September 27, 2012

Tanah, Laut, dan Kotamu


berjengkal-jengkal tanah, semuanya masih rahasia
bait-bait telibun pembawa
Muli Putri dari surga
dengan alunan serdam ditiup
sehedi ke gua-gua

Tanah, laut dan kotamu akan
seindah Pesta sakura
puncak-puncak cita syukur dalam fitrah
semerona bunga-bunga nanas di padang alang

lalu apabila tangisan kembali menyeruak
O, di manakah anak-anakku bersagata sanak ngebabang ?
tinggal hari puan dan
tuan diselimuti awan
terbang di laut dan menari geli
menangis, beradad lalu



2004
____________________________
Keterangan:

· Bersagata sanak ngebabang: puisi lisan Lampung berbentuk pantun pengasuh anak-anak/ momong
· Telibun : lagu-lagu
· Muli Putri : Dwi (dewi wanita) atau ‘bidadari’
· Serdam : alat musik khas Lampung sebangsa suling
· Pesta sakura: pesta rakyat untuk merayakan peristiwa hari raya Idul Fitri

Prelude to April*)


di kotaku tak pernah berhenti hujan
seperti matamu yang tak henti menangis
karena kotamu adalah laut
menggenang segala kenangan yang
berlabuh pada usia yang semakin tua

karena kotaku adalah gunung
yang menjulang menembus kelam tangismu
kau tahu, kita masih bermain dalam mimpi
cerita dongeng nenek moyang yang
berlayar di lautmu lalu lindap

duka maha luka
pada derita retak tanah yang memamah
setiap jiwa dan ruh yang terlentang
(mereka bilang) :seperti sampah
tapi kisahmu belum selesai
di pantai masih penuh bangkai

seperti catatan duka sejarah
yang semakin jatuh ke tanah


Bumi singgah,
April 2005



*) terilhami dari judul karya Yngwie Johann Malmsteen dalam Concerto Suite. Minor Op.1

Zu, Perempuan di Tanganmu


-buat kawan-


ada kisah yang harus berawal dari sebuah akhir
ketika hujan ledang di tanah minang pada
punggung tanganmu tertulis
kesunyian

dan ketika malam menelan sepi,
perempuan itu mengeja kata demi kata
yang terpahat pada
angin

tak ada jumpa yang diawali sapaan salam
sebuah tanda perjalanan panjang
bila diri kelana ke negeri orang

tak semusim pun perempuan itu mengukir
hati sendu
saat masa menyulam jaring labalaba
pada udara yang hanya diam

zu, saudaraku
akhir kita menghujat tanya dan
jangan pula bertanya kepadanya pula
dan ketika malaka masih bersatu
kau menjadi cut nyak
mengadu laut
kau mengeladau perahu nuh yang sesak
dengan sajaksajak ketika durkasa mulai
berkabut

ada kisah yang harus berawal dari sebuah akhir
ada kerinduan yang harus berakhir dari
sebuah awal

pada ada
kita tak pernah ada
**

bumi singgah,
Ferbuari-Maret-2005

Sajak Perahu pada Malam Aswad


pada laju lelah bis yang lewati tamantaman,
tibatiba aku membayangmu
: Muda Wijaya


kau menari puisi dalam
sajak perahu pada malam aswad
seperti nelayan jaring ceritacerita lucu
yang sampai di segara telinga nganga
melaut hidup pada masa yang belum rampuh

lalu berkisah tentang si sumbing yang
tak sempat ditamatkan dua malam sekali lewat
keringatmu merampat butiran debu
dan terik kota kembang
di trotoar juga pertigaan jalan

“pada ragu aku menambat keberangkatan”, katamu
namun talabiah terpahat pada talaloka awal katakatamu
ketika ingatan melaju di sudutsudut
kota rumit dan riuh karena usia mengkerut

pada bumi ibumu kau tancapkan keyakinan
pada gelombang biru kau alirkan keraguan
kekosongan jiwa yang kau bawa datang
uraikan setiap peristiwa yang jelang
lalu hilang semisal de javu yang tak bisa dicegah
setelah ranah baru lindapkan jejakjejakmu

jamjam menyihirmu pada perjalanan lalu
tinggalkan jauh pulau penuh kenangan
sebelum layar terkembang pasang

gelisah selalu hantar kepulanganmu
dari kampung yang kayun dalam ingatan
terucap lusuh dari pengembara lugu
pada kotakota singgah
sembari menggelar tikar lelah

kita telah mencatat sejarah pada malam
saat sitor berduka dan sarabunis menghalau hujan
cuaca gerah karena angin murung dikala
azan fajar ladung sela asapasap sesak

lalu pagi menjadi kopi pahit perjalananmu
yang tak sempat tamam
belum usai kalam di dipati ukur terminal
ketika matahari perlahan binal


2005

Kembali ke Rumah


senja sergap hutan cemara
dalam dua purnama terlupa, aku
masih diam
tak ada ingatan dan rindu
biduk laju tanpa layar
coba cabik angin angin demi malam
kelam menenggelamkan pasarpasar
menjadi kidung azan kelelawar
tokotoko diam
kioskios pejam
lalu lalang sejarah orangorang pedalaman
dihardik perutperut lapar
menagih janji perdamaian
lalu tinta tumpah di rodaroda becak
peluh keringat

lalu aku tiba di tubir pintu depan
sementara kesunyian menghalau
tak ada airmata
tak ada luka
mungkin aku alien di sudut galaksi
sepi
dan singgah di kota mati
melawat pernikahan mayatmayat



rumah,
24 September 2005

Tak Pernah Kutemukan Wujudmu dalam Riuh


:buat Wayan Sunarta


aku tak mengenalmu di Parangtritis atau Tanah Lot
tapi dari potret diri
yang bercerita tentang
sajaksajak yang menuai sepi
kisahmu

tak pernah kutemukan wujudmu dalam riuh
pada kabut atau mimpi
yang terbang bersama malam
tapi dari hutan cemara dan
notasi pantai
yang melantunkan musik ombakombak anak pasirdan usai tarian laut itu aku hanya menyapamu dalam
katakata pada sebuah puisi tentang
ingatan seorang perempuan
bukan sebagai penjaga cahaya, hanya
memainkan sebuah serenade untuk diriku
yang sanggup mengenal sapamu
dalam sajaksajak sendu



bumi singgah,
14 Januari 2005

Rumah Kerang


kenapa malam seterik ini?
lembaran daundaun pisang yang
sobek bahkan tak sanggup mengusap keringatnya
sendiri
pun si betina enggan mencicip darah
yang mendidih pada dagingdaging kering
juga tak ada anginangin silang di sungsang
tubuhku
setumpuk gentinggenting tua
dan berlumut
hanya menghantarkan cerita tiangtiang diam
yang khusyuk menyimak bocah mengaji
terbatabata

kau suram di kertas putihku
serupa mimpi yusuf ditikam badai wahyu
yang mengabut
mengapa tak kau beri kabar
rumahrumah kerangmu di pantai gigir
dengan kipaskipas letih rajutan bambu
berlipatlipat

makin berlipat
semakin tebal

kau pernah menjumpainya di sudut
kerling matahari karam sehari yang lalu
dan berita tak mengeras
di udara seterik ini
atau hantuhantu berpesta di
ladangladang kelam
telanjang mengadukaduk do(s)a
yang sampai pada nokturno tanpa hujan

kakikaki terserek bukan
jejak lagi
tak melintang seperti pelangi
dipaku leher bukitbukit
atau tersangkut di pinggang langit
tapi dongengdongeng dilemparkan percuma
ketika butirbutir udara menyeruak
hampa




rumah,
5 oktober 2005

Jurnal Sajak: Puisi Perempuan, Perempuan Puisi

Episode Fetus Kata mereka, angka-angka bising dari mulutmu Kau tumbuh dari rahim ibu yang belum sempurna Tanganmu menjelma tunas...