidak, masalahnya adalah perilakunya yang telah mengacaukan segalanya, karena ia membiarkan orang lain merampok segala yang ia miliki tanpa ia merampok apa pun dari orang lain. Jadi, ketika para penduduk pulang setiap subuh, selalu ada rumah yang tidak tersentuh oleh perampok: itulah rumah yang seharusnya dirampok oleh si lelaki jujur itu. Setelah beberapa hari, penduduk yang rumahnya tidak dirampok menjadi kaya dibandingkan yang lain dan tidak ingin merampok lagi. Keadaan semakin bertambah parah ketika perampok yang mendatangi rumah si lelaki jujur, selalu mendapati rumah itu dalam keadaan kosong sehingga mereka pun jatuh miskin.

Sementara itu, penduduk yang telah menjadi kaya kemudian mengikuti kebiasaan si lelaki jujur: setiap malam pergi ke jembatan untuk melihat air sungai mengalir di bawah jembatan itu. Keadaan ini kian membingungkan, karena semakin banyak orang yang bertambah kaya dan semakin banyak pula orang yang menjadi miskin.

Kini, orang-orang kaya itu membayangkan, jika mereka setiap malam pergi ke jembatan maka mereka pun akan segera menjadi miskin. Dan mereka berpikir, 'ayo, kita gaji orang-orang miskin itu agar mereka pergi merampok untuk kita'. Kemudian mereka membuat kontrak-kontrak kesepakatan dan menetapkan gaji, keuntungannya: mereka masih berstatus perampok dan mencoba mengecoh/ menipu satu sama lain. Sedangkan, kecenderungan yang terjadi malah menjadikan orang kaya semakin kaya dan bertambah kaya raya, dan yang miskin menjadi semakin melarat.

Beberapa orang kaya mendadak menjadi sangat kaya sehingga mereka tidak perlu merampok atau menyuruh orang lain merampok untuk mereka agar mereka tetap kaya. Tetapi, jika mereka berhenti merampok, mereka akan menjadi miskin karena orang miskin akan merampok mereka. Jadi, mereka pun membayar orang miskin itu dengan gaji yang sangat minim untuk mempertahankan harta milik mereka dari orang miskin yang lainnya, dan itu artinya mengerahkan pasukan polisi dan membangun penjara-penjara.

Setelah beberapa tahun semenjak kemunculan si lelaki jujur itu, orang-orang tidak lagi membicarakan tentang perampokan dan dirampok, tetapi si kaya dan si miskin. Namun, mereka semuanya masih berstatus sebagai perampok.

Dan satu-satunya penduduk yang jujur adalah si lelaki jujur itu, dan ia meninggal dunia dalam tempo yang sangat singkat karena kelaparan.***


*) Diterjemahkan oleh F. Meliasanti dalam buku Numbers in the Dark and Other Stories Karya Italo Calvino, 1995.

Puisi-puisi Terjemahan yang Pendek*)


Untuk Seekor Kucing

Bayang-bayang tak kian bisu
begitupun fajar yang merayap kian sembunyi ;
dalam cahaya bulan, kaulah si harimau kumbang
kami menangkap bidik dari kejauhan.
Dengan pikiran tak terpahami diantara hukum ilahi,
kami memburumu dalam sesia;
Kian jauh, tenang, melebihi Gangga ataupun latar matahari,
milikmu adalah kesunyian, milikmu kesembunyian.
Pangkal pahamu memenuhi kehidupan
yang mencumbu tanganku. Kau pun menerima,
semenjak masa lalu yang terlupakan selama itu,
asmara yang penuh prasangka.
Kau bermula dari masa yang tak biasa. Kaulah penguasa ruang yang membatasi seperti sebuah mimpi.


Jorge Luis Borges
Diterjemahkan dari judul puisi "for a cat" karya Jorge Luis Borges




Sebelum Fajar

Namun seperti cinta
para pemanah itu buta

Ketika malam mendingin
panah-panah itu menyerbu
mewarisi jejak-jejak haru bunga bakung.

Bulan impas
memecah awan-awan merah lembayung
dan tas-tas panah mereka
dipenuhi tetesan embun.

aih, namun seperti cinta
para pemanah itu buta!


Federico Garcia Lorca
Judul puisi aslinya saya lupa...




Dan Hari-hari

Dan hari-hari tak sanggup terpenuhi
Dan malam-malam tak mampu tercukupi
Dan hidup tergelincir seperti ladang tikus
Yang tak berdaya menggetarkan rerumputan


Ezra Pound


*) Ketiga puisi di atas diterjemahkan oleh F. Meliasanti pada Juni 2009.

September 27, 2012

SEMANTIK BEHAVIORIS *)


5.1 Sikap Umum

Dalam bab ini akan dibahas teori-teori tentang behavioris makna. Meskipun teori behavioris saat ini kurang diterima secara luas pada satu dekade yang lalu, sehingga dalam waktu yang lama psikologi Amerika lebih dominan dan membawa pengaruh yang cukup besar sehingga dilaksanakan perumusan dan diskusi tentang beberapa isu dasar dalam semantik, tidak hanya oleh psikolog, tetapi juga oleh ahli bahasa tertentu dan filsuf.[1]
Hal ini mungkin berguna untuk memulai dengan membedakan antara behaviorisme sebagai sikap umum pada satu sisi dan pada sisi lain behaviorisme sepenuhnya dikembangkan sebagai teori psikologis. Pada bagian ini, kita akan membahas behaviorisme dalam arti lebih umum, yaitu mengenali empat prinsip karakteristik atau kecenderungan yang memberikan kekuatan tertentu atau rasa.
Pertama perlu dicatat adalah ketidakpercayaan dari semua istilah mentalistik seperti 'pikiran', 'konsep', 'ide', dan seterusnya, dan penolakan introspeksi sebagai sarana untuk memperoleh data yang valid dalam psikologi. Alasan penolakan introspeksi adalah mudah dipahami. Pikiran setiap orang yang didasarkan pada pengalaman pribadi seseorang dan apa yang akan dikatakan orang lain tentang mereka sangat tidak dapat diandalkan. Memang, ini hanya salah satu kemungkinan untuk menipu dirinya sendiri tanpa sengaja karena dilakukan secara sengaja untuk menyesatkan orang lain tentang kepercayaan dan motif yang mengilhami perilakunya. Dengan demikian, adanya fakta bahwa mungkin ada kesepakatan luas di antara sejumlah orang dan melaporkan hasil introspeksi mereka bukanlah jaminan yang memadai bahwa laporan ini dapat dipercaya. Kecuali adanya kesepakatan yang introspektif mengenai bukti dengan bukti yang berasal dari pemeriksaan terhadap tindakan mereka, sehingga dalam teori behavioris berpendapat bahwa hal itu tidak berguna (atau setidaknya berpotensi menyesatkan), dan jika tidak setuju dengan bukti tersebut maka dalam pengamatan publik lebih berguna dan dapat diandalkan. Teori psikologi, harus membatasi diri untuk apa yang secara langsung dapat diamati, tetapi harus peduli dengan behavioris yang jelas, tidak dengan kondisi mental tidak teramati dan proses.
Penolakan mentalisme* (dalam pengertian istilah) terletak di jantung gerakan yang dikenal sebagai behaviorisme*, didirikan oleh JB Watson. Buku klasik diterbitkan pada tahun 1924, namun ia telah menganjurkan prinsip-prinsip utama ajaran dalam artikel dan kuliah selama beberapa tahun sebelum itu. Sebagaimana diterapkan untuk mempelajari bahasa, penolakan introspeksi menyebabkan konsentrasi mengenai hal yang diamati, ucapan yang mampu diingat, dan hubungannya dengan situasi yang mendesak di mana mereka diproduksi. (Perlu diperhatikan, dalam hubungan ini, bahwa banyak psikolog menggunakan 'perilaku verbal' sebagai istilah setara, dan sering dalam pilihan untuk 'bahasa'. Kami telah memberikan alasan di atas untuk lebih memilih istilah 'perilaku-bahasa' untuk 'perilaku verbal', dan kami telah menarik perbedaan antara perilaku-bahasa dan sistem bahasa yang mendasari:. 3.I, I.6). Bahasa merupakan suatu perilaku yang sangat penting bagi psikolog untuk diselidiki sehingga berbagai kemungkinan dapat ditinjau secara teori, untuk menyesuaikan pola berpikir sebagai perilaku sehingga hal demikian dapat menumbuhkan kesadaran dalam menyalurkan gagasan. Semua hasil pemikiran bukan hanya sekedar pidato yang biasanya tak terdengar, namun terdiri dalam gerakan yang meluas dan tak hanya terlihat seperti mengucapkan vokal saja. Karena apa yang terdengar memerlukan suatu penguatan, oleh karena itu secara umum dapat diamati bahwa pola pikir merupakan suatu bentuk perilaku yang sesuai untuk penyelidikan ilmiah yang lain.
Fitur umum kedua teori behaviorisme di sini telah terdaftar sehingga dapat dipercaya bahwa tidak ada perbedaan penting antara perilaku manusia dan hewan. Seperti telah kita lihat, pikiran atau apa yang sering digambarkan sebagai bentuk kesadaran, pada prinsipnya bisa diperlakukan sebagai subvocal perilaku-bahasa, dan perilaku-bahasa itu harus diperhitungkan dalam cara yang sama sebagai salah satu jenis lain dari perilaku pada makhluk manusia dan binatang. Keyakinan bahwa tidak ada perbedaan penting dalam prinsip-prinsip yang menentukan perilaku hewan dan hubungan psikologi behavioris manusia dengan biologi evolusi dan zoologi dan sebagaimana telah kita lihat dalam bab sebelumnya, upaya-upaya pendukung para sarjana seperti Morris (1946) untuk membangun teori semiotika umum berlaku untuk semua sistem sinyal alam. Untuk memberikan penjelasan mengenai dugaan teori perilaku manusia dan hewan itu menjadi menarik dan tepat untuk mempertanyakan seperti pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut dalam kaitannya dengan semantik. Apakah perilaku hewan mengandung makna yang sama dengan perilaku manusia, dan khususnya dalam pemaknaan perilaku-bahasa? Fitur apa saja, jika ada, yang membedakan bahasa dari sistem-sinyal yang digunakan oleh spesies lain dan apa saja fitur, jika ada, yang mereka berbagi? Pertanyaan-pertanyaan ini telah dibahas secara cukup rinci (dalam bab 3) dan akan menyentuh lagi hanya sebentar dalam pemulihan teori behaviorisme.
Aspek ketiga dari behaviorisme adalah kecenderungannya untuk meminimalkan peran insting dan pengaruh bawaan lain atau kemampuan dan menekankan peranan yang dimainkan dalam pembelajaran mengenai kisah bagaimana hewan dan manusia memperoleh pola perilaku mereka, apabila stres yang bersifat alami, atribut/pengaruh lingkungan lebih memberikan pengaruh dan begitu pula untuk keturunan. Dalam hal ini behaviorisme adalah hal yang alami bersumber dari teori pengalaman dalam pertentangan terhadap rasionalisme. Untuk mengklaim teori pengalaman bahwa pengalaman (dan lebih khususnya pengalaman disalurkan melalui indera) adalah sumber utama pengetahuan, sedangkan rasionalisme menekankan peran yang dimainkan oleh pikiran dalam perolehan pengetahuan dan menekankan kemampuan pikiran untuk alasan berdasar teori prinsip-prinsip mengenai kenyataan yang sebenarnya. Setiap konflik antara rasionalisme dan empirisme hampir menghadapkan kita pada setiap diskusi tentang prinsip-prinsip semantik. Semantik logis, seperti yang akan kita lihat nanti (6.I), telah terkait erat dengan empirisme, dan lebih khusus dengan positivisme: doktrin bahwa pengetahuan ilmiah dari jenis yang dicari dan dicapai oleh ilmu-ilmu fisik satu-satunya adalah pengetahuan, hal ini didasarkan secara eksklusif pada akal dan pengalaman, bahwa itu adalah kegagalan menurut kehendak dalam spekulasi metafisik tentang penyebab utama atau sifat realitas. Teori-teori yang lebih tradisional dari makna, sebagaimana telah kita lihat (4.3), yang diutarakan dalam materi sebelumnya (atau konseptual) rasionalis.
Fitur keempat, dan terakhir adalah behaviorisme secara umum, yang akan dibahas pada fitur ini adalah mekanisme atau determinisme. Istilah-istilah ini (yang diutarakan di sini seperti padanan kata, meskipun mereka kadang-kadang dibedakan) harus dipahami hal yang mengacu pada pandangan bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ditentukan menurut hukum-hukum kausal fisika yang sama, bahwa hal ini membenarkan tindakan manusia dari gerakan dan tidak ada transformasi mengenai zat mati. Berdasarkan pandangan ini diharapkan bahwa teori behavioris tidak hanya akan memberikan titik berat yang baik pada berbagai kemungkinan sebagai kriteria penting untuk evaluasi namun hal ini mungkin diajukan dari setiap teori perilaku manusia; juga memungkinkan pada hal yang wajar bahwa cara memulai laporan perilaku bahasa harus melihat ke lingkungan eksternal, setiap kali dia bisa, untuk elemen kausal dalam produksi ujaran.
Sebelum dipaparkan materi selanjutnya, perlu menekankan bahwa empat fitur umum dari behaviorisme yang tercantum di atas tidak termasuk tidak dapat dipisahkan bersama-sama, dalam arti bahwa salah satu mengandaikan atau lainnya menyiratkan. Salah satu bisa menjadi lawan introspeksi tanpa ahli; seseorang dapat menyangkal bahwa ada jurang antara manusia dan hewan sehingga menjadi komitmen untuk penolakan pikiran, dan sebagainya. Salah satu fitur ini masih kurang diterima, atau bahkan keempat dari sikap terdaftar, di sini para sarjana berkomitmen ke penerimaan sebagai teori behaviorisme psikologi. Ini hanya tidak benar, dan tidak pernah dalam arti sebelumnya diakui dari istilah ‘mentalism’, bahwa seseorang harus baik mentalist atau behavioris.


5.2. Lebih Khusus Fitur Behaviorisme
Perilaku mahluk hidup dapat digambarkan, menurut behavioris, dalam hal ini mahluk hidup* yang membuat respon untuk rangsangan* yang disajikan oleh lingkungan. Dilihat dari sudut pandang ini, mahluk hidup lain dapat diambil sebagai bagian dari lingkungan. Rumus umum digunakan untuk melambangkan hubungan antara stimulus dan respon. Tanda panah merupakan hubungan sebab akibat: stimulus merupakan penyebab dan respon merupakan efeknya. Kombinasi dari dua adalah refleks stimulus-respon.
S - R
 


Jika respon yang dibuat mahluk hidup menghasilkan stimulus maka akan memberikan kepuasan dari beberapa kebutuhan atau keinginan (lebih teknis, jika mengurangi beban beberapa negara yang mengalami kekurangan) dengan demikian itu diperkuat dan sebagai respon lebih mungkin disajikan ketika menjadi stimulus yang sama pada hal berikutnya. Hal ini penting untuk menyadari bahwa respon mungkin awalnya telah dibuat secara kebetulan. Kita tidak perlu melibatkan gagasan tentang tujuan atau niat, dan tegas berbicara, kita tidak harus menjelaskan perilaku yang diperkuat sehingga berhasil (karena niat mengisyaratkan keberhasilan). Jika respon tidak diperkuat, kemungkinan itu akan menjadi semakin kurang dan pada akhirnya akan padam, akan lebih cepat dipadamkan oleh rangsangan permusuhan, atau hukuman. Berbicara dalam istilah yang biasa lagi, kita dapat mengatakan bahwa mahluk hidup secara bertahap akan belajar untuk menahan diri sehingga melakukan sesuatu karena mereka menyebabkan rasa sakit atau hukuman dan akan belajar untuk melakukan hal-hal lain karena mereka membawa kesenangan atau beberapa cara menghilangkan rasa sakit atau tertekan. Hal ini merupakan prinsip-prinsip dasar bahwa teori pembelajaran behavioris didirikan.
Sebuah pola perilaku dipelajari sebagai rantai stimulus-respon refleks, sebagaimana dapat digambarkan sebagai berikut.
(S1 -       R1) -       (S2 -       R2) -        (S3 -       R3) -         …

            Hal ini sebagai kesimpulan, misalnya: bahwa tata bahasa diasumsikan harus dipelajari. Kata pertama dari suatu ucapan dihasilkan sebagai respon (R1) terhadap beberapa stimulus eksternal (S1); produksi R1 kemudian berfungsi sebagai stimulus (S2) kata yang kedua adalah respon (R2), dan sebagainya. Hubungan kausal antara refleks S-R yang dibangun atas dasar hubungan mereka sebelumnya. Umumnya, tentu saja, akan ada lebih dari satu transisi yang mungkin dari satu kata ke kata yang berikutnya dalam ucapan gramatikal dapat diterima, dan kekuatan ikatan asosiatif antara kata tertentu dan penerusnya yang mungkin akan bervariasi sesuai dengan frekuensi yang mereka miliki sehingga dikaitkan di masa lalu dan hubungan mereka diperkuat. Ini akan menjadi jelas bahwa pandangan tentang struktur gramatikal sesuai sehingga untuk pengembangan alami lebih lanjut dalam hal teori informasi (lihat 2.3). Untuk probabilitas statistik dapat ditugaskan untuk masing-masing kumpulan penerus, mungkin pada setiap titik transisi dari satu S-R refleks ke yang berikutnya.
Hal yang menonjol dalam versi sebelumnya dari behaviorisme, yakni apa yang sekarang sering digambarkan sebagai behaviorisme klasik, hal tersebut adalah gagasan tentang kondisi refleks. Bahkan, behaviorisme lahir, sebagai doktrin psikologis yang khas, ketika Watson menarik dari pekerjaan Pavlov pada pengkondisian refleks fisiologis implikasi bahwa gagasan ini dapat digunakan untuk menjelaskan pengembangan asosiasi antara stimulus dan respon. Pavlov telah menunjukkan bahwa air liur pada anjing, yang terjadi secara alami atau naluriah sebagai respon fisiologis bersyarat ketika ada makanan, bisa menimbulkan sebagai reaksi terhadap bunyi bel, ketika bel telah berbunyi beberapa kali dalam hubungan dengan penyajian makanan. Makanan itu stimulus berkondisi, dering bel stimulus terkondisi, dan air liur merupakan respon bersyarat untuk makanan, tapi respon dikondisikan dengan bunyi bel. Demikian pula, reaksi cinta atau cinta, bersyarat (atau insting) dalam hubungannya dengan salah satu rangsangan kecil, bisa dikondisikan untuk rangsangan pengganti lainnya berdasarkan asosiasi, apakah kebetulan atau eksperimental dirancang, dari stimulus digantikan dengan stimulus asli. Penguatan dapat mengkonversi respon awal naluriah menjadi tanggapan yang dipelajari, seperti ketika bayi menangis diperkuat oleh perhatian orang tua di berbagai negara atau rangsangan berlawanan. Akhirnya, respons dapat digeneralisasi untuk semua rangsangan yang menyerupai stimulus dengan respon yang awalnya terkait, dan semakin besar kesamaan dalam rangsangan yang kuat akan semakin besar pula ikatan S-R asosiatif yang dikembangkan.
Berbagai gagasan dasar mengenai teori behaviorisme. Satu hal yang lebih umum dapat dilakukan sebelum kita mengetahui teori-teori behavioris dengan mempertimbangkan makna. Mekanisme penguatan diasumsikan untuk beroperasi sehingga sangat banyak cara yang sama seperti mekanisme seleksi alam dalam biologi evolusi: seperti telah kita lihat, sejumlah refleks kecil diasumsikan sebagai bawaan, tetapi sebagian besar tanggapan awalnya dibuat secara acak, hubungan mereka dengan rangsangan tertentu ditetapkan pula oleh penguatan.

5.3. Teori Behavioris Makna
Perumusan awal mengenai konsep behavioris makna dikemukakan oleh Watson: “Fungsi kata-kata dalam menanggapi persoalan yang sama, seperti mengemukakan objek yang berfungsi sebagai kata pengganti”.[2] Penemuan di sini melibatkan gagasan kita menemukan dipanggil pengertian mengondisikan refleks: kata (yaitu kata-bentuk) umum terjadi pada kehadiran objek tertentu, dan objek membangkitkan tanggapan tertentu; hubungan asosiatif didirikan antara kata dan objek (seperti antara makanan dan dering lonceng dalam eksperimen Pavlov); dan, dengan tidak adanya objek kata bertindak sebagai stimulus pengganti. Pandangan Watson pada poin ini dan lainnya dikembangkan lebih lanjut oleh AP Weiss (1928).
Analisis behaviourist Bloomfield tentang acara pidato-imajiner berdasarkan gagasan pada kata yang sama atau ucapan-ucapan sebagai pengganti rangsangan dan tanggapan. Ini layak untuk dibahas secara rinci karena hal itu adalah salah satu dari jenis analisis bahwa setiap behavioris merupakan awal, tetapi juga merupakan alasan yang lebih penting untuk memberi perhatian khusus mengenai hal tersebut, karena Bloomfield adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam pengembangan studi bahasa ilmiah di abad pertama sehingga dianggap lebih dari orang lain, Bloomfield bertanggung jawab untuk memperkenalkan titik pandang behavioris dalam linguistik.
            Dalam salah satu karya awal Bloomfield (1914) telah menyatakan kesetiaannya kepada apa yang dikemukakannya, dan kemudian membantah pendekatan mentalistik ke bahasa psikologi yang dianjurkan oleh Wundt (1912). Pada tahun 1926, bagaimanapun, dia telah meninggalkan pendekatan ini, dan dalam bukunya “A set of postulates for the science of language” (Bloomfield, 1926), secara eksplisit dimodelkan pada behaviouristic Weiss postulat untuk psikologi, ia mengemukakan pandangan bahwa makna terdiri dari hal yang diamati mengenai fitur stimulus-reaksi dalam ucapan. Ini adalah pandangannya dan dia konsisten di semua publikasi berikutnya. Dalam buku linguistik klasiknya, pertama kali diterbitkan pada tahun 1933, ia menarik suatu kontras antara apa yang digambarkan sebagai teori mentalistik tradisional bahasa dan “teori materialistik (atau, lebih baik, mekanistik)”, sesuai dengan tindakan manusia yang "... merupakan bagian sebab-akibat yang sama seperti yang kita amati sehingga mengatakan dalam studi fisika atau kimia” (1935: 33) .3 (Dia melanjutkan dengan menunjukkan bahwa, meskipun kita pada prinsipnya bisa meramalkan apakah suatu stimulus tertentu akan menyebabkan seseorang untuk berbicara dan, jika demikian, apa yang akan ia katakan, dalam praktiknya kita bisa membuat prediksi “hanya jika kita tahu struktur yang tepat dari tubuhnya saat ini” (1935: 33).[3] Bloomfield, kemudian merumuskan dua sikap umum yang tercatat sebagai teori karakteristik behaviouris dalam bagian pertama bab ini: ketidakpercayaan pada mentalism dan keyakinan dalam determinisme. Selain itu, sebagai kutipan menunjukkan, ia menerima bahwa bentuk determinisme yang sangat kuat yang ‘positivisme’ label dan ‘fisikalisme’ yang sering diterapkan: yang mengatakan, ia percaya bahwa semua ilmu pengetahuan harus dimodelkan pada apa yang disebut ilmu yang tepat dan bahwa semua pengetahuan ilmiah harus direduksi, akhirnya, pernyataan yang dibuat tentang sifat-sifat dari dunia fisik sebagai ini adalah dijelaskan oleh fisika dan kimia. Hal ini perlu diperhatikan, dalam hubungan ini, bahwa Bloomfield adalah kontributor, bersama-sama dengan cendekiawan seperti Carnap dan Morris, untuk Ensiklopedia Ilmu Bersatu (Neurath dkk, 1939.), yang diilhami oleh tesis fisikalisme (lih.4.4).
            Contoh Bloomfield dari acara pidato adalah sebagai berikut (1935: 23ff). Jack dan Jilt berjalan di  jalur yang sama; Jill melihat pohon apel dan kebetulan saat itu dia lapar sehingga meminta Jack untuk mengambilkan buah itu untuknya, Jack memanjat pohon apel itu dan memberikannya pada Jilt, lalu Jilt memakan buah itu. Dalam situasi ini, Jilt sedang lapar dan dia melihat apel itu merupakan stimulus (S). Tanpa memberikan tanggapan secara langsung lalu memanjat (R) dari memanjat pohon untuk mendapatkan apel sehingga hal itu merupakan respon pengganti (r) dalam bentuk ucapan tertentu, dan Jilt bertindak sebagai stimulus pengganti (s) untuk Jack menyebabkan dia merespon (R) seperti yang akan dilakukan jika ia sendiri telah lapar dan telah melihat buah apel. Seluruh situasi dilambangkan oleh Bloomfield sebagai berikut:
S-        r...s -        R

            Perbedaan antara huruf kecil dan huruf kapital merupakan perbedaan langsung antara stimulus pengganti atau respon. Arti dari ucapan (r…s) adalah “situasi di mana pembicara mengucapkan dan respon yang tercantum dalam panggilan pendengar” (S - R) (1935: 26).[4] Kemudian dalam buku yang sama pembicaraan Bloomfield dari bagian stimulus dari kompleks  S      R sebagai makna ucapan (hal. 139) dan akhirnya mengidentifikasi makna dengan fitur berulang dari situasi di mana bentuk-bentuk yang digunakan (hal 158; lihat juga Bloomfield, 1943). Satu hal yang tidak jelas dalam analisis Bloomfield tentang makna, perlu dicatat adalah hubungan antara makna ujaran dan makna leksem. Respon pengganti Jilt (r) bukan leksem, tapi ucapan yang baik dalam bentuk kata tunggal (menurut Bloomfield, hal itu minimal panggilan bentuk bebas) atau urutan bentuk-kata dan dalam banyak kasus akan tepat/ baik jika ditumpangkan dengan beberapa modulasi prosodi dan paralinguistik (lih. 3.1).
            Analisis makna, menurut Bloomfield, adalah "titik lemah dalam studi bahasa" dan selalu akan tetap demikian "sampai kemajuan pengetahuan manusia sangat jauh melampaui kondisi saat ini" (1935: 140). Hal ini karena catatan yang tepat dari makna kata-kata itu diadakan untuk bergantung pada deskripsi yang lengkap dan ilmiah dari, negara objek dan situasi yang beroperasi sebagai pengganti kata-kata. Untuk sejumlah kecil kata-kata kami sudah dalam posisi untuk memberikan deskripsi ilmiah reagonably tepat. Kelaparan Jill dapat dijelaskan dalam hal kontraksi otot dan sekresi cairan di perutnya; dirinya melihat apel dapat dianalisis dalam hal gelombang cahaya yang dipantulkan dari apel mencapai matanya, dan apel itu sendiri dapat diberikan botani klasifikasi (akhirnya direduksi, tidak diragukan lagi, dengan deskripsi fisik semata). Untuk makna sebagian besar kata-kata, bagaimanapun, tidak ada analisis ilmiah tersebut dapat diberikan. Cinta dan benci tidak begitu mudah diidentifikasi dalam istilah fisik, seperti kelaparan. Masih kurang mudah untuk mengkarakterisasi dengan cara ini adalah arti dari kata-kata seperti 'baik' atau 'cantik'.
            Positivisme Bloomfield, atau fisikalisme, harus dibedakan dari behaviorisme dan, untuk kenyamanan dari eksposisi dan diskusi, jika tidak ada alasan lain, dapat diobati secara terpisah. Banyak filsuf telah mengusulkan teori makna berdasarkan positivisme tanpa behavioris sedang, dan itu sangat mungkin bahwa seseorang harus ingin mendefinisikan makna dari segi model stimulus-respon perilaku demikian tanpa berkomitmen untuk melihat bahwa satu-satunya deskripsi ilmiah dari rangsangan adalah dengan cara analisis reduktif untuk konstruk teoritis ilmu-ilmu fisik. Karena itu marilah kita menunda semua diskusi dari tesis fisikalis untuk saat ini.

Apa yang kemudian dapat kita katakan tentang elemen behavioris lebih khusus dalam analisis Bloomfield tentang makna? Komentar pertama dan paling jelas adalah bahwa, untuk sebuah teori yang diduga dibangun berdasarkan data yang diamati solid, dibutuhkan banyak teramati, dan memang tidak teramati, bukti untuk diberikan. Mari kita mengakui sebagai masuk akal bahwa, cukup meskipun mungkin tidak diperlukan, kondisi Jill ucapan dari saya lapar adalah bahwa ia harus pada kenyataannya akan lapar dan harus melihat sesuatu yang dapat dimakan, seperti apel, di lingkungan tersebut. Jika ucapan Jill berfungsi sebagai stimulus pengganti Jack menyebabkan dia berperilaku seperti yang akan dilakukan jika ia lapar dan telah melihat apel itu, mengapa dia tidak, setelah memanjat pohon, makan apel itu sendiri? Jelas sesuatu yang lain harus diperkenalkan untuk memperhitungkan fakta bahwa Jack menafsirkan dan menerima ucapan Jill sebagai permintaan bahwa ia harus memberikan apel itu padanya. Selanjutnya, observation kasual dan pengalaman akan menunjukkan bahwa situasi di mana token dari jenis ucapan aku lapar diproduksi sangat beragam dan bahwa jenis perilaku yang berikut pada ucapan seperti ini, tidak hanya beragam, tetapi dalam banyak kasus tak terduga. Juga tidak ada alasan untuk percaya, berdasarkan pengamatan kasual dan pengalaman bahwa ada sesuatu independen diidentifikasi yang umum untuk semua situasi di mana sebuah token yang diberikan ucapan-jenis yang diproduksi.
            Ini mungkin keberatan bahwa observasi kasual dan pengalaman hampir tidak dapat diterima sebagai dasar yang dapat diandalkan di mana untuk membangun sebuah teori ilmiah makna, dan ini benar. Tapi tidak lebih dapat diandalkan telah ditawarkan di tempatnya. Ini adalah satu hal untuk mengatakan, karena beberapa komitmen sebelum pandangan filosofis tertentu, bahwa ucapan-ucapan tertentu harus sepenuhnya ditentukan oleh situasi (atau beberapa faktor dalam situasi) dan harus mereka berinteraksi dengan situasi untuk menentukan reaksi pendengar, melainkan cukup hal yang berbeda untuk menunjukkan bahwa ini begitu dalam menghadapi bukti bahkan kasual dan anekdot yang sebaliknya. Misalkan reaksi Jack adalah untuk mengatakan Anda tidak bisa, kita baru saja makan siang atau Apakah Anda yakin ingin apel? Kau tahu mereka memberi Anda gangguan pencernaan. Apakah kita sekarang mengatakan bahwa situasi sehingga menimbulkan ucapan Jill dan reaksi Jack pasti berbeda dalam semua tiga kasus, atas dasar bahwa reaksi Jack berbeda? Dan akan kita sekarang bersikeras bahwa ucapan Jill memiliki arti yang berbeda dalam semua tiga kasus? Untuk arti ucapan, itu akan diingat, didefinisikan dalam hal reaksi yang memprovokasi serta stimulus yang diprovokasi oleh. Di tempat lain Bloomfield mengatakan: "Seorang asing yang membutuhkan di pintu bilang aku lapar. Seorang anak yang telah dimakan dan hanya ingin menunda pergi tidur bilang aku lapar. Linguistik hanya mempertimbangkan fitur-fitur vokal yang sama dalam dua ucapan, dan hanya reaksi stimulus-fitur yang sama dalam dua ucapan "(1926: 153). Tapi apa reaksi stimulus-fitur umum untuk ucapan ini? Dan bagaimana salah mengidentifikasi mereka? Apakah kita tidak cenderung untuk mengatakan bahwa pengakuan pendengar tentang makna saya lapar adalah independen dan sebelum reaksinya terhadap hal itu? Hal ini tentu akan menjadi cara yang lebih biasa melihat hal-hal, dan keuntungan dari meninggalkannya mendukung definisi behaviouristic makna jauh dari jelas. Kami akan mengambil titik ini dalam bagian berikutnya.

Gagasan Bloomfield tentang makna, seperti yang telah kita lihat, sangat dekat dengan Watson dan Weiss. Skinner, yang milik generasi kemudian behavioris dan telah membangun sebuah teori yang jauh lebih rumit, sangat kritis ini, mengatakan: "Hanya ketika konsep stimuius dan respon yang digunakan sangat longgar dapat prinsip pengkondisian berfungsi sebagai prototipe biologi simbolisasi" (1957: 87).[5] Dia menunjukkan bahwa hanya dalam satu set yang sangat terbatas kasus bahwa stimulus verbal yang akan memiliki efek yang sama pada mahluk hidup seperti yang akan objek dengan yang berhubungan, dan ia menolak istilah 'tanda' dan 'simbol' untuk menunjukkan hubungan asosiasi. Ia mendasarkan analisisnya pada konsep kontrol stimulus*. Hal ini melibatkan tiga faktor dari stimulus, respon dan penguatan, tidak ada dua yang, bagaimanapun, dapat diidentifikasi sebagai simbol dan apa yang disimbolkan. Intinya adalah bahwa penguatan tergantung semata-mata pada kemungkinan lingkungan di mana stimulus terjadi. Jika apa yang pada awalnya respon acak terhadap rangsangan tertentu diperkuat, mahluk hidup akan mengasosiasikan respon dengan stimulus yang sebelumnya dan menjadi lebih mungkin untuk memancarkan respon yang sama terhadap stimulus yang sama pada kesempatan masa depan. Bentuk kata /rubah/, misalnya, bukan merupakan stimulus pengganti, berdiri untuk jenis hewan tertentu; itu adalah bentuk kata yang berkaitan dengan hewan-hewan tersebut telah ditetapkan oleh terjadinya dalam ucapan-ucapan yang "telah, dan mungkin akan, diperkuat dengan melihat rubah" (Skinner, 1957: 88).
            Ucapan-ucapan, untuk Skinner, yang operants lisan* ('term' operant ini dimaksudkan untuk menunjukkan "aktivitas yang beroperasi pada environrnment" kontras dengan "kegiatan yang terutama berkaitan dengan ekonomi internal mahluk hidup" (hal. 20).) Mereka terbagi dalam dua kelas utama, menurut apakah rangsangan sebelumnya yang mengontrol mereka adalah (a) non-verbal atau (b) lisan/verbal, dan yang pertama dari kedua kelas dibagi menjadi dua sub-kelas, mands dan menerima imunisasi.
            Istilah mand* sesuatu yang diingat adalah terkait dengan 'perintah', 'permintaan', 'membatalkan', dll. dan mengacu pada operan lisan "di mana respon diperkuat oleh konsekuensi karakteristik dan karena itu di bawah kendali fungsional dari kondisi yang relevan kekurangan atau rangsangan berlawanan"(hal. 35-6). Ucapan-ucapan seperti Tangan saya bahwa buku atau Beri aku sebuah apel, dalam penggunaan mereka yang paling khas, karena itu akan mands. Jika kita mengabaikan penolakan sementara behavioris tentang pengertian tujuan dan niat, kita dapat mengatakan bahwa ucapan-ucapan mands yang dengan cara yang pembicara mendapat pendengar untuk melakukan sesuatu untuknya. Banyak penulis menyebutnya sebagai fungsi instrumental* bahasa dan menganggapnya sebagai dasar atau primitif terutama (lih. 2.4). Perlu dicatat bahwa, untuk Skinner, termasuk tidak hanya perintah, permintaan dan permohonan, tapi juga pertanyaan: untuk pertanyaan adalah khas diperkuat oleh respon verbal yang meredakan keadaan kekurangan atau rangsangan permusuhan yang menimbulkan pertanyaan. Skinner juga meluas istilah untuk menutupi apa yang dia sebut 'magis' dan 'takhayul", seperti keinginan dan sumpah.
            Kelassub kedua pelaku yang mengoperasikan lisan di bawah kendali fungsional sebelum rangsangan nonverbal yang menerima imunisasi*. ("Istilah 'Bijaksana' diciptakan... Membawa saran sesuatu yang diingat dari perilaku yang 'membuat kontak dengan" dunia fisik "(hal. 81).) Hanya apa yang dianggap sebagai ucapan-ucapan menerima imunisasi, bagaimanapun, adalah agak jelas. Bijaksana didefinisikan sebagai "instrumental lisan di mana respon terhadap suatu bentuk tertentu membangkitkan (atau setidaknya diperkuat) oleh obyek atau peristiwa tertentu atau sifat dari suatu obyek atau peristiwa" (1957: 81-2). Tapi definisi ini mungkin akan mengakui mands sebagai kelassub dari menerima imunisasi. Apa pengupas kulit terutama berkaitan dengan dalam pembahasannya tentang menerima imunisasi adalah cara di mana ekspresi linguistik datang untuk dihubungkan dengan benda-benda dan peristiwa dalam situasi mendesak. Dia mengatakan bahwa "kehadiran dari stimulus yang diberikan menimbulkan probability terjadinya suatu bentuk tertentu respon" (hal. 82). Tapi dengan ini dia tidak berarti bahwa pernyataan-pernyataan, mengatakan, bukan pertanyaan, perintah atau permintaan yang lebih mungkin terjadi (meskipun ia pada saat ini membatasi perhatiannya pada pernyataan, dan terlebih lagi pernyataan deskriptif lingkungan fisik langsung): ia muncul untuk menjadi jauh lebih peduli untuk berpendapat bahwa kehadiran objek tertentu atau terjadinya peristiwa tertentu di lingkungan langsung menimbulkan suatu kemungkinan bahwa pembicara akan menghasilkan ucapan yang mengandung ungkapan yang mengacu pada benda atau peristiwa. Kita baru saja menggunakan 'merujuk' istilah, meskipun Skinner tegas memperingatkan kita melawan menggunakan gagasan kontrol stimulus "untuk mendefinisikan kembali konsep-konsep seperti tanda, sinyal atau simbol atau suatu hubungan seperti sebagai referensi, atau entitas dikomunikasikan dalam episode pidato seperti ide, makna, atau informasi "(hal. 115). Namun, penulis lain, terutama Quine (1960), telah didefinisikan ulang baik makna dan referensi dalam hal behaviouristik, dan Quine setidaknya secara eksplisit terkait pandangannya akuisisi anak sarana linguistik acuan untuk teori Skinner dari operan-pengkondisian. Kami juga mempekerjakan 'ekspresi' yang panjang, daripada 'bentuk': ini adalah karena, dalam kerangka terminologis bahwa kita telah mengadopsi dalam buku ini, ekspresi, bukan bentuk, yang dikatakan memiliki referensi (lih. I.5 , 7.I).
            Skinner mempunyai diskusi tersendiri terhadap abstraksi dan referensi, selain dari pengenalan tentang gagasan behavioris khusus penguatan (dalam kondisi kekurangan atau rangsangan berlawanan) sangat mirip dengan yang ditemukan dalam karya-karya seperti Ogden dan Richards (1923), yang telah kita gambarkan atas sebagai sendiri behaviouristik dalam arti luas (lih. 2.i). Ia menggunakan istilah abstraksi*, pada kenyataannya, sangat tradisional: setiap objek melayani sebagai stimulus akan memiliki seperangkat sifat dan respon awalnya mungkin ke objek yang sama atau ke kelas objek berbagi semua sifat yang sama atau beberapa subset dari mereka; namun akhirnya, berdasarkan masyarakat, penguatan respon di hadapan stimulus dengan sifat rekan komunitas dengan respon dan masyarakat, kegagalan untuk memperkuat respon di hadapan objek kurang kriteria sifat, respon sewajarnya dikhususkan* dan sifat dengan benar disarikan* dari objek yang menyatakannya. Hal ini dengan cara ini misalnya bahwa kita datang untuk belajar arti dari kata-kata seperti, ‘red’ atau ‘round’. Terlepas dari dalil dari mekanisme penguatan oleh masyarakat, apa yang dikatakan di sini tentang abstraksi adalah identik dengan apa yang banyak filsuf telah mengatakan tentang cara yang disebut konsep universal terbentuk (lih. 4.3). Hal ini terkait paling jelas mungkin untuk teori-teori empiris Locke dan Hume, tetapi teori rasionalis abstraksi tidak sangat berbeda, kecuali sejauh mereka menekankan peran pengetahuan bawaan atau kecenderungan.
            Skinner tidak memiliki istilah khusus untuk kelas pelaku yang mengoperasikan lisan di bawah kendali fungsional dari stimuli verbal yang sebelumnya. Ini termasuk bagian yang sangat substansial dari ucapan-ucapan yang kita hasilkan dalam percakapan sehari-hari. Tapi ada beberapa kelassub yang Skinner membedakan dan mana yang patut disebutkan terpisah: tanggapan yg menirukan bunyi, respon dan tanggapan intraverbal tekstual. Tanggapan yg menirukan bunyi adalah mereka di mana pendengar mengulangi sebagian atau seluruh dari apa yang pembicara baru saja mengatakan. Mereka dikatakan terutama sering terjadi pada anak-anak, pada saat yang sama, ditekankan bahwa perilaku yg menirukan bunyi tidak tergantung pada atau menunjukkan apapun insting atau fakultas imitasi (hal. 59). Tanggapan tekstual adalah mereka di mana stimulus verbal yang sebelumnya adalah sebuah teks tertulis dan respon bahwa operasi yang kita sebut membaca. Paling penting dari semua adalah tanggapan intraverbal. Mereka termasuk, tidak hanya kasus yang relatif sepele formula sosial seperti Baik, terima kasih (diucapkan dalam menanggapi stimulus Bagaimana Anda?). Tetapi juga banyak yang baik dari apa yang kita sebut pengetahuan. Untuk pengetahuan faktual, diasumsikan, disimpan dalam rantai asosiasi intraverbal dan belajar sebanyak yang kita bisa belajar sebuah puisi atau doa dengan hati, baris pertama atau frase. Stimulus yang kedua adalah terkait koneksi psikologi sebagai respon, dan sehingga pada akhir puisi atau doa.
            Kita tidak akan membahas rincian ini subklasifikasi dari pelaku yang mengoperasikan lisan dikontrol oleh rangsangan secara verbal sebelum atau memang salah satu perbedaan lain yang ditarik oleh Skinner dalam bukunya, dan kita akan menunda kritik yang lebih umum dari pendekatan sampai bagian berikutnya. Berikut satu hanya dapat mengatakan bahwa aspek yang paling berharga dari buku ini, dan tidak harus di bawah-diperkirakan, adalah bahwa hal itu tidak bekerja secara detail cukup implikasi dari mengadopsi sikap behavioris terhadap bahasa dan berpikir. Beberapa fitur Skinner, klasifikasi dari ucapan-ucapan, seperti telah kita lihat, yang cukup tradisional (pengakuan tentang kelas ucapan instrumen, gagasan tentang abstraksi); lain baik baru dan menantang (pembedaan tanggapan tekstual dan intraverbalnya penerimaan tanpa kompromi konsekuensi dari pandangan, behavioris bahwa pikiran hanyalah pidato ditekan, pengecualian nya dari segala sesuatu tetapi mekanisme penguatan dari teori belajar bahasa). Teori semantik tidak bisa tetapi menguntungkan dari diwajibkan untuk menghadapi mereka.


5.4 Evaluasi Semantik Behavioris
Fitur yang paling mencolok dari setiap teori behavioris makna sejauh yang masuk akal diusulkan adalah ketidakmampuan untuk menangani dengan lebih dari fraksi yang sangat kecil dari ucapan-ucapan kehidupan sehari-hari. Dan ini benar tidak hanya dari teori-teori sebelumnya dari Watson, Weiss atau Bloomfield, tetapi juga dari teori yang lebih canggih dan lebih sangat maju dari Skinner. Sebuah lompatan besar diperlukan sebelum seseorang dapat menerima bahwa aparat cukup untuk menjelaskan ucapan ilustratif seperti aku lapar, ini hujan, Air! atau aku lulus,  silakan pada prinsipnya mampu akuntansi, tanpa ekstensi teoritis lebih lanjut, untuk kompleksitas penuh tentang perilaku bahasa. Tidak ada bukti untuk mendukung pandangan bahwa lebih dari jumlah yang sangat kecil mands Skinner dan menerima imunisasi berada di bawah kendali fungsional dari beberapa stimulus determinate dan berulang di lingkungan. Dalam keadaan ini, klaim behavioris untuk memiliki hubungan membawa antara kata dan hal-hal "dalam lingkup metode ilmu alam" (Skinner, 1957: 115) adalah, untuk sedikitnya, prematur. Sedangkan untuk kelas operants lisan di bawah kendali lisan fungsional rangsangan sebelumnya, status mereka bahkan mungkin kurang memuaskan. Berikut hanya dalam kasus pertukaran yang sangat ritual atau monolog bahwa gagasan stimulus-kontrol memiliki apapun prima facie masuk akal.
            Sebagai kerangka kerja di mana untuk arti bahasa-ucapan atau kata-kata penyusunnya dan ekspresi, behaviorisme adalah hadir untuk setidaknya pada nilai yang sangat terbatas. Ini memiliki kebaikan untuk mencoba memperhitungkan makna dalam hal diamati (yang, tidak seperti bukti murni introspektif, dapat diverifikasi oleh orang lain), dan kita mungkin mengakui bahwa beberapa aspek penting dari arti kata-kata seperti 'kursi' atau 'buku' dapat dibawa dalam lingkup model stimulus-respons dengan menunjukkan bagaimana mereka (atau ekspresi yang mengandung mereka) datang untuk dihubungkan dengan kelas tertentu hal diamati, yaitu kursi atau buku, di lingkungan, dan bahwa makna kata-kata yang menunjukkan sifat diamati dari hal-hal, seperti bentuk, warna, berat dan tekstur, juga dapat dipertanggungjawabkan secara memuaskan dengan cara ini. Tapi kata-kata banyak yang tidak menunjukkan hal-hal yang dapat diamati dan properti, dan behaviorisme tidak ada membantu untuk mengatakan tentang cara di mana kata-kata seperti mendapatkan makna mereka.
            Atau memang adalah catatan stimulus-respon dari asosiasi antara kata dan diamati cukup mudah karena mungkin muncul pada pandangan pertama. Sudah sering menunjukkan bahwa kita biasanya tidak bereaksi terhadap kata-kata dalam cara yang sama seperti kita akan bereaksi terhadap, situasi hal-hal atau sifat yang mereka berhubungan. Sebagai Brown mengatakan: "Seseorang yang tahu hujan yang mengacu pada hujan tidak selalu bereaksi terhadap kata seperti dia akan ke hal itu sendiri, ada lebih dari ia mengatakan hujan setiap kali dia melihat, mendengar atau merasa itu" (1958: 96). Ada berbagai upaya untuk menyelesaikan atau menghindari kesulitan ini. Beberapa penulis telah berpendapat bahwa, meskipun mungkin tidak ada respon perilaku yang jelas, akan selalu ada beberapa jenis respon rahasia: menurut satu teori, berasal dari Watson, ini akan mengambil bentuk aktivitas otot tak terlihat, menurut ke yang lain, akan terdiri dalam reaksi mediasi karakteristik dalam sistem saraf. Tak perlu dikatakan, tidak satu pun dari reaksi-reaksi ini mendalilkan adalah setiap lebih langsung diamati daripada konsep mental atau gambar dari teori semantik tradisional, dan sejauh ini belum membuktikan bahwa reaksi seperti itu pada kenyataannya terjadi. Penulis lain telah menyarankan bahwa hubungan antara stimulus dan respon karakteristik untuk itu adalah disposisional: artinya, kita tidak akan selalu bereaksi, bahkan diam-diam, dalam kehadiran stimulus, tetapi, sekali asosiasi ini didirikan, kami akan memiliki disposisi untuk merespon dengan tepat dan disposisi ini akan mengeluarkan dalam respon terbuka, asalkan semua kondisi menentukan terpenuhi untuk ini. Kita akan menyebutnya sebagai teori makna disposisional*: dua dari pendukung yang paling berpengaruh adalah Stevenson (1944) dan Morris (1946).
            Pertanyaan pertama yang harus diajukan dalam kaitannya dengan teori makna adalah apa yang dimaksud dengan disposisi untuk merespon. Tidak ada keberatan pada prinsipnya untuk gagasan konsep disposisional, dan behavioris tidak harus berkomitmen untuk keberadaan dari setiap jenis keadaan mental atau entitas dengan pengakuan tentang disposisi untuk merespon serta tanggapan yang sebenarnya terhadap rangsangan. Setelah semua, seperti yang sering ditunjukkan, banyak dari sifat kita atribut untuk benda mati, seperti kelarutan atau kerapuhan, dapat digambarkan sebagai disposisional. Jika kita berbicara tentang kelarutan garam umum sebagai disposisi untuk larut dalam air, tidak ada yang akan menuduh kita animisme, mengatakan bahwa kita secara eksplisit atau implisit berkomitmen untuk menghubungkan keadaan mental tertentu untuk bahan alami. Akuisisi suatu mahluk hidup dari suatu disposisi untuk merespon sinyal tertentu dapat dianggap dalam kaitannya dengan mengontrol sebagian dari sistem saraf nya (Brown, 1958: l03), dan banyak sinyal non-verbal di kedua manusia dan hewan adalah mungkin masuk akal menyumbang dengan cara ini. Keberatan yang akan dibangkitkan di sini untuk teori disposisional makna sehingga tidak tergantung pada titik prinsip ini.
            Ketika kita mengatakan bahwa garam yang larut dalam air yang kita dapat membenarkan pernyataan dengan menetapkan kedua kondisi di mana reaksi tertentu akan mengambil tempat dan sifat reaksi. Tapi ini tidak terjadi sehubungan dengan lebih dari satu bagian kecil dari bahasa-perilaku. Sejauh ini setidaknya, orang-orang psikolog yang berlangganan teori disposisional makna telah gagal untuk membuktikan bahwa ada disposisi tertentu yang terkait dengan sebagian besar kata-kata dan ucapan-ucapan bahasa sehari-hari perilaku kita. Satu tentu saja dapat mempertahankan bahwa ketika seseorang datang untuk mempelajari arti kata ia memperoleh disposisi untuk merespon kata itu, tidak secara spesifik dan berbeda pada setiap kesempatan penggunaannya, tetapi dalam cara yang berbeda tanpa batas banyak sesuai dengan konteksnya . Masalahnya di sini adalah bahwa 'disposisi untuk merespon' istilah sekarang sedang digunakan sehingga secara umum, bukan untuk mengatakan longgar, bahwa itu semua mengorbankan kegunaannya. Ini memberi kita ilusi telah memberikan account teoritis memuaskan pada kenyataannya makna tanpa mengatakan lebih dari bisa dikatakan, dan kurang mungkin menyesatkan, sebagai berikut: mengetahui arti dari sebuah kata berarti mampu memahami ketika orang lain menggunakannya dan mampu menggunakannya dengan tepat dirinya. Hal ini disukai karena itu ahli ilmu semantik harus mempertahankan 'pemahaman' istilah sebelum teori untuk apa yang diakui keadaan psikologis atau proses berdiri membutuhkan penjelasan, bukan bahwa ia harus menggantikan sebuah istilah yang tidak lebih tepat didefinisikan dari apa yang seharusnya untuk dijelaskan.
            Hasil dari diskusi umum kita tentang behaviorisme adalah bahwa sejauh ini gagal untuk memberikan teori umum memuaskan makna. Ini tidak mengikuti, dan titik ini harus ditekankan, bahwa tidak ada manfaat atau kegunaan dalam model stimulus-respon perilaku bahasa, tetapi hanya bahwa keterbatasan harus diakui dan 'respon' syarat dan 'disposisi untuk merespon' terbatas pada reaksi yang spesifik dalam kondisi yang memungkinkan dispesifikkan. Banyak situasi kehidupan sehari-hari yang berulang dan mudah diidentifikasi, oleh peserta sendiri dan oleh psikolog sosial atau sosiolog menggambarkan perilaku mereka, dan dalam banyak situasi ujaran tertentu (dari jenis yang sering digambarkan sebagai stereotipe atau ritual) adalah lebih atau kurang wajib. Ada seperangkat terbatas ucapan-ucapan dari mana kita akan memilih ketika kita pertama kali diperkenalkan kepada seseorang (Bagaimana Anda melakukannya, Senang bertemu Anda, dll.?), Ketika kita menjawab telepon, ketika kita mengucapkan selamat kepada seseorang pada keterlibatan, ketika kita menyapa teman-teman kita dan rekan pada pertama melihat mereka di pagi hari, dan seterusnya. Banyak dari perilaku bahasa (yang jatuh ke dalam kategori yang disebut Malinowski phatic*: Lih 2,4) cukup digambarkan sebagai berada di bawah kendali rangsangan perilaku atau lingkungan sebelumnya. Sebagian besar ucapan-ucapan kita tidak, atau setidaknya tidak muncul untuk menjadi, di bawah kendali fungsional dari rangsangan tertentu dalam situasi di mana mereka terjadi. Tapi ini seharusnya tidak mencegah kita dari mengenali bahwa bahasa-perilaku meliputi, di samping rangsangan-bebas seperti ucapan-ucapan*, satu set dari stimulus-terikat ucapan* juga, yang maknanya cukup dijelaskan dengan mengatakan bahwa mereka merupakan respon terhadap rangsangan sebelumnya. Hal ini penting untuk memberikan pengakuan karena kedua jenis ucapan-ucapan dalam deskripsi bahasa, dan dalam menerima masuk akal dari catatan behaviouristik tentang makna ucapan-ucapan stimulus-terikat, kita dapat meninggalkan terbuka pertanyaan apakah S-R refleks dikembangkan pada dasar naluri atau mekanisme bawaan lainnya dan apakah mereka dibentuk oleh instrumental conditioning atau sebaliknya.

            Kami juga dapat memberikan bahwa ucapan-ucapan tidak selalu baik seluruhnya stimulus-stimulus yang sepenuhnya bebas atau terikat. Sebagai contoh, jika seseorang mengajukan pertanyaan, ia biasanya akan bereaksi dengan memberikan jawaban. Apa bentuk pengucapan dibutuhkan mungkin belum ditentukan, atau stimulus-bebas, dalam arti bahwa kata-kata yang dipilih dan cara di mana mereka digabungkan tidak dapat diprediksi dari bentuk pertanyaan atau konteks yang diminta, tetapi itu dapat ditentukan, atau stimulus-terikat, sejauh bahwa ia akan memiliki karakteristik struktur gramatikal dari ucapan-ucapan tertentu yang akan berfungsi tepat sebagai jawaban atas pertanyaan ini dan itu bentuk, dan itu mungkin diucapkan dengan nada tertentu suara atau gaya yang tidak hanya sesuai, tetapi ditentukan oleh, situasi dan peran dan status peserta. Singkatnya, apa yang telah kita dibedakan sebagai fungsi interpersonal ucapan mungkin akan lebih sangat ditentukan oleh rangsangan sebelum perilaku dan lingkungan daripada proposisional mereka, atau murni aspek deskriptif (lih. 2.4). Umumnya ilmu semantik di masa lalu cenderung berkonsentrasi pada fungsi deskriptif bahasa. Teori behavioris bahasa mungkin tidak akan cukup sebagai teori umum bahasa-akuisisi dan bahasa-digunakan, tetapi memiliki kebaikan menekankan fakta bahwa dalam berbicara bahasa kita terlibat dalam jenis perilaku sosial tertentu, yang dikendalikan , pada tingkat yang cukup, dengan keberhasilan atau kegagalan dalam membawa perubahan di lingkungan, termasuk aktivitas atau sikap dari orang-orang dengan siapa kita berinteraksi. Setidaknya, dapat membantu kita untuk membebaskan diri dari kecenderungan tradisional untuk mengobati bahasa sebagai tidak lebih dari alat untuk komunikasi pemikiran (lih. 4.3). Dan seharusnya tidak lupa bahwa bahkan fungsi deskriptif bahasa tertanam dalam kerangka yang lebih umum dari interaksi sosial. Ketika kita menyampaikan informasi faktual kepada seseorang dengan cara bahasa, kita melakukannya biasanya dalam rangka untuk mempengaruhi keyakinan dan perilaku (lih. 2.4). Pentingnya hal ini akan menjadi lebih jelas ketika kita datang untuk membahas teori pidato-tindakan * (lih. 16.1).
            Hal ini juga mungkin bahwa penguatan atau pengkondisian tanggapan dalam kehadiran stimulus tertentu, seperti yang dibayangkan oleh Skinner dan pyschologists lainnya, tidak hanya normal, tapi sebuah elemen, yang diperlukan dalam proses akuisisi bahasa. Ini mungkin sangat baik menjadi kasus bahwa anak-anak mulai menggunakan bahasa dengan mengasosiasikan kata-kata tertentu atau ucapan dengan objek tertentu dan situasi sebagai tanggapan atau diperkuat untuk rangsangan terhadap stimulus (lih. Quine, 1960). Jika demikian, bagaimanapun, anak-anak segera lulus melampaui tahap di mana semua aspek penggunaan dan pemahaman tentang bahasa dapat dijelaskan dalam istilah S-R. Bagaimana mereka melakukan ini tidak memuaskan dijelaskan oleh para behavioris. Pengkondisian tanggapan mungkin, karena itu, akan tetapi salah satu komponen dari sebuah proses kompleks, dan salah satu yang, meskipun penting, mengandaikan mekanisme operasi lainnya kognitif dari jenis yang sangat berbeda. Singkatnya, teori behavioris bahasa belum dapat membuktikan layak, jika digabungkan dengan penerimaan satu set kaya kecenderungan bawaan dan spesies-spesifik untuk perkembangan kognitif, jatuh tempo dengan usia dalam interaksi mahluk hidup dengan lingkungannya. Referensi dapat dilakukan sekali lagi, dalam hubungan ini, pandangan psikolog seperti Piaget, menurut kepada siapa ada berbagai tingkat kemampuan kognitif pada spesies yang berbeda dan kemajuan dari bagian bawah ke tingkat yang lebih tinggi ditentukan oleh prinsip-prinsip kematangan bawaan (3.5).[6]
________________________________________________
[1] Apa yang berikut tidak dimaksudkan sebagai akun komprehensif behaviorisme. Hanya titik-titik tersebut dibuat sebagai sangat penting untuk pengembangan semantik. Sebuah buku klasik adalah Osgood (1953). Untuk umum latar belakang, lih. Carroll (1953), Osgood & Sebeok (1954).

[2] Menurut Skinner (1957: 86-7), yang mengutip bagian ini dari Weiss, "adalah sebuah analisis dangkal yang terlalu dekat dengan gagasan tradisional 'berdiri untuk' kata-kata sesuatu".

[3] Dalam meninggalkan mentalisme yang disebut Wundt untuk behaviorisme dari Weiss, Bloomfield melakukannya dengan keyakinan bahwa linguistik bisa, dan harus, tetap netral dalam sengketa psikologis: lih. Bloomfield '(1926: 153). Dalam penggunaan filsafat tradisional 'mentalisme' istilah yang sering mengacu pada doktrin bahwa objek pengetahuan tidak memiliki keberadaan di luar benak pengesan. Istilah ini digunakan di sini dalam arti lebih umum di mana itu digunakan oleh para pendiri behaviorisme: untuk menggambarkan setiap teori filsafat yang menurutnya ada perbedaan radikal antara pikiran dan materi.

[4] Teori Bloomfield dari makna karena itu suatu teori kausal, karena adalah bahwa dari Ogde-n & Richards (lih.4.I): itu adalah atso, seperti mereka, teori makna kontekstual, dalam hal ini membuat makna dari sebuah ucapan tergantung pada konteks di mana ia diucapkan. Pada teori-teori kausal makna secara umum, lih. Hitam (1968: bab 7). Tidak semua teori makna kontekstual didasarkan pada prinsip-prinsip behaviorisme. Secara khusus, harus ditekankan bahwa Firth, yang secara eksplisit mengadopsi teori kontekstual makna (lih. I4.4), bukan suatu behavioris, dan Ogden dan Richards adalah behavioris hanya dalam arti agak longgar dari istilah tersebut.

[5] Judul buku Skinner (1957) agak menyesatkan. Istilah 'Perilaku verbal', seperti yang digunakan oleh Skinner, termasuk banyak hal lain selain bahasa; di sisi lain, sebagaimana telah kita lihat, ada banyak dalam bahasa yang bukan merupakan bagian dari komponen verbal (lih. 3.I). Meskipun buku Skinner tidak dipublikasikan sampai 1957, versi sebelumnya telah beredar selama beberapa tahun sebelumnya dan telah diberikan pengaruh besar pada psikologi bahasa di Amerika.

[6] Pada beberapa masalah ini lih. Fodor (1968), Broadbent (1973), Greene (1972). Ada titik di mana, dengan penambahan mekanisme bawaan mendalilkan, yang behaviorisme dari Quine tampaknya teduh ke mentalism dari Chomsky (lih. Hook, 1969; Davidson & Hintikka, 1969).


*) Diterjemahkan dari buku SEMANTICS vol. 1 karya John Lyons © Cambridge University Press 1977, chapter 5 "Behaviourist semantic".

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi

Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...